logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 5 Terkejut

Part-5
Sesuai intruksi, semalam Bi Ipeh mengambil struk-struk dari kantong belanjaannya. Jika kuhitung, totalnya mencapai dua puluh lima juta. Bahkan ada sandal dengan harga tiga juta lebih, padahal sandalku paling mahal hanya satu jutaan saja.
Kukeluarkan gawai di saku. Kusentuh huruf demi huruf. Meski kadang gerakan jariku tidak tepat dan menimbulkan typo, tapi Hanan cukup pintar untuk mengerti apa yang dimaksudkan.
“Sayang, kamu bercandakan? Ini tidak serius 'kan? Papa mohon jangan! Maafkan papa jika bersalah. Sungguh papa bisa gila,” borong Hanan sambil menangkup kedua pipiku.
Kutepis tangannya. Keputusan untuk bercerai telah kusampaikan. “Tidak ada guna mempertahankan suami yang mulai tidak mempercayai istrinya sendiri. Dalam keadaan lumpuh begini tidak mungkin menang melawan madu. Lagi pula dari awal tidak ada niatan untuk bertanding." Tulisku dengan susah payah.
"Ma, sampai kapan pun papa tidak akan menceraikan. Titik," kekeuhnya.
"Aku restui karena terpaksa. Berharap seiring waktu akan ikhlas. Hanya untuk menjaga papa agar terhindar dari dosa zina. Mama pikir kehidupan poligami ini tidak akan ada drama seperti sinetron di Tv. Rupanya sinetron-sinetron juga memang terinspirasi dari kehidupan nyata. Yang membedakan, mama menyerah lebih cepat. Tidak seperti si tokoh yang mampu bertahan walau terus kesakitan." Uraiku panjang di layar chat.
"Maafkan, papa. Apa papa sangat menyakiti hati mama? Benar kata pak ustadz, sebaiknya hindari poligami kalau belum mampu. Secara harta papa memang mampu, tapi secara ilmu apalagi adil, papa payah," akunya hingga meneteskan air mata.
Aku tidak boleh lemah hanya karena melihat tangisan. Cara ini harus benar-benar ampuh mengusir si jal*ng. Tidak main-main, aku sampai mempertaruhkan kata cerai.
"Kakak, apa yang kakak pikirkan? Jadi kakak minta cerai?"
Si Sumi sudah nongol saja.
"Iya, mi. Sepertinya sudah ada kesalah pahaman."
"Ini murni kesalahan mimi. Mimi akui, mimi memang nyaris khilaf dari mana mimi berasal. Mimi hanya seorang pembantu, orang tak punya yang selalu iri setiap kali melihat postingan majikannya di medsos." Ia menunduk. "Seharusnya mimi berterimakasih saat mimpi mimi menjadi nyata. Bisa merasakan memakai baju bagus dan mahal, bisa makan makanan yang enak, dan yang paling utama bisa memiliki suami sempurna seperti pipih," lirihnya lalu.
Apa pun yang Sumi katakan, kini aku merasa semua hanya drama. Tidak lebih seperti seorang aktris sedang berakting. Tetapi berbeda dengan Hanan yang selalu larut dan percaya. Mungkinkah suamiku mulai mencintai dia? Karena sudah sering menikmati manisnya si madu. Padahal di awal-awal pernikahan mereka, Hanan tampak hanya sebatas butuh.
"Jika memang mimi bersalah, minta maaflah sungguh-sungguh dan jangan mengulanginya lagi,” pinta Hanan.
“Iya. Kakak, tolong maafkan. Saya rela mengalah. Biar saya saja yang diceraikan pipih,” tawarnya sambil bersujud di kakiku.
Menjengkelkan sekali kelakuannya. Padahal kemarin ia menantangku untuk sembuh agar bisa mengalahkanku dengan imbang. Sekarang, walau aku belum sembuh, akan kutunjukkan bahwa memang aku pemenangnya.
“Aku sudah tidak peduli. Ceraikan aku sekarang!” tulisku lagi.
“Tidak, sayang! Tidak akan pernah.” Sangkal Hanan.
Kutuliskan, “kalau begitu, pilihlah!”
“Pilih?” Hanan terlihat berpikir keras sekali.
“Kalau tidak bisa putuskan, biar mama yang pergi dari rumah ini. Mama tidak main-main," ancamku dibacanya.
Ayo lah berakal sehat Hanan. Untuk memilih saja kenapa harus berpikir lama? Jawablah! Batinku tidak sabar.
“Baiklah. Tentu papa pilih mama,” lirihnya.
Haha, sudah kuduga. Perkiraanku tidak meleset. Hanan masih sangat mencintaiku. Terlebih anak-anak juga sangat mencintai ibunya yang malang ini. Benar-benar suami yang sangat sayang keluarga. Hatiku bersorak.
“Terimakasih sudah mengambil keputusan yang tepat.” mata Sumi berembun.
“Maafkan, pipih,” ucapnya lemas.
“Tidak apa. Mimi tunggu pernyataan talaknya sekarang juga.” Sumi menatap lekat Hanan.
“Mulai hari ini, mulai hari ini ... saya Hanan, saya ... jatuhkan talak padamu, Sumi Sumyati binti Dadang,” ikrar Hanan.
“Sah,” tulisku diperlihatkan pada mereka berdua.
Kini aku bisa tersenyum penuh kemenangan. Sayang sekali bibir mencongku tidak bisa menunjukkan. Hanya binar di mata mengisyaratkan kebahagiaan. Semoga aku bisa cepat sembuh, agar bisa memenuhi kebutuhan suamiku. Sebenarnya aku juga sebagai seorang istri membutuhkannya juga. Eh, keceplosan. Untung hanya suara hati.
*
Hari ini begitu cerah secerah hatiku. Sumi sudah enyah dari rumah ini. Aku dan Hanan habiskan quality time di rumah saja. sudah kurindukan cumbu rayunya.
“Pa, maafkan mama. Untuk sementara, papa hanya bisa bermain-main dengan mayat hidup,” tulisku di selembar kertas.
“Jangan bicara gitu ah! Lebih baik mama yang rajin terapinya. Patuhi semua saran dokter. Biar cepat sembuh.”
"Bagaimana kalau sembuhnya lama? Apa papa tidak kenapa-kenapa kebutuhannya tidak tersalurkan sebagaimana mestinya?” tanyaku masih di selembar kertas.
“Mama, jangan mikir macem-macem. Lagian, kalau ibarat batre, daya papa masih full. Kemarin-kemarin ‘kan papa charger setiap hari tuh."
Spontan kumenarik bahu mendengar penuturannya. Charger setiap hari? Itu artinya? Kok aku sampai tidak tahu. Kapan dan dimana mereka melakukannya? Wah, wah aku kecolongan. Kukepalkan tangan kananku. Sialnya maksud hati mau mengerucutkan bibir, nih malah jadi mangap-mangap bak ikan dilempar ke darat.
“Assalamualaikum,” salam seseorang yang muncul mengejutkan kami yang tengah bersantai.
Bersambung …
Terimakasih yang sudah mampir 🙏

Comentário do Livro (102)

  • avatar
    GustianiSheila

    bagus 👍👍👍👍😘

    26/07

      0
  • avatar
    Supriadi Anglinggdarma

    enk banget main novelah

    28/04/2025

      0
  • avatar
    HokiSlamet

    sebenarnya dlm suatu rumah tangga,ikrar janji dlm pernikahan,kalo boleh sy bilang penikahan adalah sehidup semati, singkat cerita,jangan karna istri lumpuh,suami mau nikahi wanita lain, kalo kita kembalikan seandainya suaminya yg lumpuh perasaan suaminya gimana kalo sang istri mencari laki2 lain,jadi dlm pernikahan ,introspeksi & koreksi diri & tidak boleh Egois🙏

    10/01/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes