logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Aktifitas Baru

🤗😍 Yuk baca kelanjutannya Kak. Bagaimana sikap Zahwa😍🤗😎
****
Mas Fairuz bangun dari tidurnya dan ia mencari-cari sesuatu.
“kemana dia kok tidak ada”
Tapi keheranannya tak ia hiraukan dan pergi mandi, setelah selesai Mas Fairuz memakai pakaian yang sudah aku siapkan. Biarkan dia menyiapkan sendiri kebutuhannya. Zahwa sudah tidak ingin menjadi istri yang baik jika ujung-ujungnya sakit hati.
“Ma. Zahwa kemana?” seraya membetulkan dasinya dan duduk di meja makan.
“Zahwa sekarang mempunyai kegiatan baru. Menantu Mama sekarang mengajar di sekolah Al-Ikhlas diujung jalan melati sana.
Mas fairuz tidak menghiraukan ucapan mama ia sibuk dengan sarapannya.
“Kenapa nanyain Zahwa? Biasanya kamu tidak perduli”
“Siapa yang perduli Ma….. Fairuz hanya menanyakan kemana Dia”
“Nak. Jangan bersikap seperti itu kepada Zahwa. Dia sudah berkorban perasaan dan kebahagiaannya hanya untuk keluarga kita dari kebangkrutan, tapi kenapa kamu bersikap dingin kepadanya?”
“Ma. Fairuz kan sudah mengatakan dari awal, kalau Fairuz tidak akan pernah menyukai anak itu. Mama yang memaksa Fairuz menikahinya dan sekarang jangan salahkan Fairuz” sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
“Tapi Nak……. Setidaknya kamu jangan bersikap anarkis kepadanya. Dia itu istrimu”
“Bagi Fairuz dia hanya istri di atas kertas Ma, jangan pernah paksa fairuz untuk lebih, karena fairus memiliki kebahagiaan sendiri”
“Fairuz Tunggu!”
“Ma. Jangan pernah membicarakan perempuan itu dihadapanku kecuali aku bertanya” fairuz pergi meninggalkan mamanya yang terperangah dengan perkataan anaknya.
”Ma. Sudahlah. Biarkan mereka yang menyelesaikan permaslahannya, kita tidak boleh ikut campur dalam permasalahn mereka”
“Pa. mama merasa bersalah, karena pernikahan itu terjadi karena mama yang sangat menginginkannya. Mama tidak ingin fairuz menjalin hubungan dengan meliana. Dia prempuan yang tidak baik Pa, mama sudah memergokinya sendiri bagaimana pergaulan meliana dengan teman-temannya, tapi kenapa Fairuz bisa jatuh hati padanya. Apa kelebihan Meliana?"
“Mama jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, tidak semua anak yang sering di liuar belum tentu nakal semua”
“Tapi Pa….”
“Ma. Sudah. Papa mau makan”
Mama berhenti mengeluh tentang Fairuz dan Meliana ia hanya menghawatirkan aku yang sudah tiga bulan pernikahan tapi sikap Mas Fairuz masih sama seperti semula.
***
Perkenalan dengan murid-murid lebih menyenangkan dari pada ada di rumah menunggu kepulangan seseorang yang tak mengharapkan ditunggu. Aku mulai menjalani hidup baruku mengajar di sekolah Al-Ikghlas.
Alhamdlillah guru-guru ramah-ramah, tapi tidak semua anak akan ramah dan menurut. Pasti ada yang nakal bikin kepalang, tapi terkadang di dalam hati mereka menyimpan seribu hormat kepada gurunya.
Aku diamanahi pelajaran Bahasa Indonesia, meskipun tidak sesuai dengan kuliah yang aku terjuni tapi tidak apa-apa. Aku harus belajar dan belajar. Aku bukan mengajar tapi belajar.
“Bu Zahwa. Bagaimana mengajarnya?” tanya kepala sekolah pak Harun.
“Alhamdulillah Pak, lancar"
“Semoga Ibu Zahwa bisa betah mengajar di sini meskipun anak-anaknya tingkat kenakalannya melebihi batas”
“Tidak apa-apa Pak. Saya akan berusaha sebisa mungkin untuk mengubah karakter mereka yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah”
“Alhamdulillah”
Pak Harun tersenyum dan pamit pergi ke kantornya.
“Pak Bawafi. Buku-buku pelajaran materi Bahasa Indonesia saya mengambilnya di mana?”
“Di perpustakaan Bu. Di sana ada perpustakaan khusus guru. Semua buku yang berkaitan dengan pelajaran ada di sana, gampang carinya”
“Terima kasih informasinya Pak?”
“Apakah perlu saya bantu Bu?”
“Tidak usah Pak. Saya bisa sendiri” seraya pergi meninggalkan Pak Bawafi di ruang guru.
Ruang perpustakaan ini cukup besar semua fasilitasnya lengkap baik dari kursi dan meja semua tertata rapi. Aroma kertas, buku sudah tercium, aku sangat menyukai bau buku, apalagi buku yang baru di beli. Kataku bau buku itu menyegarkan, biasa Zahwa pecinta buku. Hehehe.
Asik membaca dan mencari buku majalah Indonesia Pak Bawafi datang menghampiriku.
“Bagaimana Bu. Apakah sudah ketemu bukunya?”
“Sudah Pak” aku membereskan buku-buku dan hendak pergi keluar.
“Kenapa sudah mau keluar Bu?"
“Yang saya cari sudah ketemu Pak” melihat gelagat Pak Bawafi membuatku was-was saja.
“Tolong bantu saya mencari pelajaran kimia kelas Sembilan Bu”
“Hah!”
Aku bingung. Jika ku tolak tidak enak sendiri karena aku masih guru baru di sini, jika tidak ditolak di dalam perpustakaan guru hanya ada kami berdua.
“Bagaimana ini?” aku bertanya-tanya sendiri.
Akhirnya aku bantu Pak Bawafi mencari buku kimia, yang membuatku lebih aneh ternyata buku kimia sudah dia temukan setengah jam yang lalu, tapi tanpa sepengetahuanku ia menumpuknya dengan buku-buku yang lain.
Melihat tingkahnya aneh ketika berusaha menutupinya, dengan sigap aku mengambil buku itu.
“loh! Ini Pak. Kenapa ditaruh di bawah sendiri?”
“Oh ia Bu. Saya tidak melihatnya” ia mengambil buku itu dan tersenyum.
Senyum yang aneh dan membuatku harus jaga jarak dengannya. Aku tidak boleh lama-lama di sini, bahaya jika aku terus di sini. Aku cepat-cepat pergi ke luar dan cepat pergi pulang. Sampai di depan gerbang sekolah aku sudah melihat Pak Danu menunggu.
“Pak. Danu. Kenapa menjemput saya?”
“Maaf Neng. Saya disuruh Ibu untuk menjemput Neng Zahwa, karena sudah setengah tiga belum sampai di rumah. Ibu jadi khawatir Neng”
Mendengar ke khawatiran mama aku tersenyum dan cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
“Ayo Pak Danu”
Dalam perjalanan pulang pikiranku teringat Mas Fairuz.
“Bagaimana Fairuz mengurus keperluannya ke kantor tadi?” hatiku bertanya-tanya.
“Apakah Mas Fairuz kelabakan atau dia telat ke kantor?”
“Neng Zahwa kenapa?” tanya Pak Danu dia melihat raut wajahku yang tidak baik-baik saja dari kaca spion mobil.
“Tidak Pak. Hanya Zahwa bertanya-tanya. Bagaimana Mas Fairuz mengurusi kebutuhannya dan keperluannya ke kantor”
“Oh…. Neng Zahwa ingat sama Mas Fairuz to…..” Aku tersenyum mendengarnya.
“Neng. Mas Fairuz sudah terbiasa melakukan kepentingannya, kebutuhannya sendiri, jadi tidak akan kelabakan atau telat ke kantor. Mas Fairuz orangnya sangat disiplin Neng, sejak dulu ia masih sekolah dasar ia paling disiplin di sekolah dan Neng Lidia sering kena jewerannya karena sering telat berangkat sekolah, sampai sekarang Neng Lidia masih sering kena marahan Mas Fairuz karena sering telat kuliah”
“apakah Mas Fairuz tadi tanya Zahwa Pak?”
“Iya Neng”
“Benarkah?”
Pak Danu terdiam dan hanya menyunggingkan senyum, namun senyum itu bukan senyum bahagia tapi senyum karena rasa iba.
“Kenapa tersenyum begitu Pak?”
“Neng, Mas Fairuz masih bersikap dingin bahkan tadi sempat beradu mulut dengan Ibu karena menasehatinya”
“Gara-gara Zahwa ya Pak?”
“Neng Zahwa jangan banyak pikiran, sekarang Neng Zahwa kerjakan apa yang harus dikerjakan, jangan diambil pusing tingkah Mas Fairuz. Aslinya dia orangnya sangat baik, karena dulu waktu bapak kecelakaan dan luka berat Mas Fairuz yang mengurusi semuanya sampai biaya rumah sakit. Mas Fairuz tidak itung-itungan”
Aku hanya tersenyum ketir dan melihat keluar.
“Lambat laun Mas Fairuz pasti akan berubah Neng, Neng yang sabar saja dan jangan pernah menyerah. Saran Bapak. Jangan sampai Mas Fairuz yang baik hati itu jatuh ketangan seorang prempuan yang salah”
“Maksud Pak Danu?”
“Neng Zahwa nanti akan mengerti, kenapa Bapak bicara seperti ini”
Mobil sudah masuk kehalaman rumah. Benar, mama sudah menunggu di teras rumah.
“Kenapa sangat lama Pak Danu? Apa terjadi sesuatu dengan menantu saya?”
“Tidak Bu. Neng Zahwa baik-baik saja”
“Mama khawatir sayang” seraya memelukku.
“Ma. Zahwa tidak apa-apa, Zahwa baik-baik saja kok” kami masuk ke dalam rumah sambal bercerita semua kegiatanku di sekolah kecuali kala membantu Pak Bawafi, karena aku takut mama akan salah paham, jadi aku ceritakan yang sekiranya tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Kenapa kamu sampai setengah tiga nak?”
“Ma. Biasa guru baru, masih menyiapkan kebutuhan-kebutuhan Zahwa di sana”
“tidak apa-apa untuk sekarang, tapi besok-besok jangan sampai pulang telat. Titik”
“Iya Ma….”
Mertuaku sama halnya dengan ibu kandungku sendiri. Ternyata mama dan ibu dulu sahabat akhirnya mama melihat ibu dalam diriku.
Aku sangat bersyukur meskipun Mas Fairuz sangat tidak menyukaiku, masih ada Mama, Papa dan Lidia yang menyayangiku sepenuh hati.
Urusan hati belakangan. Aku harus menata masa depanku dulu, tidak selamanya aku menjadi istri Mas Fairuz jika hubungan pernikahanku seperti ini, bagaikan tong kosong nyaring bunyinya, tidak ada keharmonisan sama sekali apa lagi saling tergur sapa. Hanya di depan publik kami berusaha menjadi seharmonis mungkin.
Aku merasa muak dengan terus berpura-pura seperti itu sedangkan suamiku sendiri tidk mencintaiku. Sakit rasanya disini. Sungguh sakit.

Comentário do Livro (56)

  • avatar
    AdliAlfaruq

    sangat seruu

    06/09

      0
  • avatar
    pisanonyen

    mantap

    12/06/2025

      0
  • avatar
    Parningotan SinagaImmanuel

    baik

    28/05/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes