“Assalamualaikum.” Seseorang sudah berdiri di depan pintu. “Waalaikum salam,” jawab Hanan. “Maaf, pak mengganggu,” ucap Bu Santi tetangga dekat Sumi. Aduh ada apa ya? Kenapa ia sampai kemari? Pirasatku jadi tidak enak. “Iya, ada apa Bu?” tanya Hanan. “Sumi, pak.” “Sumi?” “Iya. Dia jatuh pingsan. Karena belum sadarkan diri, saya bawa ke klinik Sejahtera,” tuturnya. “Apa pingsan? Sumi sakit apa Bu?” gurat kecemasan langsung terlihat. “Saya beum tahu, Pak. Soalnya saya hanya mengantarkan saja ke sana. Anak saya di rumah tidak ada yang jagain,” terangnya. “Oh, ya sudah Bu. Sekarang juga saya ke sana. Terimakasih sudah memberitahu,” ucap Hanan. Tanpa basa-basi, apa lagi izin dariku, ia bergegas mengambil kunci mobil. Setelah beberapa menit, sepertinya ia baru tersadar dan turun lagi dari mobil. “Ma, maaf, Papa mau lihat dulu Sumi. Takutnya dia kenapa-kenapa. ‘Kan dia tidak punya siapa-siapa disini." Aku tidak mengangguk atau pun menggeleng. Tapi Hanan tidak memperdulikannya. * Bagaimana mungkin malam ini aku bisa tertidur? Chat yang aku kirim sedari tadi ke Hanan masih saja centang abu. Lagi ngapain sih? Jam segini masih tidak ada kabar. Hatiku gusar bertanya-tanya. "Nyonya, masih belum tidur?" Bi Ipeh mengecekku ke kamar. “Euh, euh,” sahutku. “Sudahlah Nyonya jangan dipikirkan. Nanti juga Bapak pasti pulang,” ujar Bi Ipah seperti bisa membaca pikiran. "Saya, pijitin ya Nyonya," tawarnya lalu. Tentu aku tidak menolaknya. Pijitan Bi Ipah bagiku tiada dua. Bisa membuatku rilek, bahkan sampai tertidur. "Oh, ternyata mama sudah bisa jalan?" tanya Hanan membeliak ketika mendapatiku berjalan dari arah dapur. "Ia Pah. Alhamdulillah ini keajaiban." Aku sumringah.
"Tapi, papa lebih senang mama lumpuh saja," cetusnya bak gledeg. "Lho, kenapa Papa bicara seperti itu?" nadaku meninggi. "Kebebasan Papa akan terkekang. Papa sudah terlanjur mencintai Sumi. Dia itu lincah tidak payah seperti mama. Bodinya juga bohay. Papa suka,” tuturnya tanpa malu. “Papa! Tega sekali bicara seperti itu?” berangku. "Ha,ha,ha," tiba-tiba Sumi muncul dengan tawanya yang menggelegar. “Ha,ha,ha,” Hanan menyambung tawanya. Kemudian mereka menyeringai menertawakanku yang katanya lemah. “Tidak, tidak, ti …,” teriakanku tercekat ditenggorokan. Kenapa susah sekali suara ini lepas? Batinku. "Nyonya, nyonya ...," panggil Bi Ipah yang sudah duduk di tepi ranjang. "Hu, hu!" "Astagfirullah, Nyonya mimpi buruk ya?" tanyanya sambil menyeka keringat di dahiku. Ia pun mengambikan segelas air putih. Perlahan meminumkannya dengann sendok kepadaku. “Apa Bapak sudah pulang?” tanyaku di tulisan memo. "Belum Nyonya," jawab Bi Ipah pelan. Kucek kembali gawaiku. Karena gerakan tangan kanan yang kadang tidak bisa terkontrol, gawai terjatuh ke lantai. Cekatan Bi Ipah mengambilkan. Kugulir layar gawai, aplikasi hijau bulat tampak ada notifikasi yang belum sempat kubaca. Tidak sabar kusentuh, ternyata sebuah pesan dari si Sulung. “Mama, ini Salsa. Bagaimana kabarnya? Maaf jarang megabari. Akhir-akhir ini sibuk terus oleh eskul. Nanti kita video call ya. Miss you …." “Mama baik-baik saja. Sama, mama juga kangen. Oya, ini kirim chat pakai smartphone siapa? Bukankah tidak diperbolehkan oleh pihak ponpes?” balasku. “Boleh kok, ma. Asal jangan ketahuan,” jawabnya cepat dengan diakhiri emot tertawa. “Awas jangan nakal,” pesanku. Kini berubah menjadi centang satu. Mungkin gangguan sinyal atau gawainya dimatikan. Ting … bunyi notif lagi. Kugeser layar. ‘Suamiku’ tertulis nama kontaknya. Ternyata pesanku sudah centang biru dan mendapat balasan. “Ma, maaf. Papa baru bisa mengabari. Sumi sakitnya tidak bisa ditinggal. Harus ada yang merawatnya. Jadi papa berencana akan mengantarkan ia pulang ke keluarganya di kampung.” Dadaku terasa sesak saat membacanya. Segitu perhatian ia pada mantan istrinya itu. kutanggapi pesannya. “Papa jangan macam-macam. Sumi itu bukan siapa-siapanya papa lagi.” “Tidak, mah. Justru karena itu papa mau mengantarkannya pulang. Kalau tetap di sini, otomatis Papa harus bertanggungjawab merawat. Apa lagi para tetangga belum tahu kalau Papa sudah menceraikannya," kilah Hanan. "Sesampai mengantarkannya, cepat pulang!" Pesanku tegas. “Iya, ma. Siap.” Diakhiri emot penuh cinta. Aku harus mencoba percaya pada suamiku, meski kepercayaan itu sudah luluh lantah. Kuseka cepat air mata yang akan menerobos turun karena di layar gawai kontak tanpa nama memanggil via video. "Assalamualaikum, hai mama," sapa wajah Salsa ceria. "Hi, hi," sapaku balik dengan lambayan tangan kaku. "Mah, Salsa punya kejutan," akunya. Mulutku mangap-mangap menanggapi celotehan Salsa. Maksud hatiku bertanya kejutan apa yang putriku telah siapkan? Keningku mengernyit menandakan mewakili rasa penasaran. "Nanti juga Mama akan tahu. Kalau dibilang sekarang bukan kejutan namanya." Aku hanya bisa menggerak-gerakan mulut, berusaha mengontak otot pipi untuk menarik ujung bibir demi sebuah senyuman manis untuknya. "Eh. Mama sudah dulu ya, sebentar lagi ustadzah datang," ucapnya setengah berbisik. Sambungan video call pun terputus. Kini aku mencoba menerka-nerka kejutan yang akan diberikan si sulung. Apa dia berhasil menorehkan prestasi? Tapi rasanya bukan soal prestasi. Karena si sulung termasuk anak yang sangat cerdas. Jadi menorehkan prestasi bukan hal yang mengejutkan, melainkan biasa. Kira-kira apa ya? Bersambung ... Terimakasih yang sudah mampir. Like dan komennya membuat author tambah semangat 🤗
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 18 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (102)
GustianiSheila
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0
Supriadi Anglinggdarma
enk banget main novelah
28/04/2025
0
HokiSlamet
sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
bagus 👍👍👍👍😘
26/07
0enk banget main novelah
28/04/2025
0sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏
10/01/2025
0Ver Todos