“Jadi, kapan kamu akan menikah? Teman-teman Mama sudah pada nimang cucu, Frans!” tanya Leona gusar. Ia sudah menatap sebal, anak yang baru kemarin ia banggakan. “Oh, jangan lupa. Chintya sudah resmi jadi tunangan kamu. Kamu tahu kan, langkah selanjutnya? Kamu tahu kan, berapa usia kamu sekarang?” cecar Leona habis-habisan. “Dua puluh tujuh, Ma,” jawab Frans asal. Ia mulai tidak suka jika Leona menginterogasinya dengan pertanyaan ‘kapan nikah.’ Jengah. Barangkali, itu yang ia rasakan saat ini. Pun, ia sengaja tidak mau menjawab pertanyaan pertama Leona. Bukan karena Frans tidak tahu jawabannya. Melainkan ia masih merasa belum siap untuk melangsungkan pernikahannya dengan Chintya. Siang itu, ruang keluarga di kediaman Adikara, terasa seperti ruang persidangan bagi Frans. Frans mulai merasa seperti di kursi panas. Ia paling tidak suka dan selalu menghindar jika keluarga besarnya selalu menanyakan kepadanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan kepo. “Pacar kamu mana, Frans? kok, umur dua puluh lima masih single?” “Kamu kapan nikahnya, Frans? si A udah sebar undangan. Si B udah punya anak satu. Kasihan mama kamu, nungguin cucu dari kamu,” “Usia kamu udah pas untuk menikah, Frans. Kenapa masih nunda-nunda?” “Kalau udah ketuaan, nanti siapa yang mau jadi istri kamu? Mau, dapat janda?” “Kamu kan, udah tunangan Frans. Kapan nyebar undangannya? Jangan lama-lama, nggak bagus. Nanti jodoh kamu diambil orang. Mau?” Seperti itulah beberapa pertanyaan menyebalkan yang didapat Frans, ketika ia sedang berkunjung ke rumah keluarga besarnya, dan ke rumah teman-temannya yang mayoritas sudah berkeluarga. “Yaudah, jadi kapan nikahnya?!” tegas Leona yang sudah geregetan. Nada suaranya sudah meninggi karena emosi. “Ma … Ma, udah dong. Jangan tanya soal nikah terus ke Frans. Kasihan Fransnya. Mungkin aja, Frans punya alasan kenapa ia belum siap untuk menikah,” jelas Halim yang berusaha untuk menenangkan istrinya. Sejujurnya, Halim tidak pernah setuju jika Leona memaksa Frans untuk segera menikah. Ia juga tidak terlalu suka dengan wanita yang sudah menjadi tunangannya Frans. Chintya. “Frans bukannya belum siap untuk menikah, Pa, tapi belum mau,” sahut Frans, membenarkan ucapan papanya. “Sama aja!” bantah Leona. Ia sudah memasang muka kesal sedari tadi. “Frans janji Ma, kalau Frans akan menikah setelah diterima jadi dosen di UI,” tutur Frans. “Terserah kamu! Yang penting kamu nikah. TITIK!” Leona langsung mengakhiri percakapan secara sepihak. Ia langsung meninggalkan ruang keluarga dengan langkah berdebum-debum. Sementara, Halim hanya bisa menggelengkan kepala, melihat tingkah istrinya. “Jadi, kapan kamu akan melamar jadi dosen, Frans?” tanya Halim dengan suara pelan. Badannya sedikit ia bungkukan seolah ingin membicarakan hal yang sensitive. “Insya Allah besok, Pa. do’ain aja. Semoga impian mama terkabul,” jawab Frans dengan muka masam. “Hahaha, yaudah. Kamu yang sabar, ya.” Tawa Halim sambil mengusap punggung anaknya. “Maklumin saja, kalau mama kamu kayak gitu. Dia terlalu sayang sama kamu, sampai nggak mau kamu jadi bujangan lapuk, hahahaha,” ledeknya. “Terlalu sayang, atau karena kebelet pengen punya cucu?” ketus Frans, dengan wajah masam. Sementara itu, Halim hanya terkekeh. ***
“Bey pulang …” Begitulah, ucapan Bey tatkala ia sampai di rumah. Namun, hanya ada kekosongan. Hanya ada beberapa pembantunya yang mengangguk dan tersenyum sesaat. Bey tertawa kecil. Menertawai keheningan yang entah sudah ke berapa kali terjadi di hidupnya. “Hahaha, kapan terakhir kalinya gue disambut layaknya seorang anak pas pulang sekolah?” tanyanya seorang diri. Kedua matanya mulai meliar menatap ke sekeliling ruang tamu. Ke setiap sudut ruangan di rumahnya. “Sadar, Bey! Bangun, anjir! Itu cuman mimpi, dan nggak akan jadi kenyataan,” lirihnya, kemudian berjalan pelan ke arah anak tangga. “DRT-DRT” Ponsel Bey bergetar. Ada pesan chat yang masuk. Dari kekasihnya, Mario. Malam ini, kita hangout, yuk! Aku tahu, kamu pasti penat kan, tadi siang ulangan matematika, hehehe. Aku tunggu ya. Jam delapan malam, aku jemput kamu. Love you, Bey! Bey tersenyum semringah. Ia yang semula murung, mendadak bahagia. Seolah isi pesan chat dari Mario, memiliki kekuatan magis yang mampu menyihir orang sedih menjadi bahagia. Bey kembali menaiki anak tangga. Melangkah menuju kamar tidurnya. *** Lima belas menit lagi, jarum jam di dinding kamar Bey, akan bergerak menuju jam delapan malam. Bey mulai merias dirinya. Berdandan tipis ala anak remaja. Make up-nya tidak terlalu bold. Flawless, tapi membuat dirinya terlihat sangat cantik dan manis. Setelah memoles bibir mungilnya dengan lip tint berwarna pink peach, ia mematut-matut dirinya di depan cermin. Malam ini, ia mengenakan mini blouse. Ala cewek korea. Tidak lupa, ia juga mengenakan flat shoes. Hair style-nya terkesan sangat sederhana. Cukup dengan gaya pony tail saja, dirinya sudah terlihat sangat sempurna. “Okay.” Setelah dirasa selesai merias dirinya, ia langsung menuju anak tangga. “DRT-DRT,” ponselnya bergetar. Bey sudah tahu pasti Mario yang menelpon. Belum sempat ia mengangkat telepon dari Mario, dirinya sudah dihadapankan dengan kedua orang tuanya yang tiba-tiba saja menatapnya dengan tatapan tajam. Sama sekali tidak ada keramah tamahannya. Bey buru-buru mematikan ponselnya. Me-reject panggilan telepon dari Mario. “Anjir! Mama sama papa ngapain pulang, sih?” tanya Bey dalam hati. “Mau ke mana kamu malam-malam begini?” tanya Ferdian. Langsung pada intinya. “A-an-anu, Bey mau main, Pa. Sama temen, Bey,” jawab Bey gugup. Wajahnya sudah pucat pasi. Ah, sial! Kenapa sih, mau bahagia aja, rasanya susah banget?!” gerutunya dalam hati. “Masuk ke kamar sekarang! Dan, belajar!” gertak Ferdian tanpa ampun. “Bey udah belajar, Pa. Bey kan, udah sekolah tadi siang. Jadi, please, izinin Bey main,” jelas Bey. “Nggak terima alasan apapun! Masuk sekarang, dan belajar!” bentak Ferdian lagi. “Ta-Tapi, Pa … tadi siang, Bey juga udah ulangan matematika,” Bey masih mempertahankan niatnya untuk pergi menemui Mario. Pun, ponselnya sedari tadi bergetar. Ada panggilan masuk dari Mario yang tidak sempat Bey angkat. “Nggak ada tapi-tapian! Masuk ke kamar, Bey! Papa juga tahu, pasti nilai matematika kamu nol, kan? Haha, mau bangga kamu, heh?!” hina Ferdian kepada putrinya sendiri. “PAPA!” Kali ini, Bey mulai meninggikan nada bicaranya. Refleks, ia membentak Ferdian. Hera bangun dari duduknya, dan menatap tajam anaknya. “BEY!” Seru Hera yang tidak mau kalah dengan anaknya. Suasana ruang tamu seketika memanas. “KENAPA KALIAN NGGAK PERNAH PEDULI DENGAN PERASAAN BEY? KENAPA?!” raung Bey tidak tertahankan. Emosinya sudah meluap-luap sempurna. Nafasnya mulai tersengal-sengal, dan dadanya terlihat naik turun. Sementara itu, ponselnya masih tetap berdering. Bey sudah tidak peduli dengan dering ponselnya. “JAGA UCAPAN KAMU, BEY!” hardik Ferdian, sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Bey. “YANG SOPAN KAMU!” “Hiksss, untuk apa Bey bersikap sopan sama orang yang nggak pernah berpikir gimana perasaan Bey??? Untuk apa? Hiksss …,” lirih Bey dengan tenaga-tenaga yang tersisa. Punggungnya berguncang hebat. Tangisnya sudah tidak dapat ia bendung lagi. “Kamu yang seharusnya memikirkan gimana caranya jadi anak yang patut dibanggakan, Bey!” hardik Ferdian sekali lagi. “BEY UDAH NGELAKUIN APAPUN YANG PAPA MAMA MINTA!!” Teriak Bey tidak tertahan lagi. “Dari mulai belajar dengan keras, ikut les sana sini, sampai mati-matian memahami matematika semalaman. Tapi …,” Bey mengambil jeda, sebelum melanjutkan ucapannya. “… tapi, kalian … ha haha …” lanjut Bey dengan nada pelan sambil tertawa kecil. “… kalian, memang nggak punya hati!” cicitnya dengan kedua mata yang sudah memerah dan sembab. Kemudian, ia melenggang. Meninggalkan kedua orang tuanya. “BEY, BERHENTI KAMU!” Panggil Hera dengan nada tinggi. Namun, Bey tidak mengindahkan panggilan mamanya. Ia tetap berjalan keluar rumah, sambil mencari sosok Mario, namun nihil. Yang dicari sudah tidak ada. Bey tersenyum kecut. Tapi, ia lebih memilih untuk tetap berjalan keluar. Tidak ingin kembali ke rumahnya, yang ternyata memang bukanlah rumah untuknya. “Mario, lo di mana, hikss?” rintihnya sendirian, sambil menyusuri trotoar. “Semua usaha gue, emang nggak pernah dipandang dengan dua mata, hiksss …,” rintihnya. Malam itu, ia berjalan seorang diri. Entah mau ke mana. Sambil berjalan, ia membuka chat dari Mario. Dirinya tersenyum kecil, sambil meneteskan air mata. “Hahaha, kenapa gue diturunin ke bumi ini, Tuhan? Kalau gue nggak pernah mendapatkan kebahagiaan yang orang lain punya?” ucapnya sambil membaca pesan singkat dari Mario. [ Bey, malam ini aku nggak bisa nemenin kamu jalan-jalan, ya. Sorry. Tapi, aku janji. Next, kita jalan-jalan, ya. I promise ] “Padahal, gue lagi butuh lo, Rio. Kenapa takdir enteng banget, ya, mainin perasaan orang? Baru aja gue merem sebentar. Semuanya langsung hilang gitu aja. Hahaha lucu, ya. Apa emang, dunia itu cuman adil untuk orang-orang yang dihargai kehadirannya? Hahaha …,” racaunya seorang diri. Ia tertawa hambar dengan diiringi rintihan tangis. “Tuhan! Kalau gue boleh minta, gue mau jadi manusia yang lahir dari keluarga yang buta huruf aja! Percuma melek huruf, kalau buta sama perasaan orang,” Malam itu, Bey memutuskan untuk mendatangi suatu tempat yang bisa menghilangkan semua beban di pikirannya … *** “Tambah lagi dong! Masa cuman segini, sih?!” pinta Bey kepada seorang bar tender. Entah sudah berapa gelas ia teguk. Bahkan, ini sudah botol minuman keduanya! Malam ini, setelah semua kejadian yang terjadi di rumahnya, ia ingin menghapus semua ingatan buruk itu dengan memilih untuk ‘minum-minum.’ Puas menikmati minumannya, ia mulai berjalan menuju dance stage, dan tubuhnya mulai bergerak mengikuti alunan musik DJ. Tak peduli seperti apa gerakannya, dan bagaimana ekspresi wajahnya, yang jelas ia hanya ingin melupakan sejenak semua kepedihan dalam hidupnya. Atau mungkin selamanya. Tak terasa, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Tapi, bukan bar namanya, jika semakin malam, pengunjungnya semakin sepi. Justru, malah sebaliknya. Banyak orang-orang yang datang, dari golongan muda-mudi, sampai tua bangka. Mereka semua datang untuk mencari kebahagiaan walau hanya semalaman. Bey yang sudah lelah dan semakin tidak memiliki keseimbangan tubuh, memutuskan untuk pulang ke rumah. Tak peduli sudah jam berapa sekarang. Ia mulai meninggalkan bar dengan langkah gontai. Dirinya sudah berada di bawah pengaruh minuman keras. Hingga akhirnya … “AWAS!!!” “CIITTT” “BRUKK!” “AKHH!!” ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 37 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (660)
Okti rayes
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
jodoh sudah d atur tuhan tetap semangat untuk apa yg terjadi
22d
0mantap
23/04
0Keren kaka
29/03
0Ver Todos