Meskipun berkali-kali gagal, namun Syuhada tak menyerah. Siapa saja yang lewat disapa dan coba diajak bicara. Hingga akhirnya seorang wanita muda berhenti di hadapannya. Dengan sangat sopan Syuhada bertanya agar tak lagi diacuhkan. “Mohon maaf Mbak. Kalo boleh tahu, masjid di mana ya?” Perempuan itu menatap Syuhada dengan wajah bingung. “Masjid? Apa itu masjid?” Syuhada mengerutkan kening, tak percaya mendengar jawaban tak lazim itu. “Masjid, Mbak. Tempat salat. Tempat ibadah umat Islam.” “Oo, maksud kamu tempat ibadah orang-orang di masa lalu?” “Maksud Mbak di masa lalu apa ya?” “Mbak? Kamu sepertinya tidak berasal dari sini. Maaf saya sedang buru-buru.” Perempuan itu berlalu meninggalkan Syuhada yang kembali tertegun mendapati reaksi tak terduga. Syuhada mengikuti langkah perempuan berbusana warna perak dan serba minim itu dengan pandangan lelah. Seketika ia menyadari, dari tadi tak satu pun wanita berjilbab tampak di antara mereka. Baik pejalan kaki, maupun yang berada di dalam kendaraan kecil yang tak henti berseliweran di sekitarnya. Syuhada terperangah. Dengan cemas, ia berjalan tanpa tujuan. Mengikuti ke mana saja kaki melangkah. Ia tak punya bayangan ke mana akan pergi. Kota itu asing baginya. Tak ada yang ia kenal dan tak ada tempat pulang. “Aku tak tahu harus berjalan ke arah mana. Semua arah sama saja. Gak ada yang bisa dijadikan pedoman.” Ia bergumam seperti orang kehilangan akal. Di tengah kebingungan dan rasa tak berdaya, mendadak seseorang menepuk pundaknya. “Hai, Sean. Dari tadi aku perhatikan kamu kok kayak orang bingung? Ngapain sih di jalanan menghentikan orang-orang?” Syuhada kaget. Seorang anak muda seusia dirinya menyapa dengan nama tak biasa. “Sean? Kamu bicara denganku?” tanyanya ragu. “Ya iya lah. Memangnya dengan siapa lagi? Sean yang aku kenal kan cuma kamu.” Pemuda itu menjawab santai sambil mengedip jail. Sejenak kehidupan terasa normal kembali mendengar anak muda itu berbicara layaknya manusia biasa. “Maaf, tapi kamu siapa?” “What?! Dua hari menghilang, kamu gak mengenali aku? Kamu dari mana sih?” Ia membelalakkan mata, bertanya dengan wajah heran. “Namaku Syuhada. Aku tidak kenal siapa itu Sean. Dan aku juga tidak mengerti apa yang terjadi. Bisa bantu aku, kasih tau kita ada di mana?” Syuhada menatap pemuda itu penuh harap. “Ya ampun, Sean. Kamu serius? Eh, kamu baik-baik aja, kan? Atau jangan-jangan kamu habis kecelakaan?” “Maaf, namaku Syuhada. Kamu siapa?” “Syuhada? What kind of name is that? Nama itu terdengar kuno. Aku pernah baca sejarah. Syuhada terkait dengan sebuah agama, kan? Kok kamu kepikiran pake nama itu untuk ngerjain aku?” Pemuda itu berceloteh sambil cengengesan. Syuhada terpana. Pemuda itu tampak gagah. Hidungnya mancung dan berkulit putih bersih. Suaranya dalam dan tatapan matanya menyenangkan. Kacamata hitam bertengger di kepalanya. Penampilannya elegan. Berbanding terbalik dengan sikap jail dan konyol yang ia perlihatkan. “Sorry. Aku benar-benar tidak kenal kamu. Namaku benar-benar Syuhada dan aku sama sekali tidak tahu sedang ada di mana. Aku terdampar di sini dan sangat butuh bantuan.” Syuhada berkata dengan suara bergetar, berharap pemuda itu serius menanggapinya. “Wow! Please welcome my best friend, Sean. Akhirnya ia punya selera humor juga. Dua hari menghilang, pulang-pulang pandai bergurau.” Anak muda itu menyeringai dengan raut wajah senang. Syuhada tampak kesal. Namun berusaha menahan perasaan. Dengan suara tercekat, ia kembali melanjutkan. “Aku tadi sedang menuju masjid, tiba-tiba ada di sini. Tolong kasih tahu, kita ada di mana?” Kegundahan tercetak di raut wajahnya. Laki-laki itu menatap Syuhada, lalu bertepuk tangan. “Akting kamu bagus, Sean. Hebat!” “Aku tidak sedang akting. Aku tersesat. Aku butuh bantuan!” Syuhada berteriak frustrasi menghadapi tingkah konyol si pemuda asing. Syuhada merasa terjebak. Tubuhnya bermandikan keringat. Panik dan kesal membuat dadanya sesak. Pemuda itu terus memanggilnya Sean. Namun ia paksakan kembali bersikap tenang. Bagaimanapun, saat ini hanya dia yang mau mengajaknya berbincang. Anak muda itu pun terlihat tak kalah heran. Ia mengamati Syuhada dari atas ke bawah, lalu balik ke atas. Sebuah kerut muncul di keningnya. “Ya sudah. Anggap saja kamu benar-benar lupa padaku. Yuk, kita kenalan lagi.” Ia menarik tangan Syuhada dan mengajak salaman. “Kenalin. Aku Drew. Sahabat dan rekan kerjamu yang paling pintar dan ganteng.” Ia mengguncang tangan Syuhada dengan akrab. “Aku Syuhada.” “Iya! Kan tadi sudah dua kali kamu sebutkan.” Drew tergelak melihat Syuhada salah tingkah. “Aku mencari kamu ke mana-mana. Ketemunya malah di tepi jalan.” Syuhada merasa mendapat setitik harapan. “Terima kasih, Drew. Terima kasih mau mengajak aku bicara. Aku kira di sini tidak ada lagi manusia normal. Maafkan tadi aku berteriak.” “No problem, Sean. Kamu temanku. Gak usah sungkan begitu.” Drew kembali ceria. Di sudut bibirnya menyembul sebuah senyuman. “Apa kamu lupa, Sean? Di kota ini gak bakal ada yang mau diajak bicara jika tak kenal. Dan itu sudah berpuluh tahun lamanya. Kita bahkan sering bikin anekdot lucu tentang warga kota. Kamu yang jarang ketawa kerap terpingkal-pingkal.” Mata Drew berbinar cerah. Keramahan dan keceriaannya membuat Syuhada kembali bersemangat. Meskipun dipanggil dengan nama tak dikenal, setidaknya kini ada teman untuk diajak berbincang. “Eh, kukasih tebakan, mau gak? Biar kamu gak terlalu tegang.” Drew berkata seraya menarik tangan Syuhada ke arah bangku besi yang berderet di tepi jalan. “Kita duduk dulu. Kakiku pegal berdiri dari tadi ngikutin kamu.” Syuhada ikut dengan patuh. “Tadi itu aku sedang tugas keluar kantor. Lalu melihat kamu menghentikan orang-orang di jalanan. Kupikir kamu sedang bikin penelitian.” Drew berkata seraya berselonjor dengan santai. “Ternyata kamu malah bikin aku terheran-heran. Mengaku bernama Syuhada dan tidak tahu sedang ada di mana.” Drew tergelak dengan suara baritonnya. “Aku memang Syuhada.” Drew seperti tidak mendengarkannya dan terus mengoceh. Lalu dengan santai ia malah mengajukan sebuah tebakan. “Ayo jawab Sean. Suku apa yang banyak ditemukan di mall?” Ia jeda menunggu jawaban. Syuhada tak mengindahkan. “Suku-riti,” jawabnya tertawa riang. Syuhada menatap sekilas. “Gak lucu,” gerutunya dalam hati. Ketika Drew hendak memberi tebakan lagi, Syuhada buru-buru menyela. “Aku heran, dari tadi yang aku temukan orang-orang aneh dan kaku, seperti tidak punya kehidupan sosial. Tapi kamu malah sebaliknya. Santai dan periang.” Ia menatap Drew dengan wajah penasaran. “Karena aku sahabat kamu, Sean. Sahabat berbagi suka dan duka. Dengan orang tidak dikenal, mana ada aku punya waktu buat main tebak-tebakan. Lagipula dua hari gak ketemu, aku suntuk gak ada teman buat becanda.” Sesaat Syuhada terdiam, lalu melanjutkan.
“Drew, kamu harus percaya padaku. Aku bukan Sean. Aku benar-benar tidak berasal dari sini. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi. Tadi aku mau ke masjid buat salat Jumat, tapi justru terdampar di sini.” Drew menatap Syuhada dengan sedikit kecewa. Ia berusaha membuat Sean rileks, tetapi sepertinya sang kawan benar-benar sedang tidak ingin bersenang-senang. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi sama kamu, Sean,” katanya. “Tapi sepertinya kamu benar-benar sedang kebingungan.” Drew menghela nafas panjang. “Sejujurnya, aku tidak paham apa yang kamu katakan. Kamu bilang nama kamu Syuhada, hendak salat Jumat dan tidak mengenali kota ini.” “Memang begitu,” sahut Syuhada cepat. “Itulah yang membuatku heran. Kamu Sean, sahabatku sejak sepuluh tahun lalu. Kita rekan kerja dan bersama-sama mencetak sejarah peradaban manusia dalam berbagai penemuan. Tentu saja kita berdua pun anti agama. Tapi kamu mengaku bernama Syuhada dan hendak salat segala. Apa aku gak ikutan gila kalo percaya?” Ia mengoceh sembari menggaruk-garuk kepala dengan lucu. “Semua terdengar aneh dan tak masuk bagiku. Sebagai orang yang haus ilmu dan menyukai sejarah, aku tahu nama Syuhada dan salat Jumat di masa lalu dikaitkan dengan agama Islam. Sedangkan sekarang ini, kamu, aku, dan hampir seluruh rakyat, tak lagi percaya pada agama dan hal-hal yang berbau spiritual. Kamu justru salah satu orang yang paling menentang agama dan keberadaan Tuhan. Aku heran, kamu dapat ide dari mana hingga bisa mengarang cerita sekeren itu. Apa kamu habis diculik alien atau mengalami kecelakaan fatal?” Syuhada terperanjat. Matanya membulat. “Kamu ngomong apa, Drew? Maksud kamu bagaimana?” Ia menatap Drew dengan tatapan heran. ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 30 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (188)
DuabelasFazqia
cerita menari
30/06/2025
0
SetyawanAgus
lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
cerita menari
30/06/2025
0lanjut min..mantap..cerita yang nampak realistis..smga hidayahnya selalu menyertai kita smua..aamiin
02/05/2025
0cerita nya bgus sekali
03/12/2024
0Ver Todos