logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 6 Tiba di Kampung Nenek

Mobilku kini sudah memasuki halaman rumah almarhumah Nenek, rumah berukuran dua belas kali sepuluh meter itu tampak sedikit berbeda. Kini, pekarangan rumah Nenek banyak ditanami dengan tanaman bunga melati dan bunga kamboja. Bahkan, ada satu buah pohon bunga Kantil Kuning di situ.
"Jangan sering-sering bengong, Non!" Suara Pak Dadang menyadarkanku dari lamunan tentang bunga-bunga itu.
"Gak mau turun?" tanya Pak Dadang.
Kujawab dengan anggukan dan segera membuka pintu mobil, wangi bunga melati dan juga bunga kamboja langsung saja menghampiri indra penciumanku. Belum lagi, bunga-bunga kantil kuning yang berguguran, membuat aroma wangi yang bercampur aduk.
"Eh, Non Syasya sudah sampai! Bapak menelepon terus, Non," kata Mbak Ningsih.
Mbak Ningsih adalah Asisten pribadi Nenek kala masih hidup, dia yang mengaku yatim piatu dan memerlukan pekerjaan langsung diterima bekerja. Saat itu, Nenek memang sedang mencari Asisten yang baru. Sebab, asisten lamanya meninggal mendadak sebulan sebelum Mbak Ningsih datang.
Setelah Nenek meninggal, Papa meminta Mbak Ningsih untuk tetap bekerja mengurusi rumah peninggalan Nenek. Papa ingin rumah itu tetap terurus, banyak kenangan semasa kecil Papa di rumah itu. Karena itu, Papa tidak ingin rumah peninggalan Nenek lapuk karena tak berpenghuni.
Mbak Ningsih langsung bersedia saat Papa tawari untuk terus bekerja, walau harus tinggal sendirian. Tentu dengan bayaran yang lumayan besar setiap bulannya, belum lagi uang belanja, dan kebutuhan pribadi Mbak Ningsih. Semua Papa menanggungnya.
"Mbak, kenapa di pekarangan banyak bunga melati dan kamboja, sih! Itu lagi, kenapa ada bunga kantil?" racauku pada Mbak Ningsih, jujur aku tak suka dengan ketiga bunga itu.
"oh, itu biar wangi Non!" Jawab Mbak Ningsih.
"Gak harus ketiga bunga itu juga, dong mbak. Bikin serem." sambil berlalu, aku berjalan masuk kedalam rumah.
Rumah yang isinya tiada perubahan menurutku, hanya saja sudah tidak ada lagi Nenek yang biasanya menyambut kedatanganku. Lalu, mencium kening sambil memelukku. Mungkin benar kata pepatah, 'Kalau sudah tiada, barulah terasa.'
Kuraih telepon rumah dan menekan tombol-tombolnya untuk menghubungi Papa, "Halo, Pa!" sapaku lewat sambungan telepon.
"Syasya, kamu kemana aja, sih. Kapan kamu ini jadi anak yang dewasa, Papa dan Mama di sini khawatir. Mbak Ningsih bilang kamu belum jyga sampai, bahkan telepon genggammu tak bisa dihubungi. Ada apa, Sya?" cecar Papa, yang sepertinya memang sudah sangat khawatir.
" Ya, ampun, Pa. Pelan-pelan kenapa nanyanya. Bukannya tanyain kabar kek, hmmm," protesku pada Papa yang sepertinya akan marah. Kebiasaan Papa, jika sudah terlalu khawatir amarahnya yang akan dikedepankan.
"Bukan begitu, Sya, harusnya kamu kasih kabar kalau mau mampir kemana dulu. Jadi, Papa gak Was-was."
"Iya, Syasya baik-baik aja. Ini baru juga sampai, langsung kabarin Papa," ujarku pada Papa.
"Baiklah, Papa lega sudah mendengar suaramu. Lain kali, kabari sedikit saja, jangan begini. Semalam Papa sudah bilang apa saja kebutuhanmu Pada Mbak Ningsih," jelas Papa padaku.
"Iya, Pa," kataku singkat.
Aku menceritakan apa yang kualami saat diperjalanan, lalu kami pun menyudahi sambungan telepon. Lagi-lagi, mataku tertuju pada pohon bunga kantil kuning di depan rumah. Bunga yang indentik dengan kemistisan ini tidak sama sekali kusuka.
Perhatianku teralihkan saat terlihat seseorang dengan pakaian serba hitam memandangku tajam dari kejauhan, orang tersebut melangkah mundur dan hilang di balik pohon kelapa sawit saat tahu aku menyadari keberadaannya.
"Non!" Aku terperanjat mendengar suara Mbak Ningsih yang memanggil, "Kamarnya sudah Mbak rapihkan, silahkan kalau mau istirahat," katanya sambil menunjukkan sebuah kamar yang kuketahui milik Papa saat bujang.
"Mbak, aku mau tidur di kamar Nenek saja," kataku.
"Tapi, Mbak gak tau sandi kunci pintunya, Non," jawab Mbak Ningsih dengan wajah bingung.
"Aku tau, Mbak," sahutku sambil tersenyum dan berjalan kearah pintu kamar Nenek.
Pintu kamar Nenek memang dipasangi kunci ganda yang memakai sandi saat membukanya, Papa melakukan itu agar barang-barang yang ada di dalam kamar Nenek tidak ada yang rusak. Karena kesibukannya, Papa belum sempat untuk membereskan barang-barang yang ada di dalam kamar.
Sandi kutekan dan pintu pun terbuka. Tetapi, seketika seperti ada angin dingin menerpa wajah. Wangi bunga kamboja memenuhi ruangan kamar Nenek. Padahal, kamar ini sangat tertutup. Jendelanya terbuat dari kaca tebal dan memang tidak bisa dibuka, bahkan ventilasinya pun hanya lubang yang kecil.
Ditengah kebingunganku, terlihat dari sela-sela tirai yang terbuka, sosok orang berpakaian hitam itu muncul lagi. Orang itu seakan sedang memperhatikan setiap gerak-gerikku, dan ketika dia tahu aku menyadari keberadaannya dia langsung bersembunyi dibalik pohon kelapa sawit.
Kuputuskan untuk mengabaikan rasa bingung tentang angin dan wangi kamboja yang tercium dari dalam kamar Nenek, mungkin saja ini hanya perasaanku. Karena, melihat bunga-bunga itu di pekarangan.
"Mbak Ningsih," kataku, "Apa ada pewangi ruangan." Kuharap dengan memberikan pewangi, bau bunga kamboja ini tidak tercium lagi.
"Gak ada, Non," jawab Mbak Ningsih.
"Buat apa, Non?" tanya Pak Dadang pula.
"Gak ada, Pak. Biar wangi aja. Ya sudah, aku istirahat dulu. Jika nanti Bapak sudah akan pulang, ketuk saja," ucapku pada Pak Dadang, dia pun mengangguk.
Kututup pintu dan masuk ke dalam kamar, lalu kusemprotkan parfum kepenjuru ruangan di dalam kamar Nenek. Ada rasa kesal pada Mbak Ningsih yang menanami pekarangan dengan bunga-bunga yang khas dengan dunia mistis.
Bahkan ada beberapa orang mengatakan, pohon bunga kantil kuning identik dengan rumah demit perempuan yang biasa disebut Kuntilanak. Dan lagi, bunga Kantil Kuning ini juga bisa dijadikan sesaji dalam ritual untuk memanggil makhluk halus.
Begitu juga dengan bunga kamboja dan melati, kedua bunga ini juga sangat indentik dengan makhluk halus.
Aku tak habis pikir, bagaimana bisa Mbak Ningsih yang tinggal sendiri di rumah ini menanam bunga yang identik dengan demit. Apakah dia tidak ada rasa takut, hingga suka sekali memelihara bunga-bunga itu di pekarangan rumah. Kulihat tadi, di mana-mana bunga melati dan kamboja tumbuh dengan subur. Malahan, hampir tidak ada tanaman bunga yang lain.
Kusingkap tirai yang menutupi jendela lebih lebar lagi, kamar ini terasa sangat pengap dan lembab. Mungkin saja karena kurangnya cahaya yang masuk kedalam, membuat kamar ini terasa sesak dan aneh.
Terlihatlah pemandangan depan lewat kaca kamar ini, hal yang pertama bisa kugambarkan saat melihat pekarangan rumah ini adalah, kuburan. Iya, pekarangan rumah Nenek persis seperti kuburan. Aku merinding seketika melihatnya. Padahal, saat baru sampai tidak semengerikan ini.
Jujur saja, rasanya aku ingin kembali lagi dan tidak mau tinggal di tempat yang aneh ini. Tetapi, kata-kata Pak Ustad kemarin membuatku urung. Jikalau benar, ada orang yang membutuhkan pertolonganku rasanya berdosa sekali jika tidak membantunya.
"Sya ...." Suara bisikan halus tiba-tiba saja terdengar ditelingaku. Aku menoleh kekiri dan kanan, tetapi didalam kamar ini hanya ada aku. Pintu kamar ini sudah kukunci dari dalam, tak mungkin ada yang bisa masuk. Atau mungkin, karena rasa ngeri dengan pemandangan di luar sana membuatku menjadi berhalusinasi.
Aku terkejut saat pandangan kembali kearah luar, sosok berbaju serba hitam itu muncul lagi. Tetapi, kali ini dia mengacungkan sebilah golok yang terlihat sangat tajam. Matanya nyalang menatap tepat kerahku, tanpa pikir panjang. Aku berlari keluar menghampiri Pak Dadang yang tengah berbaring di atas kursi panjang.
"Pak, bangun!"
"Ada apa, Non? tanya Pak Dadang sambil memutar-mutar jarinya di kedua mata.
" Itu ... Disana Pak," ucapku terbata.
"Ada apa, Non? Ngomong yang jelas, di sana apa?" Pak Dadang terlihat panik melihatku yang ketakutan.
"Ada apa, sih?" tanya Mbak Ningsih yang datang dari arah dapur, mungkin dia mendengar suara Pak Dadang yang panik.
"Itu, Mbak ... Di luar ada orang yang memakai baju hitam dan membawa golok," kataku dengan sedikit gemetar.
Pak Dadang langsung berjalan ke arah luar, terlihat dia menengok kekanan dan kekiri. Lalu bertanya, "Gak ada siapa-siapa Non, yakin, Non, gak salah lihat?"
"Enggak, Pak. Tadi orang itu ada di sana." Tunjukku pada jalanan yang kini tiada siapapun.
"Pak Dadang, awas!"

Comentário do Livro (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes