logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

2. Ardan William

Ardan William
“Arsyala ... Arsyala ... Arsyala ..., pantai ..., organisasi ..., FBI ..., arhkgg,” racau pria itu sambil tertidur dan akhirnya terbangun karena selalu terngiang dan mengigaukan nama seorang gadis.
“Arkhg, gue kenapa sih, dan siapa Arsyala, kenapa nama dia selalu masuk dalam mimpi gue, dan di mana tempat yang selalu ada di mimpi itu, dan siapa keturunan 25, keturunan apa, dan siapa, apa itu FBI, kenapa mimpi itu selalu ada?” begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya. Rasa pusing juga seringkali menghantui setelah ia bangun dari tidur karena mimpi itu.
Semenjak sebulan yang lalu, ia merasa hidupnya sudah penuh dengan misteri dan kejanggalan, mimpi, gadis yang bernama “Arsyala”, seakan merasa ia benar-benar harus mencari gadis yang tak pernah dapat dia lihat wajahnya walau sekedar di dalam mimpi.
Pria itu bernama Ardan William, yang selalu dikenal dengan eksekutif muda, tampan dengan badan kekar, berkarisma, dan berwibawa serta juga seorang kakak atas adik perempuannya. Umur yang baru beranjak 22 tahun membuat orang-orang menatap kagum kearahnya, karena ia sudah bisa membuat cabang baru dari perusahaan sang ayah dan mengampunya sendiri sambil turut berkuliah pribadi dari universitas luar negeri.
Bukan hanya itu saja, orang-orang juga telah menghormati sejak sedari ia masih kecil, karena mengingat gelar keluarga yang terletak di belakang namanya. William adalah salah satu nama keluarga terkaya yang memiliki begitu banyak properti, perusahaan, terutama universitas-universitas ternama, semua milik mereka tersebar di setiap penjuru Indonesia.
***
Kini ia telah sampai di perusahaan dengan menggunakan motor sport miliknya beserta jas hitam berdasi. Pria itu tak suka menggunakan mobil, apalagi mengingat jalanan kota yang sangat ramai, padat, dan selalu macat.
“Siang pak William,” sapa salah seorang karyawan yang bekerja di kantornya yang menjabat sebagai sekretaris. Dion adalah nama dari sekretarisnya tersebut dan seumuran dengan Ardan.
“Siang ...,” sapanya dingin.
Ardan sendiri tak pernah memilih wanita sebagai sekretarisnya, karena ia tak suka dekat dengan wanita, bukan pula berarti ia tak normal. sebab itu lah, hingga saat ini Ardan belum memiliki seorang pendamping, bahkan ia tidak sempat karena terlalu sibuk.
Dion tak pernah mempermasalahkan sikap dingin sang bos, karena ia juga sudah terbiasa dengan segala sikap bosnya ini sejak bekerja di sini.
Dion juga tahu bahwa bosnya sangat baik, terbukti saat Dion mebutuhkan uang 200 juta untuk pengobatan sang ibu, maka saat itu Ardan memberikan cek berupa senilai 300 juta tanpa pernah ingin meminta uang itu kembali atau sekedar jaminan. Saat Dion membahas masalah uang itu, Ardan berkata “Sudahlah, itu dariku!” bahkan setelah itu Ardan selalu memberikan bonus untuknya setiap bulan.
Tak jarang ia juga menganggap bosnya ini sebagai sahabat apabila di luar jam kerja, Ardan juga tak pernah masalahkan hal itu. Ia juga kadang bercerita tentang masalahnya kepada Dion, karena Dion sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri, lagian kan ia hanya punya seorang adik perempuan yang masih berumur 15 tahun.
“Pak William, jadwal Bapak siang ini ada beberapa rapat yang sudah saya atur, dan tadi pagi pihak detektif dan musium keluarga Bapak meminta Anda mengunjungi musium karena ada penemuan artefak baru di tepi pantai dekat kampus yang sangat menarik yang harus Bapak lihat. Penemuan saat ini cukup memakan waktu dan dana, karena ada kotak yang tak dapat dibuka sedikitpun.” Tutur Dion panjang selama mereka berjalan menuju ruangan Ardan.
“Okeh atur saja waktunya, nanti kita akan kunjungi bersama-sama tuan Albert,” jawabnya setelah sampai dan duduk di bangku miliknya.
Jangan anggap sedari tadi para karyawan wanita tak menyapa sejak dirinya mulai memasuki kantor, namun Ardan hanya berjalan dengan wajah datar sambil sesekali mengangguki sapaan para karyawan.
“Eem, Dion gue ingin tanya sedikit ke lo, akhir-akhir ini gue selalu bermimpi gadis yang bernama Arsyala, namun gue tak tahu siapa dia, hanya namanya yang selalu terdengar di setiap mimpi gue, menurut lo apa maksud dari mimpi itu?” tanya Ardan yang membuat Dion ternganga.
Sejak kapan bosnya ini jurhat tentang sebuah mimpi!
Bahkan ia saja tak pernah menggubris sedikitpun mimpinya, dan yang paling heboh lagi bosnya mengucapkan kalimat yang panjang. “Dari mana matahari timbul pagi ini?” pikir Dion seraya menatap penuh selidik bos sekaligus temannya itu.
“Maaf Pak William, apa Bapak sakit?” tanya Dion ragu. Dirinya tak berani memanggil Ardan dengan sebutan lo-gue kalau masih di area kantor.
“Jawab pertanyaan gue!” balasnya ketus, setelah melihat tatapan aneh dari sang sekretaris.
Dion yang merasa suhu yang mulai dingin di dalam ruangan ini pun berusaha tenang.
“Begini Pak, sepertinya Bapak harus mencari gadis yang bernama Arsyala tersebut, mungkin di sebuah tempat yang Bapak lihat dalam mimpi, cobalah mencari gadis yang bernama Arsyala di sana, itu sebatas saran saya Pak, barangkali Bapak sudah mengenalnya di masa kecil tapi Bapak lupa atau mungkin dia jodoh Bapak?” jawab Dion yang sukses mendapatkan tatapan tajam dari sang bos.
Melihat itu Dion hanya cengengesan seraya menunjukkan jari berdamai. Dion adalah tipikal orang yang santai, mudah bergaul serta memiliki selera humor yang tinggi. Sebab itulah, Ardan suka beteman dengannya, walau kadang merasa Dion orang yang banyak bicara–sedikit bekerja.
***
Setelah semua rapatnya selesai, ternyata ia tak sempat mengunjungi musium seperti yang telah dijadwalkan, berhubung tuan Albert kliennya tidak dapat hadir hari ini melainkan besok. Jadi Ardan menyuruh sang sekretaris menyusun jadwalnya besok untuk singgah sebentar kemusium.
Selain itu, ia dapat kabar bahwa kampus milik sang ayah juga akan mengunjungi musium itu besok, jadi Ardan diperintahkan untuk melihat bagaimana keadaan siswa yang ada di kampus beliau.
Malam ini ia kembali kerumah kedua orang tuanya, agar besok dapat sampai di musium tersebut dengan cepat. Rasa lelah menghantui pikiran dan badannya, selain pekerjaan yang begitu banyak, pikirannya oun terus saja mengingat nama gadis yang selalu masuk di dalam mimpinya.
“Ar, kita makan dulu yuk, Nak!” panggil sang Mama dari luar luar pintu kamar Ardan.
“Ar, gak lapar, Ma,”
“Yah, Nak, mama udah masak makanan kesukaan kamu loh, lagiankan jarang juga kamu makan malam bareng mama, papa dan Rara!”
Mendengar perkataan mamanya Ardan pun bangkit dari kasur king sizenya dan mengganti baju kerja yang masih lekat dengan baju kaos rumahan. Lalu keluar yang langsung di sambut dengan senyum hangat dari sang mama.
“Nah gitu dong, ayo kita makan sama-sama, mama rindu makan malam bareng kamu.”
***
Meja makan megah di tengah ruang dapur, kini di isi dengan 4 orang yang hanya menimbulkan suara dentingan sendok, sebelum keributan antara adik dan kakak yang akan berlangsung merusak setiap moment keheningan.
“Pa ..., lihat Kak Ar, dia ngambil pahak ayam milik Rara!” rengek seorang gadis remaja yang merupakan adik satu-satunya dari Ardan seraya berusaha merebut pahak ayamnya yang telah di lahap oleh sang kakak.
“Kan masih ada sayapnya, Ra,” lerai sang Papa yaitu William yang telah jengah dengan kelakuan kedua anaknya yang akan selalu berantem setiap bertemu.
“Papa mah gitu selalu belain Kak Ar, Papa emang gak sayang sama Rara!” rengeknya kembali seraya memalingkan wajah dari sang papa menuju mamanya,
“Ma ... Ma lihat tuh Kak Ar sama Papa!”
Kini giliran mamanya geleng-geleng kepala dengan degan tingkah kedua anaknya. “Ra stop, makan!” rasa lelah menghantui ibu dua anak itu sambil menghembuskan nafas lelahnya, “Kalian ini, berantem mulu, capek mama lihatnya!”
“Bukan Ar, Ma,” bela Ardan terhadap dirinya sambil mengejek sang adik.
“Kan Mah, lihat tuh dia ngejek Rara,”
“Sama aja kalian, yaudah makan!” bentak sang ibu kepada keduanya.
Keduanya diam, mendengar bentakan mamanya. Sedangkan, sang ayah terkekeh geli melihat kadaan itu. Yang berakhir mendapat tatapan sengit dari kedua anakdan istrinya. Lalu dirinya sendiripun turut ikut terdiam takut. Yang malah mengundang kekehan geli dari kedua anaknya.
“Kak ... Kak Ar mau gak kalo Rara jodohin sama kakaknya Rara?”
“Kakak lo kan gue, DODOL!” bentak Ardan geram dengan pertanyaan sang adik yang selalu itu-itu saja, kayak dirinya gak laku aja sampek setiap saat selalu bercerita ingin menjodohkan dirinya.
“Emang Kak Ar, kakaknya Rara?”
Mendengar pertanyaan itu Ardan hanya diam tak menjawab apa-apa. “Iya deh iya, tapi kakaknya Rara yang kali ini tuh beda tau kak, dia kakak Rara yang ada di restorannya Mama, orangnya cantik banget, iya kan Ma?”
“Iya loh Ar, kamu mau?” tanya sang mama yang ikut menimpali.
“Terserah Mama sama Rara deh, Ar mau ke kamar!” mendengar jawaban itu Rara saling menatap mama dan papanya seraya tersenyum misterius.
___________________________________________________
"Memilih hujan atau tidak adalah sebuah kebimbangan, tapi mencarimu tak sama sekali membuat hatiku ragu,"

Comentário do Livro (70)

  • avatar
    zaraa zaufiaa

    bagusssss

    19/03/2025

      0
  • avatar
    AdeliaMelia

    sangat bagus

    02/12/2024

      0
  • avatar
    Putrabungsu

    wow kren

    23/09/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes