Alana sedang menikmati kopi pagi harinya di halaman belakang rumahnya. Duduk di sebuah bangku kayu yang mulai rapuh sambil memandang kebun yang ditanami segala jenis sayuran mulai dari tomat, cabai, sawi, kentang, wortel, dan lain sebagainya. Kebun itu untuk ibunya, Emma yang sudah sakit TBC sejak tiga tahun lalu. Hasil kebun digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dikonsumsi sendiri dan sisanya dijual ke tetangga. Semenjak ibunya sakit pula, Alana Xivana Andromeda, gadis berusia 22 tahun dengan kulit kuning langsat, rambut gelombang coklat sepunggung, mata besar bewarna emas, dan bibir tipis bewarna pink terpaksa harus bekerja untuk pengobatan sang ibu. Ibunya adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Hingga saat ini Alana tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sang ibu hanya mengatakan ayahnya meninggal saat Alana kecil namun tak pernah sekalipun mengajaknya ke pembaringan. Hanya sebuah foto yang bahkan sudah buram dan tak terlihat satu-satunya cara dia mengingat sang ayah. Hanyalah Alana satu-satunya harapan sang ibu untuk sembuh. Oleh karena itu, Alana bekerja di tiga tempat sekaligus. Pagi hari dia adalah buruh cuci di rumah tetangga yang kebetulan paling kaya di daerah tersebut. Siang hari Alana bekerja di sebuah kafe kecil sebagai barista. Dan malam harinya dia masih bekerja di sebuah tempat karaoke sebagai cleaning service. Tentu saja lelah dan letih tapi Alana mengerjakan semuanya dengan suka cita. Walau mimpinya untuk kuliah juga harus dikuburkan dalam-dalam. "Alana, kemari nak,” Suara sang ibu terdengar memanggil dari dalam. Alana langsung beranjak pergi ke kamar ibunya. "Kenapa ibu? Apakah ibu baik-baik saja?" Tentu saja Alana khawatir. Ibunya sedang tidak sehat sejak tadi malam dan pengalaman sebelumnya juga sudah dua kali sang ibu hampir meregang nyawa saat penyakitnya kambuh dan memuntahkan banyak sekali darah. "Ibu masih kurang enak badan. Bisakah kau bantu ibu hari ini mengurus kebun sebelum berangkat kerja?" Bahkan di kondisinya yang terbatuk sang ibu lebih mementingkan kebunnya. "Ah ibu, tentu saja aku akan melakukannya. Kesehatan ibu yang paling penting. Istirahatlah,” Ujar Alana sambil memijat ringan lengan ibunya. Setelah pamit pada sang ibu, Alana pergi ke kebun belakang rumahnya menyapu dan menyiram tanaman lalu segera berangkat ke rumah tetangganya untuk bekerja. Rumah besar berwarna putih yang dimiliki oleh Tuan dan Nyonya Smith. Mereka sangat baik hati dan dermawan. Sebenarnya mereka sudah memiliki dua asisten rumah tangga. Tapi tetap memberi Alana kesempatan untuk bekerja disana. "Hai Alana,” Sapa Juno. "Hai juga Juno. Tidak kuliah?" Tanya Alana yang sedang sibuk mencuci di salah satu sudut halaman belakang rumah Smith. "Nanti siang Alana. Kalau kau mau aku bisa mengantarmu nanti ke kafe,” Tawar Juno. "Owh apa tidak merepotkan?" Tanya Alana. "Tidak, tentu tidak. Hehehe,” Tawa Juno kikuk. Juno Alexandrio Smith tapi biasa dipanggil Juno. Anak pertama laki-laki dan satu-satunya dari keluarga Smith. Sudah berteman dengan Alana sejak pertama kali bekerja di sini. Laki-laki tampan dengan rambut hitam sedikit panjang dan tato yang memenuhi lengannya. Namun tentu mewarisi hati emas dari orangtuanya. Beruntung Juno bisa kuliah di jurusan musik yang memang dia inginkan karena orangtuanya mendukungnya juga mampu membiayai tentunya. "Hm baiklah Alana. Aku tinggal dulu ya. Aku akan menunggu di kamar,” "Ya tentu Juno. Terima kasih sebelumnya,” Senyum Alana tulus. Juno kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua. Menutup pintu kamarnya dan duduk di meja belajarnya yang tepat berada di samping jendela. "Ah untung hari ini kuliah siang. Aku jadi bisa melihat Alana sepuasku dari sini,” Ya, Juno menyukai Alana. Bukan Juno tidak pernah menunjukkan perasaannya pada Alana. Hanya saja karena keadaan, Tuan dan Nyonya Smith sudah terikat perjanjian dengan sahabat mereka untuk menjodohkan Juno dan anak mereka Liza nanti saat usia mereka tepat 25 tahun. Selain itu Alana hanya melihat Juno sebagai sahabat. Juno tidak bodoh, dia bisa menilai semua dari sikap Alana padanya. Tentu saja Juno tidak mau merusak hubungan yang sudah dia miliki ini dengan Alana. Lebih baik begini daripada tidak sama sekali. "Andai aku bisa memilikimu Alana, aku pasti akan sangat bahagia,” Lamun Juno. Saat jam kerja usia. Sesuai janji Juno mengantar Alana ke kafe dengan motor besar bewarna hitam kesayangannya. "Terima kasih Juno,” Seru Alana sambil menepuk lengan sahabatnya itu. "Tentu Alana. Apapun untukmu,” Dan Juno pun pergi. Alana masuk saja ke kafe yang langsung di sambut hangat dua sahabat nya yang lain. Jimi dan Joa. "Kalian sangat cocok,” Joa membuka pembicaraan. Alana yang bingung menoleh kanan dan kiri dulu memastikan bahwa Joa memang bicara padanya. "Ya tentu saja aku bicara padamu bodoh. Argh, punya teman sepertimu melelahkan,” Amuk Joa yang disambut tawa Jimi. "Owh aku? Dan Juno? Hm, hehe. Kau tau kan itu tak mungkin terjadi,” "Jadi kau menyukainya?" Tanya Jimi. "Aku pernah menyukainya. Tapi sekarang aku menghargainya sebagai sahabat. Aku menjaga semua tetap seperti ini,” Ujar Alana. "Wah, melankolis sekali ya,” Ejek Joa. "Sudahlah, aku akan bersiap,” Alana pergi menuju ruang staf. Mereka adalah Jimiah Ivander dan Joaish Frederica. Jimi adalah pemilik kafe ini dan juga teman Alana waktu SMA. Sedangkan Joa adalah pacar Jimi yang membantunya di sini. Dulu Joa pernah cemburu pada Alana, tapi itu tak berlangsung lama karena mereka justru berteman baik. Jimi berhati malaikat. Itu yg selalu Alana katakan. Dia tak ragu membayar gaji Alana di awal kalau dia membutuhkan uang untuk membeli obat ibunya. Alana menyelesaikan pekerjaannya di kafe dengan cekatan. Kebanyakan Alana hanya mengantarkan makanan juga membersihkan kafe. Setelah makan malam di kafe, tentu saja lagi karena kebaikan Jimi yang memberikan fasilitas makan malam pada Alana, dia lanjut berjalan kaki sejauh dua blok ke tempat karaoke. Menyapa rekan kerjanya yang sedang berada di meja kasir. Namu yang genit pada wanita mana pun. "Hai cantik,” "Hai Namu,” "Selalu dan semakin cantik Alana,” Namu menyandarkan kepalanya di kedua tangannya yang menopang. Sengaja menggoda Alana dengan senyuman berlesung pipit yang memang manis itu. "Hahaha. Jadi, aku gadis keberapa yang kau goda hari ini Namu?" Alana bertanya. "Hanya kau Alana. Hanya kau,” Namu mencoba meyakinkan dengan Alana yang berlalu. Begitu lah Namu Nathaniel Junior atau semua orang memanggilnya Namu selalu menggodanya setiap hari. Berharap gadis itu akan sadar bahwa dia memang mencintai gadis itu. Walau di lain sisi Namu sadar dia berasal dari keluarga yang juga pas-pasan dan membahagiakan Alana mungkin hanya bertahan sebatas angan. Alana masuk ke ruang staf dan bertemu dengan Weni Bunga Letishia. Gadis cantik berkulit putih yang sangat pandai bernyanyi dan berharap dengan kerja di tempat karaoke, semua akan berubah. Nasibnya mungkin lebih buruk dari Alana karena Weni benar-benar sebatang kara. "Kau kerja Alana? Kau yakin semuanya baik setelah kejadian..." Weni menggantung ucapannya. "Tenang Wen, tak usah khawatir. Kau tahu kan kita sudah menghadapi ini hampir tiga tahun. Aku terbiasa,” Senyum Alana yang ceria dan meneduhkan itu tersimpul. "Kau tenang saja. Ada yang berani menganggumu lagi, akan ku hajar dia sampai babak belur!" Weni mengeluarkan bogeman di tangannya yang justru mengundang tawa Alana. "Hahaha. Terima kasih Weni. Kau sahabat terbaik,” Dari tempat kerja Alana yang lain. Walau resiko pekerjaannya di sini paling berat tapi upahnya memang yang paling besar. Baru satu hari yang lalu Alana digoda oleh salah satu pengunjung karaoke yang mengira bahwa dia wanita penghibur. Sedikit ricuh untung saja waktu itu pemilik karaoke sedang berkunjung, Kim Teja Bhadrika yang langsung membela karyawannya. Tempat karaoke ini cukup besar, ada sekitar delapan orang karyawan setiap hari nya bekerja di sini tapi memang hanya Namu dan Weni yang paling dekat dengannya. Beruntunglah di tempat kerja manapun Alana selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik yang siap membantu. Alana selesai membersihkan ruang karaoke dan akan beranjak. Jam kerja Alana di karaoke selesai pukul 11 malam. "Ayo pulang,” Ajak Namu. "Ayooo,” Jawab Alana. Beginilah setiap hari. Selalu Namu yang membonceng Alana dengan sepeda pancalnya. Bukan karena Namu tak mampu membeli motor. Dia yakin dia mampu membelinya dengan sedikit menabung dan mencicil tapi alasannya tak punya motor karena dia tak bisa mengendarainya. Agak memalukan memang tapi biarlah seperti ini. "Masih bertahan dengan sepeda pancal kesayanganmu Namu?" Tanya Alana. "Hehehe. Iya Alana. Kau tahu kan naik sepeda itu sehat,” Jawab Namu mengelak. "Tapi pasti berat kan kau harus mengayuh dengan aku di belakangnya. Sampai rumah pula,” Lanjut Alana. "Kau tahu kan, selama itu kau aku akan dengan senang hati melakukannya,” Rayu Namu. Alana tidak bodoh, dia tahu Namu juga menyukainya. Namun lagi dan lagi dia hanya menganggapnya sahabat. Sebenarnya pulang dengan Namu setiap hari pun menjadi beban tersendiri untuk Alana. Dia takut akan menyakiti Namu lebih dalam nantinya. Tapi mau tak mau keadaan memaksanya melakukannya. Tak ada kendaraan umum tengah malam begini. Sampai di rumahnya. Namu pamit dan pergi meninggalkan Alana. Hal pertama yang dia lakukan tentu memasuki kamar ibunya. Memegang dahi ibunya memastikan suhu tubuhnya normal. Cukup lega karena tidur ibunya nampak nyenyak. Lalu berbalik ke kamarnya sendiri persis di sebelah kamar ibunya. Membersihkan diri dengan mandi dan mengganti pakaian. Lalu merebahkan dirinya di ranjang. "Akhirnya, bertemu dengan kasur yang kurindukan,” Pikiran Alana pun melambung. Sepertinya aku harus mempertimbangkan membeli sepeda sendiri sekarang. Aku bisa menghemat biaya juga tidak perlu bayar untuk ongkos bis "Seandainya ayah ada, apakah semuanya akan lebih baik? Mungkin saja kondisi ekonomi keluarga kami bisa lebih baik. Ibu bisa menerima pengobatan yang lebih baik. Aku mungkin juga bisa berkuliah dan sekarang aku bisa bekerja di tempat yang lebih baik. Dimana sebenarnya kau ayah? Apa kau tak ingin bertemu ibu dan aku?" Di satu titik Alana percaya bahwa ayahnya masih hidup. "Mungkin ibu hanya takut aku akan berusaha mencarinya. Mungkin juga ada alasan lain yang lebih rumit dari itu,” Itu yang selalu Alana yakini.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
ceritanya menarik dan bagus
08/05/2022
1seruuu
30/09
0bagus aku suka novel nya
21/05/2025
0Ver Todos