"Nyonya Smith. Setelah ini ibu yang akan bekerja di sini. Minggu ini terakhir saya bekerja di sini,” Jelas Alana. "Iya Alana. Saya mengerti. Aku dengar kau akan kuliah?" Tanya Nyonya Smith. "Benar Nyonya. Saya akan kuliah di kampus yang sama dengan Juno. Sangat aneh memang ketika Juno hampir lulus, saya justru baru masuk. Hehe,” Alana malu. "Tidak ada kata terlambat untuk belajar Alana. Semoga kau sukses ya,” Semangat Nyonya Smith. Alana mengangguk dan berterima kasih atas semua bantuan yang sudah keluarga Smith berikan pada keluarganya. Lalu berangsur kembali ke kegiatan mencucinya. "Awalnya aku sedih saat tahu kau akan berhenti bekerja. Tapi sekarang saat tahu kalau kau kuliah di kampus yang sama denganku. Wah, pasti menyenangkan kita bisa berangkat setiap hari bersama Alana,” Juno semangat menunjukkan senyum cerianya. "Hehe. Terima kasih Juno, tapi aku bisa menggunakan sepedaku sendiri,” Jelas Alana ramah. "Ah tidak. Kau harus berangkat bersamaku. Ya ya ya ya?" Rajuk Juno. "Ya ya baik terserah kau saja,” Alana menjawab malas yang disambut tawa Juno. Setelahnya di kafe. "Jimi, Joa. Maafkan aku. Aku harus berhenti dari pekerjaan ini. Ibuku ingin aku kuliah,” "Tentu saja Alana. Kita sangat mengerti. Semoga kau jadi psikolog yang sukses ya,” Semangat Joa. "Hehe terima kasih. Tentu aku juga sangat berterima kasih pada kalian yang sudah banyak sekali membantu,” Lanjut Alana. "Tentu Alana. Itu kan gunanya teman,” Jimi bicara. "Kau harus sering datang kesini Alana. Jangan lupakan kami. Mengerti?" Lanjut Joa. "Tentu. Aku tak akan melupakan kalian. Kafe ini juga searah kan dengan kampus ku. Aku akan sering kesini juga mengajak beberapa teman nantinya. Biar kafe kalian makin ramai dan terkenal. Hehe,” Tawar Alana. "Ah, itu bagus,” Joa menanggapi. Mereka pun tertawa bersama. Hanya pekerjaan di tempat karaoke yang masih Alana pertahankan. Tentu untuk membiayai kuliahnya dan kehidupan sehari-hari. Alana juga akan mencoba mencari beasiswa nanti. Pagi kuliah malam bekerja terdengar cukup bagus kan. Pagi hari, Alana memberi makan domba betina yang sedang mengandung di halaman belakang rumahnya. Rumput segar yang baru saja Alana tebas dari hutan sebelah. Alana membelinya dari tetangganya yang kebetulan peternak. Harganya jauh lebih mahal karena domba itu sedang mengandung. Alana membelinya dengan uang gaji nya bulan kemarin. Dia juga harus berpikir kemana lagi dia harus mencari dan darimana lagi uang untuk membelinya. Tentu saja semua tanpa sepengatahuan sang ibu yang membuatnya merasa berdosa karena sama saja seperti berbohong. Aku benar-benar tidak berpikir sejauh ini. Mencari hewan yang sedang mengandung ternyata tidak mudah. Aku butuh biaya yang cukup mahal juga. Semoga aku bisa melakukannya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau aku gagal. Besok dia akan membawanya ke rumah Yoon. Entah bagaimana tiba-tiba kemarin pagi saat Alana bangun. Sudah ada secarik kertas di meja kamar Alana sebuah alamat dan waktu nya. Alana yakini adalah rumah Yoon. "Bagaimana dia masuk ke kamar orang sembarangan? Kurang ajar sekali. Selalu membuatku ngeri dengan tingkah misteriusnya. Pria aneh,” Alana bergidik. Alana membawa domba dengan mengayuh sepedanya ke rumah Yoon yang ternyata berada di sisi lain kota. Jarak yang jauh juga kerepotan karena harus membawa domba. Bahkan dua kali terjatuh karena domba tiba-tiba berhenti berjalan. Memakan waktu satu jam untuk sampai rumah ini. Alana sangat letih dengan keringat bercucuran. PaKayan yang lusuh dan kotor juga luka nya di pergelangan tangan. Rumah dengan nuansa modern itu akhirnya terlihat didepannya. Rumah yang sangat Alana kagumi keindahannya. Belum sempat gadis itu mengetuk pintu. Kay sudah membukanya. "Siapa Kau?" Kay penasaran. "Saya Alana. Saya ingin bertemu Tuan Yoonki,” Kay melihat Alana dari ujung kepala hingga kaki. Lalu melihat domba yang berada di belakang Alana. "Owh, sebentar,” Kay langsung beranjak ke dalam. "Yoon, gadis itu datang,” Seru Kay. "Benarkah? Lebih cepat dari perkiraanku,” Kata Yoon santai melirik jam tangannya. "Kau benar Yoon. Gadis itu berbeda. Aroma manusia biasa memang manis. Tapi aromanya tidak hanya manis, tapi juga harum, sulit menjelaskannya. Aromanya berbeda,” "Well, ive told you Kay,” Jawab Yoon sambil berdiri menuju pintu. "Hai Nona Alana. Hm, domba itu. Bawa ke belakang saja,” Pinta Yoon. Alana nampak bingung celingukan. "Kenapa? Tidak bisa sendirian? Aku akan mengantarmu,” Yoon mulai berjalan mendahului. Memasukkan tangannya ke dalam sakunya. Jalannya cukup jauh dan berputar karena memang rumah Yoon cukup besar. Pria ini benar-benar ya. Apa dia tidak lihat aku kesulitan membawa domba ini. Seharusnya dia membantuku membawa domba ini. Ah, merepotkan. "Kau mengatakan sesuatu Nona Alana?" Tanya Yoon tiba-tiba. "Ah, tidak tidak Tuan,” Alana menggeleng keras. Yoon tersenyum saja melihat gadis itu takut padanya. Setelah mengikat domba itu di sebuah pohon di halaman belakang. Yoon mengajak Alana masuk ke rumahnya. "Kay, kenalkan. Gadis ini Alana. Ini Kay, dia tinggal denganku di sini,” Yoon yang melihat Kay duduk di ruang tengah langsung memperkenalkannya. "Hai Nona Alana,” Kay mengajaknya bersalaman. "Halo Tuan Kay,” Alana membalas salamannya. Alana memperhatikan Kay. "Kenapa rumah ini berisi pria-pria tampan? Apa mereka pasangan gay?" Tentu saja kedua laki-laki yang bisa mendengar isi hati Alana itu menahan tawa dan memandang jijik satu sama lain. "Kami rekan. Dia sahabatku. Aku sudah punya kekasih Nona Alana,” Jelas Kay tiba-tiba. "Ah, iya Tuan Kay. Saya mengerti,” Jawab Alana. "Bagaimana dua orang ini bisa membaca pikiranku. Ah, aneh,” Pikir Alana. "Bersantailah dulu. Kay akan membuatkanmu minuman,” Kay yang namanya disebut langsung menoleh. "What? Me?" Tanya Kay tanpa bersuara. Yoon hanya mengangguk untuk menanggapi. "Nona Alana menunggu Kay,” Sindir Yoon yang membuat Kay melengos pergi ke dapur. "Aku permisi sebentar. Duduklah dulu,” Tawar Yoon. Alana duduk di salah satu sofa besar itu. Sedangkan Yoon meninggalkannya. Karena tuan rumah tak kunjung muncul, Alana memutuskan untuk melihat-lihat sekeliling. Foto Kay dan Yoon ada disana. Sebuah piano di ujung ruangan. "Siapa yang memainkannya?" Alana berjalan terus sebuah lorong dengan dinding kaca di satu sisinya yang menghadap ke halaman belakang rumah. Dan sebuah pemandangan mengerikan mengusik Alana. "Aaaaarrrggghhh..,” Betapa terkejutnya Alana melihat Yoon sedang bersimpuh memakan domba yang susah payah sedang dia bawa tadi. Yoon refleks menoleh menunjukkan mulutnya yang berlumuran darah. Alana jatuh terduduk dan bersiap berlari meninggalkan rumah itu. Tak yakin dengan apa yang dilihat tapi yang jelas itu sesuatu yang salah. Hendak membuka pintu utama entah dari mana Kay berdiri di sanamembawa minuman. "Kenapa terburu-buru Nona. Ini minumanmu,” Tawar Kay. Hendak menghindar lagi siapa sangka Alana justru menabrak Yoon yang berdiri di belakangnya hingga terjungkal. Dengan cepat Yoon menangkap pinggang ramping Alana. "Apa yang begitu membuatmu takut Nona Alana?" Itu saja ucap Yoon. Alana tentu saja panik, berusaha menjauh dan bertanya. "Si-siapa kalian sebenarnya?" "Kami bisa menjelaskannya padamu kalau kau ingin. Tapi bisakah kau tenang sedikit?" Pinta Kay tenang. "Silahkan duduk lagi di tempatmu Nona Alana,” Lanjut Yoon. Dengan berat hati Alana duduk lagi di sofa itu. Menunggu penjelasan. Dan setiap kata yang Alana dengar dari mulut Kay terdengar seperti sebuah cerita dongeng bagi Alana. "Jadi vampir benar ada?" Tanya Alana ragu. Dibalas anggukan oleh Kay. "Yes girl,” "Selama ini aku hanya mendengar ceritanya dari ibuku. Walau aku berpikiran itu hanya cerita rakyat biasa. Hanya dongeng yang kau ceritakan untuk menakuti anak-anak. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan salah satunya. Well, dua,” Melihat Yoon dan Kay bergantian. Emma memang beberapa kali bercerita tentang vampir saat Alana kecil. Bahwa mereka benar ada dan hidup diantara manusia. Bahwa ada yang baik dan buruk diantara mereka. Bahwa tak perlu ada yang ditakuti walau sebagian memang berbahaya. "Ah, ini lebih baik. Tapi Nona Alana, aku harap kau selalu menyimpan ini sebagai rahasia. Kalau kau mengerti maksudku,” Pinta Kay yang dibalas anggukan cepat oleh Alana. "Jadi, Tuan Yoonki punya kemampuan mengabulkan permintaan?" Tanya Alana mulai penasaran. "Ya, tapi aku berhak memilih keinginan mana yang ingin ku kabulkan. Dan sebenarnya aku tidak benar-benar mengabulkan. Hanya sedikit membantu. Pada akhirnya, manusia lah yang menentukan semuanya,” "Bagaimanapun yang kau lakukan padaku dan ibuku sangat banyak Tuan Yoon. Aku sangat berterima kasih,” Balas Alana yang disambut Yoon dengan senyumannya. "Lalu, apa yang akan terjadi padaku kalau aku tidak bisa memenuhi syarat yang kau beri Tuan Yoon?" Alana tentu penasaran karena hingga detik ini Yoon tak menjelaskan lebih lanjut. "Semua vampir jahat bisa melihatmu dan kau akan menjadi santapan mereka,” Ujar Yoon. Alana tentu mendadak khawatir. Walau Yoon memang sudah mengatakan sebelum membuat perjanjian dengannya. Tapi tetap saja kemungkinan akan kehilangan nyawa membuat Alana takut. "Tak perlu terlalu khawatir. Pastikan saja kau memenuhi syaratnya Alana. Dan kau akan terbebas. Melupakan semuanya,” Tenang Kay. "Melupakan semuanya?" "Apa Yoon belum memberitahumu bagian itu? Kau akan melupakan semua ini setelah kau sudah memberikan lima hewan yang Yoon butuhkan. Hanya bagian dengan vampir didalamnya,” Jelas Kay. Ah begitu rupanya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
ceritanya menarik dan bagus
08/05/2022
1seruuu
30/09
0bagus aku suka novel nya
21/05/2025
0Ver Todos