"Dan kau percaya begitu saja omong kosong itu? " Tanya mas Farid menyangkal apa yang ku katakan. "Percaya atau tidak, itulah kenyataan yang sebentar lagi akan kamu hadapi" Ucapku tegas. "Mirna, kalau hanya gara gara mas kawin nu yang belum bisa ku ganti kau minta cerai, kau sungguh keterlaluan, kau matre, hanya karena harta kau tega ingin meninggalkanku" "Apa kau bilang? Aku keterlaluan? Sudah berpuluh bahkan ratusan kali aku sudah mencoba sabar menghadapi keangkuhan dan keegoisan mu, bertahun tahun merasakan tekanan batin akibat perbuatan mu dan keluarga mu, bertahun tahun aku sabar, tapi kali ini aku sudah tak sanggup lagi" Aku berkata sambil menahan sesak yang semakin lama semakin membuncah di dadaku. "Setelah mengalahkan ku, sekarang kau menyalahkan keluarga ku juga? " "Iya. Memang benar, keluargamu lah sebab aku semakin ingin cerai darimu. Apa kau tak ingat, ketika aku operasi cesar, satu pun keluargamu tak ada yang menjenguk, bahkan aku ketika kakakku melahirkan dirumah sakit, besoknya aku sudah datang mengunjunginya. Tapi lihat kakakmu, apa dua peduli padaku? " "Tapi, kan kakak kakak ku datang kerumah mirna, menjenguk kau lahiran? " "Setelah dua puluh hari azka lahir? Bahkan orang lain yangbtak ada hubungan saudara lebih dulu datang menjenguk ku dirumah" "Mirna, hal sepele pun kau permasalahkan? " "Bukan hanya itu saja, kau ingat ketika aku keguguran? Kau dan Kakakmu menyalahkan aku karena sudah teledor meminum air kelapa muda, aku sakit hati mas, sakit sekali, dan kakakmu pula menjelek - jelekkan ibuku yang tak menjaga anaknya dirumah sakit, kalian menjelekkan ibuku di depan mataku.. aku sabar mendengar kalian menjelekkan aku bdan ibuku saat itu karena aku sedang berbaring diranjang rumah sakit, apa kau tahu aku menangis dalam diam, menahan sakit hati mendengar ucapan jahat kalian? " Mas farid hanya diam mendengar sedikit demi sedikit beban yang sudah sekian lama ku tumpuk, dan sekarang lah waktunya ku tumpahkan.
"Ibu mu selalu menyalahkan aku, aku gak bisa lahiran normal, aku gak bisa kasih asi untuk anak, aku gak bisa ini gak bisa itu,dibanding bandingkan aku dengan menantu lain, sakit hati aku mas"
"Dan apa kau ingat mas? Ketika ibu dan adikku masuk rumah sakit karna tifus, tak ada seorang pun dari keluargamu yang datang membesuk. Bahkan aku berkali kali mengatakan pada kakakmu bahwa ibu dan adikku masuk rumah sakit. Apa mereka peduli? Tidak pernah. Tapi, saat anak kakakmu masuk rumah sakit hanya karena tangannya kena kaca lemari, aku langsung menjenguk hari itu juga tanpa menunggu besok. Berkali kali anak kakakmu masuk rumah sakit, selalu aku dulu yang datang mengunjungi, tapi pernah kah kau ingat kakak kakakmu tak pernah datang saat ibuku sakit. Adikku sakit. Aku sakit. Ipar macam apa itu? " Air mataku jatuh menetes mengingat kembali kenangan buruk yang diberikan ipar dan mertua ku. Mas farid masih diam seribu bahasa, aku belum selesai menumpahkan sakit hati, ini belum seberapa. "Dan apa kau ingat mas, saat aku hamil azka tujuh bulan? Aku dan ibuku ingin mengadakan acara tujuh bulanan kehamilan ku, Kakakmu dengan teganya mengatakan tak akan datang ke acara itu, dengan alasan tak ada uang. Sakit sekali hatiku mas, aku seperti tak dianggap adik ipar oleh kakakmu. Aku malu pada keluarga ibuku, keluarga bapakku, dan tetanggaku jika ipar ku tak datang di acara tujuh bulanan kehamilan ku. Sudah lah gak ada hajatan pernikahan kita, malah acara tujuh bulanan ku pun kakakmu tak mau datang. Makanya aku menyuruh mu memberikan uang tiga ratus ribu kepada kakakmu agar merka datang di acara tujuh bulanan ku, dan ternyata benar mereka datang juga setelah kau berikan uang" "Mirna, jangan kau ungkit ungkit lagi yang sudah terjadi. Itu kan masa lalu" Ucap mas farid tanpa rasa bersalah. "Tidak bisa, aku harus mengatakan semua beban dihati ku selama ini. Bukankah tadi kau ingin tahu alasan ku minta cerai dari mu? " "Iya, tapi apa kau akan terus mengungkit ungkit masa lalu? " "Iya, agar kau tahu mas, aku sakit hati dengan perlakuan kakak dan ibu mu. Aku ingin cerai dari mu juga atas andil mereka" "Maafkan kesalahan mereka mirna, maafkan kakak dan ibuku" "Sayangnya maaf itu bukan keluar dari mulut mereka, tak perlu kau meminta maaf mas. Hatiku sudah terlanjur sakit" "Mirna, sudah lah lupakan semua itu. Kasiha anak kita masih kecil." "Jangan jadikan anak sebagai senjata mas, aku sudah capek mendengar kata kata itu. Justru karena azka aku sudah bertahan selama ini. " "Mirna... Katakan apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku dan keluargaku" "Cerai kan aku" "Apaaaa? cerai? " "Ceraikan aku, maka aku akan memberikan maaf padamu dan keluargamu" "Tidak Mirna, aku tak akan pernah menceraikan mu" "Jika kau tak mau menceraikanku, maka aku yang akan menggugat cerai" Entah keberanian dari mana, kata-kata itu berhasil lolos begitu saja dari mulutku. "Kau keterlaluan mirna" Bentak mas farid membuat Azka ku terbangun. "Maa.... Maa.. Huaaaa.... " Tangisan azka terdengar begitu kencang, mungkin ia terkejut mendengar bentakan suara ayahnya. "Puas kamu? kau udah buat anak kita nangis, puas kan Kamu? " Tanya mas farid dengan tatapan penuh kebenciannya. Aku berlalu meninggalkannya, ku dekap Azka kecil ku lalu ku elus punggungnya. "Cup.. Cup.. Cup.. Sayang mama. Udah bangun ya? " "Ma.. Ma... Huaaa... " Aku merasa serba salah, jika aku bertahan dengan mas Farid. Maka lahir batinku tersiksa, bukan hanya dari nya tapi dari ipar juga ibu nya. Namun, jika aku bercerai dari nya. Bagaimana nasib Azka ku? Dia pasti kehilangan kasih sayang ayah nya, dia pasti akan jadi korban perceraian kedua orang tuanya. Haruskah aku merelakan penderitaan ku demi anak? Atau kah aku harus merelakan anak demi kebahagiaan ku? Sungguh ini membuat ku bingung, bingung harus bagaimana. Tapi, bukankah tadi aku sudah meminta cerai dari mas farid? Haruskah aku sudah mengambil keputusan ini? "Mirna" Tiba tiba mas farid masuk ke dalam kamar. "Ada apa lagi? " Tanyaku padanya. "Kita belum selesai bicara" "Apa kau mau melanjutkan sekarang? Di depan anak mu? " "Tidak, aku tunggu kamu di ruang tamu jika azka sudah tidur" Ucap nya lalu pergi begitu saja. Tak ada lagi kehangatan kurasakan dalam biduk rumah tangga ku. Bukan, bukan karena chalil aku ingin pisah dari mas farid. Bukan karena aku masih mengingatnya. Tapi aku sudah terlalu membatin, luka yang semakin lama semakin menumpuk. Akhirnya meledak bagaikan bom waktu. Selama ini, aku memendam masalah rumah tangga ku sendiri. Tak kuceritakan pada siapapun, bahkan pada ibuku. Ternyata, semakin lama menyimpan luka, maka akan semakin sakit yang kurasa. Bukan hanya hati ku saja yang sakit, tapi jiwa dan mental ku juga ikut terganggu. Andai saja aku memiki seseorang yang bisa ku percaya untuk membagi keluh kesahku. Mungkin aku tak akan sehancur dan serapuh ini. Tapi pada siapa? Pada siapa aku harus cerita? Jika aku salah memilih kawan cerita, maka bisa jadi aib rumah tanggaku akan begitu mudahnya tersebar. Bukan hanya malu, tapi juga akan terjadi keributan, pertengkaran, dan akhirnya pasti tidak baik. *** Azka kecilku sudah tenang dan tak lagi menangis, segera ku mandikan dia dan mengganti pakaian nya. Setelah bersih dan wangi, aku memberi nya makan. Azka masih makan MPASI, karena usianya belum genap dua tahun. Setelah makan, biasanya azka akan tertidur lagi hingga siang hari. Pukul 10.00 pagi, azka sudah tertidur di dalam ayunan. Ingin ku datangi mas farid dan bicara baik baik padanya. Tapi, entah mengapa disaat melihat wajahnya, aku selalu terbayang semua kesalahan nya, kemarahan nya, juga sifat tempramen nya. Dengan sedikit malas, aku bangkit dan mendatangi mas farid di ruang tamu.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
best cerita nya
29/12
0bagus banget
14/11
0bagusssaa
26/09
0Ver Todos