logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

6. PERTEMUAN DENGAN BAPAK

Dengan berat hati, kuturuti permintaan Ibu agar aku bisa menyelesaikan masalah dengan Mas Pras malam ini juga.
Tentu saja, dia cukup terkejut melihatku kembali. Karena selama ini, kalau aku marah bisa lama dan mendiami-nya sampai berhari-hari.
"Maafkan Papa ya Ma ... Papa kan cuma mau—"
"Udah enggak usah ngomong yang bikin aku tambah kesal. Lain kali saja bahasnya. Aku mau tidur, jangan lupa besok uang dilebihin!"
Sengaja kusela ucapan suamiku. Biasanya dia hanya minta maaf dan tetap tidak mau menerima kalau dia memang salah. Karena itulah, lebih baik kusela pembicaraannya daripada aku tambah kesal.
💙💙💙
Menjelang siang, kuantarkan beberapa bungkus pepes ikan mas ke rumah Teh Lina sebagai ucapan terima kasih atas bantuan dia dan suaminya.
Menurut Teh Lina, suaminya pasti senang sekali, karena itu makanan kesukaannya. Dia juga bilang, kalau Aa Hadi sedang cuti selama satu minggu ini. Katanya sih, ambil cuti tahunan yang enggak pernah di ambil.
"Ini siapa yang buat Neng?" tanyanya sambil memindahkan pepes dari nampan ke piringnya.
"Ibu Teh."
"Kamu enggak bertengkar gara-gara ini kan Neng?"
Glekk
Aku tersentak mendengar ucapan Teh Lina. Ternyata, dia mendengar pertengkaran kami semalam.
Kulirik Aa Hadi yang baru saja datang dan kini sibuk dengan laptopnya di ruang televisi, yang membelakangi kami. Meski begitu, aku tahu kalau dia bisa mendengar percakapan kami.
"Teteh dengar ya? Maaf ya Teh, suara Jani pasti kekencengan."
"Sebenarnya enggak kencang-kencang amat Neng, cuma semalam kebetulan ada di teras kamu, mau nganterin martabak. Dengar kamu bertengkar, Teteh enggak berani ngetuk pintu!"
Malu, sudah pasti karena si Teteh bisa dengar semua percakapanku, tapi yang lebih nyesek, aku jadi kehilangan kesempatan nyicip martabak. Eh!
"Maaf ya Teh ...."
"Teteh bukan mau ikut campur Neng, tapi kan dirumah kamu lagi ada Ibu. Kasihan dia. Bagaimanapun Teteh dulu punya masalah sama Papi, orangtua Teteh enggak ada yang tau," ceritanya tanpa kutanya.
Kupilin-pilin ujung bajuku, sambil sesekali melihat sang mantan. Sepertinya dia benar-benar menikmati istrinya sedang menceramahi aku.
"Teteh juga bukannya membandingkan kehidupan rumah tangga kamu sama Teteh, ini cuma nasihat dari Teteh untuk kamu. Syukur-syukur di dengar ...," tambahnya lagi.
Ternyata, dia belum kelar kasih nasihat. Ini bukan lagi perkara malu, tapi Teh Lina belum nyuruh duduk, alias aku masih berdiri aja dengerin dia ngoceh. Huaaaa ....
Pegel!
Tak terasa air mataku menetes. Sebagai anak sulung, baru kali ini aku bisa merasakan dapat wejangan dari seorang kakak yang tulus pada adiknya. Kuraih tubuh Teh Lina dan memeluknya. Itung-itung nekuk kaki juga sih.
"Jani sudah minta maaf sama Ibu, Teh. Terima kasih karena Teteh sudah mengajarkan hal baik untu Jani," kataku sambil menangis menyadari kesalahanku. Tak peduli lagi saat kulihat Aa Hadi menatapku dari sana.
"Udah ah, Teteh enggak mau melow. Nanti belum dhuhur, make-up udah luntur!" gurau Teh Lina seraya melepaskan pelukan dan mengusap punggungku.
💙💙💙
Beberapa saat setelah kembali dari rumah Teh Lina, ponselku berdering, tanda pesan masuk.
[Jani, apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu?]
Pesan yang dikirim dari nomor Aa Hadi membuatku semakin gusar. Kenapa dia bertanya begitu?
Kenapa juga, dia berani mengirimkan pesan saat sedang berada di rumah?
Buru-buru ku hapus pesan itu. Tapi sesaat kemudian, terlintas dalam pikiranku, bagaimana kalau dia mengirimkan pesan lagi karena tidak kubalas? Syukur-syukur kalau sedang pegang handphone, kalau tidak bagaimana?
[Aku rasa kamu enggak perlu tau apa yang terjadi dalam rumah tanggaku. Ini pesan terakhir kali, jangan di balas lagi]
balasku dengan peringatan tegas.
Sengaja aku tak mencantumkan nama ataupun panggilanku. Aku sangat khawatir, bisa saja, 'kan, Teh Lina membacanya?
Jaga-jaga saja, bisa ngeles salah kirim nantinya.
[Bagaimana bisa? Kamu dekat Jani. Aku enggak bisa menutup mata. Sedikit banyak, aku tau seperti apa suami kamu. Izinkan aku membahagiakan kamu]
Glekk
Pesan itu membuat tanganku gemetar, dadaku berdesir hebat.
Apa yang dia maksud dengan membahagiakan aku? Apa dia mengajakku selingkuh?
[Tolong, jangan buat aku merasa tidak nyaman disini. Bersikaplah biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Istri kamu orang baik, kamu menyesal kalau mengkhianati dia. Ini pesan terakhir!!!]
Ancamku.
Segera ku hapus pesan dan memblokir nomor itu. Walau Mas Pras sudah keterlaluan, aku tak ada niatan sedikitpun untuk mengkhianati dia.
Ting!
[Jani, aku hanya ingin kamu bahagia. Aku juga berhak bahagia bersama kamu]
Hah, apalagi ini? Bukankah sudah ku blokir? Ternyata dia malah mengirimkan pesan dari nomor baru.
Aku merinding membaca pesannya. Sepertinya, Aa Hadi sudah kehilangan akal sehatnya.
Aku takut kalau begini. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan.
Segera kumatikan ponsel dan kusembunyikan di bawah lipatan baju.
💙💙💙
Setelah Mas Pras pulang dan menyelesaikan makan malamnya, aku segera mengajaknya bicara. Sungguh, pesan dari Aa Hadi membuatku ketakutan. Bahkan seharian ini aku sampai tidak berani keluar rumah.
Walaupun begitu, aku belum cerita pada Ibu, takut Ibu akan menunjukan sikap berbeda padanya.
"Pa, bagaimana kalau kita cari kontrakan lain?" tanyaku. Mas Pras yang semula asyik dengan handphonenya, menatapku seketika.
"Kamu kenapa? berantem sama Teh Lina?"
"Bukan begitu Pa ...,"
"Pindah itu enggak cukup biaya sedikit Ma. Lagi pula rumah ini sudah Papa bayar setahun penuh!"
"Tapi Mama enggak nyaman Pa!" kataku beralasan. Sikap Aa Hadi memang membuatku sangat tidak nyaman. Lebih baik aku mundur sebelum semuanya ketahuan.
"Karena Teh Lina?" tebak Mas Pras, lengkap dengan matanya yang mendelik.
"Kenapa Teh Lina sih?"
"Kan kamu cuma dekat sama Teh Lina. Wong tetangga lain pada kerja!"
"Tapi bukan karena Teh Lina juga Pa, a—aku aku— iseng dirumah ini!" alasanku asal.
"Hah?! sejak kapan Mama takut yang begituan? Dulu tinggal di kebun, di samping kuburan enggak ada acara iseng segala. Jangan bohong Ma, Papa enggak suka!" gerutunya sok bijak.
Salahku juga sih, pawang hantu pura-pura takut.
"Pokoknya Mama mau pindah, Pa!"
"Mama belum maafin Papa ya?"
Mas Pras memicingkan matanya.
"Lho kok tanya begitu?"
"Mama tuh seperti cari gara-gara biar kita bertengkar. Masa minta pindah rumah? Mana alasannya enggak masuk akal ... nanti kalau Ibu dengar lagi, bagaimana?"
Kesal rasanya ketika permintaanku ditolak. Padahal kan, aku hanya mencoba menghindar dari godaan mantan. Rasanya gemas melihat sikap suamiku ini. Nanti kalau aku benar-benar tergoda, awas saja menyesal, gerutuku dalam hati.
Aku lalu beranjak ke tempat tidur dan berbaring disamping anak-anakku. Percuma saja kalau pembicaraan ini masih dilanjutkan, yang ada malah kami akan bertengkar lagi. Sedangkan, ada hati yang harus aku pikirkan disini, ada Ibu.
💙💙💙
Keesokan harinya, Bapak dan Anjeli adikku datang untuk menghadiri hajatan saudara, sekaligus menjemput Ibu. Mas Pras sengaja berangkat lebih siang, agar bisa menyambut mereka.
Jauh hari, sudah kukirimkan pesan pada Anjeli mengenai Aa Hadi, agar dia ikut mewanti-wanti Bapak.
Tapi sepertinya, Bapak juga rindu dengan Aa Hadi. Kulihat beberapa kali dia berpura-pura membuang abu rokok ke depan meski telah disediakan asbak.
"Bolak-balik terus Pak? Anjel pusing nih, mana lagi ngerjain tugas!" sungut adikku yang sibuk dengan laptopnya.
"Bapak mau lihat Hadi ya?" tebak Ibu.
"Bu!" sentakku spontan.
"Kan, enggak ada Pras!"
"Bagaimana kalau Teh Lina dengar?"
"Iya, Ibu lupa. Hampura(maaf) Teteh!"
"Besok pulang kondangan, kami langsung pulang. Bapak ingin ketemu sekaliii aja Teh ...!" kata Bapak memohon.
Duh Bapak, kenapa sih harus ada drama begini? Padahal kan dia sudah membohongi Bapak dan Ibu, tapi kenapa mereka malah rindu, bukannya marah?
"Bapak mau ngapain sih?!"
"Bapak cuma ingin ketemu."
"Coba kamu kesana Teh, bilang sama istrinya kalau Bapak mau kenalan!" pinta Ibu, yang mendukung keinginan Bapak.
Seandainya saja mereka tahu, kalau jalan pikiran Aa Hadi sudah kelewat batas dan mengancam rumah tangga anaknya.
Tapi karena tidak tega melihat Bapak, kuturuti permintaannya dan datang ke rumah Teh Lina sambil membawa oleh-oleh dari kampung.
Begitu sampai, Teh Lina menyambutku dengan wajah ceria, khas miliknya.
"Teh, maaf, Bapak mau kenalan sama suami Teteh. Gara-gara si Ibu cerita habis diajak naik mobil," kataku berbohong.
"Tapi si Papi lagi keluar, Neng. Nanti kalau sudah balik, Teteh suruh kesana nemuin Bapak kamu."
"Sama Teteh juga atuh, Bapak juga mau kenal sama Teteh."
"Iya, InsyaaAllah nanti teteh ikut," janjinya.
💙💙💙
"Assalamualaikum ...."
Aa Hadi mengucap salam dari luar. Kuintip sedikit dari jendela kamar. Kenapa dia hanya datang seorang diri?
Kudengar Ibu membuka pintu dan meminta Aa Hadi untuk masuk.
"Tetehnya dimana A?"
"Lagi keluar Bu, tadi Dini minta diantar Maminya beli buku."
"Jadi aman ini teh?"
"InsyaAllah ... Bapak dimana Bu? Baiknya ngobrol disini saja. Khawatir suaminya Jani— "
"Iya, sebentar Ibu panggilkan!"
Setelah itu Bapak keluar dan disambut pelukan Aa Hadi yang menangis memeluk Bapak. Aku semakin heran dibuatnya. Bahkan dengan Mas Pras, Bapak dan Ibu tidak pernah sampai seperti ini
Anjeli juga ikut sungkem dengan mantan calon kakak iparnya. Dulu saat aku berhubungan dengan Aa Hadi, usianya baru delapan tahun. Kemana kami pergi, maunya ikut.
💙💙💙
"Jadi, besok kalian mau kondangan? Sudah ada kendaraan?" tanya Aa Hadi.
Dia berada di teras, duduk di bawah, di tengah Bapak dan Ibu. Sedangkan aku, hanya menguping dan sesekali mengintip dari jendela kamar.
Ishh, aku yakin, pasti dia makin besar kepala!
"Belum A!" sahut Ibu.
"Apa suaminya Jani bisa nyetir mobil? Kalau bisa, biar pakai mobil saya," katanya penuh perhatian.
"Pras enggak bisa ikut, temannya duluan izin katanya, enggak ada ganti!" Bapak ikut menimpali.
"Aa aja atuh, udah lama, 'kan Anjel enggak jalan-jalan sama Aa!" rengek adikku manja.
Hening beberapa saat. Mungkin dia sedang berpikir.
"Tapi istri saya ikut enggak apa-apa kan?" tanyanya kemudian.
"Ya atuh enggak apa-apa. Malah bagus. Istri kamu itu baik sekali A! Ibu juga sudah senang, ada yang mau kasih tumpangan ...."
"Jangan bicara begitu Bu, kalian semua, sudah saya anggap keluarga. Walaupun saya dan Jani tidak berjodoh, saya bersyukur kalian masih mau memaafkan dan menerima saya di tengah kalian," katanya. Aku gemas mendengar celotehnya dari kamar, sok bijak!
"Jodoh rahasia Allah A ... sedangkan silaturrahim harus tetap dijaga. Bapak senang kamu menganggap kami keluarga. Bapak 'kan jadi punya anak laki-laki!" kata Bapak sumringah.
Tapi kenapa aku malah jadi sedih mendengar percakapan mereka???
💙💙💙
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami bersiap menuju pesta pernikahan sepupuku.
Kupakai setelan kebaya yang disiapkan keluarga mempelai untuk kami sekeluarga, yang mereka titipkan pada Ibu.
Untuk make-up, aku tak khawatir. Untung saja ada Anjeli, kosmetik dia lengkap sampai satu kotak besar.
"Ih si Teteh geulis(cantik) ...!" puji Ibu, membuatku ingin jingkrak-jingkrak dan guling-guling.
"Siapa dulu atuh yang ngedandanin Bu," kataku memuji Anjeli. Adikku itu memang pintar merias.
"Dulu juga Teteh begini, hanya saja semenjak menikah jadi lupa merawat diri!" sindir Anjeli.
Duh, adikku itu!
💙💙💙

Comentário do Livro (113)

  • avatar
    Fitri Ajeng

    terimakasih atas karyanya 🤗

    22/05/2022

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus banget cerita dan alurnya...

    30/03

      0
  • avatar
    Nrhlz Liza

    keren

    24/03

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes