“Baik. Kelas hari ini saya cukupkan sampai di sini. Minggu depan, kita ada presentasi, jadi saya berharap Anda sekalian bisa mempersiapkan bahan presentasi dengan sebaik-baiknya. Dan ingat, tidak ada kata telat, karena presentasi itu masuk penilaian. Jika ada yang telat, silakan mengulang mata kuliah ini di semester berikutnya. Terima kasih, selamat siang dan see you next!” ceramah Frans panjang lebar, dan setelah itu ia meninggalkan ruang kelas. Sudah menjadi kebiasaannya untuk terus mengingatkan jadwal perkuliahan minggu depan, dan tentu saja ia akan selalu berpesan kepada seluruh mahasiswanya untuk tidak datang terlambat. “Siang Pak, terima kasih,” “Baik, Pak, “ “Siap, Pak,” “Akhirnya, kelas Kang Jagal selesai juga anjir!” “Iya, syukur, deh. Kepala gue rasanya mau meledak kayak bom Nagasaki di Bandung, anjrit.” “Bandung, ndasmu! Jepang, bege!” Begitulah, respon dari beberapa mahasiswa Frans. Sudah pasti, tidak semua mahasiswanya menyukai gayanya mengajar. Tapi, sebagai mahasiswa, mau tidak mau harus menuruti perintah dosen, jika tidak mau mendapatkan TL, alias Tidak Lulus. Frans sudah berada di ruang kantornya. Ia sedang memeriksa beberapa tugas esai para mahasiswanya. Sorot matanya yang tajam terlihat jelas, meski ia mengenakan kacamata dengan frame kotak berwarna hitam. Ia tampak sangat serius ketika menyelesaikan suatu pekerjaan. Sesekali, keningnya berkerut karena ia sangat serius dan teliti dalam mengoreksi tugas-tugas dari para mahasiswanya. Hinggak tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Sudah saatnya ia pulang ke rumah. “Ceklek.” Pintu kantornya terbuka. Ada seseorang yang masuk. Fandi, temannya Frans dan salah satu dosen di universitas yang sama dengan Frans. “Lo, belum balik, Frans?” tanya Fandi yang sudah mengenakan ransel hitam di punggungnya. Fandi adalah lelaki yang usianya tiga tahun lebih muda dari Frans. Akan tetapi, setahun yang lalu, ia sudah menikah, dan kini istrinya tengah berbadan dua. “Ini mau balik. Lo sendiri, kenapa belum?” Frans balik bertanya. Ia sedang sibuk memasukkan laptopnya ke dalam tas khusus laptop. “Gue lagi nyari lo, lah,” jawab Fandi dengan gaya bersandar di pintu kantor Frans. “Haha, ngapain nyari gue? Kangen, lo?” kelakar Frans yang terkesan kaku, atau istilah saat ini, prik. “PD banget, lo! Gue ke sini mau ngajakin lo ngopi bareng. Suntuk kan, lo, seharian bacain esai anak orang?” jelas Fandi. “Apalagi, lo kan, kayak Cacah Andika. Apa-apa sendiri, hahaha,” ledek Fandi. “Nggak lucu, lo!” ketus Frans yang mulai kesal. “Oh, ya, kapan lo nikah? Denger-denger, lo udah punya tunangan, ya? Kasih tau, lah. Jangan diam-diam aja nikahnya. Kayak nikah siri tau, nggak? Hahaha,” Fandi terkekeh saat berhasil menggoda Frans, hingga membuat wajah temannya itu merah padam, akibat menahan amarah. “Gue udah putus,” ketus Frans tanpa basa-basi. “Hah, putus?!” seketika Fandi berdiri tegak. “Kok, bisa? Kan, udah tunangan,” Frans memutar kedua bola matanya. kesa. Ia sudah bersiap meninggalkan ruang kantornya. Hendak menutup pintu. “Emang lo pikir, orang yang udah tunangan itu, udah pasti bakal nikah?” tanya Frans dengan tatapan dingin. “Udah, ah, nggak usah bahas-bahas begituan! Nggak penting,” cetusnya. “Katanya, mau ngopi bareng. Udah ayo, nggak usah lama-lama!” kali ini Frans yang mengajak pergi. *** Sore itu, sepulang sekolah, Bey dan teman-temannya menyambangi coffee shop yang tidak jauh dari sekolah mereka. Coffee shop favorit mereka semua. Sebagai tempat pelarian, jika ada guru yang menurut mereka menyebalkan. Mereka bertiga sedang berdiri di depan cashier, sambil melihat-lihat menu makanan dan minuman apa yang akan mereka pesan. “Lo, pesan apa Bey?” tanya Joy yang sudah memesan makanan dan minumannya. “Gue masih mikir-mikir,” jawab Bey yang masih sibuk membaca semua menu yang tertera di layar yang menempel di dinding coffee shop. Sesekali, ia juga sibuk dengan ponselnya. “Lo, lagi ngapain sih, anjir? Lihat, noh! Gue ama Marimar udah selesai mesennya,” tanya Joy yang sudah tidak sabaran. “Marina, nyet! Bukan Marimar!” gerutu Marina yang tidak terima jika dirinya disebut Marimar. “Astagaaaaa, sejak kapan lo ngitungin kalori? Diet, lo?” Joy terkejut bukan main. Ternyata sedari tadi, Bey sibuk mengecek kalori tiap makanan dan minuman. “Ihh, berisik lo! terserah gue, lah!” Bentak Bey yang merasa dirinya terusik karena sedang sibuk mengecek kalori tiap makanan dan minuman yang akan dia pesan. “What? Bey diet? Lo, nggak lagi berniat untuk ngurusin diri biar dikasihanin sama orang tua lo, kan, Bey?” ujar Marina menimpali. “Gue mau kelihatan langsing aja,” terang Bey, dan sudah menentukan menu apa yang akan ia pesan. “Oh, mau kelihatan langsing aja, thoooo,” ujar Marina menimpali. “Biar Mario makin suka sama gue,” lanjut Bey. “Hadehhh, terserah lo, deh. Gue nggak mau ikut campur lagi. Yang penting lo hepi. Iya, kan, Joy?” Marina menyenggol bahu Joy. Mengajak Joy supaya mengikuti ucapannya. “Hahaha, iya, terserah lo aja, Bey,” ujar Joy dengan tawa. Bey tidak ambil pusing dengan ucapan teman-temannya. Ia sudah memesan menu makanan dan minumannya. “Yuk, guys, kita duduk!” ajaknya. Di tengah perbincangan seru mereka, Bey merasa terusik dengan suara lelaki yang sangat familiar dengannya. Sebuah suara yang menurutnya pernah ia dengar, tapi di mana, ia tidak ingat. “Kok, gue kenal, ya?” batinnya. Ia tampak berpikir keras, sampai dua orang laki-laki dengan gaya pakaian khas kantoran, melewati meja Bey dan teman-temannya. Bey sedikit melirik ke arah dua laki-laki dewasa yang baru saja melintas. Sontak ia terkejut bukan main, ketika sepasang matanya melihat wajah yang sama sekali tidak asing baginya. Wajah yang pernah ia jumpai di mall, restoran, dan terakhir di sebuah apartemen beberapa hari yang lalu. Dia adalah Frans. “Astaga! Dia lagi-dia lagi! Ngapain dia ke sini?!” Bey menggumam. Tatapan Bey dan Frans saling bertemu. Seketika, keduanya langsung membuang muka. Sikap mereka berdua, langsung membuat teman-teman mereka terheran-heran. “Lo, kenapa Bey?” tanya Joy heran. “Frans, lo kenapa?” tanya Fandi yang bingung dengan sikap Frans yang tiba-tiba aneh. “Lo, nggak lihat hantu, kan?” Marina juga ikut menanyakan perihal sikap Bey yang tiba-tiba aneh. “Nggak, gue nggak kenapa-napa, kok.” jawab Bey dan Frans bersamaan. Intonasi suara mereka yang sama, serta suara yang sama-sama keras, sukses membuat teman-teman Frans dan Bey menoleh, saling memandang. Joy dan Marina sama-sama terkejut tatkala melihat Frans. lain halnya dengan Fandi yang kebingungan menatap dua siswi SMA dengan ekspresi menegang. “Lo, kenapa Bey? Lo, nggak diapa-apain, kan, sama om-om itu?” tanya Marina dengan nada pelan. “Kok, lo kayak nge-hindar gitu, sih? Lo, punya masalah sama mereka?” lanjutnya. “Nggak! Ng-nggak kok. Gu-gue, cuman kaget aja, hehehe. Kok, bisa gitu, kita bertiga ketemu terus sama om-om kayak dia, eheheh,” Bey berusaha untuk menjelaskan meski terbata-bata. “Oalah, lebay banget lo, Bey. Pake kaget-kagetan segala, lagi. Hahaha, kayak lihat setan aja,” kelakar Marina. “Udah, yuk, kita lanjut lagi gibah, nya! Jadi, kepotong, kan. Tadi, kita ngomongin siapa?” “Pak Agus. Guru Ekonomi yang teliti banget bikin laporannya,” ujar Bey menimpali. “Nah, yaudah, ayo sambung lagi!. Gue mau puas-puasin ngomongin dia,” ucap Marina penuh dengan semangat ’45. Bey dan teman-temannya langsung memfokuskan pikiran mereka ke topik per-gibahan kali ini. Membicarakan semua hal tentang guru mereka, yang menurut mereka semuanya buruk. Tak lupa, sambil menikmati menu makanan dan minuman yang mereka pesan. Jarak meja Bey dan teman-temannya dengan Frans dan Fandi hanya tiga meja. Dengan posisi meja Frans ada di belakang meja Bey dan teman-temannya. Itulah sebabnya, Frans dan Fandi bisa mendengarkan dengan jelas semua hal yang dibicarakan oleh Bey dan teman-temannya. “Aduh, anak jaman sekarang, bisa-bisanya jelek-jelekin gurunya sendiri. Bener-bener kurang attitude!” ucap Fandi yang kelihatan terbawa emosi. Tapi, lain halnya dengan Frans. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. “Gue harus ngomong sama bocah SMA itu,” Frans menggumam. Ia masih memperhatikan Bey. berjaga-jaga jika sekiranya Bey dan kawan-kawannya pergi. ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 29 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (660)
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
18d
0mantap
23/04
0Keren kaka
29/03
0Ver Todos