Part 7 Kisah Pertemuan dengan Calon mertua Saat berjalan hendak keluar, semua mata pengunjung resto itu tertuju pada kami berdua. Apa suamiku itu segitu cakepnya sampai cuma jalan saja semua orang langsung terpana? Padahal sikapnya yang cuek dan sok cool ini pernah membuatku merasa kesal, tapi itu dulu. Bukan tanpa alasan Mas Zaki jadi sosok pendiam, cuek, dan ketus. Meski kini aku tahu bagaimana sifat asli suamiku itu. Kami pernah mengalami hal yang sama, kehilangan sosok saudara kandung yang kami sayangi. Bedanya, aku mengalaminya saat masih bayi, sedangkan Mas Zaki mengalaminya setelah ia remaja. Mungkin memang berbeda rasanya. Mas Zaki punya kakak perempuan yang sangat dia sayangi, namanya Mbak Hani. Mas Zaki dan Mbak Hani adalah sosok kakak beradik yang sangat harmonis. Sayangnya, kini Mbak Hani sudah tenang di alam sana. Mbak Hani meninggal sewaktu melahirkan putrinya, yang pertama dan terakhir. Pendarahan hebat pasca melahirkan telah merenggut nyawanya. Meski sudah memilih rumah sakit terbaik, namun takdir sudah tak bisa lagi ditolak. Mbak Hani meninggalkan suami, Mas Zak,i dan keluarganya setelah berjuang melahirkan seorang putri kecil yang sangat cantik, namanya Mikayla. Pertama kali bertemu gadis kecil itu, saat ia dibawa oleh Mami ke kantor, yang pada saat itu masih belum menjadi ibu mertuaku. Mami menitipkan Mikayla padaku karena Mami mendadak ada urusan penting. “Titip Mika bentar, ya, Ran. Tante ada urusan sedikit. Kebetulan Susnya Mika lagi cuti menikah, jadi istirahat sementara waktu.” Horang kaya, cari Sus pengganti, kek, batinku. “Ta-tapi, Tante, Rania sedang ada beberapa pekerjaan,” tolakku halus. “Udah, kamu tenang aja. Kasiin ke si Zaki aja dulu, ya!” Mami memanggil Mas Zaki, lalu menyuruhnya mengambil alih pekerjaanku. “Yah, Mi? keenakan, dong, Rania?” tolak Mas Zaki dengan wajah cemberut. “Enak apanya? Kamu pikir tugas menjaga anak kecil itu gampang? Atau kamu aja yang jagain Mika?” ancam Mami. Mas Zaki langsung mundur dan angkat tangan. Diiih … kenapa ni orang? Sama ponakan sendiri kok begitu? batinku. Aku pun akhirnya pasrah dan menerima perintah istri bos untuk menjaga cucunya itu. Kubawa Mika ke taman di area gedung perkantoran tempat aku magang. Ternyata Mika itu anak yang lucu, tapi pecicilan gak mau diam. Pantas saja Mas Zaki angkat tangan. Aku terpaksa beberapa kali harus berlari mengejarnya jika dia berniat keluar dari zona aman. Fiiuuh! “Eh, Rania?” Tiba-tiba saja ada suara yang pernah aku kenal menyapaku. Siapa lagi kalau bukan Mas Hendi? “Kamu ngapain? Ooh, aku tau, kamu sekarang jadi babysitter, ya?” ejeknya. Di sebelahnya ada wanita cantik yang sedang menggandeng tangannya mesra. Duuh … sial, kepergok, deh! “Iya, aku jadi babysitter. Emang kenapa? Kerjaan aku halal, kok,” sahutku. Mika yang tadinya sangat aktif tak mau diam, mendadak langsung jadi anak manis. Berdiri memegangi kakiku dan menyembunyikan wajahnya. “Hahaha … emang kenapa, Ran? Kamu udah gak kerja di kantor itu lagi?” tanya Mas Hendi. Aduuh … aku malas meladeni laki-laki satu ini. Memuakkan sekali gayanya. “Kenapa? Nyesel pernah minta putus dari aku, kan? Kamu lihat, dong, sekarang pacar aku ini lebih segalanya daripada kamu! Kamu tau siapa dia?” tanyanya lagi. Aku tahu, tapi aku malas menjawab. Wanita itu bernama Mbak Tyas, wakil manager di kantorku juga. Hanya saja beda divisi. Aku tahu karena dia pernah hadir saat acara perpisahan anak magang dulu. Beruntung, sekarang aku lanjut kerja di perusahaan itu. Ya apa lagi kalau bukan karena rasa balas budi Maminya Mas Zaki. “Dia ini wakil manager, lho. Ya kan, sayang?” Mas Hendi bertanya pada pacarnya itu. Mbak Tyas hanya tersenyum sedikit. Tapi jelas, tatapan matanya merendahkanku. Terserah, deh. “Mika, kita masuk aja ke dalam, yuk. Udah panas, nih. Mika pasti haus, kan?” ujarku pada bocah kecil itu. Aku hanya memanfaatkannya untuk menghindari Mas Hendi. “Rania! Sebelum pergi, lihatlah aku sampai kau puas, karena besok kalau rindu, kamu bakalan susah nyari cowok ganteng seperti aku ini! Hahahaha ….” Mereka berdua malah tertawa. “Bodo amat!” ujarku sambil menggendong Mika. “Oh iya, nih, undangan buat kamu!” Mas Hendi memberikan selembar undangan yang terlihat mewah, namun malah sengaja dijatuhkan sebelum aku menerimanya. Bener-bener ni orang! “Jangan lupa dateng, ya, Rania. Semua orang di kantor juga diundang, kok,” ujar Mbak Tyas. “Hahaha … aduh, sayang, kasihan lah, dia mana punya baju bagus buat dateng ke pesta pernikahan kita.” Mas Hendi menunjuk-nunjuk aku dengan ekspresi jijik. “Udah puas menghinanya?” tanyaku ketus. “Rania, kamu lihat aku dalam-dalam. Aku lelaki yang dulu kamu putusin, sekarang sudah menemukan takdirnya. Wanita cantik, kaya, dan modis. Wakil manager pula.” “Selamat, deh. Akhirnya bisa dapat mantu yang sesuai kemauan ibumu!” balasku. “Ooh, jelasss. Ternyata keputusan untuk ninggalin kamu udah sangat tepat! Dan kamu, selamat menangis darah, tenggelam dalam penyesalan paling dalam! Hahahaha ….” “Rania, ayo masuk!” Tiba-tiba saja tanganku sudah ditarik oleh Mas Zaki. Aku jadi kelimpungan menyeimbangkan diri, sebab ada Mika yang bergelayut di badanku. “Mas Zaki, kamu kenapa dekat-dekat dengan dia? Dia itu gak selevel sama kamu, Mas!” ujar Mbak Tyas, setengah berteriak. “Bukan urusan kamu!” balas Mas Zaki, dia berbalik sebentar lalu kembali berjalan menarik tanganku. “Mas ….” Mbak Tyas berteriak memanggil Mas Zaki. “Tyas! Siapa dia?” tanya Mas Hendi, suara mereka masih bisa kudengar meski sayup. “Dia gebetan aku dulu, anaknya bos!” jawab Mbak Tyas. Aku menoleh sekilas, lalu tak lagi mempedulikan mereka. Sampai di dalam, aku dudukkan Mika di sofa empuk ruang kantor Mas Zaki. “Duuuh … apes banget!” ujarku kesal. “Kenapa kamu bawa ponakan aku ke tempat seperti itu? Bahaya tau?” “Ya gimana lagi? Daripada main di dalam, ganggu orang kerja.” “Kamu kenal mereka?” “Itu si mantan sialan, Mas Hendi.” “Dan perempuan itu juga mantan sialan, si Tyas!” “Ha? Bwahahahaha ….” Aku tertawa terbahak-bahak. “Kenapa? Gak lucu!” "Kamu masih cemburu, ya? Mereka mau merid!” “Tau, setelah itu, Tyas akan aku kirim ke Kalimantan!” “Ciyeeeh … Kalimantan, pulau untuk membuang mantan!” Aku masih terkekeh. “Jangan sembarangan bicara! Ayah Tyas itu keparcayaan Papa untuk mengurus bisnis di Kalimantan. Jadi sekalian aja anaknya itu dikirimkan ke sana. Biar bisa bantu kerjaan ayahnya.” “Oh! Aku kira karena kamu dendam dan mau jauh-jauh dari dia. Sory!” “Besok kita datang ke pesta pernikahan mereka!” “Ogah, kamu aja sendiri!” “Kamu harus ikut!” tiba-tiba saja Mami masuk ke ruangan itu dengan senyum manis seperti biasanya. Mami mendekatiku lalu membisikkan sesuatu. “Kamu harus tampil cantik, supaya Zaki tertarik, dia itu mulai naksir sama kamu. Hihihi ….” Jelas saja mataku langsung terbelalak, mana mungkin? Tapi, saat hari itu tiba, kami tak jadi datang ke pesta pernikahan Mbak Tyas dan Mas Hendi. Mas Zaki malah menculik aku dan memintaku pada Mama. So sweeet …. Jadi, sesungguhnya aku sudah tau kalau Mas Hendi di Kalimantan, mungkin dia punya jabatan karena mertuanya orang kepercayaan Papa mertuaku. Tapi di depan keluarganya, aku tak pernah mau menunjukkan siapa Rania yang sekarang. Aku pura-pura tak tahu apa-apa. Biarkan mereka puas merendahkanku, sebelum nanti aku tunjukkan semua kebenarannya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
ooooo
4d
0bagus
18d
0nice
22/12
0Ver Todos