logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 8 Akibat Ngantuk

Baim yang bangun terlebih dulu lebih memilih menunggu waktu subuh dengan salat Tahajud.
Dia ingin mengadu pada Allah tentang apa yang tengah dirasakannya saat ini. Rindu pada keluarga yang baru beberapa hari ini ditinggalkannya.
Terutama pada Umminya. Bahkan Baim sampai menitikan air matanya saat hatinya rindu pada kasih sayang wanita yang melahirkannya itu.
"Ya Allah, sampaikan salam rinduku pada Abi dan Ummi. Jaga mereka. Buat mereka rida dengan keputusanku untuk menuntut ilmu di sini. Agar Engkau pun rida pada hamba."
Baim menutup doa dengan mengaminkan doanya dengan penuh pengharapan.
Lalu dia mengambil Al Quran pemberian Ainul yang akan selalu dibawanya ke mana pun dia pergi.
Sebagai tanda sayang, Baim akan selalu membaca Al Quran itu. Meski ada ribuan Al Quran baru, Baim akan tetap memilih apa yang diberikan dari Ainul.
"Dibaca terus, ya, Mas. Biar aku juga dapat pahalanya." Begitu kata Ainul waktu dia memberikan kado Al Quran saat ulang tahunnya yang ke 15.
Dan sejak saat itu, Baim berjanji pada diri sendiri untuk selalu membacanya.
Baim membacanya dengan perlahan dan penuh penghayatan. Terkadang air matanya menetes saat ayat dalam Al Quran itu berbicara tentang neraka.
Dia membayangkan bagaimana orang-orang dzalim yang di azab di dalam api neraka.
Ada yang disetrika lambung dan punggungnya karena menimbun harta dan perhiasannya.
Ada yang diberi makan cairan dari tembaga yang dilelehkan.
Dan masih banyak lagi siksaan api neraka yang mengerikan.
"Jam berapa, Im?"
Baim tersentak oleh suara yang berasal dari Azzam. Dia pun segera menghapus sisa air matanya yang menetes di pipinya.
"Sudah jam empat kurang seperempat, Zam. Kamu siap-siap deh buat salat subuh," kata Baim tanpa melihat ke arah Azzam.
Azzam pun bangkit dari tidurnya. Dia meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
"Kamu puasa lagi, Im?" tanya Azzam.
"Nggak. Puasanya senin kamis saja."
Azzam hanya menganggukkan kepalanya. Lalu bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sudah menjadi kebiasaan mereka saat berada di pesantren kalau sebelum salat subuh sudah harus bersih dan wangi. Demi menghadap Tuhan Seluruh Alam.
Tak berselang lama, Azzam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelit bagian bawahnya.
"Im, pinjam baju kamu dong!" pinta Azzam sambil tersenyum lebar.
"Itu masih di koper. Kamu pilih aja sendiri mana yang kamu mau, Zam," jawab Baim sambil berjalan mendekati sahabatnya.
Azzam pun mengambil koper milik Baim. Dia mencari baju yang kira-kira pas untuk dia pakai.
Tak berselang lama, adzan subuh terdengar dari masjid komplek.
Mereka pun bergegas menuju masjid agar bisa melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid.
Setelahnya mereka bersiap untuk berangkat ke kampus.
****
"Baim, sorry, ya. Kayaknya kamu harus pulang sendiri. Soalnya aku masih ada tambahan mata pelajaran. Nggak papa 'kan?"
Azzam menatap sahabatnya sedikit khawatir. Mengingat Baim adalah orang baru yang belum terlalu paham dengan seluk-beluk kota Jogjakarta.
"Nggak papa, Zam. It's oke!" jawab Baim meyakinkan sahabatnya kalau dirinya akan baik-baik saja.
"Kalau ada apa-apa kabari saja, Im," kata Azzam lalu pamit pergi dari hadapan Baim.
Sepeninggal Azzam, Baim berjalan menuju halte bus. Menunggu bus transjogja yang akan mengantarnya pulang ke tempat kos.
Rasanya dia ingin segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Matanya seperti tak bisa dikompromi lagi. Terasa begitu ngantuk.
Saat bus transjogja datang. Dia pun asal masuk dan duduk di dalamnya.
Tidur di dalam bus transjogja meski sekejap mungkin bisa sedikit mengurangi rasa kantuknya.
"Mas, sudah sampai di halte terakhir. Mas mau turun di mana?" ucap seorang laki-laki berjanggut tipis sambil menepuk-nepuk bahu Baim.
Baim sedikit tersentak saat supir transjogja membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
Dengan terpaksa, Baim membuka matanya perlahan. Dia menolehkan pandangannya ke segala arah.
Di dalam bus sudah tak ada orang kecuali dirinya dan supir bus itu sendiri.
"Di mana ini, Pak?" tanya Baim saat dia merasa sedikit asing dengan lingkungan di sekelilingnya.
"Di Malioboro, Mas."
Mata Baim terbuka lebar mendengar kata Malioboro.
"Malioboro? Kenapa aku bisa di sini?" tanyanya bingung. Sopir bus itu hanya mengendikkan bahunya.
"Memang Mas mau turun di mana?" tanyanya lagi.
"Jalan Kaliurang, Pak."
"Ini di Malioboro. Berarti Mas  nya salah jurusan. Harusnya naik bis jurusan Jalan Kaliurang, bukan Malioboro," jelasnya. Lalu pergi begitu saja sambil menggelengkan kepalanya.
Baim memejamkan matanya. Memijat pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.
Lalu dia bangkit dan turun dari bus dengan sedikit sempoyongan.
Bruk!
"Eh, hati-hati dong kalau jalan!" seru seseorang dengan nada suara meninggi.
Kesal karena minuman yang baru dibelinya tumpah akibat tak sengaja ditabrak oleh Baim.
"Aduh, maaf, Mbak. Nggak sengaja saya. Saya ganti, ya!" ujar Baim dengan sedikit panik.
"Nggak usah. Udah nggak selera lagi!" kesalnya. "Lain kali jalan hati-hati dong. Jadi nggak merugikan orang lain!" sambungnya dengan menatap tajam pada Baim.
"Saya sudah minta maaf. Mbak tunggu di sini sebentar. Saya akan belikan lagi." Baim masih mencoba membujuk wanita itu agar mau memaafkan dirinya.
Dia pun pergi ke sebuah kedai kopi. Membeli kopi yang sama dengan yang ditumpahkannya tadi.
Setelah dia kembali pada tempat semula, wanita itu sudah menghilang entah ke mana.
Baim hanya bisa menghela napas panjang. Telapak tangannya mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
"Astagfirullahal'adzim," gumamnya.
Untuk meredam emosinya, dia memilih duduk di sebuah bangku yang ada di pinggir trotoar jalan Malioboro.
Menyeruput sedikit demi sedikit kopi yang dibelinya untuk mengganti kopi wanita tadi.
Sayang, daripada mubadzir, pikirnya.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan dering teleponnya yang berbunyi.
Baim mengambil ponselnya dalam saku celana.
Wajah cantik Laila terpampang di sana memenuhi layar ponsel.
"Assalamualaikum, Ummi," sapa Baim sambil menempelkan ponselnya pada telinga kanannya.
["Wa'alaikumsalam. Ummi kangen, Nak. Kamu apa kabar? Baik-baik semua di sana?"] Laila memberondong puteranya dengan beberapa peetanyaan.
"Alhamdulillah baik, Ummi. Semuanya lancar dan tak ada kendala," jawab Baim sedikit berbohong. Terpaksa. Dia hanya tak ingin membuat Laila semakin khawatir dengannya.
["Alhamdulillah. Ummi senang mendengarnya, Nak. Kamu jaga diri baik-baik di situ, ya, Nak."]
"Ummi tenang saja. Kan ada Allah yang jaga Baim," ucapnya menenangkan Umminya.
["Baim, Ummi video call, ya? Kangen pengin lihat anak Ummi."] pintanya penuh harap.
"Emm ... maaf, Ummi. Sekarang Baim masih di luar. Baru pulang kuliah soalnya. Video call nanti saja, ya. Kalau Baim sudah sampai tempat kos," ucapnya hati-hati. Takut jika Umminya tersinggung.
Baim mendengar Umminya menghela napas panjang. Dan itu membuat hatinya merasa bersalah.
'Maafkan Baim, Mi,' lirihnya dalam hati.
["Ya sudah, Nak. Pokoknya kamu sehat-sehat selalu. Kalau ada apa-apa kabari Ummi atau Abi, ya! Jangan lupa, nanti telepon balik. Ummi tunggu."] pungkasnya.
Sambungan telepon pun terputus saat keduanya saling membalas salam.
"Maaf, Mi ... karena Baim bohong sama Ummi. Sebenarnya di sini kurang baik-baik saja. Tapi, semoga segera membaik semuanya," gumamnya. Lalu kembali menyeruput kopinya hingga tandas.
Baim pun mengabari Azzam, kalau dirinya ada di sekitar Malioboro. Nyasar.
Sore menjelang senja, Baim menghabiskan waktunya di Malioboro. Sembari menunggu Azzam menjemputnya pulang. Karena dia masih bingung dengan kendaraan umum di Jogja.
Ponselnya kembali berdering. Kali ini telepon dari Azzam.
"Astagfirullahal'adzim, Zam. Gimana?"
["Gawat, Im. Gawat!"] ucap Azzam di seberang sana dengan nada panik.
Kening Baim berkerut. Alis tebalnya hampir bertaut. "Kenapa kamu, Zam?" tanyanya khawatir.
["Aku-"]
Tut! Tut! Tut!
Belum sempat Azzam menjawab pertanyaan Baim, sambungan telepon pun terputus secara sepihak.
Saat dia mencoba menelepon Azzam lagi malah nomornya tidak aktif.
Baim pun semakin khawatir dibuatnya. Dia takut kalau terjadi sesuatu sama sahabatnya itu.

Comentário do Livro (536)

  • avatar
    AnabelNasa

    baguss bgt😌

    6d

      0
  • avatar
    GantengDowi

    bagus

    26/01

      0
  • avatar
    Revaangginifebrianti

    good job

    25/01

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes