"Pak, tunggu!" Pak Ezhar berhenti dan berbalik. "Apa perempuan baju merah tadi yang dimaksud mamanya bapak dengan masa lalu yang suram?" Pak Ezhar menatapku lama, menelisik wajahku seperti mencari sesuatu di sana. Aku membuka mulut hendak mengatakan agar kali ini dia harus menceritakan masa lalunya. Suara dering ponsel dari saku celananya membuatku batal melakukannya. Dia merogoh saku mengambil ponselnya lalu setelah menekan layarnya mengucap salam dia berbicara dengan entah siapa itu. Aku serasa ingin menjual ponsel dan pemiliknya di PJBO(1) dengan caption "Dijual HP dan pemiliknya. Kalau pemiliknya cuma minus pemakaian aja, sedangkan HP-nya mulus no minus. Nego sampai jadi. Harga tertinggi angkut" Merasa kalau tidak akan mendapat jawaban hari ini, aku memutuskan pulang aja. "Pak, saya duluan, ya." "OK, hati-hati." Aku menaiki motorku dan melaju dengan kecepatan lima puluh kilometer per jam. Apa saat dinner romantis dengan tunangannya Pak Ezhar kentut sehingga membuat perempuan itu ilfeel? Atau waktu ijab kabul Pak Ezhar kentut dengan suara keras jadi tunangannya malu terus batal nikah, deh! Aku tertawa sendiri karena otakku bisa aja mikirin kejadian absurd kayak gitu. Motor aku belokkan ke kiri menuju mini market langganan untuk membeli diaper. Aku masuk dengan niat beli satu barang tapi niat tinggal lah niat. Aku keluar menenteng diaper, coklat tiga batang, keripik dan kopi instant. Mau gimana lagi begitulah perempuan. Masih mendingan lah ketimbang sen kanan belok kiri! Sampai di rumah aku serahkan diaper pada Kak Yara sambil memberi tahu bahwa Mamanya Pak Ezhar membuatkan cake untuk calon istri anaknya, membuat Kak Yara kegirangan membayangkan bakal makan cake yang enak. Setelah itu kuletakkan cake dan barang yang lain di dalam lemari dapur kemudian mandi. Sehabis maghrib aku mengajak Mama dan Kak Yara memotong cake, aku bilang kalau ini buatan Mamanya Pak Ezhar yang disambut Mama dengan antusias dan sedikit heran. "Ada acara apa mamanya Pak Ezhar ngasih kue buatannya untuk kamu, Dhi?" "Sebagai ucapan terima kasih aja, Ma." "Untuk ....?" "Nemenin dia di acara keluarga." Aku gak bohong, lho! Cuma gak mengatakan yang sebenarnya aja. "Oh! Jadi weekend kemarin itu bukan urusan kerjaan?" Aku menggeleng. Mama manggut-manggut mengerti. Kemudian Bang Rasid bergabung di dapur ikut mencicipinya. Setelah mencicipi cake, kami makan malam, lalu aku ke kamar Kak Yara. Niatnya mau liatian Rafa, tapi karena aku perempuan ... niatnya satu tapi jadinya banyak. "Kak, tau gak masa lalu Pak Ezhar yang buat dia jadi bujang lapuk?" Kak Yara menatapku dengan mata menyipit. "Aroma-aroma, nih." "Kakak serius atuh!" "Kenapa kamu pengen tahu?" Aku mengangkat bahu seolah itu cuma hal remeh. "Penasaran aja, dia kurang apa coba?" "Kakak juga gak tahu pasti, sih, tapi Bang Ravi bilang kalau dulu Pak Ezhar gak dianggap oleh keluarga calonnya karena gak punya karir. Cuma itu, sih." Aku mengangguk-angguk mengerti. Benakku mereka-reka seperti apa perempuan itu dan keluarganya. "Calonnya dimana sekarang?" "Kakak gak tahu juga, Bang Ravi gak bilang, kakak gak nanya juga." "Kayaknya dia gak direstui calon mertua, ya, Kak?" "Kayaknya, sih. Maklum aja, Dhi, orang tua pasti mau yang terbaik untuk anaknya. Susah payah mereka membesarkan ... sayangnya orang tua ada yang kebablasan, menyamakan standar 'terbaik' mereka dengan standar 'terbaik' anaknya." "Iya, Kak, padahal yang terbaik itu yang beriman. Namanya juga nyari imam." "Betul, Dhi." Tangisan Rafa menuntut mamanya untuk segera memberi perhatian padanya membuat obrolan terputus sementara. Sembari memberi ASI pada bayinya, Kak Yara dan aku melanjutkan obrolan kembali seputar pekerjaan dan keadaan kantor sampai rasa kantuk menyerang dan Bang Rasid pulang dari wirid mingguan di mesjid. Aku membaringkan tubuh di ranjang. Ponselku ternyata dari tadi dipenuhi pesan dari Vega. Gadis itu beneran penasaran dengan Pak Ezhar. Vega bertanya segalanya tentang lelaki itu yang aku jawab semampuku. Elah! Sudah seperti soal ujian aja. Setelah Vega puas bertanya, kami mengakhiri obrolan dan aku meletakkan ponsel di nakas. Kenapa Pak Ezhar gak mengirim pesan? padahal sudah setengah sepuluh, masih belum ada satupun pesan darinya. Aku raih kembali ponsel, mengetik satu kata 'pak' lalu menghapusnya, kuketik lagi, lalu hapus lagi. Udah kayak mau minta rujuk sama mantan istri. Akhirnya ponsel aku letakkan lagi di nakas, aku himpit dengan novel biar gak tergoda untuk mengirim pesan lagi, kemudian memejamkan mata. I need my beauty sleep.(2) *** Pagi ini berjalan seperti biasa. Aku duduk di meja bersamaan dengan kedatangan Pak Ezhar. Lelaki itu mengulurkan kotak puding padaku. "Makasih, ya, Andhi. Pudingnya enak, Mama suka." Aku meneliti sudut bibirnya, lukanya sudah kering. luka itu hanya berupa goresan pendek namun kurasa agak dalam karena sampai mengeluarkan darah kemarin. Sepertinya luka itu bakalan cepat sembuh. Aku gak perlu khawatir. "Alhamdulillah kalau gitu." Aku mengulurkan kotak cake padanya. "Makasih juga, Pak. Cake-nya enak, kami semua suka." Lelaki itu mengangguk. Langkah lebarnya membawanya masuk ke dalam ruangan dengan cepat. Saat aku mulai bekerja, pintu ruangan Pak Ezhar dibuka. Dia keluar dengan membawa kotak tempat menyimpan obat-obatanku yang berisi cairan pembersih luka, minyak telon, kapas, obat asam lambung dan ibuprofen. Aku kadang terantuk entah itu meja atau kaki kursi dan asam lambung yang kadang kambuh memang menyediakan kotak itu. Aku sampai lupa membawa kembali kotak itu kemarin. Dia memberikan kotak itu padaku. "Oh! iya, saya lupa bawa kotaknya kemarin, Pak." "Its OK, Terima kasih kamu udah repot-repot." "No problem, Pak." Saat pak Ezhar baru selangkah menuju ruangannya, terdengar suara seseorang datang membuat kami serentak menoleh. Dia melangkah lurus ke arahku dan berhenti tepat di sebelah Pak Ezhar. "Assalamualaikum jodohnya abang." Aku tersenyum lebar. "Waalaikumsalam, Bang Ravi." "Udah sarapan belum?" Bang Ravi mengabaikan tatapan tajam Pak Ezhar padanya dan dengan santainya melingkarkan lengan di bahu lelaki itu. "Nanyain tapi tangannya kosong gak bawa apa-apa." Bibirku mengerucut. "Ngapain dibawain. Abang ajakin sarapan lah, hayuk!" "Aku udah makan, Bang. Abang telat." Aku mengibaskan tangan. "Ya udah, ntar makan siang bareng, ya?" "Aku bawa bekal, Bang." Belum sempat Bang Ravi membalas lagi dengan rayuannya Pak Ezhar melingkarkan tangan kirinya di pinggang Bang Ravi dan menarik laki-laki itu ke dalam ruangannya dengan cepat. "Dasar perusak kesenangan." Bang Ravi berkata setengah bercanda. Gak ada jawaban dari Pak Ezhar hanya kedengaran suara pintu yang ditutup. Menurutku Bang Ravi yang humoris menjadi penyeimbang di dunia Pak Ezhar yang menanggapi hampir segalanya dengan serius. Mereka berteman sejak bangku kuliah. Bang Ravi dulu bekerja di perusahaan konstruksi sebelum resign dan menjadi pemborong proyek perumahan milik perusahaan ini. Bang Ravi duda beranak dua. Anaknya duduk di bangku SMA dan SMP. Istrinya meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan. Dan sekarang misi hidupnya kalau datang ke kantor adalah menggodaku yang aku tanggapi dengan biasa aja, sih! Aku melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti tadi sampai Bang Ravi keluar dari ruangan Pak Ezhar. Dia menghampiriku. "Dhira nanti makan siang bareng abang, ya." "Cuma kita berdua?" "Enggak, sama si bujang lapuk juga." Dia tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. "OK." Baiklah, bekalku bisa aku bawa pulang aja. "Sekarang abang ada urusan lain nanti siang ke sini." Aku mengangguk. Bang Ravi pun pamit. Dua orang datang bergantian mengantarkan laporan untuk Pak Ezhar. Aku masuk ke ruangannya setelah mengetuk pintu dan diizinkan olehnya. Lelaki itu sedang memeriksa sesuatu pada kertas di dalam map berwarna biru. "Ini, Pak, laporan dari bagian keuangan dan bagian pemasaran." Aku meletakkan dua map berisi laporan itu di mejanya. "Makasih." Dia menoleh sebentar padaku. Aku mengangguk dan memutar tubuh hendak keluar. Baru dua langkah sudah aku hentikan gerakanku sangat ingin kembali bertanya tentang masa lalunya. "Kenapa, Andhi? ada yang mau ditanyakan?" Kupikir-pikir lagi, masa lalunya bukan urusanku. Sebaiknya aku simpan semua pertanyaan itu di hati. "Enggak, Pak." Aku menjawab tanpa berbalik, tergesa melangkahkan kaki, membuka pintu dan keluar. Takut tergoda untuk menanyakan hal itu lagi. Setelahnya aku membenamkan diri dalam pekerjaan. Mendekati waktu istirahat siang aku berhenti bekerja, mematikan komputer dan merenggangkan tubuh. "Jodohnya abang udah siap?" Aku tersentak. "Ya Allah! Abang! Bikin kaget." Aku sama sekali gak mendengar kedatangannya. Mungkin karena tadi terlalu fokus dengan pekerjaan. Lantai dua terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian untuk divisi pemasaran yang berisi beberapa kubikel dari kayu, dan satu bagian berisi ruangan Pak Ezhar beserta kubikel dari kaca untuk sekretaris. Mustahil untuk tidak mengetahui orang yang datang. "Maaf, Dhira. Pasti mikirin abang, ya, makanya kaget?" Laki-laki itu tersenyum lebar seperti anak kecil yang diberi hadiah. "Iya lah, mikirin mau makan dimana secara abang yang traktirin." Aku menaikturunkan alis. "Apa, sih, yang enggak untuk jodohnya abang ... makan dimana kita?" "Asik! di rumah makan 'Ocu Abbas' aja, ya?" "OK, abang ke dalam dulu, manggil si Bapak." Bang Ravi kemudian masuk ke ruangan Pak Ezhar. Lima menit kemudian mereka keluar. Aku yang sudah berdiri menunggu, segera mengekor di belakang. Kami berjalan menuju elevator setelah pintu terbuka melangkah masuk. Kedua laki-laki itu bercakap-cakap seputar pekerjaan sembari menunggu elevator sampai di lantai satu. Sekejap aja elevator berhenti bergerak dan pintu terbuka, kedua lelaki itu keluar. Mendadak aku ingat sesuatu. "Pak, Bang, HP-ku ketinggalan. Maaf, tunggu bentar, ya." Kedua lelaki itu serentak mengangguk. Pintu elevator tertutup. Setelah sampai di lantai dua, aku segera meraih ponsel yang tertinggal di laci lalu bergegas kembali ke elevator. Gak perlu menunggu lama aku sampai di lantai satu. Namun kedua lelaki itu gak ada di tempat tadi. Aku beranjak menuju parkiran karena merasa mereka mungkin menunggu di sana. Aku melangkah secepat yang aku bisa. Kedua lelaki itu sedang berdiri bersisian membelakangiku di tengah panas terik di samping mobil Bang Ravi yang diparkir paling ujung di dekat pintu masuk. Aku berjalan mendekat sepertinya mereka gak sadar dengan kedatanganku mungkin karena aku memakai flat shoe. "Aku bukannya menyangkal, Vi ... tapi umurnya-" "Gak penting, Har. Yang penting itu perasaan." "Tapi-" "Dhira, ngapain berdiri di sini?" tanya seseorang. 1 = Akronim dari Pekanbaru Jual Beli Online 2 = aku butuh bobok cantikku
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bguss
02/06/2025
0mantap
31/05/2025
0suka banget
31/05/2025
0Ver Todos