logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 Menguji Kesabaran Baim

Saat anjing itu tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba dia melihat ke arah sebuah pohon jambu yang tak terlalu tinggi. Tapi cukup untuk sekadar menyelamatkan diri dari terkaman hewan buas itu.
"Naik pohon jambu, Zam!" titah Baim dengan sedikit meninggikan suaranya.
Baim menarik tangan sahabatnya untuk segera naik ke atas pohon jambu saat anjing jenis bulldog itu berlari mengejar mereka.
Guk! Guk! Guk!
Anjing itu terus menggonggong di bawah sana. Sementara Azzam dan Baim bisa sedikit bernapas lega.
Setidaknya, mereka selamat dari terkaman hewan itu.
Keduanya pun harus menunggu cukup lama hingga akhirnya anjing itu pergi menjauh.
"Alhamdulillah Ya Allah," ucap Azzam dengan penuh rasa syukur karena bisa selamat dari kejaran anjing besar itu.
Sementara Baim terlihat menggaruk-garuk badannya.
Perlhan, mereka pun turun dari atas pohon jambu.
"Kamu kenapa, Im?" Azzam memandang Baim heran.
"Gatal, Zam. Ternyata di pohon jambu itu banyak banget semutnya," sahut Baim sambil menggaruk badannya yang terasa gatal dan perih.
"Astagfirullah, Im." Azzam membantu Baim membuang semut-semut yang masih menempel di badan Baim. "Badan kamu pada merah-merah itu, Im," ujarnya.
"Aduh, iya nih, Zam. Gimana dong?" tanya Baim mulai panik.
"Aku antar ke apotek aja. Kita beli obat buat hilangin rasa gatal di badan kamu." Baim pun hanya mengangguk setuju.
Mereka pun kembali berjalan mencari sebuah apotek. Untung saja, apotek di Jalan Kaliurang ini cukup mudah ditemui.
Mereka pun mendapat obat untuk mengobati gatal-gatal di tubuh Baim.
"Im, kamu batalin puasanya dulu. Biar luka kamu itu bisa diobati," celetuk Azzam.
Baim pun terdiam sejenak. Sebenarnya dia sayang jika harus membatalkan puasa yang beberapa jam lagi akan berbuka.
Pilihannya hanya ada dua; membiarkannya gatal-gatal hingga maghrib yang tinggal tiga jam lagi. Atau memilih berbuka puasa sekarang juga agar gatal-gatalnya bisa hilang.
Baim pun menggeleng pelan. "Nggak papa, Zam. Aku minum obat nanti aja tunggu buka puasa aja. Tanggung," balas Baim pelan.
"Ya Allah, Im. Kamu nggak sayang sama badan kamu? Itu bentol-bentolnya tambah banyak lho." Azzam menujuk badan Baim yang terkihat memerah.
"Nggak papa. Kan ada obat olesnya juga. Biar aku kasih obat olesnya dulu."
"Oke lah. Terserah kamu," jawab Azzam pasrah. Karena Baim tetap teguh pada pendiriannya.
Azzam pun membantu Baim mengolesi minyak pada tubuh Baim yang merah dan bentol akibat gigitan semut gatal.
Setelahnya, mereka pergi menuju mushola terdekat untuk melaksanakan salat ashar yang sudah terdengar melalui pengeras suara mushola.
Akhirnya, Baim bisa bernapas lega sekarang. Paling tidak, gatalnya sedikit berkurang.
Begitu pula dengan Azzam, dia bersyukur bisa menuntaskan hajatnya yang sempat tertunda gara-gara insiden tadi.
"Zam, kamu tuh tadi kenapa sih main tarik aku aja?" Baim kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
Dia sangat penasaran pada sikap Azzam yang tiba-tiba saja langsung mengajak dirinya pergi meninggalkan rumah si Ibu yang tadi.
"Parah, Im!" Azzam menggelengkan kepalanya. Dia pun duduk di samping Baim.
"Tadi tuh waktu baru masuk kamar mandi, aku lihat ada bapak-bapak yang lagi jongkok di atas kloset," terang Azzam dengan menahan sedikit kesalnya.
Baim membulatkan matanya. Tawanya yang tertahan hampir saja pecah mendengar cerita sahabatnya itu.
"Suaminya si Ibu kali itu, Zam," balas Baim masih dengan tawa kecilnya.
"Mungkin." Azzam mengendikkan bahunya. "Aku nggak bisa bayangin kalau kamu benar-benar mau kos di sana. Nggak deh, Im. Mending aku carikan kamu tempat kos yang layak," sahutnya lagi.
"Maaf, tadi saya dengar ada yang mau cari tempat kos?" celetuk seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan baju koko, sarung, dan kopiah. Dia adalah jamaah salat ashar, sama dengan Azzam dan Baim.
Azzam dan Baim saling pandang. Lalu Baim mengangguk pelan pada sahabatnya. Mencoba meyakinkan sahabatnya kalau semua akan baik-baik saja. Ada baiknya memang berprasangka baik pada orang. Meski belum mengenalnya.
Azzam pun hanya mengembuskan napas panjang. Pasrah pada apa yang akan dilakukan Baim ke depannya.
"Iya, Pak. Kita memang lagi mencari tempat kos," jawab Baim dengan senyum ramah.
"Kalau mau, di tempat saya masih ada dua kamar kosong. Tempat kosnya nggak jauh dari sini kok. Itu yang pagar rumahnya berwarna hijau," kata Bapak itu sambil menunjuk rumah kos yang dimaksud.
Pandangan Baim dan Azzam pun mengikuti arah telunjuk si Bapak.
"Boleh kita lihat dulu, Pak?" Baim meminta izin dengan lembut.
"Boleh banget. Mari!" ajaknya.
Mereka pun mengangguk dan mengikuti langkah si Bapak itu sampai berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua.
Di depannya terdapat warung nasi rames yang terlihat ramai pengunjung.
"Nah, ini rumahnya, Mas. Silakan masuk!" Bapak tadi menyuruh mereka masuk sambil memperlihatkan tempat-tempat yang ada di rumah itu.
"Ini kamarnya, Mas!" ucap si Bapak sambil membuka pintu kamar.
Baim membulatkan matanya melihat isi kamar itu. Satu buah tempat tidur berukuran kecil dengan satu meja rias. Di sebelahnya terdapat sebuah kamar mandi dalam.
"Ini baru boleh, Im," celetuk Azzam. Kedua matanya menyapu segala sisi ruangan.
Hingga akhirnya Baim pun mendapatkan kamar kos yang sesuai dengan keinginannya. Kamar yang bersih dan nyaman.
"Aku nanti nginep di sini semalam, ya Im. Besok paginya aku pinjam baju kamu aja buat berangkat ke kampus. Boleh, ya?" Azzam menatap Baim penuh harap.
"Bayar!" sahut Baim datar.
"Ya Allah, Im. Sama teman sendiri juga," protes Azzam dengan wajah yang ditekuk.
"Bercanda kali, Zam." Baim menepuk bahu sahabatnya sambil tersenyum lebar. "Terima kasih untuk semua bantuannya," ucap Baim tulus.
"Sama-sama, Bro!" Azzam membalas senyum sahabatnya.
Menjelang maghrib, mereka berdua berjalan keluar tempat kos. Mencari menu untuk berbuka puasa Baim. Sembari menikmati suasana sore di Jalan Kaliurang yang mulai dipadati kendaraan.
Sesekali mereka tertawa mengingat kejadian yang dianggapnya konyol tadi siang saat mencari tempat kos untuk Baim. Hingga bisa menemukan tempat yang tepat seperti sekarang.
Mereka pun kembali ke kamar kos setelah mendapatkan menu berbuka puasa dan makan malam.
Tak berselang lama, terdengar suara adzan maghrib dari sebuah masjid terdekat di sekitar tempat kosnya.
"Alhamdulillah," gumam Baim setelah berhasil membasahi kerongkongannya yang terasa begitu kering dengan air putih. Dilanjut menyeruput es kelapa muda yang terasa menyegarkan.
"Nikmat banget hari ini, ya, Im," celetuk  Azzam yang memilih duduk di atas tempat tidur.
"Alhamdulillah. Nikmat cobaannya," sahutnya sambil terkekeh.
"Oh, ya. Jangan lupa obatnya nanti diminum biar gatal-gatal di badan kamu itu ilang, Im." Azzam mengingatkan.
"InsyaAllah. Sudah agak mendingan sih ini sebenarnya. Tapi masih sedikit gatal." Baim memperhatikan.
Setelah pencarian yang melelahkan, mereka pun bisa istirahat dengan tenang dan nyaman sekarang.
Baim pun bisa melepas dahaganya setelah seharian berpuasa dengan banyaknya cobaan.

Comentário do Livro (536)

  • avatar
    AnabelNasa

    baguss bgt😌

    6d

      0
  • avatar
    GantengDowi

    bagus

    26/01

      0
  • avatar
    Revaangginifebrianti

    good job

    25/01

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes