Alana sudah memulai kuliahnya sekarang. Seperti janji Juno dia akan berangkat bersamanya setiap hari. Seperti pagi ini, hari pertama Alana pergi ke kampus. Alana dan Juno tiba di parkiran dengan motor kesayangan pria itu. Alana sibuk menata rambutnya yang berantakan karena helm. Tangan Juno otomatis terulur membenahinya. Tak tahan Juno mencium pipi Alana singkat. "Cantik,” "Jungkooook, apa yang kau lakukan,” Alana memukul lengan Juno berkali-kali. "Hahahaha. Aduh sudah Alana sakit tahu,” "Ya sudah aku masuk kelas dulu,” "Jangan genit dengan cowok lain ya!" Pesan Juno sedikit berteriak. Alana meninggalkan Juno begitu saja menuju gedung nya. Alana kesal dengan sikap pria itu yang menciumnya sembarangan. Jujur, Alana menyuKaynya. Tapi Alana tahu hubungan itu tak akan berhasil. Juno berasal dari keluarga yang jauh berbeda dengannya. Juga pertunangannya dengan Liza tak mungkin dia batalkan. Yang sekarang mereka berdua lakukan adalah menikmati waktu hingga saatnya tiba. Hingga Juno harus menikah dengan Liza. Hingga Alana menemukan seseorang yang bisa dia cinta. Terdengar menyakitkan memang. Tapi mereka ingin merasakan bahagia walau sebentar saja. Alana tiba di gedungnya. Terburu menaiki tangga dan tidak sengaja menabrak orang lain didepannya. "Ah maaf maaf. Saya tidak sengaja,” Alana membereskan bukunya. "Tidak apa. Saya juga kurang berhati-hati,” Kata suara itu. Alana mendongak. Seorang pria yang sangat tampan dengan bahu lebar. Wajah kecil dengan bibir tebal juga hidung yang mancung. "Aku belum pernah melihatmu. Kau mahasiswi baru?" Tanya nya. "Iya benar,” Jawab Alana singkat. "Owh kalau begitu aku harus memperkenalkan diri. Saya Soni. Mahasiswa paling tampan di kampus ini. Hahahaha. Semester tujuh jurusan psikologi,” Mengedipkan matanya pada Alana. "Ah, saya Alana. Semester satu jurusan psikologi. Senang berkenalan dengan anda. Hehe,” "Owh itu bagus. Lalu mau kemana kau sekarang?" Tanya Soni. "Ruang kuliah 2D,” "Ah baiklah. Aku ingin berbasa-basi mengantarmu tapi ruangannya mudah ditemukan di atas jadi sepertinya kita harus berbincang lain waktu,” Ucap Soni ramah. "Ah, tentu. Terima kasih Kak Soni,” Ucap Alana tulus. "Ok fighting,” Soni menatap Alana yang berjalan menjauh. "Gadis yang menarik,” Selesai kuliah sesuai janji Juno lagi dia menunggu Alana di taman kampus dekat lahan parkir. "Hai Alana,” "Hai Juno,” "Jadi bagaimana kuliahnya tadi? Sudah bertemu teman baru?" Tanya Juno. "Sudah. Kuliah menyenangkan. Aku mendapat banyak teman. Mereka juga baik. Aku juga berkenalan dengan kakak tingkat juga,” "Benarkah? Siapa namanya?" Juno penasaran. "Soni?" Alana tak yakin. "Ah Soni. Dia rekanku di kegiatan fotografi,” "Ah benarkah,” "Tapi jangan tergoda dengannya!" Juno berlebihan. Alana enggan menanggapi sifat Juno yang menurutnya kekanak-kanakan ini. "Please lah Juno,” "Semua kemungkinan bisa terjadi Alana. Ini namanya antisipatif,” Terang Juno. "Terserah kau saja,” Alana lagi. "Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum aku mengantarmu ke tempat karaoke?" Tawar Juno. "Setuju,” Senyum Alana ceria. Dasar wanita. Begitu mudah luluh dengan makanan. Setelah makan siang di sebuah warung kaki lima dengan Alana yang ngotot ingin membayar. Juno mengantarkan gadis nya hingga tempat karaoke. "Juno lagi?" Tanya Namu. "Namu. Sudahlah,” Alana tak ingin berdebat dengan pria ini. "Kalian pacaran?" Namu penasaran. "Bukan urusanmu Namu,” Alana mengingatkan. "Ya ya baiklah. Tapi ingat nanti malam harus pulang denganku,” "Baiklah Namu. Tapiii,, sebelumnya aku sangat sangat berterima kasih padamu atas semua perhatian yang kau berikan. Hanya saja maaf aku tak bisa membalasnya. Selain itu juga ada seseorang yang lain di sini yang jelas menyuKaymu sejak lama. Aku tak bisa menyakitimu juga dia,” Terang Alana. Sudah lama Alana ingin mengatakannya. Hanya saja belum menemukan waktu yang tepat. Dan Alana rasa saat ini saat yang tepat. Namu tentu saja sedikit terkejut dengan pernyataan yang tiba-tiba. "Ah begitu. Baiklah,” "Kau akan mengetahuinya kalau kau mencoba membuka hati Namu. Dia sama baiknya denganku,” Ucap Alana. "Aku menyayangimu Namu. Namun hanya sebatas sahabat. Aku harap kau mengerti,” Lanjut Alana lagi. Alana berlalu duduk di ruang staf sebelum berganti paKayan. Maafkan aku Namu. Lebih baik begini. Aku tidak bisa membiarkan kau seperti ini terus. Cepat atau lambat kau memang harus mengetahui semuanya. Sedangkan di meja resepsionis. Alana, akhirnya kau mengatakannya. Ternyata sesakit ini. Tapi lebih baik daripada aku terus berharap. Weni yang nampak melewati meja Namu pun menyapanya. "Namu, hei Namu,” Weni melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Owh hai Weni,” "Kau terlihat buruk Namu,” "Benarkah?" "Terjadi sesuatu?" Tanya Weni. "Owh, hahaha. Aku sangat baik Wen, sangat baik,” Namu mencoba tersenyum. "Aku selalu di sini untukmu Namu. Ceritakan apapun kapanpun,” Tawar Weni yang disambut tawa Namu. "Yeees. Itu Namu yang aku tahu. Genit dan sangat bersemangat. Hehe,” Goda Weni. Pulang kerja pun Namu dan Alana tak banyak bicara. "Kalau terlalu sulit. Kau tak perlu mengantarku pulang Namu,” "Bagaimanapun kita sahabat kan Alana. Lagipula rumah kita memang searah. Konyol kalau aku tak mengantarmu,” Kata Namu. Alana menyambutnya dengan senyuman. "Tentu Namu, kita sahabat selamanya. Terima kasih,” "Aku hanya butuh sedikit waktu Alana. Aku harap kau mengerti,” "Tentu Namu,” Balas Alana. Alana pun masuk menemui ibunya yang mulai bekerja lagi. Nampak ibunya sedang meminum secangkir teh hangat di kursi goyang kesayangannya. "Hai ibu,” "Hai Alana. Bagaimana harimu? Kau lelah?". " Hm. Banyak hal terjadi bu. Tapi aku senang,” Alana tersenyum memeluk ibunya. "Alana, ada hal yang ingin ibu bicarakan padamu,” Emma menepuk kursi di sebelahnya meminta putrinya duduk disana. "Ada apa ibu?" Tanya Alana. Emma menghela nafasnya dulu sebelum bercerita. "Ibu tahu ibu tidak banyak bercerita tentang ayahmu sebelumnya. Ketika ibu sakit dan hampir meninggal sebulan yang lalu. Ibu sadar bahwa mungkin ibu tak punya banyak waktu untuk memberitahumu yang sebenarnya. Ibu rasa ini saatnya kau mendengar semuanya,” Alana mendengarkan ibunya seksama. "Ayahmu masih hidup Alana,” Alana tentu sedikit terkejut karena dia memang sudah menebaknya. "Siapa namanya bu? Dimana dia sekarang?" Cecar Alana. "Alex, namanya Alex. Hanya itu yang ibu tahu. Kami bertemu di sebuah kelab malam 23 tahun yang lalu. Saat itu ibu sedang pergi dengan teman-teman ibu. Dia duduk sendirian menikmati minumannya. Beberapa kali aku menangkapnya sedang mencuri pandang pada ibu,” "Lalu dia memutuskan untuk mendekati ibu. Membawa ibu sedikit menjauh. Agar bisa lebih leluasa berbincang. Disitulah semua dimulai. Kami menjadi sangat dekat. Dia sangat baik dan lembut Alana. Pria tampan dengan manik mata emas sepertimu. Kami hanya bertemu beberapa kali. Tidak banyak yang aku tahu tentangnya Alana. Tapi untuk membuktikan perasaannya. Dia membuat tato di tangan kanannya. Sebuah pedang dengan permata bewarna biru, persis seperti warna mata ibu katanya,” "Tapi siapa sangka ibu mengandungmu. Saat ibu mengatakan padanya tentang itu. Dia marah pada dirinya sendiri karena tidak berhati-hati. Dia kecewa karena tahu akan membuatku menderita. Alex mengatakan bahwa dia mencintai ibu dan bayi dalam kandungan ini. Tapi dia tak bisa bertanggung jawab karena dia harus menikah dengan wanita lain saat itu,” "Hati ibu sangat hancur. Begitu juga dia. Kami menangis bersama. Perpisahan itu terasa berat. Namun ibu memutuskan bagaimanapun akan tetap mempertahankan kandungan ibu saat itu. Buah cinta ibu dengannya. Hingga kau lahir Alana. Putri ibu yang cantik,” Tutup Emma. "Ibu tidak pernah mencarinya? Ibu tidak ingin tahu bagaimana kabarnya? Kalian saling mencintai kan?" Alana masih penasaran. "Dimana pun ayahmu berada. Ibu yakin dia sehat dan baik Alana. Karena ayahmu adalah seorang vampir,” Bagai petir di siang bolong. Alana tentu sangat terkejut. Menangis sejadi-jadinya. Semua informasi ini sangat berat dan berlebihan baginya. "Maafkan ibu Alana. Maafkan. Ibu takut kalau ibu cerita kebenarannya maka kau akan jadi bahan cemooh orang lain. Itu kenapa ibu berbohong dan mengatakan pada semua orang bahwa ayahmu meninggal,” Emma menangis memohon ampunan. Alana berada di kamarnya. Setelah tangisan yang sangat melelahkan itu. Alana memutuskan untuk beristirahat. Namun sebelumnya Alana sudah bertekad. Dia ingin bertemu ayahnya. Dimanapun dia berada. Berapa lama pun waktu yang dibutuhkan. Sejauh apapun ayahnya itu. Bahkan walau ibunya tak mengiSonikan. Alana harus menemuinya. "Aku penasaran orang seperti apa kau ayah? Apa yang kau kerjakan sekarang? Apa kau tak merindukan ibu dan aku? Apa tak sekalipun kau ingin melihat anakmu ini ayah?"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
ceritanya menarik dan bagus
08/05/2022
1seruuu
30/09
0bagus aku suka novel nya
21/05/2025
0Ver Todos