logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Siapa Dia?

Yoon sedang duduk santai di sofa rumah nya bersama Kay.
"Yoon,” Panggil Kay namun yang dipanggil tak kunjung menoleh.
"Yoon!" Panggil Kay sedikit keras.
"Kenapa berteriak Kay? Aku tidak tuli,” Sanggah Yoon.
"What? Dari tadi kau mengacuhkanku Yoon. Kau aneh tahu. Tersenyum dan melamun,” Kay sebal melihat tingkah temannya itu.
Yoon hanya tertawa menanggapi amukan sahabatnya ini.
"Kau sehat kan Yoon? Apa yang membuatmu begini?" Tanya Kay.
"Aku bertemu seorang gadis Kay,”
Kay menatap Yoon lekat.
"Yoon kau tahu kan,"
"Tenang tenang aku tahu. Aku tidak akan membahayakannya,” Terang Yoon memutus perkataan Kay.
"Dia sudah membuat perjanjian denganku,” Terang Yoon singkat.
"Benarkah?" Tanya Kay.
"Iya, ibunya sakit. Dan aku membantunya. Itu saja,” Terang Yoon.
"Itu saja? Benarkah?" Pancing Kay.
"Kau harus melihatnya Kay. Aku yakin kau mungkin akan sama tertariknya denganku. Ada sesuatu yang berbeda dengan gadis itu Kay,” Yakin Yoon.
Tentu saja Kay menanggapinya sinis. "Bukankah itu karena kau menyuKaynya?"
Yoon memang tak bisa bicara banyak pada Kay tentang Alana untuk saat ini. Yoon tahu Kay khawatir. Yoon pernah jatuh cinta pada manusia, 170 tahun lalu. Diana namanya. Bahkan dia sudah tahu bahwa Yoon adalah vampir dan masih bersedia mendampinginya. Diana juga yang membantu Yoon belajar menahan diri untuk tidak mudah tergiur oleh aroma darah manusia.
Hingga suatu ketika setelah menjalin hubungan hingga tiga tahun, Liz mendengarnya dan membunuh gadis itu tepat dihadapannya. Menikmati darah gadis yang Yoon cintai tersebut hingga tetes terakhir. Sedangkan Yoon hanya menangis lemah meratapi meninggalnya wanita yang dia cintai itu.
"Kau kira aku akan membiarkanmu Yoon? Kau kira aku tidak tahu?" Tanya Liz sinis.
"Tentu aku tahu Yoon. Well, aku memang salah sangka. Aku kira kamu sendiri yang akan membunuhnya. Siapa sangka kau bertahan. Namun setelah menunggu cukup lama, setelah perasaanmu semakin dalam padanya, aku mengambil nyawanya. Semudah itu Yoon,” Ucap Liz tanpa belas kasih.
"Kau kira aku akan membiarkanmu bahagia Yoon? Hm, aku bahkan sudah melupakan kata itu. Aku pastikan akan membuatmu menderita, selalu!" Tutup Liz sebelum berlalu.
Sejak saat itu Yoon tidak pernah lagi dekat dengan manusia. Hingga kemarin, ketika pertama kali dia melihat Alana. Semua yang ada pada tubuh Alana seakan menghipnotis Yoon. Tidak hanya tampilan luarnya namun kecantikan hatinya. Sulit untuk tak mengatakan dia tidak jatuh cinta. Tapi saat ini dia berusaha sekali untuk mengacuhkan perasaannya. Dan entah kenapa batin Yoon mengatakan gadis itu akan menemuinya malam ini.
Sedangkan di rumah sakit, Alana sedang berbaring di sofa di dalam ruang perawatan ibunya. Beruntung semua atasan di tempat kerjanya mengerti bahwa Alana butuh waktu untuk menjaga ibunya sementara waktu hingga benar-benar sembuh. Mereka semua pun bergantian datang hanya untuk mengantar makanan untuknya.
Ini sudah hari kedua dan ibunya semakin baik. Bahkan dinyatakan sembuh total oleh Dokter Hosi dan bisa pulang dua hari lagi. Benar-benar sebuah keajaiban yang bahkan membuat dokter dan petugas rumah sakit pun takjub.
Dia mengeluarkan sebuah kartu nama kecil dari sakunya. Yang entah bagaimana dia temukan ada di dalam saku paKayannya kemarin saat akan mengganti paKayannya. Alana melihat lagi kartu nama itu. Membacanya berulang kali. Mengingat kembali "perjanjian"nya malam itu.
"Apakah benar ini karena perjanjian itu? Apa benar pria itu yang menyelamatkan ibuku? Van Yoonki Genusioso. Apa ini namanya? Sepertinya aku harus coba datang kesana,”
Alana mengayuh sepedanya, menuju alamat yang tertera disana. Sweet Blood Restaurant. Ya, itu nama restoran yang sedang dia tuju sekarang. Nama yang cukup aneh untuk sebuah tempat yang menjual makanan.
Tiba di sanatak menyangka Alana ternyata sebuah restoran yang cukup ramai dan nyaman. Alana masuk saja setelah memarkirkan sepedanya. Tentunya satu-satunya sepeda di sanabersanding dengan mobil-mobil mewah lainnya. Dekorasi yang sangat mewah dan elegan. Dengan cahaya lampu temaram. Meja bundar tersusun rapi dengan lilin dan sebuket mawar merah.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Seorang resepsionis bertanya pada Alana.
"Ah, saya mencari pria ini,” Alana menyerahkan kartu namanya pada resepsionis tersebut.
"Tuan Yoonki, hm sebentar ya,” Resepsionis tersebut pamit meninggalkan Alana sendirian.
Semua makanan yang tersaji di piring nampak lezat dan mahal. Makanan yang jelas belum pernah Alana makan seumur hidupnya. Yang harganya mungkin setengah gaji Alana bekerja di kafe selama satu bulan.
Apa dia pemilik restoran ini?
Si resepsionis datang. "Nona Alana. Aku akan mengantarmu,”
Alana mengekor saja di belakang resepsionis itu. Menaiki lantai dua yang ternyata juga cukup ramai. Dan memasuki sebuah ruangan di pojok ruangan. Si resepsionis membukakan pintu. "Silahkan, Tuan Yoonki menunggumu didalam,”
Karena tak kunjung ada pergerakan. "Masuk saja,” Terdengar suara lirih dari dalam.
Begitu Alana masuk, si resepsionis segera menutup pintunya lagi. Entah kenapa dia menjadi gugup. Yoon sedang duduk di kursinya. Menunduk menulis sesuatu di hadapannya dengan pena. Lalu melirik Alana sebentar dan meletakkan penanya.
"Jadi, bagaimana kabar ibumu?" Tanya Yoon melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Hm, ba-baik,” Kata Alana.
"Baguslah kalau begitu,”
"Hm, Maaf Tuan Yoonki, jadi itu benar karena kau?" Tanya Alana.
"Kau meragukanku?" Tanya Yoon.
Laki-laki ini bicara sangat singkat. Namun Alana berdebar bukan main. Apalagi saat Yoon berdiri dari kursinya dan perlahan mendekati Alana.
"Ma-maaf tuan saya hanya bingung, bagaimana mungkin?"
Yoon menyentuh dagu Alana yang tertunduk. Mengangkatnya sedikit agar dia bisa melihat mata emas Alana.
"Anggaplah, aku memiliki kekuatan,” Jawab Yoon santai.
Alana semakin gugup. Baru kali ini dia melihat Yoon sedekat ini. Dan dia mengakui pria ini tampan. Tubuh tegap dengan kulit putih. Bibir merah merekah. Namun tatapan mata yang menusuk.
Yoon melepaskan sentuhan tangannya di dagu Alana.
"Jadi, apa yang membawamu datang kesini Nona Alana?" Tanya Yoon.
"Hm, ya, ah, tidak. Itu maksudku..." Alana bingung harus bicara apa.
Yoon tak lepas melihat manik mata Alana. Membuat sang empunya makin gugup.
"Aku peringatkan kau Alana. Perjanjian itu, hanya kita yang boleh tahu. Dan kau tidak perlu tahu siapa atau apa aku. Hanya cukup tepati janjimu. Karena kalau kau gagal, aku tak akan bisa membantumu,” Terang Yoon lagi.
Yoon tertarik pada tanda yang mulai muncul di leher Alana. Sebuah bintang bersinar yang hanya bisa Yoon lihat dan kaumnya. Entah kenapa tanda itu terlihat indah di leher Alana.
"Baiklah Alana. Aku rasa sudah tidak ada yang perlu kau ketahui lagi kan?" Tanya Yoon.
"Baik tuan saya akan pergi. Maaf mengganggu waktu tuan,” Alana pergi meninggalkan Yoon dan kembali ke rumah sakit.
Yoon menatap pintu yang tertutup.
"Alana, gadis yang sangat menarik. Aroma tubuhnya membuatku pusing. Tidak biasanya aku mudah tergiur pada aroma tubuh. Tapi ini, akhh,” Yoon malas berpikir.
Alana berada di rumah sakit lagi. Juno disana, membawakannya makanan lagi.
"Kau ingin membuatku gendut Juno? Baru tadi siang kau mengantar makanan. Sekarang sudah datang lagi. Bagaimana aku harus memakan semuanya?" Alana menoleh pada nakas rumah sakit yang memang banyak berjejer makanan yang belum tersentuh.
"Hehe. Kau harus banyak makan supaya sehat terus. Jangan sampai sakit nanti tidak ada yang merawat ibumu,”
"Terima kasih ya Juno. Kamu banyak membantuku,” Alana menggenggam tangan Juno.
Alana justru berdegup melihat Juno seintens ini. Pria yang sangat manis dan imut. Terlalu sulit digapai. Alana segera menyadarkan diri dan melepas genggamannya. Namun Juno justru menarik lagi lengan Alana dan mencium bibir gadis itu lembut. Alana kelu tidak menolak juga tidak menerima ciuman itu.
Hingga, "Alanaaa.,” Emma terbangun dari tidurnya.
Alana terburu mendorong Juno menjauh hingga terjungkal. Dia segera menghampiri ibunya. Juno tersenyum di belakangnya. Menyadari apa yang barusan terjadi. Menyentuh bibirnya sendiri.
"Ibu. Aku di sini,” Alana menggenggam tangan ibunya.
"Alana. Ibu sepertinya tidur terlalu lama ya? Badan ibu sakit semua,” Tanya Emma.
"Hehehe iya bu. Tapi yang paling penting ibu sehat sekarang. Ibu sudah sembuh,” Semangat Alana.
"Benarkah? Syukurlah atas keajaiban ini. Dan, ibu ingin minta maaf karena uang itu,,"
"Sudahlah bu. Tak apa. Aku mengerti itu semua demi kebaikanku. Ibu ingin aku kuliah kan?" Tanya Alana.
"Iya Alana. Uang yang ibu kumpulkan sudah cukup untuk mendaftarkan kau kuliah. Kuliah lah. Raihlah mimpimu,” Bahkan dalam kondisi sakit Emma masih memikirkan anaknya.
"Iya bu. Aku akan kuliah. Terima kasih bu sudah berkorban sebanyak ini,” Alana menangis memeluk ibunya.

Comentário do Livro (126)

  • avatar
    Pramudia Amalia

    ceritanya menarik dan bagus

    08/05/2022

      1
  • avatar
    Nurul Huda

    seruuu

    30/09

      0
  • avatar
    .F SyahHammy

    bagus aku suka novel nya

    21/05/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes