logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 6 New Jakarta City

Matahari makin tinggi. Bumi kian sempit. Udara dan tanah disesaki pesatnya laju teknologi. Kolaborasi hasil olah otak manusia dan kekuatan alam mengubah kehidupan bagai dalam mimpi.
“Maksudku… Kamu menghilang dua hari. Setelah itu jadi aneh dan membingungkan. Aku ketemu fisikmu, tapi kehilangan jiwamu. Raga Sean ada di sini, tapi entah di mana jiwanya berada.” Drew kembali berusaha membuat Sean agar tidak terlalu tegang.
Syuhada terdiam. Drew melanjutkan.
“Kamu bertanya hal-hal yang bikin aku ingin ketawa, tapi gak tega. Oh ya, satu lagi pertanyaan kamu yang belum kujawab. Tentu saja saat ini kita ada di New Jakarta City, salah satu kota megapolitan yang ada di negeri ini. Tempat kamu lahir dan dibesarkan. Begitu menurut basis data yang ada di server ajaib kita.”
Syuhada tercengang. “Tunggu, Drew! Maksud kamu, kita di Jakarta? Kamu gak salah?”
“Tentu saja. Aku gak pernah salah. Kamu tahu kan kemampuan kita berdua dalam banyak hal. Kita ini duo ahli iptek muda terkenal di seantero negeri. Kita pemuda kebanggaan bangsa ini, Sean!” ucapnya sambil membusungkan dada.
Syuhada terperangah. “Drew! Aku orang Jakarta, tapi jelas bukan Jakarta yang ini. Jakarta tidak mungkin seperti ini. Aku sangat mengenal Jakarta, karena aku lahir dan besar di sana. Aku pasti mengenal kota kelahiranku. Tapi ini bukan Jakarta, Drew!”
Drew memandang Syuhada dengan prihatin. “Aku mengerti kamu sedang bingung, Sean. Sudah, tenang saja. Gak usah panik. Nanti kita bicarakan pelan-pelan.”
Syuhada menatap nanar teman baru yang tetap memanggil dengan nama yang terdengar aneh di kupingnya. “Jika ini Jakarta, ini Jakarta bagian mana, Drew?” tanyanya dengan suara pelan, setelah berhasil menenangkan diri.
“Kita berada di seputar Pluit, Sean. Lihat gak kota terapung itu? Itu kurang lebih satu mil dari Pantai Mutiara.”
Sontak Syuhada berpaling ke arah yang ditunjuk Drew. Matanya membelalak tak percaya. Di kejauhan tampak sebuah kota terapung berbentuk lingkaran yang melayang tinggi di udara, menyembul dari hamparan laut luas. Di sekelilingnya mengalir air terjun yang berkilau indah, laksana stalaktit raksasa ditempa cahaya berlimpah.
“Tidak mungkin Drew. Masak iya ada kota terapung seperti itu di Jakarta? Masak iya itu Pantai Mutiara? Aku gak percaya!” Syuhada menatap lekat ke arah kota terapung yang tampak menakjubkan dan sangat fantastis. “Aku sering main ke Pantai Mutiara, tapi tidak ada kota terapung di sana. Kamu pasti bercanda! Lagipula, mestinya dari sini pasti terlihat apartemen tinggi yang ada di Pantai Mutiara. Tapi tak satu pun bangunan di sini yang aku kenal.”
Senyum simpul mencuat di sudut bibir Drew. “Apa lagi yang kamu ingat yang ada di sekitar Pantai Mutiara?” Ia berusaha memancing ingatan sahabat yang terlihat kian aneh.
“Aku juga tidak melihat gedung-gedung yang seharusnya terlihat dari Pluit. Jadi tolong jangan bercanda, Drew.” Syuhada terus membantah penjelasan tak masuk akal itu.
“Setidaknya pasti ada ciri khas Kota Jakarta yang tidak akan mungkin berubah. Misalnya puncak Wisma 46, salah satu gedung tertinggi yang pasti terlihat dari sini. Itu jika benar kita ada di Pluit. Tapi tidak satu pun gedung tinggi yang kukenal tampak dari sini.” Suara Syuhada terdengar bergetar. Ia benar-benar tak percaya.
Sebaliknya, Drew malah tertawa geli mendengar penjelasan Syuhada.
“My Man, kamu bicara Jakarta tahun berapa? Lima puluh tahun lalu mungkin saja salah satu apartemen di Pantai Mutiara dan Wisma 46 itu menjadi gedung tertinggi. Tapi sekarang?” Ia sengaja menggantung ucapan, ingin melihat reaksi Syuhada.
“Tolong jangan bercanda, Drew. Aku benar-benar serius.” Syuhada memohon dengan suara lemah bak baterai kehilangan tenaga.
“Aku tidak becanda, My Man. Saat ini menjamur gedung-gedung dan konstruksi raksasa pencakar langit dengan tinggi berkali lipat dari bangunan yang kamu sebutkan. Makanya tidak akan terlihat jika tidak langsung datang ke sana. Mereka bagai liliput di antara raksasa, Sean.”
Syuhada kembali terperangah mendengar penjelasan Drew.
“Drew, aku tidak berasal dari sini. Aku tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Tapi yang jelas ini bukan Jakarta. Tempat ini asing bagiku. Aku tidak mengenal apa pun dan siapa pun di sini. Terlebih lagi, aku bingung ke mana akan pulang. Rumahku tidak di sini. Tolong bantu aku memahami apa yang terjadi.”
“Aduh, Sean. Jika kamu ikut akting, kamu benar-benar bakal jadi aktor hebat dengan penghayatan total. Bisa dapat Piala Oscar jika kamu main film. Aku hampir percaya kamu itu bukan Sean, sahabatku yang cerdas dan brilian.”
“Drew, please lihat mataku sungguh-sungguh! Apa aku tampak sedang akting atau pura-pura?” Syuhada kehilangan akal menghadapi sikap Drew yang konyol dan tetap tidak percaya.
Lalu dengan suara parau ia melanjutkan. “Aku tidak sedang akting dan tidak sedang becanda. Aku tidak berasal dari tempat ini, Drew. Semua yang ada justru membuatku takut. Ke mana aku harus pergi untuk mencari tahu apa yang terjadi? Aku bahkan tidak punya rumah untuk pulang.”
“Tentu saja kamu punya rumah, Sean. Malah lebih bagus dari punyaku. Kamu tau itu.”
Ucapan Drew membuat Syuhada sedikit tenang. Setidaknya ada tempat untuk istirahat agar bisa berpikir dan mencari tahu apa yang tengah ia hadapi.
“Lagi pula, tidak ada yang perlu ditakutkan. Itu prinsip hidup kamu sejak dulu, kan?” Drew melanjutkan. “Masih ingat quote terkenal dari seorang Sean? Kata-kata kamu nyaris selalu jadi trending topik di negeri ini.”
Mata Drew berbinar-binar saat mengucapkan kalimat berikutnya.
“Tak ada yang bisa membuat kita takut di dunia ini, karena kita umat manusia adalah makhluk paling unggul di hamparan semesta raya. Kita adalah pemenang atas ilmu, pengetahuan dan kehidupan. Kita hidup di tahun 2110, tahunnya kebangkitan umat manusia melawan kehendak alam!” Suara Drew terdengar mantap dan bersemangat.
“Ingat kata-kata kamu yang berhasil membius umat itu, kan?” Ia menambahkan dengan wajah tenang.
Syuhada tercekat. Bibirnya kelu. Ia terhempas ke lorong gelap. Ia merasa tersesat. Mendadak kepalanya berdenyut nyeri tiada terperi. Drew pasti salah. Ya, ia pasti salah!
“Tak mungkin sekarang tahun 2110. Aku pasti sudah mati saat itu. Aku lahir tahun 1990 dan usiaku saat ini 30 tahun. Barusan aku hidup di tahun 2020. Tak mungkin mendadak berada di tahun 2110. Ini gila. Tidak masuk akal!” Ia meracau dengan wajah pucat.
***

Comentário do Livro (188)

  • avatar
    DuabelasFazqia

    cerita menari

    30/06/2025

      0
  • avatar
    SetyawanAgus

    lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin

    02/05/2025

      0
  • avatar
    CirebonSamroh

    cerita nya bgus sekali

    03/12/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes