"Jadi ini surprisenya?" tanya seorang perempuan. Dia berjalan mendekat. Gamis ungu muda dan jilbab berwarna senada yang panjang menutup sampai ke pinggangnya melambai ditiup angin, membuat perempuan itu terlihat seperti bintang iklan deterjen pewangi. Wajah bulat telur dan mata beningnya mirip lelaki yang berdiri di sampingku. "Kakak pasti calon istri Bang Ezhar?" Perempuan itu mengulurkan tangannya. Senyumnya terkembang. "Ga usah panggil kakak, panggil aja Dhira." Aku menyambut uluran tangannya dan membalas senyumnya. "Ya, Kakak, dong, namaku Viola, adik satu-satunya Bang Ezhar." Viola menarik tanganku memaksaku berjalan mengikutinya menuju seorang perempuan. Kami berhenti di sebelahnya yang sedang memeriksa sesuatu di ponsel. "Ma, ini," ucapnya dengan bibir masih tersenyum. Perempuan itu mengangkat kepala dari ponselnya. Sejenak dia terdiam mengamatiku lalu tersenyum hangat. "Jadi ini yang dibilang Ezhar bakal ada surprise? Kami semua udah nebak kalau dia bakal bawa calon mantu mama." Perempuan yang kutebak berusia sekitar pertengahan enam puluhan itu memakai gamis berwarna hijau. Tubuhnya yang langsing dan matanya yang bulat membuat dia kelihatan lima tahun lebih muda. "Saya harap saya tidak merusak surprisenya, Tante." "Oalah! gak mungkin itu, Cah ayu, jangan panggil Tante, panggil Mama, aja." Perempuan yang aku tahu namanya Fatma dari Pak Ezhar itu tersenyum membuat kerutan halus di sudut matanya terlihat, bagiku itu menambah kehangatan senyumnya. "Pa, sini!" Lelaki yang dipanggil Papa itu sedang berbicara dengan seseorang seumurannya. Dia menoleh lalu mendekat. "Ini Andhira, calonnya Ezhar, betul, kan, tebakan Mama, Ezhar bakal bawa calon mantu kita." "Iya, Ma," ucap lelaki itu sambil mengangguk menanggapi istrinya. "Saya Wahyu, ayahnya Ezhar. Maaf, ya, Andhira kalau istri saya dan Viola nantinya akan membawa kamu berkeliling untuk dipamerkan dengan seluruh anggota keluarga," ucapnya setengah bercanda. "Saya Andhira, Pak. Gak apa-apa, Pak, saya senang, malah saya takut kalau saya gak pantas buat dipamerin." "Kamu pantes, kok, Cah ayu, jangan bilang gitu. Lagian kamu bisa panggil Papa aja," sela Tante Fatma, eh, Mama. Aku menepuk jidatku, dalam hati, tapi. Pak Wahyu kembali ke tempat sebelum kami panggil tadi, Lalu Mama dan Viola--- yang memaksaku memanggil dengan namanya saja padahal umur kami berselisih dua belas tahun, alasannya karena aku bakal calon kakak iparnya---membawaku berkeliling untuk berkenalan dengan seluruh anggota keluarga. Mereka semua menyambutku dengan hangat. Aku yang cuma calon istri pura-pura ini jadi terharu disambut demikian baiknya. Bisa jadi itu karena saking lamanya mereka berharap si bujang lapuk segera menikah. "Dhira, kok, mau sama si bujang lapuk? dipelet pake ajian apa?" Kak Sisi--salah satu sepupu Pak Ezhar-- bertanya dengan senyum lebar di bibirnya. Kami baru saja selesai makan siang bersama dan sedang duduk-duduk di bangku taman sedangkan yang lain berpencar ke seluruh taman. "Ajian penukar jiwa, Si, yang di badan Dhira itu bukan dia tapi jin penunggu toilet kantor Bang Ezhar," timpal Viola, lalu tertawa. "Maafin istriku, Bang, dia kalau ngomong kadang suka bener," sambut Bang Aris, suami Viola. Kami semua tertawa sedangkan Pak Ezhar cuma tersenyum tipis. "Aku beruntung Andhi menerimaku, walaupun awalnya dia harus sedikit aku paksa." Pak Ezhar berucap, matanya menatap tepat ke mataku. Sedetik mata kami bertemu mendadak dunia serasa hening. Detik berikutnya sebuah pukulan di bahu kananku membuatku tersadar. "Dhira, kamu kenapa mau dipaksa sama Bang Ezhar, masih banyak ikan di laut?" kata Kak Sisi menggodaku lagi. Apa ada makna ganda di balik ucapan Pak Ezhar tadi? "Begitu juga dengan peribahasa dunia tak seluas daun kelor, Kak, tapi mungkin justru pesona bujang lapuk lah yang membuat aku mau dengan Bang Ezhar." Aku tersenyum meyakinkan padahal jantung ini seperti berloncatan ke sana kemari karena ucapan bermakna gandanya tadi. "Alhamdulillah, Sah! gimana para saksi?" ucap Viola dengan senyum lebar. Semua kembali tertawa, kecuali satu orang yang menatap lurus ke arahku. Aku gak berani balik menatap, kasihan jantungku! Semua orang kembali bergabung di tempat kami mengobrol setelah puas berkeliling taman atau menemani anak-anak bermain perosotan dan ayunan, kemudian para lelaki dan perempuan membentuk kerumunan sendiri, mengobrol dan sesekali bercanda. Keluarga besar ini sungguh akrab, dan aku mereka terima dengan tangan terbuka. Gak ada yang mempertanyakan fakta bahwa umur kami terpaut dua puluh tahun. Pak Ezhar mendekatiku yang duduk di sebelah Salsa, anak bungsu Viola. "Maaf, ya, keluarga saya bercandanya kadang suka nyeleneh." Pak Ezhar berbicara dengan nada minta maaf, tangannya mengusap leher bagian belakang. Aku tersenyum, ternyata lelaki ini bisa merasa malu juga. "Gak apa-apa, Pak, mereka, kan, cuma bercanda, saya gak tersinggung, kok." Setelah pembicaraan singkat itu kami berdua terdiam tapi aku nyaman-nyaman aja dengan kesunyian ini. Aku gak pernah merasa canggung di dekatnya walaupun dia bosku dan urusan kami selalu tentang pekerjaan. Kemudian Salsa mengajakku mengobrol tentang boneka beruang kesukaannya yang sedang dipeluknya, bocah lima tahun itu tak henti-hentinya berceloteh tentang apa aja membuat senyumku terbit. Setelah salat ashar disepakati oleh semua orang acara selesai dan waktunya pulang. Aku hendak masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada semuanya saat Mama memanggilku. Dia memelukku hangat, berbisik di telingaku. "Terima kasih sudah mau menjadi calon mantu Mama, terlebih karena masa lalu Ezhar yang suram." "Gak perlu berterimakasih, Ma, Dhira yang beruntung malah." Aku menelan ludah, semoga Mama gak merasakan kebohonganku. Masa lalu suram apa yang pernah dilalui Pak Ezhar? Apa itu yang membuatnya belum menikah sampai saat ini? *** Perjalanan pulang terasa agak menyesakkan, mungkin karena aku terlalu memikirkan perkataan Mama tadi. Seharusnya aku gak ambil pusing. Bukankah kami cuma pura-pura? Semakin aku berusaha meyakinkan diri kalau kami hanya pura-pura semakin aku ingin kalau ini bukan pura-pura. Pasti ini cuma karena aku terbawa suasana, terlebih saat mata Pak Ezhar menatap tepat ke mataku. Sebelum ini aku gak pernah merasa begini dipandangi olehnya, bisa jadi itu karena aku gak pernah melihat sisi lain dirinya. Di tengah keluarganya dia tetaplah pribadi yang serius tapi sekaligus hangat dan penyayang. Dia bertanya banyak hal pada anggota keluarganya entah itu masalah pekerjaan atau hanya hal remeh lalu menjadi pendengar yang baik, dia gak akan memberi saran tanpa diminta. Bunyi ponsel memutus aliran pikiranku. Segera aku ambil benda itu dari dalam tas, seketika kening berkerut karena nomor gak dikenal menghubungi. "Hallo, assalamualaikum." [Please, jangan ditutup, Dhira!] Mas Fajar! untuk apa dia menelepon lagi. "Kasih aku satu alasan kenapa gak ditutup." [I miss you, Dhira.] "Maaf, Mas, rindumu bukan urusanku." Panggilan kuakhiri. Kenapa dia masih saja menghubungi? Aku gigit bibirku keras untuk mencegah air mata yang mendesak untuk keluar namun gagal. Setetes air jatuh di sudut mata. Segera aku palingkan wajah ke arah jendela mobil. "Ada gerai es krim baru di dekat rumah kamu, kita ke sana, ya?" Penyuka es krim kayak aku gak mungkin gak tahu gerai baru itu. Es krim rasa avocado dengan topping saus cokelat adalah favorite-ku. Aku menghapus air mataku cepat, mengarahkan wajah kembali ke depan lalu mengangguk. Makan es krim selalu bisa membuat perasaanku lebih baik. Mendadak aku menyadari sesuatu. "Sejak kapan bapak tahu saya suka es krim?" Dan kenapa bapak tahu kalau aku suka makan es krim kalau lagi bad mood? Pertanyaan kedua aku simpan dalam hati aja. Bahunya terangkat santai. "Saya dengar waktu tadi kamu ngobrol dengan Salsa." Tadi kami memang sempat mengobrol tentang makanan kesukaan gadis cilik itu yang sama denganku. Aku kagum, dia memang benar-benar pendengar yang baik. Gerai itu bernama Caramel, tidak terlalu besar, sih. Dindingnya berwarna merah jambu, lampu-lampu panjang menjulur dari langit-langit, kursinya berwarna hitam dengan counter dari kayu yang dipernis sampai mengkilat. Aku berjalan mendahului pak Ezhar. Baru aja memasuki gerai ini sudah membuatku merasa lebih baik. "Dhira!" Wajahku reflek berpaling ke sumber suara. "Vega!" Kami berpelukan. Sudah lama aku gak ketemu gadis ini. Dia teman akrab semasa SMA, walaupun rumahnya gak jauh dari rumahku tapi karena kesibukan kami jarang ketemu. "Makin cantik aja, Say." "Kamu juga, Say." Aku menjawil dagunya lalu kami tertawa bersama. Pandangan Vega tertuju ke belakangku. Keningnya berkerut. Aku mengikuti arah pandangnya. "Kamu datang sama om kamu?" Aku tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. Wah! sungguh makan es krim bisa membuat perasaanku jauh lebih baik. "Oi! malah senyum-senyum, jawab, dong," tuntutnya dengan bibir monyong. "Kamu sendiri sama siapa?" Aku balik bertanya, sepenuhnya mengabaikan laki-laki yang matanya sedang menyipit menatap ke arah kami dan telinganya memerah. Dua tanda bahwa dia sedang luar biasa kesal.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bguss
02/06/2025
0mantap
31/05/2025
0suka banget
31/05/2025
0Ver Todos