logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 3 Selamat

"Kita selamat Pak."
"Iya Non. Ya Allah, pantaslah dari tadi kita tidak kunjung menemukan perkampungan warga. Itu karena mobil yang kita tumpangi tidak menyentuh tanah," ucap Pak Dadang sambil mengelus-elus dada.
"Iya Pak, sekarang lihatlah pohon karet itu. Cabangnya ada di atas, dan barusan mobil kita berada di atas sana."
"Iya, untung Non cepat sadar kalau enggak entah sampai kapan kita di sini."
"Semua karena Allah Pak, dari sekian banyak pohon karet pohon itulah yang bercabang. Ya sudah kita lanjutkan perjalanan Pak, jangan lupa baca Bismillah."
Pak Dadang mengangguk dan menstater mobil kembali, suara mesin mobil sudah menyala. Tetapi, wajah Pak Dadang nampak gusar, entah apa yang sedang difikirkannya.
" Ada apa, Pak?" tanyaku pada Pak Dadang.
"Non, bensin kita sudah hampir habis. Bapak tidak tau, perkampungan sudah dekat atau masih jauh," jawabnya dengan wajah khawatir.
"Jalan saja Pak, mungkin saja bensinnya cukup. Yang penting kita tidak di sini lagi," ucapku yang dijawab anggukan lagi oleh Pak Dadang.
Akhirnya mobil berjalan, kali ini aku yakin mobil bergerak sebagaimana mestinya. Terlihat dari dalam lewat kaca mobil, pohon-pohon karet kami lewati. Hanya saja kali ini bensin yang jadi masalahnya, aku tak mungkin harus bermalam di hutan karet karena kehabisan bensin. Sebelumnya Pak Dadang sudah mengisi penuh bensin mobil ini, mungkin karena kejadian barusan bensin pun terbuang sia-sia.
Beberapa meter berlalu, mobil pun mati. Posisi kami masih berada di perkebunan karet. Aku dan Pak Dadang saling melempar pandangan, bingung harus melakukan apa. Sisi kanan dan kiri hanya perkebunan karet, mau minta tolong pun tak ada satu orang yang lewat. Hendak keluar mobil pun kami enggan, masih ingat kejadian barusan.
Tubuh kami terhentak, ketika tiba-tiba kaca pintu mobil diketuk oleh seseorang dari arah luar. Seketika Pak Dadang menoleh kepadaku yang duduk di belakang, matanya mengisyaratkan harus melakukan apa. Tetapi, aku yang juga mulai dilanda rasa was-was menggeleng keras.
Rasa lemas yang diakibatkan kejadian yang baru kami alami saja masih belum hilang, sekarang malah entah gangguan apalagi. Ada rasa sesal di hati ini, andai aku tak berniat kekampung Nenek mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.
Namun, menyesal pun tiada guna ibarat nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah setengah perjalanan, kembali tak mungkin maju pun sulit. Tapi aku yakin, Allah melindungi hambanya yang selalu berdo'a.
"Non, tapi sepertinya dia manusia." Suara Pak Dadang menyadarkanku dari lamunan.
Kuperhatikan seseorang yang tadi mengetuk-ngetuk kaca mobil, iya. Sepertinya memang manusia, tapi aku tak bisa percaya begitu saja. Jin sangat pintar menghasut manusia, dia bahkan bisa merubah dirinya menjadi seekor binatang. Hanya demi menyesatkan makhluk Allah yang bernama manusia.
Perlahan kubuka kaca pintu mobil, hanya sedikit. Lalu aku bertanya pada seseorang itu, "ada apa, Pak?"
"Tidak Neng, cuma heran saja. Kenapa mobil neng ini berhenti di tengah kebun karet, apa ada masalah?" jawab orang itu dengan sopan. Rasa ragu dihati tadi sedikit berkurang, bisa jadi dia ini memang manusia.
"Kami kehabisan bensin Pak."
"Ya Allah, kasian. Tunggu disini Neng, Bapak carikan bensin." mendengar jawabannya aku merasa dia benar-benar manusia.
Begitu juga Pak Dadang, yang sudah yakin bahwa orang yang berada di luar ini adalah benar manusia. Tangannya meraih tuas kunci dan hendak menariknya, segera kucubit tangan Pak Dadang. Seketika dia menatapku, dan mengurungkan niat membuka pintu.
"Terimakasih Pak, jika memang tidak merepotkan," ucapku pada orang itu.
Dia pun berlalu pergi dengan menggunakan sepeda, Pak Dadang yang penasaran karena tak kubolehkan keluar bertanya, "Kenapa tadi Non nyubit tangan Bapak, sih?"
"Pak, kita harus tetap waspada. Setan berwujud manusia itu lebih bahaya Pak." Pak Dadang mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar kata-kataku.
Lama kami tunggu orang tadi yang hendak membantu mencarikan bensin, tetapi tak kunjung kembali. Aku dan Pak Dadang mulai gelisah, takut kalau-kalau orang itu berniat jahat malah membawa komplotannya. Sudah banyak berita, ketika sedang macet atau kehabisan bensin di jalan ada yang berniat membantu tapi malah merampok dan tak segan-segan melukai.
Hari yang makin malam membuat suasana berasa begitu amat sepi, hanya terkadang suara burung malam atau jangkrik yang terdengar. Aku dan Pak Dadang, berada di dalam lamunan masing-masing. Belum lagi rasa lapar kini ikut menyerang, rasa ingin buang air kecil yang sedari tadi kutahan saja belum terlaksana. Membuat perut terasa tak nyaman dan kembung. Ah, perjalanan ini seperti menguji adrenalinku saja.
Tiba-tiba suara ketukan jendela mengagetkan kami dari lamunan, terlihat seseorang yang tadi sudah berdiri di samping mobil. Entah dari mana arahnya datang, aku dan Pak Dadang pun tidak tahu. Terlihat di tangannya dua buah botol mineral berukuran besar dan dipenuhi bensin.
Kubuka kaca mobil dan berkata, "Bapak, terimakasih banyak."
Dia tersenyum. Pak Dadang membuka pintu dan meraih botol berisi bensin itu, diisinya kedalam tangki mobil. Aku yang sudah percaya orang itu baik pun ikut turun dari mobil.
"Pak, berapa harga bensin ini?" kataku menanyakan harga hendak membayar.
"Sudah Neng, tidak usah. Bapak ikhlas menolong. Cepatlah jalan, sepertinya kalian kelelahan," tuturnya penuh perhatian.
"Rumah Bapak di mana, biar kami antar sekalian. Sepeda bisa dinaikkan keatas mobil," tawarku pada Bapak baik hati ini.
"Tidak usah Neng, Bapak naik sepeda saja," tolaknya sembari menaiki sepeda, dan berlalu pergi.
Aku dan Pak Dadang masuk kedalam mobil kembali, mobil sudah menyala dan berjalan. Kami berada tepat di belakang si Bapak yang tadi sudah berbaik hati menolong, entah siapa dia. Namanya pun belum kutanya, aku dan Pak Dadang berniat memberi penerangan jalan untuk Bapak itu, walau tak sama sekali dia menoleh kami lagi.
"Non, kemana Bapak tadi?" tanya Pak Dadang yang membuatku mengfokuskan pandangan kedepan.
Tak ada siapapun di sana, padahal tadi jelas-jelas si Bapak menaiki sepeda dengan sangat santai. Aku yang juga merasa heran berkata pada Pak Dadang, "apa tadi dia tidak berbelok, Pak?"
"Tidak Non, sedari tadi tidak terlihat ada belokan."
Aku menengok kekanan, kiri, juga belakang. Demi memastikan Bapak tadi tidak berhenti, namun suasana gelap dan pohon-pohon karet saja yang terlihat. 'kemana dia', fikirku.
"Padahal tadi Bapak cuma menguap Non, namanya orang nguap kan pasti merem ya. Eh, pas melek sudah gak ada." Terang Pak Dadang yang membuat aku juga merasa penasaran, kemana si Bapak menghilang.
"Nah, itu kita sudah dekat perkampungan Non," Ucap Pak Dadang lagi.
"Cari Surau dulu Pak, kita shalat sekalian istirahat," pintaku pada Pak Dadang, lalu menyadarkan kepala pada kursi mobil.
Aku masih merasa penasaran tentang si Bapak tadi, datang tiba-tiba entah dari mana. Lalu pergi pun tiba-tiba entah kemana. Tetapi siapa pun dia, aku sangat bersyukur dia sudah membatu kami yang sedang kesusahan. Atau mungkin itu pertolongan Allah, lewat seseorang yang entah siapa. Ya Allah terimakasih ....
Pak Dadang berbelok kearah Surau yang masih ramai, sepertinya sedang ada pengajian di surau itu. Setelah mobil berhenti, aku bergegas keluar dari mobil dan berjalan kesuarau.
"Assalamualaikum, Pak. Kami mau menumpang shalat, apa bisa?" tanyaku Pada sekumpulan Bapak-Bapak yang berada di surau.
"Waalaikumsalam, silahkan Nak. Maaf kami sedang melakukan kajian malam, tapi silahkan shalat kami akan bergeser," jawab salah satu Bapak-Bapak yang sepertinya yang memimpin kegiatan mereka.
Aku berjalan ketempat wudhu, tak lupa kuucap syukur lagi pada Allah. Allah menguji keimananku, lalu dibalasnya nikmat yang begitu besar.
Kutuntaskan terlebih dahulu hajat yang sedari tadi tertahan, lalu mengambil air wudhu dan bergegas melakukan shalat. Tak lupa aku pun mengqodho shalat maghrib yang tadi terlewat, beruntung shalat isya tidak sampai terlewat juga. Kalau bukan pertolongan Bapak baik hati tadi, bisa-bisa sampai besok pagi aku berada di tengah kebun karet. Ah, ada rasa salah di hati, karena tadi sudah berfikir jelek tentang Bapak itu. Maafkan hambamu Ya Allah.
Setelah selesai mengerjakan shalat, kulihat Pak Dadang sudah duduk bersama Bapak-Bapak yang tadi ada di surau. Pak Dadang yang melihatku sudah melipat mukena pun memanggilku, "Sini Non, kita istirahat dulu."
Aku mengangguk dan berjalan mendekat kearah mereka, Pak Dadang menggeser satu piring berisi kue-kue juga segelas teh hangat.
"Makan Non, pasti laparkan," ucap Pak Dadang, dia memang sangat perhatian padaku. Dia selalu menganggapku seperti anaknya.
Aku mengangguk dan Duduk tidak jauh dari Pak Dadang, sambil memdengarkan Pak Dadang yang menceritakan kejadian yang baru kami alami. Sambil sesekali meneguk teh hangat dan juga memakan kue pemberian Bapak-Bapak yang sedang pengajian. Seketika pikiranku teringat pada kata-kata Mama tadi pagi, "Bawa bekal Sya, kamu kan gampang laper." Tetapi aku menolak saran Mama. Dan akhirnya memang aku kelaparan.
Tapi pertolongan Allah itu memang nyata, ditengah rasa kelaparan, aku dipertemukan oleh sekelompok orang-orang yang sedang mengaji. Bahkan mereka memberi sedikit makanan seakan tau perut ini sudah meronta untuk diisi.
"Lebih baik malam ini kalian menginap di rumahku saja," Ucap salah satu Bapak, yang kufikir tadi sebagai pimpinan pengajian ini.
"Terimakasih banyak Pak Ustad, aku tanya dulu pada Non Syasya," Jawab Pak Dadang. Dan ternyata dugaanku benar, Bapak itu seorang ustad, sekaligus pimpinan dalam kelompok pengajian ini.
Pak Dadang yang mengarahkan pandangannya padaku, langsung kujawab dengan anggukan. Perjalanan masih setengah lagi, sebentar lagi kami akan bertemu dengan perkebunan kelapa sawit. Setelah kejadian yang baru kualami, membuatku enggan meneruskan perjalanan malam-malam begini. 'Cari aman sajalah',fikirku.
"Baiklah, malam ini sampai di sini dulu pembahasan kita. Akan kita lanjutkan besok malam, wassalam." Ketua pengajian yang dipanggil Ustad ini pun menutup acaranya.
Beberapa orang sudah ada yang bangkit hendak pulang, juga masih ada yang duduk untuk sekedar berbincang. Pak Ustad sebagai pemimpin yang menawari kami menginap pun mengajak kami kerumahnya. Aku dan Pak Dadang berpamitan pada semua Bapak-Bapak yang masih duduk. Tetapi, aku menagkap satu sosok lain di tengah kumpulan Bapak-Bapak itu.
'Dia ....'

Comentário do Livro (160)

  • avatar
    Saha We

    ending nya nyesek ga enak😖🥺🥲

    10/09

      0
  • avatar
    RojiatiSari Lila

    keren ka

    30/06

      0
  • avatar
    zizeeeyy

    baguss bgttt

    18/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes