logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Part 5

Aku kembali terbangun mendengar suara seorang gadis yang sedang bersanandung pelan. Aku berusaha bangkit dari tidurku dan kudengar langkah kaki gadis itu mendekat ke arahku.
“Adik ipar sudah bangun?” tanyanya seraya membantuku untuk duduk. Aku sedikit tertegun mendengar dia baru saja memanggilku adik ipar? Tunggu, apa maksudnya?!
“Ah ya, namaku Alena Steward. Aku kakaknya Dave,” ucapnya memperkenalkan diri sekaligus menjawab pertanyaan yang bermunculan di otakku. Dia kakak prempuan Dave? Tunggu, tapi siapa itu Dave?!
“Dia matemu, bodoh,” seru Lucy bersungut-sungut di dalam kepalaku. Menyadarkanku satu hal penting yang terlewatkan olehku.
“Mate? jadi Dave ya namanya?” tanyaku sekali lagi seperti orang bodoh. Lucy tak menanggapinya. Ah, aku lupa jika Lucy benci mengulang kata-katanya. Ok, itu tak jadi masalah. Yang jelas sekarang aku sudah tau namanya.
“Dave baru saja keluar sekitar satu jam yang lalu. Dia sedang menghadiri pertemuan dengan pack lain. Awalnya dia bersikeras untuk tetap menemanimu disini. Tapi, yah dia tidak bisa meninggalkan tugasnya begitu sajakan? Menjadi seorang Alpha memang tidaklah mudah,” tutur gadis yang baru kuketahui namanya Alena itu membuatku tertegun. Dia baru saja mengatakan bahwa Dave seorang Alpha? Itu artinya mateku seorang alpha?!
“Alpha?” gumamku lirih namun masih bisa di dengar Alena.
“Kau tidak tau? Dave adalah seorang Alpha di pack kami. Dan ... kau adalah calon Luna kami,” jawab Alena dengan semangat. Aku sedikit terkejut dengan jawaban Alena. Luna?! aku adalah mate seorang Alpha?! Itu jadi sebuah kejutan yang begitu mengejutkan untukku. Dan itu kenyataan yang semakin mengecilkanku. Gadis yang lemah sepertiku tak pantas menjadi pendamping seorang Alpha. Aku bukanlah orang yang tepat ntuk posisi itu. Aku jadi merasa kasihan pada packnya karena mendapat seorang Luna yang payah sepertiku. Begitu juga dengan mateku, mungkin aku hanya akan menjadi aib baginya.
“Jangan merasa sedih seperti itu. Kau harus tau, Dave sangat mencintaimu tanpa memandang fisik ataupun kelebihan yang ada pada dirimu. Dave menyukai semua yang ada pada dirimu. Jadi percayalah padanya,” tuturnya seakan tau apa yang ada di pikiraanku. Aku hanya diam dan mengangguk lemah.
“Sekarang, aku akan mengobati luka di punggungmu. Cepat lepaskan bajumu dan berbaliklah,” minta Alena padaku. Namun tak segera kulakukan. Aku masih terdiam, ragu melakukan permintaannya.
“Tidak apa-apa. Tidak ada orang disini. Aku hanya ingin mengobati lukamu,” kata Alena meyakinkanku. Dan akhirnya aku menuruti permintaannya. Kubuka bajuku dengan hati-hati. Kemudian aku berbalik memunggunginya. Sempat kudengar Alena memekik pelan saat aku menunjukkan punggungku padanya. Aku tidak akan terkejut dengan reaksinya, karena siapapun yang melihatnya pasti juga akan menunjukkan reaksi yang serupa. Aku yakin, bilur-bilur luka baik yang masih merah maupun yang sudah keunguan memenuhi seluruh kulit punggungku.
“Apakah sakit?” tanya Alena lirih seraya meraba pelan luka di punggungku. Dari suaranya, aku bisa tau dia pasti merasa prihatin dengan keadaan punggungku. Aku menggeleng dengan cepat dan menjawab dengan pelan, “Tidak, untuk saat ini.”
“Aku tidak tau apa yang sudah kau alami selama ini. Tapi semuanya mengkhawatirkanmu,” kata Alena sambil mengobati punggungku dengan hati-hati. Aku masih diam dan menundukkan kepalaku. Aku tak tau harus mengatakan apa pada Alena. Entahlah, aku masih merasa ragu untuk mempercayainya meskipun aku juga merasa nyaman di dekatnya.
“Apapun yang terjadi di masalalumu, kuharap suatu saat nanti kau mau menceritakannya pada kami. Kau bisa cerita padaku, pada ibu, dan juga pada Dave. Kami semua pasti akan mendengar semua ceritamu,” tutur gadis dengan lembut dan kujawab dengan anggukan. Sekarang aku merasa bisa sepenuhnya percaya pada gadis itu. Namun, untuk menceritakan semuanya, kurasa aku masih belum siap.
Tiba-tiba kudengar suara geraman dari seseorang, tak lama setelah kudengar suara pintu yang dibuka keras. Aku langsung memegang erat pakaianku yang kugunakan untuk menutup dadaku. Mengingat bagaimana keadaanku sekarang. Alena masih mengoleskan obat di punggungku dan tentu saja aku masih tak mengenakan atasan sekarang.
“Siapa yang melakukannya?”, tanya laki-laki itu dengan geram. Dia terdengar begitu marah sekarang. Kutundukkan kepalaku dalam-dalam dan semakin erat memeluk pakaianku yang menutup dadaku. Jantungku memompa keras.
“Dave, kau membuatnya takut.”Suara Alena yang berbisik terdengar olehku. Kurasa dia berbicara pada laki-laki itu yang tak lain adalah mateku. helaan napas panjang terdengar sebelum akhirnya suaranya kembali melembut.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya merasa sangat marah pada orang yang sudah berani melukaimu seperti ini,” kata Dave sambil mengusap kepalaku. Sepertinya dia sudah tau betul bagaimana cara membuatku kembali tenang. Aku masih menunduk dan mematung di tempatku. Aku tau dia mungkin menungguku untuk mengatakan sesuatu padanya. Tapi, kurasa aku masih belum siap untuk berbicara lebih banyak padanya.
“Kau bisa berbicara masalah apapun padaku dan kapanpun kau mau,” ucap Dave lagi. Meskipun aku tak tahu ekspresi apa yang ditunjukkan wajahnya sekarang, tapi aku menangkap adanya sedikit rasa kecewa dari suaranya. Tentu saja, dia pasti kecewa padaku. Tapi aku memang belum siap menceritakan segalanya. Rasanya semuanya masih terlalu menyakitkan untuk diingat ulang. Aku hanya mengangguk dan dia melepaskan tangannya dari kepalaku.
“Emm ... aku akan kesini lagi nanti, setelah Alena selesai mengobatimu,” kata Dave sebelum kudengar langkah kakinya menjauh pergi bersama aromanya yang perlahan hilang. Aku terkejut saat tiba-tiba suara tawa Alena pecah. Setelah kepergian Dave, tiba-tiba saja gadis itu tertawa keras. Aku menoleh kearahnya yang berada di belakangku. Aku bisa dengar dia yang berusaha menghentikan tawanya. Mungkin setelah sadar aku sedang menoleh kearahnya.
“Ah, astaga. Kau harusnya lihat wajah Dave yang terakhir tadi. Andai saja perban itu tidak menutupi matamu, pasti kau akan lihat seberapa merah wajahnya. Apalagi saat aku menangkap basah dia saat diam-diam melirik ke arah dadamu. Tak kusangka adik kecilku itu sudah jadi orang yang mesum sejak bertemu matenya,” ucap Alena sambil tertawa di sela-sela perkataannya. Tak perlu waktu lama pipiku memanas mendengar perkataan Alena. Mungkin sekarang justru wajahku yang memerah. Dan benar saja, tawa Alena kembali pecah mungkin setelah melihat reaksiku.
“Ah, astaga sekarang wajah adik ipar yang memerah. Apa itu karena Dave?” tanya Alena dengan nada yang menggoda. Aku segera menggeleng dengan cepat dan menundukkan wajahku. Astaga, ini memalukan! Kuharap ia tak melihat wajahku yang makin memerah seperti tomat. Namun kurasa terlambat, tawanya kembali memenuhi ruangan.
Alena adalah orang yang baik. Dia ramah dan sangat bersahabat, bahkan dia masih terus bicara padaku meski aku tak banyak menanggapi ucapannya. Dari gadis itulah aku mengetahui banyak hal. Alena paling banyak menceritakan sosok Dave padaku. Karena tak bisa melihat rupanya, Alena hanya terus menceritakan ciri-ciri fisik Dave padaku. Sayangnya, meski berkali-kali Alena menceritakannya, aku sama sekali tidak memiliki gambaran apapun tentang Dave. Bagiku mengenal suara dan aromanya untuk saat ini sudah cukup bagiku.
Aku adalah orang yang sangat membosankan jika dibandingkan dengan Alena. Aku merasa sangat bersyukur karena gadis itu sering mengunjungiku dan mengajakku bicara. Bahkan selama aku dirawat di tempat ini, Alena selalu menemaniku saat Dave tidak ada. Alena tak pernah membiarkan aku sendirian. Dia selalu bisa membuatku nyaman saat bersamanya. Meskipun baru mengenal, tapi Alena sudah memperlakukanku seolah kami adalah sahabat yang sudah mengenal lama.
Alena sering menceritakan tentang masa kecilnya bersama Dave, hal konyol yang pernah dilakukan Dave, dan hampir semuanya tentang Dave. Ya, aku tahu Alena sedang berusaha mendekatkanku dengan Dave. Karena jujur saja, aku masih saja merasa asing walaupun sudah beberapa kali Dave menemaniku dan mengajakku bicara. Mungkin akan memakan waktu yang agak lama agar bisa terbiasa dengannya. Aku masih belum berani berbicara banyak padanya. Mungkin aku hanya akan mengangguk atau menggeleng dan sesekali mengatakan beberapa kata yang singkat. Aku bersyukur Dave begitu pengertian padaku. Dia tak pernah menuntut apapun dariku dan selalu memperlakukanku dengan hati-hati dan lembut.
***

Comentário do Livro (203)

  • avatar
    Fi Qi

    bagus sekali

    15/02

      0
  • avatar
    DewisartikaHana

    bagis

    30/01

      0
  • avatar
    Dwi

    love story ada yang

    24/12

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes