logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 6 Dituduh selingkuh

Selepas kepergian mas Farid, aku hanya bisa terduduk diam, lemas tak betenaga.
Kesalahan apa yang telah ku perbuat sehingga begitu marahnya ia padaku?
Padahal, aku tak membalas pesan yang dikirim chalil padaku. Bahkan aku tak menerima permintaan pertemanannya.
Mas Farid benar benar terbakar cemburu buta, cemburu yang berlebihan.
Kini, benda berharga satu satunya yang kupunya telah diambil olenhya. Entah benda itu akan dijual olehnya, entah kemana uang itu akan ia pakai aku tak tahu.
Yang ku tahu, sifat nya semakin lama semakin membuatku jengah.
Ia bahkan tak mau mendengar penjelasan dariku.
Sakit sekali rasanya nya diperlakukan begini, aku seperti tak ada harga dimatanya.
Percuma aku berjuang mati matian memperjuangkan dia dulu di hadapan ibuku. Ah kembali lagi aku mengingat masa itu. Kembali lagi aku teringat perkataan ibu.
Betapa bodohnya aku dulu tak mendengar nasihat nya. Kini, hanya penyesalan lah yang menghantuiku, yang semakin lama semakin merusak jiwaku.
Aku lelah, lelah dengan rasa sakit ini.
Ingin sekali aku mengadu pada ibuku, namun aku malu, kenapa dulu aku tak mendengar nasihat nya.
Jika aku bercerita masalah rumah tangga ku, mungkin hanya akan dimarahi oleh ibuku. Aku tak mau. Tak mau menambah energi buruk masuk kedalam pikiranku.
Biarlah, biar ku telah segala pahit ini sendiri, semoga besok atau lusa dia akan berubah.
***
Pukul lima sore, si kecil azka sudah bersih dan wangi. Rumah pun sudah rapi. Aku tak ingin jika mas Farid pulang dia akan marah marah kalau rumah berantakan.
Tok.. Tok. Tok..
Suara pintu diketuk dari luar. Pasti itu suamiku pulang.
Aku bergegas membuka pintu, ternyata benar itu mas Farid suami ku.
"Asalamualaikum" Ucapnya datar lalu masuk kerumah tanpa melihat kearah ku.
"Waalaikum salam" Jawabku sambil menutup pintu kembali.
Ia langsung masuk ke kamar lalu mandi.
Aku menyibukkan diri dengan memberi makan si kecil.
Masih ada rasa kesal dihati, enggan rasanya berbicara dengannya.
Sepuluh menit kemudian, dia sudah selesai mandi. Biasanya ia akan memintaku untuk mengambil pakaian untuknya.
Namun kali ini, ia mengambil sendiri didalam lemari. Baguslah kurang kerjaan ku hati ini sedikit.
Segera ia memakai pakaian lalu beranjak ke dapur. Biasanya ia pasti akan menyuruhku untuk menaruh makanan untuk nya, tapi kalo ini ia menaruh nya sendiri.
Aku hanya diam saja, melanjutkan memberi makan si kecil.
Ia makan dalam diam, aku juga diam.
Ia pasti paham jika aku sudah diam, maka aku sedang marah. Jika aku sedang marah maka berhari hari aku betah mendiamkan nya.
Beberapa saat kemudian, selesai juga ia makan. Masih saja ia diam seribu bahasa.
Lalu ia masuk ke kamar, entah apa yang ia lakukan aku tak tahu. Aku menyudahi makan si kecil karna sebentar lagi azan magrib berkumandang.
Pukul setengah tujuh, si kecil sudah tidur. Dan azan sudah berkumandang. Aku gehas ke kamar mandi mengambil wudhu.
Ku lihat mas Farid sedang tidur diranjang, ingin sekali menyuruh nya bangun menunaikan shalat magrib. Tapi aku masih kesal padanya.
Setelai selesai wudhu aku langsung menunaikan shalat magrib, kulihat mas Farid sudah beranjak ke kamar mandi. Baguslah ia ternyata masih ingat shalat.
Selesai shalat magrib, aku menyibukkan diri dengan melipat pakaian yang sudah kering. Sesekali ku lihat ke arahnya.
Ia nampak sibuk dengan gawainya, tapi tunggu dulu, bukankah itu gawaiku?
Bukannya ia bilang akan menjualnya?
Saat aku melihat gawaiku yang sedang dipegangnya, mata kami saling bertemu. Ia melihat ke arahku.
"Apa lihat lihat? " Katanya membuatku semakin jengkel.
Aku hanya diam saja, tak ada niat untuk berbicara dengan nya.
"Kok dari tadi diam terus? Kamu masih marah? " Tanya nya dengan nada santai seolah tak berdosa.
Aku masih diam.
"Kalau ditanya jawab dong? "
Ucapnya kesal.
Akun masih kekeh diam.
"Mau kamu apa sih mir? Bilang kek, ngomong kek, jangan diam kayak orang bisu"
Kata katanya yang pedas sukses membuat ku membuka mulut.
"Kamu mau tahu mau ku apa? " Tanya ku dengan nada kesal.
"Mau" Jawabnya singkat.
"Mau ku kita pisah"
Kata kataku nyaris membuat Pertahanan ku runtuh.
"Kamu bilang apa tadi? " Tanya mas Farid kembali, ingin memastikan ucapanku.
"Aku... Mau.. Kita.. Pisah" Ucapku membuatnya bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu sadar kamu bilang apa? "
"Sangat sadar"
"Hanya karena masalah sepele kamu minta pisah dari ku? Oh jangan jangan gara gara pesan dari laki laki tadi ya? Sudah ku duga"
Ucapnya membuatku semakin berang.
"Apa yang kau pikirkan itulah yang akan terjadi, jika kau berpikir yang baik maka yang baik akan terjadi. Tapi, sebaliknya kau terlalu negatif dalam berpikir" Ucapku menahan amarah.
"Lalu apa? Tiba tiba kamu ingin pisah dari ku hah?? "
"Aku sudah capek hidup menderita sama kamu mas... " Air mataku luruh begitu saja.
"Aku lelah, capek, sakit hati, bertahun tahun aku sabar tapi kali ini aku udah gak kuat"
Rintihku seraya mengeluarkan beban yang selama ini ku tutupi.
Aku mencoba menahan tangis sekuat tenaga, ku lihat mas Farid mulai menunjukkan amarah.
"Aku yakin, kau pasti telah bermain api dibelakang ku Mirna, katakan Mirna kau selingkuh kan? " Ucapnya semakin membuat hati ini sakit.
"Terserah kau mau menuduh ku apa Mas, yang jelas aku sudah tak tahan lagi. Aku sudah sangat lelah menjalani rumah tangga ini"
"Katakan Mirna, apa laki laki yang bernama Chalil itu penyebab kau meminta pisah dari ku? apa kau selingkuh dengan laki laki itu? "
"TIDAK" Bantahku.
"Aku bahkan tak pernah membalas pesan dari nya, bukankah kau telah melihat dan membaca pesan darinya? Apa kau lihat aku membalas pesan nya? Tidak pernah"
"Lalu apa? Kenapa? Kenapa kau tiba tiba ingin pisah? Apa kau tidak memikirkan nasib anak kita? "
Anak selalu menjadi senjata agar perempuan selalu mengalah.
"Justru karena anak lah aku sudah bersabar selama ini, kalau bukan karena anak sudah dari dulu aku ingin bercerai dari mu"
"Enggak... Aku gak akan pernah menceraikan mu Mirna, gak akan pernah "
Suara Mas Farid yang keras membuat azka ku terbangun. Ia kaget lalu pecah lah tangisnya menghentikan perdebatan ku dengan mas farid.
"Ma.. Ma... " Rengek azka kecilku.
" Iya sayang.. Ini mama.. " Ku peluk si kecil lalu ku cium pipi halusnya.
"Kau lihat Mirna, anak sekecil ini masih butuh orang tua yang utuh. Apa kau tega ingin memisahkan dia dariku? "
Mas farid malah membuatku semakin kesal dengan ucapannya. Ia tak sadar selama ini telah membuat batin ku merana.
"Mas.. Nanti kita lanjutkan perdebatan kita setelah azka tidur, tolong jangan menambah keributan"
"Justru kamu yang mengajak ribut, sekarang kau tuduh aku menambah keributan"
Ku pasang tatapan tajam padanya agar dia diam, aku tak mau Azka menangis semakin kencang.
Ku bawa si kecil Azka ke atas ranjang, lalu menidurkan nya. Ku tepuk pelan pantatnya hingga ia tertidur.
Lelah. Tubuh dan pikiranku sangat lelah sekali.
Aku ingin istirahat dari semua kepenatan ini.
Entah berapa lama aku menidurkan azka, aku pun ikut tertidur. Pulas sekali tidurku hingga tak kusadari pagi sudah tiba.
Aku bangun kesiangan pagi ini, ku lihat mas farid tak berada di kamar. Entah kemana perginya.
Aku beranjak menuju kamar mandi hendak mencuci muka dan menggosok gigi.
Tiba tiba, aku mendengar suara bising di dapur.
Rupanya mas farid sedang memasak, aku tak menghiraukan dia. Ku lanjutkan ke kamar mandi, kucuci muka lalu menggosok gigi.
Setelah selesai, aku hendak membangunkan si kecil. Namun, di tahan sama mas farid.
"Jangan bangunkan azka dulu, aku ingin menyelesaikan masalah kita" Ucapnya tiba tiba masuk ke kamar tanpa ku sadari.
Aku bangkit dan beranjak ke dapur, tak ingin azka mendengar perdebatan kami.
"Sekarang katakan Mirna, apa sebab kau minta pisah dari ku? "
Tanya mas farid sambil menatapku tajam.

Comentário do Livro (100)

  • avatar
    Annaznissa

    best cerita nya

    29/12

      0
  • avatar
    Rianto To

    bagus banget

    14/11

      0
  • avatar
    Sul80Sam

    bagusssaa

    26/09

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes