Ainul dan suaminya ditugaskan oleh Abi dan Ummi untuk mengantar Baim sampai di stasiun. Berada di tengah-tengah sepasang pengantin baru itu memang rasanya sedikit canggung bagi Baim. Terlebih dia adalah salah satu hal yang membuat Baim memilih kuliah di Jogja. "Kalian nanti mau langsung pulang apa mau nginep dulu di rumah?" tanya Baim memecah keheningan di antara mereka bertiga. Ainul menoleh ke arah Baim yang duduk di jok tengah. "Aku pengin nginep di rumah Ummi. Biar Ummi ada temannya." "Boleh nggak, Mas?" Ainul meminta persetujuan suaminya sambil menatapnya penuh harap. "Kalau aku sih terserah Ainul aja, Mas. Mau nginep juga nggak papa," jawab laki-laki itu sambil sesekali menoleh ke arah kakak iparnya itu. "Bagus deh kalau niat kalian begitu. Paling nggak, Ummi nggak merasa kesepian karena ada kalian," sahutnya. Baim mengembuskan napas panjang. Punggungnya dia sandarkan pada sandaran jok mobil. Dia kembali diam. Kedua matanya memilih memperhatian apa saja yang ada di luar mobil. Tak tahu lagi harus berbicara apa pada mereka. Padahal biasanya dia selalu membahas apa pun dengan Ainul. Namun tidak untuk kali ini. Dia benar-benar ingin menjaga jarak dengan adik tirinya itu. Menjaga perasannya agar tak lagi tersakiti. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, mereka pun sampai di Stasiun Jombang. Baim dan Ainul memilih turun di depan pintu masuk stasiun. Sementara suami Ainul memarkirkan mobilnya. Tak berselang lama, dia pun menyusul kakak adik yang masih berdiri di depan pintu masuk stasiun. "Kalian langsung pulang aja. Aku kan udah sampai di sini. Setengah jam lagi keretanya datang," ujar Baim pada kedua adiknya itu. "Tapi aku pengin lihat Mas Baim berangkat," cicit Ainul pelan dengan wajahnya yang sedikit cemberut. "Nggak papa, Mas. Kita tungguin sampai keretanya datang," sahut suami Ainul. Untung saja Ainul dapat suami yang sabar. Kalau nggak, dia pasti akan cemburu karena istrinya itu sangat dekat dengan kakak tirinya. "Nggak usah. Kalian langsung pulang aja, ya! Ainul, temani Ummi, ya!" tolak Baim yang terus membujuk mereka untuk pulang ke rumah. "Tapi, Mas...." "Ainul...," Baim sedikit meninggikan suaranya. Agar adiknya itu mau menurut perkataannya. "Iya deh, Mas," jawab Ainul pasrah. Dia hanya bisa mengembuskan napas panjang. "Kamu bawa mobilnya hati-hati, ya, Dik!" ucap Baim pada adik iparnya itu. "Iya, Mas. Mas Baim juga hati-hati," balasnya. Baim hanya mengangguk dan tersenyum. "Assalamualaikum," pamit Baim. Lalu dia berjalan masuk ke dalam stasiun. Dia memilih duduk di bangku tunggu sambil membaca Al Qur'an kecil agar hatinya tenang. Jujur, hatinya kini tengah gelisah. Memikirkan Umminya yang tampak begitu sedih melepasnya. Sama persis seperti saat dia pergi mondok 10 tahun yang lalu. Jika dulu dia akan ikut menangis saat pergi jauh dari Ummi, kini dia harus tegar. Tak boleh ada setetes pun air mata kesedihan yang jatuh. Awalnya memang berat. Namun lambat laun akan terbiasa. Tak berselang lama, kereta yang akan membawanya ke Jogja berhenti tepat di depannya. Tanpa menunggu lama lagi. Baim langsung naik ke dalam kereta. Dia duduk sesuai dengan nomor urut bangku setelah menyimpan kopernya di bagasi kereta. Perjalanan dari Stasiun Jombang ke Stasiun Lempuyangan memerlukan waktu sekitar empat jam. Waktu yang lumayan lama. Untung saja Baim memilih berangkat malam hari, jadi waktu yang lama itu tak akan terasa begitu membosankan. Karena dia bisa menggunakannya untuk tidur. **** Tepat pukul 12 malam, kereta yang dinaiki Baim berhenti di Stasiun Lempuyangan. "Alhamdulillah sampai juga," gumamnya. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menghilangkan kantuk yang masih sedikit bergelayut pada kedua matanya. Dia pun melepas earphone yang terpasang pada telinganya. Lalu menyimpannya kembali pada waistbag yang dibawanya. "Assalamualaikum, Baim!" sapa seorang laki-laki sambil memeluk hangat Baim. Kesadaran Baim yang belum pulih sempurna membuat tubuhnya sedikit limbung. "Aduuhh, hati-hati, Im! Masih ngantuk rupanya?" tanya temannya itu sambil tertawa kecil. "Wa'alaikumsalam. Iya nih, Zam. Lagi enak-enak tidur malah udah sampai aja," seloroh Baim sambil memaksakan tertawa agar rasa kantuknya hilang. "Terima kasih, ya, Zam. Udah jemput aku di sini," ucap Baim tulus. "Kan udah tugas aku buat bantu kamu selama pendaftaran di sini," sahutnya sambil menepuk bahu sahabatnya itu. "Ya udah jalan, yuk! Lanjut tidur lagi nanti di kamar kos!" ajak Azzam. "Itu ide bagus, Zam!" balas Baim dengan semangat. Baim dan Azzam pun berboncengan menaiki motor tua milik Azzam melintasi suasana malam kota Jogja yang masih terlihat ramai. Padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 12 lewat. "Im, mau beli makanan dulu nggak? Kali aja kamu lapar. Di kos aku jarang ada yang jual makanan soalnya," kata Azzam. Dia menghentikan motornya di pinggir jalan. "Agak lapar sih sebenarnya. Emang mau beli apa?" tanya Baim yang terlihat bingung memilih makanan untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan. "Apa aja. Ada nasi goreng, mie goreng, gudeg Jogja. Pecel lele sama ayam goreng Lamongan juga ada. Malioboro mah semua ada. Tinggal pilih aja, Im," jelas Azzam. "Nasi goreng boleh, Zam. Yang pedas tapi, biar melek deh nih mata." Baim terkekeh. "Ya udah. Yuk ke sana. Nasi goreng yang di sebelah sana lebih enak," ajak Azzam sambil menunjuk ke arah sebuah gerobak nasi goreng yang terletak di depan sebuah bangunan tua. Baim pun mengangguk. Azzam kembali melajukkan motornya dan berhenti di depan tukang nasi goreng yang dimaksud. "Mas pesan nasi goreng pedas dua!" ucap Azzam pada penjual nasi goreng. "Mau dimakan di sini atau dibungkus, Mas?" tanya penjual nasi goreng yang memakai blangkon hitam. "Mau makan di sini apa di kos?" tanya Azzam pada Baim. "Makan di kos kamu aja, Zam." Azzam mengangguk. Lalu mengalihkan pandangannya pada penjual nasi goreng yang tengah menunggu jawabannya. "Dibungkus saja, Mas!" "Oke siap. Tunggu dulu, ya!" Setelah menunggu sekitar 15 menit, nasi goreng pun telah siap. Azzam kembali melajukkan motornya dengan laju pelan ke arah kamar kosnya yang terletak tak jauh dari kawasan UIN Sunan Kalijaga. "Sampai!" seru Azzam. Dia menghentikan motornya di sebuah rumah minimalis dua lantai. "Ini tempat tinggal kamu, Zam?" ucap Baim sambil memperhatikan bangunan tua itu. Azzam mengangguk mantap. "Buat sementara, kamu boleh bermalam dulu di sini sampai kamu dapat tempat kos, Im." "Lha emang di sini udah nggak ada kamar kosong lagi, Zam?" "Kalau masih ada mah udah aku booking buat kamu, Im. Sayangnya udah penuh. Di sini cuma ada sepuluh kamar aja." Azzam membuka pintu kamar kosnya. Dia masuk sambil memberi salam. Lalu membawa bungkusan nasi goreng yang dibelinya ke arah dapur untuk dipindahkan ke piring. "Luas banget kamarnya, Zam. Berapa ini sebulan?" Baim masih terus memperhatikan ruangan seluas 5 meter itu dengan kagum. "Lumayan, Im. 700 ribu tiap bulannya." Baim mengangguk-anggukan kepalanya, paham. "Nggak heran sih." "Ya udah makan dulu nasi gorengnya. Terus istirahat. Baru besok kita ke kampus UIN lanjut cari kos buat kamu." "Kita mau cari kos di mana, Zam?" "Ada nanti."
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
baguss bgt😌
7d
0bagus
26/01
0good job
25/01
0Ver Todos