💔💔💔 “Nyonya, akhirnya bapak pulang.” Bi Ipah berlari kecil ke arahku. Setelah tiga hari tidak memberi kabar, Hanan hari ini pulang juga. Aku bersiap dengan sederet pertanyaan yang telah kutuliskan. Ya Allah, ribet banget ya kalau tidak bisa bicara? Kapan aku bisa bicara lagi? Harus berapa banyak stok sabar yang kupunya? “Hu, ha.” Meski yang kuucap tidak jelas, Bi Ipah sepertinya cukup mengerti. Ia mendorong kursi rodaku keluar kamar hendak menghampiri yang baru tiba. “Tapi, Nyonya ….” Bi Ipah menggantung ucapannya. “Pa, pa.” Belum sempat Bi Ipah memberitahu, aku sudah menyaksikan di depan mataku sekarang Hanan berdiri gugup karena di tangannya bergelayut manja—Sumi. Kugigit bibir bawah hingga mengeluarkan darah. Satu, dua, tiga. Nafas semakin berat, diiringi detak jantung yang menabuh genderang menantang perang. “Ma, mama. Papa bisa jelaskan semua ini.” "Argh!" geramku mengaum bak harimau lapar. "Papa mohon, tenangkan dulu diri mama," pintanya. Tenang? Bagaimana caranya agar bisa tenang? Suamiku pamit pergi dengan janji memulangkan. Nyatanya … bahkan datang membuat tensi melonjak. “Hoek, hoek,” Sumi menangkup mulutnya. Ia berlari ke wastafel belakang. Bahkan suara muntahnya sampai terdengar kuat ke ruang tengah. Tentu saja Hanan tidak membiarkan sendiri. Apa lagi ini? Apa sebuah babak drama baru? Ya Allah, akan sanggupkah diri ini? Kupejamkan mata rapat-rapat, berharap saat terbuka semua ini hanya ilusi. Tidak lama Hanan muncul lagi dengan membopong Sumi. Ia membenamkan kepala pada dada yang harusnya tidak dibagi. Entah energi dari mana aku bisa gerakan tangan kanan tanpa meleset. Memutar roda tiada henti memburu dua manusia tidak tahu malu itu saat hendak memasuki kamar. Kutarik kaki Sumi yang terjuntai dari gendongan hingga Hanan hilang keseimbangan dan terjerembab. Dug, kepala Sumi terjedot kusen pintu, lalu tersungkur. “Pipih …,” ia merintih. “Astagfirullahaladzim. Mimi, mana yang sakit?” Hanan langsung memapah ke tempat tidur. “Perut mimi jadi sakit, Pih,” akunya. Yang terjedot hanya kepala, kenapa jadi perut yang sakit? Lebay bin alay banget. “Apa mi? perutnya sakit. Ayo kita ke Bidan sekarang juga,” ajak Hanan. “Mimi masih cape, Pih. Mimi mau rehat saja dulu. Insyaallah nanti juga membaik. Mungkin si dede bayi barusan terkejut karena Mimi terjatuh," tuturnya. Tidak salahkah kupingku menangkap ucapan ‘dede bayi’? Bekas pembantu itu hamil? Anak siapa? Bukankah mereka berjanji tidak akan memiliki anak. “Hu, ha ….” Tunjukku pada perut Sumi. "Iya, kak. Salsa dan Aira akan memiliki adek,” ucapnya tanpa bersalah sedikit pun. Aku geleng-geleng dan kutarik rambut panjangnya yang dikuncir satu. kupelintir hingga ia menjerit-jerit. “Ma, tolong lepaskan! Mah tolong …,” titah Hanan. Kemudian ia segera menjauhkanku dari Sumi. Kumeronta sebisanya saat kursi roda yang kupakai didorong Hanan keluar kamar. Sekeluarnya, Hanan menggenggam erat tangan ini meminta maaf karena tidak bisa menepati janji. “Ma, maaf … Papa rujuk sama Sumi. Keluarga di kampungnya tidak mau menerima Sumi dalam keadaan hamil tanpa seorang suami. Karena bisa dikira anak hasil zina," jelas Hanan sambil mencium punggung tanganku. "Maaf juga karena Sumi mungkin waktu itu kelupaan tidak meminum pil KB hingga tumbuh benih Papa di rahimnya. Saat ini ia lagi ngidam dan keadannya sangat lemah. Nanti setelah keadaannya membaik, Papa akan mengontrakkannya rumah agar tidak tinggal disini," paparnya pelan dengan penuh harap aku memahaminya. Tangisku pecah, gerakanku tidak bisa terkendali sampai Hanan yang sedang bersimpuh di kaki terjengkang. Emosiku meledak seperti bom waktu. Kursi roda berjalan mundur akibat gerakanku yang tidak imbang. Akhirnya terpentok pada nakas dan tubuh ini terdorong ke depan mencium lantai. "Uh ...." Bibirku semakin mencong. Hanan hanya menontonnya saja tanpa riak khawatir. Justru Bi Ipah yang memburuku dari dapur. "Pih, tolong! Hoek, hoek." Si Sumi teriak dari kamar. Hanan bergegas menghampirinya. Suara muntah menjijikan itu terdengar tidak berhenti. "Mual lagi ya sayang?" "Sakit, Pih." “Mimi ….,” teriak Hanan gamang. Ia berlari keluar kamar menyambar kunci motor. Aku dilewatinya begitu saja tidak dihiraukan sedikitpun. Kutangkap ia sangat terburu-buru dan cemas. Kuputar lagi roda kursi menuju kamar dimana racun itu berada. Pelan-pelan daun pintu terbuka lebar. Wajahnya terlihat pucat sekali. Area matanya menghitam, cekung. Matanya juga terpejam. “Issh,” desisku saat roda kursi menyentuh bekas muntahan Sumi yang berwarna kuning dan merah. Apa dia masih hidup? Tanyaku dalam hati. Untuk menjawab rasa penasaran, kudekati tubuhnya yang terbaring. Tubuhnya dingin sekali. Kugoyang-goyang kakinya, ia tidak merespon. Jangan sampai aku tertipu lagi dengan kepolosannya. Kugerakan lagi kursi roda perlahan mendekat area wajahnya. Tampak benjolan di dahi kanannya yang amat seksi haha … batinku terbahak mengingat tadi ia yang kutarik terjedot kusen pintu. Kuputuskan untuk mencubit pipinya keras-keras sampai merah berbekas. Bahkan ada jejak goresan dari kuku yang lupa belum dipotong. Namun, ia tak kunjung bereaksi. Jangan-jangan Sumi sudah … aduh bagaimana ini? Apa aku harus iba atau senang? Bersambung ... Terimakasih yang sudah mampir 🙏
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 18 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (102)
GustianiSheila
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0
Supriadi Anglinggdarma
enk banget main novelah
28/04/2025
0
HokiSlamet
sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0enk banget main novelah
28/04/2025
0sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
10/01/2025
0Ver Todos