Lelaki itu menyeka wajah basahnya dengan telapak tangan lalu berlanjut melakukan hal yang sama pada rambutnya tanpa memperdulikan perempuan berumur sekitar limapuluhan yang terus saja mengucapkan kata hinaan padanya. Aku terlalu terpana melihat kejadian itu sehingga hanya mampu berdiri tanpa melakukan apapun. Setelah mengibaskan kertas di meja yang juga basah, lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada perempuan setengah baya itu. "Sudah selesai hinaannya?" Lelaki itu berucap datar tetapi matanya menatap tajam. "Belum, itu baru awalnya, jauhi anak saya, dasar laki-laki gatal!" teriak perempuan itu sambil bergerak secepat yang bisa dilakukan tubuh gempalnya untuk melayangkan pukulan pada pipi lelaki itu. Sebelah tangan milik seorang gadis dengan sigap menahan tangan perempuan itu. "Ma, jangan! bukan dia!" Sontak perempuan itu berhenti. Matanya menyipit. "Maksud kamu?" "Bukan, Ma, dia gak di sini, dia gak jadi datang." Semua hening. Sang Mama berdehem lalu meminta maaf dan menggamit lengan putrinya, untuk ukuran perempuan gempal, aku merasa gerakan kakinya luar biasa cepat. Dalam sekejap mereka menghilang dari pandangan. "Andhi, ngapain bengong di situ? Bereskan barang-barang kamu, kita pergi!" perintah lelaki itu. Aku menurutinya, setelah membereskan barang kami pergi dari restoran Padang dengan dekorasi terbuka itu diiringi pandangan semua orang. Kami melalui perjalanan dalam diam. Well ... He's not exactly a talkative person either. Tapi dosa gak, ya, kalau sekarang aku tertawa. "Happy? Abis nonton drama, kan, tadi?" Aku segera menutup mulut dengan telapak tangan guna menahan tawa yang mendesak ingin menyembur, tapi sia-sia. "Maaf, Pak, saya menertawakan kejadiannya bukan Bapak," ucapku setelah tawaku habis. Dia menatap tajam. "Sama aja!" sergahnya galak. Aku menutup mulutku karena kalau tidak, aku takut nanti malah membuatnya tambah kesal. Bisa dijewer kak Yara aku nanti. Lelaki ini sebenarnya bukan Bosku, secara teknis memang bukan. Dia sebenarnya bos kak Yara, tapi kakakku itu sedang cuti melahirkan anak pertamanya. Kebetulan aku nganggur karena baru lulus kuliah, jadi kak Yara nawarin untuk menggantikannya sementara. Ya, jelas lah aku bersedia, gajinya gede, Cuy! Nama si Bapak ini Ezhar Latif. Umurnya belum tua-tua amat, empat puluh dua tahun. Wajahnya mirip Channing Tatum KW, tubuhnya jangkung dan atletis membuat dia kelihatan sepuluh tahun lebih muda. Cuma rambutnya sudah putih beberapa helai. "Nanti kamu suruh Bambang print lagi berkas penawaran dari Pak Rahmat, sudah basah semua itu!" Aku mengangguk lalu obrolan tentang pekerjaan menyita waktu kami sampai tiba di kantor. Setelah Pak Ezhar menghentikan mobilnya di bagian khusus pemilik perusahaan, kami turun dari mobil. Laki-laki itu segera naik ke lantai atas sedangkan aku mencari Bambang ke ruang OB. Setelah memerintahkanya untuk meng-copy ulang berkas yang basah, aku juga naik ke lantai atas. Sampai di lantai atas aku duduk di mejaku untuk melanjutkan pekerjaan. Selang sepuluh menit kemudian Bambang datang menyerahkan berkas yang sudah selesai di-copy. Aku mengucapkan terima kasih lalu laki-laki itu mengangguk dan pergi. "Andhira, kenapa Pak bos bajunya basah?" Aku mengangkat wajah dari berkas penawaran yang diserahkan Bambang barusan. Perempuan cantik dengan rambut panjang berdiri di dekat pintu ruangan kecil ini. "Kakak, kan, detektif kantor cari tau aja sendiri," ujarku kalem. "Idih, tega banget kamu, Dhira." Bibir dengan lipstick merahnya dimonyongkan. Aku terkekeh pelan lalu beranjak dari hadapan Kak Sita sebelum dijejali lagi dengan pertanyaan. Perempuan itu pun pergi. Aku masuk ke ruangan Pak Ezhar setelah diizinkannya, menyerahkan berkas. "Ini, Pak, berkas penawarannya." Dia mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya. Aku memutar tubuh hendak pergi. "Tunggu!" Aku berbalik, menunggu dalam diam karena Pak Ezhar masih fokus pada laptopnya. Semenit kemudian matanya menatapku serius. "Kamu ikut saya besok ke family gathering ... sebagai calon istri saya." Aku terpana. Mulutku bergerak hendak merangkai kata tapi gak ada kata yang keluar. "Cuma pura-pura. Kamu memang baru sebulan kerja di sini tapi saya yakin keluarga gak bakal ada yang curiga," "Tapi sa-" "Saya tau kamu gak punya pacar." "Tapi bes-" "Besok kamu juga gak ada acara apa-apa, palingan malamnya juga baca novel di kamar sambil ngemil." Pasti Kak Yara yang ngasih tahu dengan detail kegiatan malam mingguku. Dasar kakak durhaka! "Saya ga-" "Kamu harus mau atau saya gak bakal kasih rekomendasi yang bagus setelah kamu selesai gantiin Yara." Matanya menatap tajam. "Kamu gak bakal dapat kerjaan lagi." Dasar tukang peras! "Sepertinya saya harus setuju, mengingat saya bahkan gak bisa menyelesaikan satu kalimat pun." Sengaja kutekan tiap kata. Dia tersenyum puas tanpa rasa bersalah. "Saya jemput jam delapan." *** Aku mematut diri di cermin, merasa blouse biru muda dan celana berbahan katun warna hitam cukup cocok untuk family gathering di taman. Sepuluh menit lagi Pak Ezhar datang, aku tinggal memakai pashmina hitam aja. "Cantik." "Apa, sih, Kak, bukannya aku memang always cantik." Tanganku menepis debu imajiner di bahu. Kak Yara tertawa. "Semoga nanti jadi calon istri beneran, yak." Kak Yara mengedipkan mata. "Ih! amit-amit, Kak. Bujang lapuk gitu." Aku bersidekap dan menggigil membayangkannya. "Kamu gak liat tampangnya? Gak liat bodynya?" Kak Yara mengangkat alisnya. "Dia lebih ganteng dan lebih sehat dari semua laki-laki di kantor yang umurnya setengah dari umur Pak Ezhar." "Iya, tau. Kakak, kan, fans number one-nya." "Ngeledek. Tak doain beneran jadi istri si bujang lapuk." "Kakak!" Aku hendak menutup mulut Kak Yara yang tertawa keras tapi batal karena suara mobil yang memasuki pekarangan rumah. Kak Yara dengan antusias membuka pintu. Senyumnya selebar piring hadiah juara All England. "Andhira udah siap ni, Pak," katanya. Pak Ezhar mengangguk. "Mana tante?" "Nanti saya panggilkan, duduk dulu, Pak." Lelaki itu duduk di sofa, matanya menatapku lekat, tapi hanya sebentar. Matanya beralih menyusuri dinding tempat dimana foto-foto dipajang. Aku diam, tak tahu harus berkata apa mengingat aku diperas untuk ini. Mama datang dengan senyum lebar, percaya bahwa lelaki itu membawa anak gadisnya untuk bertemu klien. "Tante, saya izin bawa Andhi, maaf weekendnya jadi terganggu." suaranya terdengar tulus. "Ya, gak apa-apa, Nak, hati-hati di jalan." Mama kembali tersenyum.
Setelah kami bersalaman dengan Mama, Pak Ezhar membukakan pintu untukku. Aku masuk dan memasang seat belt. Lelaki itu melakukan hal yang sama lalu menyalakan mesin. Semenit perjalanan, aku cuma diam. Mendadak bingung harus ngomong apa karena kami biasanya hanya membahas pekerjaan. "Maaf," ucapnya memulai obrolan. "Untuk ....?" "Sudah memaksa kamu untuk jadi calon istri pura-pura." Mata hitamnya menatap lekat, bisa aku lihat kesungguhannya. "Saya kira kata yang tepat adalah memeras." Aku menyilangkan tangan di dada untuk mempertegas maksud. "Saya minta maaf sudah memeras kamu." Nada suaranya yang lembut membuat pertahananku runtuh. Aku menurunkan tangan. "Baiklah, saya maafkan, apa gak ada perempuan lain yang bersedia jadi calon istri beneran bapak?" Pertanyaan yang sensitif memang, tapi aku rasa aku punya hak untuk bertanya. Lelaki itu mengangkat bahu. "Belum ketemu yang tepat." "Dari 250 juta penduduk?" Aku mengangkat alis. "Kamu sendiri? Kenapa jomlo? Muda, cantik, cerdas." "Jadi saya cerdas? Bukannya saya ceroboh?" "Agak ceroboh," katanya mengoreksi. "Still ...." "Dari sebanyak itu, cuma cerdas yang kamu tangkap? Biasanya perempuan lebih senang dibilang cantik." "Cantik itu selera, Pak, tapi cerdas itu pasti." Bibir tipis lelaki itu melengkung membentuk senyum. Aku heran kenapa lelaki seperti dia masih jomlo di umur segini, mana kemarin disangka om-om genit pula. Setengah jam kemudian kami sampai di tempat acara. Pak Ezhar sudah memberi tahu bahwa yang datang adalah nenek dan kakek dari pihak ayah beserta saudara ayahnya, tentu saja anak menantu dan cucu juga ikut. Ayah Pak Ezhar adalah anak sulung, dia mempunyai dua adik perempuan yang sudah menikah dan semua sepupu lelaki itu juga sudah menikah dan beranak pinak. Tinggal dia seorang yang menjadi bujang lapuk. Julukan yang diberikan oleh sahabatnya yang juga kontraktor perusahaan property milik Pak Ezhar. Julukan itu langsung jadi viral dan melekat padanya. Semua mata memandang ke arah kami, lebih tepatnya padaku yang cuma bisa tersenyum canggung. "Jadi ini surprisenya?" tanya seorang perempuan.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bguss
02/06/2025
0mantap
31/05/2025
0suka banget
31/05/2025
0Ver Todos