“Apa?! Ka-kamu putus?? Kok, bisaaa?!” seru Leona. Suasana ruang tamu mulai memanas. Frans hanya bisa menundukkan kepalanya. Menatap lantai rumah. Malam itu, hanya ada ibu dan anak yang tengah berseteru perihal pernikahan. Kebetulan, Halim belum pulang. “Kenapa? Kok, kamu bisa putus sama Chintya? Ada masalah? Kamu bertengkar sama dia? Atau …., nggak-nggak mungkin, kan, kalau kamu selingkuh?” Leona menerka-nerka tanpa henti. Frans masih terdiam. Ia hanya bisa mengesah, dan tidak berani menatap kedua mata Leona. “Maaf, Ma …,” ucap Frans pelan. Hanya itu yang bisa ia ucapkan. “Maaf?! Oh, jadi kamu selingkuh, Frans?! Astagaaa! Siapa yang ngajarin kamu sel__” “Frans nggak selingkuh, Ma!” sela Frans dengan nada tinggi. Ia mulai tidak terima dengan semua praduga yang bukan-bukan tentangnya. “Frans nggak pernah selingkuh!” tegasnya. “Ya, terus kenapa Chintya mutusin kamu?!” cecar Leona tidak sabaran. “Pasti kamu sama dia bertengkar. Iya?!” “Cuman salah paham aja, Ma. Chintya salah paham sama aku___” “Kok, bisa?!” potong Leona. “Dengerin Frans dulu, Ma!” tegas Frans. “Frans belum selesai ngomong,” “Yaudah apa alasannya?! Ah, gagal deh, bawa cucu ke tempat arisan!” gerutu Leona. Frans mengusap kasar wajahnya. “Astagaaa, Maa. Bisa-bisanya, Mama cuman mikirin keinginan Mama yang sepele itu?” “Sepele?! Sepele, gundulmu!” bantah Leona tidak terima. “Astagaaaa, Frans! Mama nggak pernah didik kamu kayak gini, ya!” Tiba-tiba … Leona kehelingan keseimbangan, dan akhirnya terjatuh lemas di lantai. “MAMA!” jerit Frans, dan langsung menghampiri Leona yang sudah terkapar lemas. Frans mulai panik, akhirnya ia langsung berinisiatif untuk membawa mamanya ke rumah sakit dengan mobilnya. Di rumah sakit … “Tekanan darah ibu Leona sangat tinggi. Syukurlah, tidak sampai ke otak. Jika itu terjadi …,” Sang Dokter memberikan jeda sebelum melanjutkan penjelasannya. “…jika itu terjadi, kemungkinan besar ibu Leona akan mengalami stroke,” pungkasnya. Frans terdiam, lemas. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia mulai menyalahkan dirinya, karena telah menyebabkan mamanya sakit seperti sekarang. “Mama …,” lirihnya pelan. Ia menahan tangisnya. Tidak mungkin bagi seorang lelaki menangis dengan begitu mudahnya. “Saran saya, jangan sampai ibu Leona memikirkan hal-hal berat yang menyebabkan tekanan darahnya naik lagi. Karena jika itu terjadi, entah mungkin stroke atau bisa jadi koma, yang akan ibu Leona alami. Jadi tolong, jangan sampai ibu Leona mengalami stress berat,” tutur Sang Dokter. “Baik, Dok. Terima kasih untuk penjelasannya. Maaf, apakah saya boleh melihat mama saya?” tanya Frans. “Silakan. Tapi, jangan dulu mengajak Ibu Leona bicara. Karena kondisi beliau masih sangat lemah. Beliau butuh istirahat total, agar kondisinya pulih kembali,” pesan Sang Dokter. Frans mengangguk tanda mengerti. Ia izin keluar dari ruangan, menuju kamar rawat inap mamanya. Di kamar itu, ia melihat mamanya terkulai lemas. Sebuah alat bantu pernapasan berbentuk selang kecil terpasang di kedua lubang hidungnya. Begitupun dengan tangan kiri Leona, yang sudah terpasang sebuah alat infus. “F-Frans …,” panggil Leona dengan lemah. Frans yang masih berada di dekat pintu kamar rawat inap, hanya bisa tersenyum getir. Ia tidak menyangka jika mamanya akan dirawat seperti sekarang. Ia benar-benar merasa bersalah. Malu-malu, ia mengusap air mata yang mengalir di kedua pipinya. Dengan langkah pelan, ia mulai menghampiri Leona. “F-Frans …,” panggil Leona lagi. Tangan kanannya bergerak lemah. Mencoba untuk meraih wajah Frans yang tepat berada di sebelahnya. “Leona!” seru Halim yang terlihat sangat panik. Ia langsung berlari dari pintu menuju Leona yang tengah terbaring lemah tak berdaya di atas kasur. “Sayang … kamu kenapa?” tanya Halim saat berada di samping Leona. Frans memberikan kursinya kepada Halim. Agar papanya bisa berdekatan dengan mamanya. Frans sedikit mundur beberapa langkah. “Ak-aku … nggak ap- apa, uhuk-uhuk!” jawab Leona semampunya. Ia masih sangat lemah. “Iya-iya, kamu istirahat dulu, ya. Jangan marah-marah mulu. Nanti aja, marahin Frans, kalau kamu sudah sembuh, ” pesan Halim dengan sedikit gurauan. “Ha-ha-ha …uhuk!” tawa Leona pelan, namun diakhiri dengan suara batunya. “Syutt, udah-udah, kamu istirahat dulu, ya. Jangan banyak pikiran dulu,” pesan Halim sekali lagi. “F-Frans … sini … Nak,” panggil Leona lemah. Frans mengangguk, dan berjalan mengelilingi kasur. Hendak menuju ke sebelah kanan Leona. Ingin duduk, di samping Leona. “Iya, Ma …,” sahutnya lemah lembut. “Ka-kamu harus menikah, Nak. Kamu harus menikah, sebelum terlam-bat …,” pesan Leona, dan tiba-tiba ia tidak sadarkan diri. Seketika Halim dan Frans panik, dan langsung berteriak memanggil dokter maupun suster. Tapi … “Uhuk-uhuuk!” Leona terbatuk-batuk. Ia kembali sadar, dan langsung membuat Halim dan Frans kembali tenang. “Maaaa, bisa banget bikin Papa jantungan. Haduhh, untung saja kamu nggak kenapa-napa,” ucap Halim lega. “Aku cuman lemas aja, kamu aja yang lebay, hahaha,” ledek Leona. Ia masih saja bisa meledek ketika tubuhnya masih lemah tak berdaya. Frans hanya tersenyum, dan menggeleng kepala. “Frans …,” panggil Leona lagi. Kini, ia menatap putra semata wayangnya. “Kamu harus menikah, Frans,” ucap Leona, dan memegang tangan putranya. “Mama rasa … uhuk-uhuk …,” ucapannya terjeda oleh batuk. Frans mulai terlihat panik. “Ma, udah jangan banyak bicara dulu,” ucap Frans gelisah. Ia tidak ingin terjadi apa-apa lagi kepada mamanya. “Kamu mau kan, lihat Mama lagi?” tanya Leona lemah. “Mama jangan bicara begitu!” seru Frans kesal. “Menikah, Frans. Kamu mau kan, lihat mama sehat?” pertanyaan Leona tidak mampu Frans jawab, tapi juga tidak mungkin baginya untuk menolak. Frans terdiam. Membisu. “Iya, Ma, Frans akan menikah__” “Secepatnya, Frans, uhuk-uhuk!” sela Leona. Frans mengepal tangannya. Ia mengutuki takdir hidupnya. Entah dengan siapa dia akan menikah. Karena sangat sulit baginya untuk dekat dengan seorang wanita. Apalagi, ia baru saja putus dari Chintya. “Kamu janji, Frans? Uhuk-uhuk … UHUK!” suara batuknya makin keras. Frans memejamkan kedua matanya. Kemudian, ia mengangguk demi kesehatan mamanya. “Iya, Ma. Frans janji. Dalam waktu dekat, Frans akan menikah. Secepatnya, Ma,” tuturnya dengan lancar, walau hatinya sangat berat saat mengatakan ini. Leona tersenyum kala mendengar ucapan anaknya. Ia tidak menyangka, kejadian yang ia alami sekarang, akan membawanya pada impiannya untuk memiliki seorang cucu. “Frans janji, Ma,” ucap Frans sekali lagi. Ia tersenyum kecil, walau dalam hati ia menjerit. Mengutuki dirinya yang dengan bodohnya membiarkan Chintya pergi. “Siapa yang harus saya nikahi???” batinnya mulai meronta-ronta. *** “Ja-jadi … ke-kemarin lo bolos karena mabok?!” seru Marina tertahan. Joy buru-buru menyumpal mulut Marina dengan tempat pensilnya. Bey sudah melotot. Tatapannya seolah ingin menelan Marina bulat-bulat. Layaknya anaconda. “Peh! Sialan lo, Joy!” umpat Marina yang tidak terima diperlakukan kasar oleh Joy. “Keterlaluan lo, Joy!” “Lo, yang mulutnya keterlaluan! Ini kelas, Mar! Bisa mampus gue, kalau ada yang nguping!” tukas Bey kesal. “Punya mulut ember banget, lo!” gerutunya. “Ya, maaf, Bey.” ucap Marina pelan. Joy menengok ke kiri dan ke kanan. Memastikan agar tidak ada orang-orang yang menguping di dekat mereka. “Sejak kapan lo minum-minum?” tanya Joy pelan. Sama seperti Joy, pandangann Bey meliar terlebih dahulu. Khawatir ada yang mendengar perbincangan dirinya dengan teman-temannya. “Sejak sebulan yang lalu,” bisiknya. “Anjir! Parah lo, Bey!” seru Marina dengan suara pelan. “Berisik lo!” hardik Bey kesal. “Bisa nggak, punya mulut dikondisikan?” “Heheh, maaf lagi, Bey. Gue terlalu kag__” “Lebay!” sela Bey. “Lo pasti nggak mungkin, kan, tiba-tiba kepikiran buat ngelakuin hal kayak gitu, Bey?” tanya Joy yang mulai menginterogasi. Bey terdiam. Sesaat kemudian, ia nyengir kuda. “Mario yang pertama kali ajak gue ke sana,” terang Bey pelan-pelan. “Mario?!” respon Marina berlebihan. “Toxic, Bey. Jangan lo terusin lagi,” ucap Marina. “Dia nggak baik buat lo,” sambungnya. “Emang lo siapa, nyuruh-nyuruh gue putus dari Mario? Berani lo, nyuruh gue putus dari orang yang udah bikin gue bahagia?!” tantang Bey yang tidak terima dengan perkataan Marina tentang Mario. “Gue temen lo! Gue, Joy, kita berdua temen lo, Bey! Gue nggak mau lo jadi rusak gara-gara Mario!” Tegas Marina. Kali ini, Marina lebih bijak. Tidak seperti biasanya. “Lo harus putus dari Mario, Bey! Dia toxic buat lo!” tegas Marina berkali-kali. “Gue nggak peduli dia toxic atau nggak. Yang jelas, dia yang udah hadir di hidup gue, ketika gue lagi cari kebahagiaan,” jelas Bey. “Guys, udah dong! Jangan kayak anak kecil!” seru Joy, mulai melerai pertengkaran antara Bey dan Marina. “Lo udah pada SMA. Malu sama seragam,” tutur Joy. Akhirnya, pertengkaran adu mulut antara Bey dan Marina terhenti. Mereka hanya saling menatap, tanpa bersuara. “Bey, Marina, kita semua udah gede. Udah nggak perlu mencampuri urusan satu sama lain. Cukup kasih nasihat aja, tanpa harus memaksa seseorang untuk tunduk pada nasihat yang kita kasih,” ucap Joy yang terdengar lebih bijak. “Dan, tentang hubungan lo sama Mario …,” Joy mulai mengungkit tema hubungan asmara antara Bey dan Mario. Ia mengambil nafas sebelum melanjutkan kata-katanya. “Gue nggak bisa memaksa lo untuk putus atau terus sama Mario. Itu hak lo, Bey.” “Joooyyy …” Marina buka suara. Ia tidak terima dengan perkataan Joy. “Mar, I know we are best friend. Tapi, kita semua pasti punya satu ruang yang nggak bisa diusik oleh siapapun. Termasuk sahabat,” jelas Joy sangat bijak. “Tapi, gue cuman mau bilang satu hal, sama lo, Bey. Secinta apapun lo sama dia, jangan pernah sampai lo buta dengan realita,” pesan Joy. Bey mengangguk dan tersenyum. “Thanks, Joy. Lo udah kasih pencerahan buat kita berdua,” ucap Bey. “Sorry yaa, Bey. Gue udah terlalu emosi tadi. Jadi, gue nggak bisa ngomong yang bener sama lo,” “Gue tahu, lo cuman mau yang terbaik buat gue. Tapi, cuman gue yang tahu, betapa berharganya Mario bagi gue, Mar. Only me,” terang Bey. ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 37 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (660)
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
18d
0mantap
23/04
0Keren kaka
29/03
0Ver Todos