logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Part 4

Aku berusaha duduk dengan tenang. Kurasa hanya tinggal aku dan laki-laki itu disini. Aku pastikan itu, karena hanya ada aromanya saja yang bisa memenuhi ruangan ini. Aku tak bisa mencium aroma wolf lain selain aromanya yang begitu memabukkan disini. Kemampuan seorang werewolf adalah penciuman dan pendengaran yang tajam. Jadi meskipun saat ini aku tak bisa melihat, aku masih bisa mengetahui keberadaan wolf lain disekitarku hanya dengan mencium aroma mereka.
Setiap werewolf memiliki aroma yang berbeda beda. Jadi, dengan begitu aku juga bisa menentukan ada berapa wolf yang ada di sekitarku hanya dengan mencium seberapa banyak aroma dari mereka. Tapi , baru kali ini aku mencium aroma yang sangat berbeda. Aromanya begitu harum dan memabukkan. Membuatku kecanduan untuk terus menghirup aroma ini sebanyak-banyaknya. Apalagi Lucy langsung berteriak bahwa pemilik aroma ini adalah mateku, orang yang ditakdirkan oleh Moon goddes untuk menjadi pasangan abadiku.
Keheningan menyemuti ruangan ini untuk sesaat, sebelum akhirnya laki-laki yang bisa kusebut sebagai mateku itu kembali bersuara. “Kau lapar?” tanyanya membuatku mengingat bagimana kondisi perutku. Mengangguk pelan, aku sedikit menunduk merasakan rasa hangat yang menjalar di wajahku.
Rasanya sudah sangat lama ada seseorang yang bertanya seperti itu. Seakan tahu sedang diperhatikan, perutku mulai meneriakan suaranya. Cukup keras untuk membuatku semakin malu. Entah berapa lama aku tidak makan. Tapi, perutku terasa sangat kosong sekarang.
“Tunggu sebentar,” katanya, melepaskan genggaman tangannya dan suara langkah kakinya yang mulai menjauh. Ada sedikit rasa sedih saat dia menarik kembali tangannya. Namun tak lama kemudian, langkahnya kembali mendekat.
“Sekarang buka mulutmu, Sia.” Aku terdiam mendengar permintanya yang lembut. Sedikit tertegun saat mendengar bagaimana dia memanggilku. Sia? Kudengar tadi dia memanggilku Sia? Itu terdengar seperti panggilan kesayangan. Bisa kudengar Lucy yang langsung berteriak girang dalam kepalaku. Aku terdiam sejenak. Kemudian dengan ragu akhirnya aku menuruti kata-katanya. Kubuka mulutku dan dia mulai menyuapiku. Dia terus menyuapiku dengan bubur yang terasa hambar di lidahku, hingga aku yakin semua bubur itu telah masuk seluruhnya ke dalam perutku.
“Kau masih lapar?” tanyanya setelah membantuku minum. Aku segera menggeleng, makanan yang diberikannya sudah lebih dari cukup untukku. Tak mungkin jika aku meminta lebih. Tubuhku sedikit menegang saat tangannya yang terasa hangat kembali menggenggam tanganku. Ruangan ini begitu hening sekarang. Tak ada dari kami yang bicara. Laki-laki itu juga sangat diam dari sebelumnya. Membuat suasana berubah sedikit tidak nyaman. Aku jadi merasa seperti gadis yang tak tahu diri. Laki-laki itu sudah menunjukan banyak kebaikannya, tapi aku bahkan sama sekali tak menunjukkan keramahan.
“Te ... terimakasih,” ucapku lirih sedikit memberanikan diri. Suaraku cukup lirih, mungkin seperti sebuah bisikan, namun kuyakin dia masih bisa mendengarnya. Laki-laki itu terdiam cukup lama, namun dia menjawabku pada akhirnya.
“Untuk apa?” jawabnya atau lebih tepatnya memberiku pertannyaan.
“Untuk semuanya” jawabku pelan. Aku sedikit terkejut saat tiba-tiba dia menarik tubuhku dalam pelukannya. Dia memelukku dengan hati-hati kemudian mengusap kepalaku dengan perlahan. Awalnya tubuhku sedikit menegang saat dia mulai memelukku. Tapi tak perlu waktu lama aku mulai merasa tenang dan nyaman. Ya, rasanya sangat nyaman dan aku juga ... merasa aman dalam pelukannya. Dengan jarak yang seperti ini, aku bisa menghirup aromanya yang begitu harum dan memabukkan. Kemudian tanpa sadar aku sudah membenamkan wajahku ke dalam dada bidangnya.
Suara geraman yang tertahan membuatku tersadar. Aku cukup terkejut dan buru-buru menjauhkan tubuhku dari mateku. Ya, kurasa sekarang aku akan mulai memanggilnya mateku.
“Ma ... maaf,” bisikku sambil menunduk. Merasa malu dengan tindakan bodoh yang baru aku lakukan. Aku baru saja membuat kesalahan. Aku mulai beringsut mundur, menjauhkan tubuhku dari mateku. Namun hal tak terduga terjadi, dia justru semakin mengeratkan pelukannya. Sedikit menarik tubuhku hingga membuatku kembali menabrak dadanya.
“Sshh .... Dengar, aku adalah matemu. Kau berhak atas diriku. Dan kau adalah mateku. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu, Sia” ucapnya dengan lembut, seperti sebuah janji yang tidak akan dia khianati. Perasaan hangat menyentuh hatiku. Aku tidak tau apakah aku bisa percaya perkataannya. Tapi kata-katanya begitu manis untuk kudengar. Membuat hatiku sejenak luluh karenanya. Aku masih tetap diam. Kubiarkan dia menenggelamkan wajahnya pada leherku dan menghirup aromaku. Namun aku segera memekik tertahan dengan apa yang dia lakukannya tiba-tiba.
Dia mencium leherku. Secara spontan aku langsung mendorong tubuhnya menjauh. Tubuhku mulai bergetar, ingatan tentang bagaimana Jack mengecupi leherku dan melecehkanku terulang di kepalaku. Aku ingat jelas bagaimana cara laki-laki brengsek itu menatapku dengan penuh nafsu di matanya.
“Kau gila! Kau sudah mendorong mate kita!” teriak Lucy kesal dalam pikiranku. Namun lagi-lagi aku hanya tak menggubrisnya. Aku lebih peduli pada rasa takutku yang mulai memuncak. Aku takut, mungkin dia sedang menatapku dengan tatapan penuh nafsu sekarang. Tatapan yang sama seperti bagaiamana Jack menatapku. Mungkin dia dan Jack sama saja. Mungkin benar dia mateku, tapi mungkin dia juga tidak benar-benar tulus padaku. Tidak mungkin dia akan mencintai gadis yang sudah hancur sepertiku. Apalagi dalam waktu yang sesingkat ini. Dia pasti hanya ingin bermain dengan tubuhku saja. Tidak, bahkan aku tidak tau orang seperti apa dia, dan apa yang ada dalam fikirannya. Gelap, bahkan aku tak bisa melihat apa-apa.
“Hei tenangkan dirimu! Jangan samakan mate kita dengan si Jack brengsek itu!” teriak Lucy mengerti apa yang berputar dalam pikiranku. Menghentikan racauan dari kepanikanku. Aku diam terpaku dan mulai mendengarkan perkataan Lucy.
“Dia mate kita. Ingat, dia adalah mate kita. Dia tidak akan menyakiti kita,” ucap Lucy berusaha meyakinkanku. Aku hanya terdiam memikirkan setiap kata-katanya. Sebuah usapan lembut di kepalaku membuatku sedikit terkejut untuk sesaat. Menyadarkanku dan menenangkanku saat aromanya bisa kuhirup kembali secara perlahan.
“Lihat, dia sangatlah lembut. Ayolah, percayalah pada mate kita!” seru Lucy kesekian kalinya untuk meyakinkanku. Memang benar dia memperlakukanku dengan sangat baik dan lembut. Bahkan usapan tangannya di kepalaku bisa membuatku merasa tenang dan nyaman. Tubuhku sudah merasa rileks sekarang. Kemudian dengan perlahan dia menarik tubuhku kembali ke dalam pelukannya. Aku tak menolaknya, kali ini aku pasrah dan memilih menyamankan diriku disana.
“Emm ... Lucy?” panggilku ragu-ragu pada serigalaku. Dia tak menjawabnya, tapi aku yakin jika dia mendengarnya.
“Apa aku bisa percaya padanya?” tanyaku pada serigalaku tanpa menunggu Lucy menyahut panggilanku sebelumnya.
“Kau bicara padaku?” sindir Lucy sinis membuatku mendengus kesal. Ya, memang ini pertama kalinya aku bicara pada Lucy setelah sekian lama aku tak pernah menggubrisnya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, hubungan kami tidaklah baik. Tapi tidak terlalu buruk juga. Aku hanya masih belum bisa berdamai dengannya atas masalah yang Lucy ciptakan di masalalu.
“Tentu saja, siapa lagi yang bernama Lucy di sini,” jawabku dengan nada yang kesal. Ini pertama kalinya aku menunjukkan kekesalanku secara terang-terangan pada serigalaku.
“Akhirnya kau bicara juga padaku. Emm ... Tentang mate kita, kau bisa percaya sepenuhnya padanya,” jawab Lucy dengan enteng tanpa ada keraguan sedikit pun.
“Kau yakin?” tanyaku memastikan sekali lagi. Dan bisa kurasakan Lucy sedang mendengus kesal padaku. “Berapa kali lagi aku harus mengulang kata-kataku?!” serunya dengan kesal membuatku tak berani bertanya padanya lagi.
Senyum kecil terulas di bibirku. Tanpa ragu aku mulai menenggelamkan wajahku di dada mateku dan menghirup aromanya dalam-dalam. Aromanya sangat menenangkan membuatku tak bisa berhenti untuk menghirupnya. Tak lama setelah itu, rasa kantuk menyergapku dengan cepat. Aku berakhir terlelap dalam pelukannya.
***

Comentário do Livro (203)

  • avatar
    Fi Qi

    bagus sekali

    15/02

      0
  • avatar
    DewisartikaHana

    bagis

    30/01

      0
  • avatar
    Dwi

    love story ada yang

    24/12

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes