logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 5 Meliana

Mas Fairuz sibuk mengoreksi data-data kantor. Meskipun di kamar ia masih sibuk dengan pekerjaannya, keberadaanku sama halnya tidak ada baginya, tapi aku hanya menyelesaikan tugas-tugasku sebagai seorang istri yang tidak dapat kasih sayang dari suaminya sendiri.
"Zahwa"
Mas Fairuz memanggilku, aku menoleh, tapi ia masih menatap berkas-berkas itu.
"Nanti ada rapat kesepakatan kerja sama dengan Pak Anto Wijaya, dan jam 07:00 ada pesta di rumahnya, jadi datang bersamaku ke sana"
"Apa yang aku lakukan di sana? Bukannya itu tidak ada hubungannya denganku"
Mas Fairuz berfikir, ia menatapku dengan kesal.
"Apa tugas seorang istri jika dibutuhkan suaminya?"
Aku balek menatapnya dengan sama.
"Apakah ketika aku butuh kamu, kenapa kamu malah pergi?"
Mas Fairuz memalingkan wajahnya.
"Besok bilang ikut ya harus ikut, jangan banyak tanya!"
"Aku tidak mau" seraya pergi meninggalkannya sendiri.
"Zahwa!"
Ku biarkan panggilannya mengambang dalam ruang kamar saja.
Mama yang mendengar panggilan keras itu datang menghampiri.
"Zahwa. Ada apa Nak?"
"Hah. Oh. Tidak ada apa-apa Ma"
"Kenapa Fairuz memanggilmu seperti itu?"
"Hanya sedikit permasalahan Ma"
"Fairuz di mana sekarang?"
"Di dalam Ma"
Mama mendenguskan nafasnya keras. Ia menghampiri Fairuz yang lagi memegang kepalanya.
"Apa Mas Fairuz sakit kepala?" Batinku.
"Ada apa Nak. Apakah kamu sakit?" Seraya Mama menghampirinya.
"Ahhhhh!. Ma. Bilang kepada Zahwa nanti malam harus tetap ikut. Mau tidak mau tetap ikut" ia beranjak dari duduknya dan pergi ke luar, aku hanya dilewati saja.
"Loh. Aku dilewati. Dasar orang aneh" batinku.
"Zahwa. Mama pikir ikut bersama suamimu itu lebih baik Nak"
"Tapi Zahwa tidak suka ada pesta kayak gitu Ma. Ujung-ujungnya hanya senyam-senyum, bicara manis. Zahwa tidak habis pikir kenapa mereka suka dengan kehidupan yang seperti itu? Yang lebih Zahwa tidak senang di sana kok ada wanita berpakaian bahan kainnya kurang"
"Nak. Orang-orang berkelas seperti itu. Tampil mewah dan gaya serta barang terbaru agar kehormatan mereka tidak jatuh"
"Ma. Orang berkelas bukan seperti itu. Orang berkelas seperti sahabat-sahabat Nabi Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Abu Bakar As-Shiddiq juga Ali bin Abi Tholib serta Umar bin Khottob. Banyak orang-orang terdahulu yang berkelas. Imam Syafi'i dengan ilmu fikih serta syairnya. Beliau bisa melahirkan dari pikirannya kitab al Uum, ar-Risalah serta banyak kitab yang lainnya. Mereka semua mendedikasikan dirinya, hartanya serta pikirannya untuk kepentingan ummat, kepentingan serta kemaslahatan masyarakat, menurut Zahwa orang seperti itu yang berkelas"
"Nak. Setidaknya kamu bisa dekat Fairuz. Jangan merasa lelah dan lengah, karena kamulah yang bisa menolong keluarga ini"
"Ma......" mendengar penuturan Mama aku jadi terharu ternyata Mama memiliki harapan besar terhadapku.
"Apakah aku mengecewakannya?" Batinku.
Aneh. Kok bisa mereka-mereka dibilang orang berkelas. Di mana kelasnya, di mana berkelasnya.
Orang berkelas ialah orang yang bermanfaat untuk orang lain, mencintai serta mendedikasikan ide dan pikirannya untuk masyarakat.
"Kehormatan. Mereka takut kehormatannya jatuh? Apakah kita sadari jika kehormatan sesungguhnya ialah iman kita, jiwa kita serta tingkah laku kita, bukan apa yang kita pakai, bukan apa yang kita pamerkan, bukan itu"
"Zahwa. Pemikiran orang tidak sama Nak, setidaknya lakukanlah demi Mama ya?"
"Ma. Zahwa akan ikut bukan hanya demi Mama, tapi untuk cinta Zahwa juga" mendengar perkataanku Mama memelukku erat.
"Terima kasih sayang kamu sudah mencintai anak Mama dengan sepenuh hati"
"Ma. Zahwa bertingkah seperti itu karena Zahwa ingin tahu sampai di mana Mas Fairuz bersama Zahwa. Apakah Mas Fairuz masih membenci Zahwa? Ataukah sebaliknya"
"Nak. Lambat laun cinta itu pasti ada. Percayalah pada Mama"
"Zahwa percaya Ma. Tidak selamanya akan seperti ini, tapi Ma. Wanita sulit melupakan orang yang di hatinya, namun jika dia sudah pasrah dan lelah, maka jangan berharap untuk kembali"
Mendengar akhir kata-kataku Mama terdiam. Aku meninggalkan Mama pergi kehalaman belakang mengambil jemuran yang sudah kering.
"Non, jangan. Bibik saja"
"Tidak apa-apa Bik" sambil tersenyum.
***
Aku dan Mas Fairuz sudah siap untuk berangkat. Melihat penampilannya necis banget Jas Dongker pekat dikombinasikan kemeja putih, sepatu Sepatu merek Pinsv.
Merk sepatu pinsv merupakan sepatu pria yang bagus jenis loafers yang memiliki variasi unik berupa hiasan menggantung dengan tali yang berada di samping, terbuat dari bahan berkualitas yang nyaman saat digunakan.
Sepatu ini terbuat dari bahan kulit split yang dilapisi bahan pelapis PU, lebih tahan terhadap air dan memiliki sirkulasi udara yang baik, terlebih lagi sepatu ini ringan jadi memudahkan pemakainya untuk melangkah.
Aku hanya sesekali meliriknya. Suamiku sangat menawan, tampan, wajahnya bersih, tak ada kumis tipis, melihat ia sangat bersih hatiku berdesir nih, tapi sayang dingin.
"Dilihat-lihat Mas Fairuz tampan juga ya"
"Sudah selesai?"
"Sudah"
Kami berangkat dan di dalam mobil Mas Fairuz hanya memberitahukan sikapku bagaimana kepada rekan kerjanya.
Aku terdiam dengan pikiranku sendiri. Sebelum berangkat seorang prempuan menghubunginya, karena ada aku di kamar Mas Fairuz menjauh membuatku curiga.
"Siapa prempuan itu? Rekan bisnis apa rekan-"
Benakku bertanya-tanya sendiri. Mas Fairuz langsung bilang kalau harus cepat berangkat.
"Apakah itu Meliana? Bukan. Mungkin Meliana, bukan. Ahhhh pikiranku bingung"
Suara getar hpnya berbunyi. Aku melirik ingin tahu siapa yang menelpon. Seorang prempuan muncul di balik layarnya. Cantik, wajahnya bersih. Warna gincu bibirnya menggoyahkan iman pria yang melihatnya.
"Dia Meliana" batinku.
"Mas. Cepetan, aku menunggu loh. Bukannya Mas janji akan menemaniku dalam pesta nanti"
Mas Fairuz hanya tersenyum melihat wanita itu dilayar hpnya
"Tunggu aku di sana"
"See you Mas. Love You"
"Apa! Apa aku tidak salah dengar! Tidak tidak. Ini tidak boleh. Dia mengatakan Love You. Tidak"
Jiwaku bergejolak, marah, kecewa semuanya ada. Aku lihat Mas Fairuz nyantai masih dalam posisi mengemudi.
"Apakah Mas Fairuz tidak menyadari ada aku di sini, dengan mudahnya ia mengatakan juga Love you too"
"Mas! Berhenti!"
Mobil tiba-tiba berhenti bunyi decitan ban terdengar. Mas menatapku kesal ia memukul setir dan memalingkan wajahnya keluar jendela.
"Seandainya kamu bukan seorang prempuan sudah ku tonjok. Kenapa menyuruh berhenti mendadak!"
Aku tercekat dan air jernih pun turun membasahi kedua pipiku.
Akhir-akhir ini aku sering pulang telat, karena menyiapkan soal-soal ujian serta melengkapi data anak-anak. Sudah satu minggu aku pulang pas setelah ashar. Beda dengan Mas Fairus sering pulang lebih dulu dari pada biasanya.
Sampai di rumah sudah kelelahan jadi tidak bisa sepenuhnya memerhatikan kebutuhan-kebutuhan Mas Fairuz. Sampai di rumah sudah tepar kelelahan.
"Jika kelelahan ambil cuti dulu"
Suara Mas Fairuz mengejutkan aku yang lagi berusaha meluruskan sendi-sendi yang kaku.
"Siapa bilang aku kelelahan"
"Jangan banyak nyangkal"
Mendengar perhatiannya aku tersenyum.
"Mas Fairuz memerhatikan aku. Aduhhhhh aki jadi terharu"
***
Jam 07:10 aku sudah siap berangkat. Selesai sarapan aku pamitan kepada Mama, Papa dan Mas Fairuz.
"Tunggu" Suara baritonnya menghentikan langkahku.
"Ada apa Mas"
"Saya lupa memberimu ini" seraya Mas Fairuz menyodorkan map.
"Apa ini Mas?" Tanyaku sambil menimang-nimangnya.
"Baca saja baru tanya" sambil mengunyah makanannya.
"Ih. Aku tanya kok jawabnya layak gitu" pikirku.
Mataku terbelalak setelah membacanya.
"Kenapa Mas mengajukan cuti buat Zahwa?"
"Fairuz" Mama menyebut namanya, melihat tatapan mama Mas Fairuz malah beranjak dari duduknya.
"Pa, Ma, Fairuz berangkat dulu"
"Mas. Tunggu, kenapa mengajukan cuti buat Zahwa?"
Mas Fairuz hanya melihatku tanpa ekspresi apa-apa malah Mas Fairuz menggantung pertanyaanku.
"Mas. Tunggu" Mas Fairuz terus melajukan mobilnya dan aku tahu dari spion mobil dia melihatku seraya tersenyum.
Aku bersungut-sungut marah di tambah pertanyaanku dibiarkan mengambang.
"Apa sih maunya Mas Fairuz" batinku.
"Ma. Kenapa Mas Fairuz mengambil cuti buat Zahwa? Ada apa Ma?"
Mama tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Mama kok hanya tersenyum?"
"Sini Nak" seraya mengambil tanganku dan memegangnya penuh kasih sayang.
"Nak. Dak papa Fairuz mengambil cuti untukmu, lagian kamu akhir-akhir ini sering lembur kan?"
"Tapi Ma, banyak yang harus Zahwa lakukan di sana. Bagaimana pekerjaan Zahwa nantinya?"
"Peraya deh sama Fairuz. Jika dia sudah mengambil keputusan, maka anak Mama tidak akan meninggalkan pekerjaannya menumpuk"
Aku menghembuskan nafas dan terus bertanya-tanya kenapa Mas Fairuz melakukan ini tanpa memberiku penjelasan.

Comentário do Livro (56)

  • avatar
    AdliAlfaruq

    sangat seruu

    06/09

      0
  • avatar
    pisanonyen

    mantap

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Parningotan SinagaImmanuel

    baik

    28/05/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes