Paras Syuhada seputih kapas. Tubuhnya lunglai. Ia nyaris roboh menghantam tanah. Dengan cekatan Drew menangkapnya dan menyadari memang ada yang salah. Hilang sudah ekspresi cengengesan di wajahnya. Tak mungkin Sean bisa berakting sedemikian sempurna. Ia kenal sahabatnya. Meski sangat cerdas dan brilian, belum pernah ia tampak serapuh sekarang. “What happened, Sean?” serunya dengan suara tertahan. “Kamu kenapa? Badan kamu dingin semua. Come on, Man. Jangan terlalu tegang!” Syuhada berusaha menjaga keseimbangan, namun mulutnya terus meracau. “Kamu pasti salah, Drew! Tak mungkin aku berada di tahun 2110. Itu sangat jauh dari sekarang. Tak masuk akal sama sekali. Sekarang tahun 2020. Kamu pasti salah!” Ia berkata dengan tubuh gemetar. “Aku mohon, tolong hentikan lelucon-lelucon kamu, Drew. Aku sedang tidak ingin bercanda. Aku tersesat. Aku terdampar di sini. Apa kamu tidak bisa mengerti?” Ia berharap pemuda periang itu menanggapi ucapannya dengan serius. Drew menatap Syuhada dengan iba. Namun berusaha tetap tenang agar Sean tidak semakin panik. “Sesuatu terjadi pada kamu, Sean. Aku turut prihatin,” ujarnya kalem. “Kamu harus tenang, supaya bisa menjelaskan semua dengan logis.” Suaranya dibuat terdengar wajar. “Kamu harus percaya, Drew. Aku lahir tahun 1990. Mana mungkin tahun 2110 aku berusia 30 tahun? Apa itu logis buat kamu? Aku tinggal di Benhil. Aku youtuber terkenal. Aku pengamat IT dan Teknologi. Follower dan subscriberku banyak. Tadi pagi aku bangun di bulan Mei 2020. Sekarang kamu bilang aku ada di tahun 2110? Apa itu masuk akal Drew? Apa itu logis?” sembur Syuhada penuh emosi. Ia tak terima penjelasan Drew yang tidak rasional. Drew mengamati laki-laki yang mengaku bernama Syuhada itu untuk mencari tanda-tanda jika ia benar bukan Sean. Namun tak satu pun ciri fisik yang menunjukkan ia bukan sahabat yang telah menemaninya dalam berbagai petualangan. Sebuah tarikan nafas panjang membuat saraf-saraf di tubuh Drew sedikit mengendur. Sejak memantau tingkah aneh Sean menghentikan orang-orang di jalanan, ia merasa ada beban berat menghimpit dadanya. Ia khawatir terjadi sesuatu pada rekan kerjanya yang menghilang dua hari lalu tanpa kabar berita. “Ayolah, Sean. Sebenarnya apa yang terjadi?” Ia menatap lekat ke bola mata Syuhada. “Kamu dari mana? Apa kamu mengalami kecelakaan? Aku tidak bisa bantu kalau kamu tidak cerita apa yang sebenarnya terjadi.” “Yang sebenarnya terjadi?” seru Syuhada. “Yang sebenarnya terjadi, Drew? Tadi aku sedang menuju masjid! Aku sedang terburu-buru menyusul Farhan, sahabat dan rekan kerjaku. Aku mau pamer jam tangan kuno kakekku padanya. Lalu aku terdampar di sini. Di negeri asing, negeri antah berantah ini, dan tak satu pun yang aku kenal. Itu yang terjadi, Drew. Itu yang sebenarnya terjadi! Apa kamu mengerti apa yang aku katakan?” Syuhada terengah-engah bercerita pada laki-laki yang tetap memanggilnya Sean. “Ya sudah. Tenangkan diri kamu. Gak usah panik begitu. Nanti kita bicarakan lagi. Aku cuma khawatir sesuatu terjadi padamu.” Drew berkata dengan sabar. “Sean sahabatku orang paling tenang yang kukenal selama ini. Sean tidak pernah mengenal kata takut atau khawatir.” Drew menepuk-nepuk pundak Syuhada untuk menenangkan. “Aku tidak mengerti yang kamu ucapkan, Drew,” desah Syuhada. “Maaf. Kepalaku sakit sekali. Aku ingin minum segelas teh manis hangat. Atau kamu juga tidak tahu apa itu teh manis?” Ia bertanya dengan suara parau. “Tentu saja aku tahu. Kalo mau, aku bisa belikan. Tapi agak jauh. Mendingan aku antar kamu pulang, biar bisa istirahat dan lebih tenang. Sepertinya kamu terlalu lelah sejak tadi berdiri bengong di jalanan.” “Tapi aku tidak punya rumah di sini.” “Syuhada mungkin tidak punya rumah, tapi Sean punya. Kita hanya butuh lima menit untuk sampai ke sana. Ayo! Aku antar kamu pulang.” Drew membantu Syuhada bangkit dan memapah tubuhnya yang gemetar. “Apa pun yang kamu alami, nanti kita omongin lagi. Sekarang pulang, istirahat, dan tidur yang cukup. Setelah pulih, kita harus bicara banyak hal.” Syuhada patuh pada perintah Drew. Selain tak punya pilihan, ia ingin tahu seperti apa rumah di tahun 2110. Melihat semua kemajuan yang ada, muncul rasa penasaran, namun juga sedikit gentar. Tak yakin apa ia mampu beradaptasi dengan teknologi terkini. "Que sera sera! Apa yang akan terjadi, terjadilah,” batinnya. Drew menjentikkan jari, tiba-tiba sebuah mobil mungil muncul dari atas dan mendarat secara vertikal persis di hadapan mereka. Syuhada terbelalak kaget. “Drew! Itu mobil terbang, kan? Kamu kok bisa manggil mobil hanya dengan menjentikkan jari? Kamu tidak sedang main sulap, kan? Itu benar mobil yang bisa ditumpangi dan bisa terbang, kan?” Syuhada tiba-tiba bersemangat dan berceloteh dengan takjub. Ia tak menyangka mobil yang lalu lalang di atas sana, kini terparkir apik di hadapannya. Drew tersenyum simpul mendengar antusias Syuhada. "Kasian kamu Sean. Mendadak jadi manusia lugu, tidak tahu apa-apa. Padahal semua teknologi itu sangat kamu kuasai dan kamu salah satu pelopor yang disegani." “Tentu saja itu mobil beneran dan bisa terbang. Aku kan memang jago sulap, tapi kamu jauh lebih jago, Sean. Dan sulap yang kita ciptakan bernama teknologi.” Ia menanggapi ringan untuk mengimbangi Sean yang dianggapnya sedang hilang ingatan. Syuhada tak membantah. Ia bergerak pelan mendekati mobil berdesain futuristik itu dengan sorot mata tak percaya. Dengan takjub, ia mengelus-elus dan mengamatinya dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Mobil terbang itu memiliki bentuk mirip pesawat antariksa mini dengan sayap lipat yang tersembunyi di bagian samping. Saat mendarat, sayap terbuka, layaknya pada pesawat terbang. Tanpa berisik, mobil itu mendarat dengan mulus. Empat buah roda keluar saat akan mendarat dan ketika mengudara kembali terlipat ke masing-masing sisi. “Wow..wow… mobil kamu super keren, Drew. Aku tidak sabar ingin segera terbang!” Syuhada berseru penuh antusias. Tubuhnya kembali tampak kuat. Lalu, dengan suara serak, ia berteriak kegirangan. “Drew! Boleh aku masuk?” Drew terbahak. Tingkah Sean seperti anak kecil mendapat mainan. “Tentu saja. Silakan!” Seketika pintu mobil terbuka ke atas. Interior mobil terlihat sangat indah membuat Syuhada kian terpesona. “Canggih dan mewah!” serunya. Bergegas Syuhada masuk dan duduk di kursi penumpang. Mobil terbang itu memiliki kapasitas untuk dua orang. Interior didominasi bahan alumunium ringan dan bahan kulit berkualitas tinggi. Kokpit terlihat mirip kokpit pesawat, namun dengan layout lebih sederhana. Terdapat sebuah layar komputer canggih yang menyala berkedip-kedip merah. Mata Syuhada menangkap sebuah tombol switch dari mode jalanan ke mode udara. Terdapat pula setir dan sebuah tuas. Ingin sekali ia menyentuh semua itu, namun takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Akhirnya ia mengamati saja tanpa berani melakukan apa pun juga. "Ya Tuhan, aku benaran berada di dalam mobil terbang!" Drew menyusul masuk dan duduk di balik kemudi dengan anggun. Lalu memencet beberapa tombol di layar. Seketika terdengar suara mendesis. Pintu menutup pelan. Perlahan kedua sayap keluar. Dalam hitungan detik mobil terangkat saat Drew menarik tuas. Syuhada membelalak kegirangan. “Drew, aku tidak sedang mimpi, kan? Ini nyata, kan? Aku gak percaya kita benar-benar terbang dengan mobil ajaib ini.” Ia berseru penuh semangat. Kepalanya melongok kiri kanan dan memandang takjub ke bawah. “Kota ini indah banget dari atas!” serunya riang. Drew geleng-geleng kepala melihat tingkah Syuhada. Mobil terus naik, dengan lincah terbang di antara gedung-gedung tinggi. Syuhada makin terbelalak ketika mobil mengarah ke laut dan terbang mendekati kota terapung. “Drew, kamu pasti becanda. Itu kota terapung yang kita lihat tadi, kan? Drew! Memangnya kita boleh terbang ke sana?” Drew tergelak. “Rumah kamu dan rumahku ada di sana, Sean. Kamu lihat gedung tertinggi itu? Apartemen kita ada di situ.” “Hah? Tidak mungkin, Drew!” seru Syuhada. “Ha! Mungkin Sean,” ledek Drew menirukan gaya sang teman. ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 28 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (188)
DuabelasFazqia
cerita menari
30/06/2025
0
SetyawanAgus
lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
cerita menari
30/06/2025
0lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
02/05/2025
0cerita nya bgus sekali
03/12/2024
0Ver Todos