Semangattttttt shobat nq 😍 **** Dua minggu cuti membuatku sangat rindu sekolah. "Sekarang Zahwa berangkat ke sekolah" aku bangkit dari tempat duduk dan melangkah keluar, tapi lagi-lagi Mas Fairuz selalu menghentikannya. "Jangan sampai senja datang kamu tidak pulang" Aku menoleh dan tidak menanggapi perkataannya. "Aku tidak pernah pulang sampai senja sudah tampak. Kenapa sih Mas Fairuz selalu mencari-cari kesalahanku? Aneh deh!" Aku terus melangkah di mana Pak Danj sudag siap mengantarku. "Neng Zahwa sudah baikan?" Aku terkejut mendengar pertanyaan Pak Danu. "Pak Danu tanya saya baikan, saya baik Pak, Alhamdulillah sehat, tapi saya tidak sakit" "Maaf Neng. Kata Pak Fairuz Neng Zahwa harus banyak istirahat, karena keadaan Neng kurang sehat" "Apa!?" Pak Danu mengiyakan ucapannya yang barusan dikatakan. "Aku kurang sehat? Bagaimana bisa? Keadaanku loh baik-baik saja. Masssss kenapa sih kamu itu cari gara-gara saja?" Seraya menjambak-jambak jilbabku yang sudah miring dari tadi. "Ada apa Neng?" "Tidak Pak, hanya Zahwa banyak kepikiran" "Neng Zahwa kalau masih belum sehat jangan ke sekolah dulu" dengan khawatir. "Tidak Pak. Zahwa baik-baik saja kok" sambil tersenyum. *** "Ada apa Pak Danu" suara diseberang membuat Pak Danu bimbang untum mengatakannya. "Katakan Pak Danu ada apa?" Kembali terdengar suara itu dengan nada yang tidak biasanya. "Maaf Pak. Tadi pas saya mengantar ke sekolah dia bilang banyak kepikiran, jadi saya bawa dia kesini agar tahu bagaimana keadaannya" "Apakah dia terlihat sakit Pak?" "Saya tanya katanya baik-baik saja" "Ya sudab Pak, terima kasih konfirmasinya" "Sama-sama Pak" Pak Danu tersenyum setelah menutup telpon. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Aku masih menyiapkan data-data Ujian Nasional. Tanpa sadar jam sudah menunjukkan angka tiga. "Bu Zahwa tidak mau pulang?" Suara itu membuyarkan kefokusanku. "Eh. Pak Bawafi. Ada apa Pak?" "Tidak mau pulang?" "Sebebentar lagi" jawabku sekenanya. "Ok. Aku temani jika begitu" "Tidak usah Pak. Kan masih banyak guru-guru di sini" sambil menghadap layar PC. Mendengar perkataanku Pak Bawafi hanya tersenyum. "Kenapa Pak Bawafi tersenyum" batinku. Tinggal sepuluh data anak-anak yang belum di imput. "Aku harus selesaikan sekarang agar tidak keteteran" batinku. Jam setengah empat aku beres mau pulang dan sungguh terkejut ternyata lebih dari dua jam aku hanya berdua saja di ruanh guru bersama Pak Bawafi. "Pantesan Pak Bawafi senyum-senyum sendiri tadi, jadi guru-guru sudah dari tadi pulang. Aku jadi malu sendiri" Aku merapikan meja yang berangkat dan beranjak mau keluar. "Sudah selesai?" Pak Bawafi juga ikut berdiri. "Hah. Pak Bawafi nungguin saya?" Tidak percaya. "Ayo pulang" ia berjalan lebih dulu di depanku. Aku jadi tidak enak sendiri. Vote Fairuz Dengan kecepatan sedang Aku menuju ke sekolah di mana Zahwa mengajar. "Keadaannya tidak sehat, aku harus menjemputnya" Aku sengaja tidak memberi tahu kalau mau menjemputnya. Menunggu dia mungkin lebih menyenangkan. Satu jam berlalu Zahwa belum keluar juga. Semua guru sudah keluar, hanya Zahwa yang tidak kelihatan batang hidungnya. "Apa aku hubungi saja.Tidak-tidak, mau di taruh di mana mukaku jika aku menghubunginya" Kuputuskan menunggu sampai-sampai aku terlelap. Senyap-senyap ku mendengar suara seseorang sedang berbicara. Mataku terbuka sungguh aku terkejut melihat orang itu. "Siapa dia?" Aku tidak menyangka dia berduaan dengan seorang laki-laki berbicara berdua sambil ke luar dari gedung sekolah. Ini tidak boleh di biarkan. Zahwa masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya bisa melihat dengan marah, melihat senyum Zahwa aku rasa dia bahagia. "Apakah dia berserong di belakangku?" Tanyaku geram "tunggu saja, akan aku buktikan sampai di rumah nanti, jangan harap aku bisa mengampunimu" Aku tancap gas pergi melewati mobil yang diikuti Zahwa berjalan sangat lambat. Orang itu sengaja memperlambat laju mobilnya. "Apa sih yang laki-laki itu inginkan?" Batinku lagi sambil membanting setir menyenggol mobil yang Zahwa tumpangi. Laki-laki itu kaget, tapi tersenyum lagi berusaha menahan amarahnya, karena Zahwa sedang berada di sampingnya. "Siapa dia? Kenapa membawa mobil seperti itu?" Tanya Zahwa heran. "Apakah mobil Bapak tidak apa-apa?" Tanya Zahwa lagi. "Tidak apa-apa, nanti langsung di service saja" Zahwa merasa tidak enak atas kejadian yang menimpa mobil Bawafi barusan. "Maaf ya Pak. Lebih baik saya mencari kendaraan lain" seraya beranjak pergi dari tempatnya, namun Bawafi memegang lengannya. "Jangan pergi" Zahwa kaget melihat lengannya ditahan. "Lepaskan Pak?" Pinta Zahwa. "Oh. Maaf, jangan pergi Bu Zahwa, mobil saya tidak apa-apa hany sedikit lecek. Ayo kita pulang hari sudah semakin sore". Zahwa masuk ke dalam mobil. Bawafi tersenyum menang, ia mencuri-curi pandang ke Zahwa, Zahwa tidak menyadari kalau laki-laki di sampingnya berusaha mendekat, namun suara handphone nya berbunyi membatalkan aksinya yang tidak diketahui Zahwa. "Siapa Pak?" "Bukan siapa-siapa" "Kenapa laju mobilnya lambat sekali?" Tanya Zahwa lagi. "Oh. Maaf mungkin ada kesalahan di mesinnya, nanti saya akan lihat, kalau sekarang tidak mungkin" Setengah jam berlalu, akhirnya Zahwa sampai juga di rumah. Ia vepat-cepat turun dan mengucapkan terima kasih kepada Bawafi, karena telah mengantarnya. Senja di bagian barat sudah tersenyum cerah memperlihatkan kepada seluruh makhluk di dunia kalau senja memang sangat indah. Sejauh mata memandang Senja memiliki daya tarik tersendiri dengan nuansa yang tak biasa dan beda. Pertengkaran dalam rumah pasti terjadi, begitu juga dengan rumah tangga kita, kamu juga aku (😎 hehehe Belum nikah) pasti pertengkaran terkadang terjadi, tapi seharusnya di antara salah satu suami dan istri ada yang mau mengalah, agar pertengkaran tidak kemana-mana. Beda halnya dengan Zahwa dan Fairuz. Apakah kedua bisa menyelesaikannya? Yuk ikuti kelanjutannya dan akhirnya....... 😭 *** Lidia memanggilku untuk makan malam. Dia menyuruhku untuk segera ke bawah. Chatingan di group guru ku tutup dulu dan ikut bergabung bersama keluarga yang sudah menunggu. "Malem Pa, Ma. Bagaimana keadaan Papa selama tugas di luar kota?" Tanyaku sambil ngambil posisi duduk di samping Mas Fairuz. "Papa baik sayang, tapi seharian ini Papa tidak bertemu denganmu sama sekali?" Tanya Papa balek. "Iya Pa. Tadi Zahwa pulang jam empat sore terlalu fokus hingga lupa waktu" Sebentar ku lihat Mas Fairuz, dia tidak bergeming sedikit pun apalagi ikut menimbrung pembicaraan kami. "Fokus" Mas Fairuz mengatakan fokus tapi senyuman miring terlihat di wajahnya, senyuman tidak menyukai dan dia meremehkan perkataannya. "Ada apa dengan Mas Fairuz?" Tanyaku sendiri. Belum selesai makan, Mas Fairuz meninggalkan meja makan dengan menu di piringnya masih tinggal separuh. "Fairuz, kenapa sudah selesai?" "Tidak selera Ma, jika makan bersama dengan orang yang sok baik" sambil berlalu pergi ke ruang keluarga. Semua mata melihat ke arahnya termasuk aku. Semua orang tidak mengerti siapa yang di maksud, tapi aku langsung mengerti kalau orang yang di katakan sok baik adalah diriku. "Kenapa Mas Fairuz mengatakan seperti itu?" Batinku lagi. Aku pura-pura tidak mendengarnya dan menyelesaikan makan malam seakan-akan tidak terjadi apa-apa, namun hatiku terus bertanya-tanya kenapa dan ada apa. *** Di rumah yang asri dengan bunga berwarna-warni seorang laki-laki sedang memandangi foto seorang prempuan. "Aku akan berusaha untuk memilikimu. Itulah janjiku" seraya menatapnya lelat-lekat foto seorang perempuan yang dipegangnya. "Zahwa kau telah membuatku tidak berdaya, maka kau harus membayarnya" katanya lagi. "Mas. Lagi ngapain malam-malam di sini?" Tanya seorang prempuan yang memakai baju tidur. Wajahnya cantik, dengan rambut terurai rapi, namun ia tidak berhijab. "Hanya cari angin" tangannya dengan sigap memasukkan foto ke dalam saku celananya. "Mas. Kita sudah satu tahun tidak liburan keluar kota, bahkan sejak Mas mengajar selalu berangkat sangat pagi dan pulangnya hampir senja, malamnya, Mas sudah lelah hingga hubungan di antara kita semakin renggang" kata istrinya sambil memijat bahu suaminya. "Aku banyak pekerjaan di sana, jadi---" "Mas. Saya percaya, tapi semua ada waktunya" suaranya semakin rendah menunjukkan bahwa dirinya kecewa. "Aku ngantuk, jadi mau tidur" kata Bawafi sambil menarik diri me jauh dari istrinya. "Mas Bawafi tunggu" Bawafi tidak menghiraukan panggilan istrinya. "Apa kau ada orang lain di luar sana Mas? Kenapa kamu berubah?" Gumamnya sedih. Dalita prempuan cantik yang diperistri Bawafi. Hubungan pernikahan sudah tiga tahun, tapi masih belum di karuniai buah hati. Janji pernikahan terucap dari kedua bibir Bawafi, ia sangat bahagia mempersunting orang yang sangat dicintainya. Kejadian malam itu membuat hubungan keduanya meretak. "Mas. Maafkan saya" tangis semakin menjadi-jadi setelah Bawafi pergi meninggalkan tak menghiraukannya. "Ibu. Bagaimana Dalita Bu?" Seraya memeluk ibunya dengan erat. "Sabar Nak. Allah menguji pernikahan kalian, sampai di mana kesabaran kalian" "Tapi Bu. Dalita tidak kuat jika Mas Bawafi kecewa. Dalita tidak kuat Bu" "Dokter bagaimana keadaan istri saya?" Bawafi bertanya secara empat mata. "Pak Bawafi yang sabar. Ini semua ujian untuk Pak Bawafi. Dengan berat hati serta keputusan yang bisa menyelamatkan Kami mengangkat rahim Bu Dalita. Itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkannya" Bawafi memandang langit-langit rumah sakit. Hatinya teriris. "Kenapa ini terjadi. Kenapa Kau mengambilnya kembali" Tanpa terasa air mata jatuh. Bawafi sangat sedih. "Akan aku kembalikan yang telah hilang apa pun caranya"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat seruu
06/09
0mantap
12/06/2025
0baik
28/05/2025
0Ver Todos