logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Part 2

Beberapa jam aku berada di kamarku, berusaha mengobati luka yang ada di punggungku. Dulu ibuku pernah mengajariku membuat obat alami untuk luka luar seperti memar. Dan ilmu yang kudapat dari ibuku berguna sekarang. Rasanya sangat perih, tapi aku masih bisa menahannya. Ada bagian luka yang tidak bisa aku jangkau dengan tanganku, alhasil luka di sana tidak kunjung sembuh dan justru semakin buruk ditambah luka yang baru kudapat.
Aku baru keluar dari kamarku beberapa jam kemudian untuk mengambil jemuran di luar. Sedikit mengendap-endap, aku sedikit merasa aneh dengan suasana rumah yang mendadak sepi. Aku tidak melihat seorang pun saat aku masuk membawa tumpukan pakaian di tanganku. Langkahku sempat terhenti saat merasa aneh dengan kesunyian ini. Kemana perginya mereka semua? Aku bahkan tak mendengar suara mereka lagi. Tapi aku masih bisa mencium aroma mereka yang perlahan pudar. Kami para werewolf memang memiiki penciuman yang tajam. Kami bisa mendeteksi werewolf lain di sekitar kami dengan mencium aroma mereka. Mungkinkah Jack saudara Kelly itu sudah pergi? Aku merasa lega jika dia memang sudah pergi. Tapi kurasa tidak, aku masih mencium satu aroma yang kuat disekitar rumah ini.
Tanpa berlarut-larut dengan pikiranku, aku segera kembali melanjutkan pekerjaanku. Aku kembali berjalan hendak membawa semua pakaian di tanganku untuk disetrika. Namun tiba-tiba sebuah tangan besar melingkar di pinggangku, membuatku tersentak dan menjatuhkan semua pakaian yang kubawa. Seketika tubuhku menegang, bisa kurasakan hembusan napas seseorang di leherku.
“Hei, mau kemana kau?” bisik seorang pria yang kuyakin adalah Jack tepat di telingaku. Kusadari tubuhku mulai bergetar dan rasa takut mulai melingkupi diriku.
“Tu ... tuan ... Jack?” panggilku dengan suara yang bergetar. Tubuhku seketika tak mampu bergerak saat pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
“Hmm?” sahutnya dengan suara yang serak. Wajahnya mulai bersembunyi di lekukan leherku dan kurasakan bibir basahnya mulai mengecupi leherku.
“Lepasakan tuan!” teriakku panik. Memberanikan diri sambil berusaha melepaskan diri darinya. Kudengar geraman darinya. Wajahnya terlihat begitu marah saat aku berhasil mendorong jauh tubuh besarmya. Menatapnya waspada, aku beringsut mundur menjauhinya.
“Di ... dimana ... Nyonya Kelly dan ... No ... nona Jessy?” tanyaku serius mengharapkan kehadiran dua iblis itu. Aku tak mampu mengontrol suaraku yang bergetar. Aku benar-benar ketakutan saat Jack justru tersenyum dan menatapku seperti mangsanya. Membuatku mundur teratur saat pria itu semakin mendekat padaku. Merasakani tanda-tanda bahaya dari pria itu membuatku ingin segera mungkin melarikan diri. Namun sebelum niat itu terwujud, Jack sudah menarik tubuhku lebih dahulu ke dalam dekapannya.
“Mereka keluar. Sekarang, hanya tinggal kau dan aku di sini,” bisiknya lirih mengantarkan teror yang membuat seluruh tubuhku merinding. Aku sangat panik saat Jack kembali mengecupi leherku. Aku meronta sekuat tenaga. Tapi, Jack sama sekali tak terpengaruh.
Tangisku pecah saat Jack mendekap tubuhku semakin erat. Membuatku tak mampu bergerak apalagi melawan. Jack menggiringku ke ruang tamu, lalu mendorong tubuhku ke atas sofa dengan kasar. Sedetik tubuhku terbebas dari dekapannya. Hanya sedetik karena detik selanjutnya pria itu langsung menindih tubuhku dengan tubuh besarnya. Membuatku kembali tak bisa bergerak. Aku berusaha memukul tubuhnya sekuat tenaga. Dengan tanganku yang bebas. Namun, dia langsung mengunci tanganku dan menggeram marah.
“Kau milikku hari ini!” ucapnya penuh penekanan di setiap kalimatnya. Dia mulai mengecupi wajahku dan memasukkan salah satu tangannya ke dalam bajuku. Aku semakin panik. Dengan sisa tenaga, aku masih berusaha meronta. Namun semakin aku melawan, tubuhku semakin terasa sakit karena kekuatan Jack yang lebih besar. Pria itu semakin menekan tubuhnya, menimpa tubuhku dengan seluruh bobot yang dimilikinya. Semuanya sia-sia. Aku mulai pasrah dalam tindihannya. Rasanya aku hampir kehabisan napas saat dia sama sekali tak memberiku waktu untuk bernapas.
Jack melepaskan ciumannya dengan napas yang terengah-engah. Pria itu terlihat sangat puas dengan aksinya. Saat dia lengah, kukumpulkan semua kekuatanku untuk melawan dan berteriak sekeras mungkin di telinganya. Jack tampak sangat terkejut. Dia menjauhkan tubuhnya sambil menekan telinganya. Saat itulah aku langsung mendorongnya dengan suluruh tenaga yang kupunya. Aku langsung berlari dan berusaha keluar dari rumah itu.
Aku berusaha mungkin menggerakkan kakiku yang terasa lemas. Dengan kekuatan yang tersisa, aku berusaha berlari secepat yang aku bisa. Keluar dari pintu rumah, tanpa ragu aku melangkah ke dalam hutan yang memang mengelilingi rumah itu. Jack berkali-kali memanggilku dengan nada yang sangat marah. Namun, aku terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Aku berlari tanpa arah dan dia masih terus mengejarku. Jantungku berpacu dengan cepat dan napasku memburu. Bisa kurasakan kakiku terasa seperti tertusuk-tusuk, karena aku tak memakai alas apapun. Tak ada yang kupikirkan untuk saat ini selain pergi sejauh mungkin dari monster itu.
Rasanya sudah cukup lama aku berlari. Aku sudah berlari cukup jauh dan mulai merasa lelah. Kakiku seperti mati rasa dan tenagaku sudah terkuras habis, namun aku tak bisa berhenti. Jack masih mengejar di belakangku. Kakiku segera berhenti saat menyadari sebuah jurang terbentang di hadapanku. Aku mendengar teriakan Jack yang semakin keras, tandanya dia sudah semakin dekat. Aku tak bisa berpikir lagi apa yang harus aku lakukan. Aku tak mau Jack menangkapku. Aku juga tak ingin kembali ke rumah itu lagi. Jika aku kembali mungkin mereka akan menyiksaku lagi. Jika aku kembali mungkin Jack juga akan merampas hartaku yang kulindungi selama ini.
Napasku terengah-engah. Aku menelan ludah menatap seberapa dalam jurang yang membentang di depan. Kemungkinan besar aku akan mati jika aku melompat. “Jangan berpikir untuk melompat, atau kita berdua akan mati!” teriak Lucy, nama serigalaku mengingatkanku. Pikiranku terasa kacau karena tak ada jalan keluar lagi. Jalan keluar? Apakah masih ada jalan keluar? Seringaian Jack melebar saat jarak kami semakin dekat membuatku tersadar. Membuatku merasa dilema antara memilih melompat lalu mati, atau membiarkan Jack menangkapku lalu membawaku kembali ke rumah itu.
Aku tersenyum miris. Tidak, aku salah. Nyatanya aku tidak punya pilihan. Aku tak ingin kembali ke neraka itu lagi. Dari pada ke sana lebih baik ke neraka sungguhan saja. Ya, itu lebih baik dari pada hidup tapi seperti terkurung dalam neraka. Aku sudah tidak mau lagi terjebak bersama tiga monster di rumah itu lagi.
Jack terlihat panik saat aku semakin melangkahkan kakiku menuju jurang. Jurang itu telihat saat gelap, terlihat sangat dalam. Meskipun aku seorang werewolf, tapi jika aku melompat pasti akan mati juga. Menoleh ke belakang sekilas, aku tak memiliki banyak waktu untuk memutuskan.
Tubuhku melayang sesaat saat suara teriakan Jack mengeras. Aku memilih melompat walaupun aku bisa dengar suara Lucy, serigalaku yang menolak pilihanku. Dalam sekejap tubuhku berguling di atas tanah dan membentur semua yang ada di hadapanku. Semua terjadi dengan sangat cepat. Aku tidak bisa merasakan apa-apa selain rasa sakit. Rasanya menyakitkan, mungkin akan lebih sakit lagi saat kematian itu benar-benar datang. Sesuatu yang keras tiba-tiba menghantam kepalaku dan pandanganku seketika berubah menjadi gelap. Kepalaku terasa seperti pecah dan tubuhku masih terus berguling menuju dasar. Aku tak bisa melihat apapun, tapi bisa kurasakan tubuhku yang mulai berguling pelan di dataran yang mulai rata. Akhirnya tubuhku berhenti setelah menabrak sesuatu yang keras. Tulang rusukku terasa seperti patah. Aku menutup mataku dan merasakan sakit di sekujur tubuhku.
Maafkan aku ayah ... ibu ... kakak .... Aku ingin terus hidup dengan kehidupan yang sudah kalian berikan. Tapi dengan bodohnya aku membuang pengorbanan kalian dengan sia-sia. Aku juga minta maaf pada Lucy, serigalaku yang tak pernah kuanggap. Maaf karena sudah bertindak egois. Dan Mateku ... kuharap suatu hari kita bisa bertemu.
Menyedihkan Sekali!
Aku tersenyum, mentertawakan diriku sendiri. Aku adalah gadis yang sangat menyedihkan. Tentu saja kematian adalah hal yang pantas untuk kudapatkan. Mungkin ini adalah hukumanku karena sudah membuat semua keluargaku terbunuh malam itu. Aku pantas mendapatkan semua ini.
Inikah yang namanya kematian? Ya, mungkin ini memang sudah saatnya aku mati. Kurasakan kepalaku yang semakin terasa berat dan kesadaranku perlahan mulai menghilang.
***

Comentário do Livro (203)

  • avatar
    Fi Qi

    bagus sekali

    15/02

      0
  • avatar
    DewisartikaHana

    bagis

    30/01

      0
  • avatar
    Dwi

    love story ada yang

    24/12

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes