Gara-gara semua bukunya dirusak Richo dan kawan-kawan, Zayan jadi tidak bisa mengumpulkan tugas hingga berakhir di hukum membersihkan toilet. Sudah Zayan jelaskan pada guru matematikanya, namun bapak kepala botak itu tidak ingin tahu sama sekali. "Saya tidak peduli. Bagaimana pun caranya kamu harus mengumpulkan tugas, kalau tidak ada ya sudah sana jalani hukuman dari saya. Kalau masih membantah lagi saya seret kamu ke ruang BK." Ucapan bapak botak masih terngiang-ngiang di kepala Zayan, sembari membersihkan toilet, Zayan terus mendumel. "Capek-capek gue ngerjain ntuh pr sampe begadang. Ujung-jungnya malah kena hukum. Sia-sia banget anjing." "Heh, kalau di kamar mandi jangan ngomong kotor, kita yang di sini terganggu," sahut hantu wanita berlidah panjang di sudut toilet, tidak ada sehelai benang pun di tubuh kurus keringnya, rambut panjangnya kusut dan tegang-tegang. Dia sering terlihat di toilet perempuan. Kerjanya memakan darah haid para cewek yang suka buang pembalut sembarangan. Kadang hantu wanita itu juga terlihat di toilet laki-laki. Ntah sedang apa. "Dari pada lo ngebacot mending bantuin gue dah," balas Zayan. "Siapa lo? Kenal?" SAVAGE!! Zayan tertawa sumbang, "Lawak lo." *** Di sisi lain Lily ingin membalas perbuatan Richo dan teman-temannya atas perlakuan jahat mereka pada Zayan. Ia mendatangi kelas Richo untuk mengacaukan cowok-cowok itu. Baru melangkah masuk Lily sudah disambut dengan perempuan berseragam sekolah menggantung di langit-langit kelas. Ada tali yang melilit lehernya. Yang membuat Lily bergidik ngeri, di antara kaki perempuan itu keluar bayi dengan bentuk yang belum sempurna. Darah menetes ke lantai, tangisan disertai rintihan terdengar, namun tak seorang pun yang menyadari. Kelas sedang senyap-senyapnya karena ulangan mendadak dari salah satu guru killer di sekolah. "Halo, Kak." Berhubung Lily hantu yang ramah, jadi ia menyapa penunggu utama di kelas Richo. "Siapa?" "Lily, Kak. Ke sini mau cari orang songong yang namanya Richo, Julian, Satria, Hans sama satu lagi si abang ganteng Fasha." "Fasha di kelas sebelah," jawab hantu itu di sela tangisannya. Lily mengangguk canggung. Hantu perempuan itu memanggil-manggil nama Sutono dan menyuruh Sutono tanggung jawab. Sutono tanggung jawab lo!! Lily terbang mendekati Richo. Bingung harus diapakan anak manusia resek itu. "Tendang aja kakinya," kikik anak laki-laki di sudut ruang kelas. Usianya mungkin di bawah 6 tahun. Seluruh tubuhnya biru kehitaman. "Mau bantu?" Anak itu mengangguk antusias. Ya daripada gabut sendirian di pojokan. Lily dan anak laki-laki itu membagi tugas. Lily meniup telinga Richo, cowok itu tersentak, menoleh ke belakang hanya ada Hans yang tengah melamun, sedangkan kertas soalnya masih kosong. "Lo niup telinga gue?" tanya Richo dengan suara pelan. "Kurang kerjaan banget anjir." "Apa sih?" tanya Julian di sebelah Richo. Richo menggeleng sebagai respons. Lily tertawa. "Itu apa itu berisik-berisik?" "Gak, Buk." Richo menyahut. "Sekali lagi saya dengar kalian ribut, saya keluarkan kalian dari kelas, saya buat nilai Fisika kalian kosong." Kini giliran si anak laki-laki yang menoyor kepala Hans, cowok itu sontak menoleh ke belakang, menatap tajam Satria yang sibuk menggigiti kuku jarinya. Tanpa bertanya, Hans yang memang emosian langsung memukul kepala Satria hingga terjadi keributan. "Kok lo tiba-tiba mukul gue sih?!" seru Satria kaget. "Lo mukul gue duluan anjing!" "Gue gak ada mukul lo bangsat! Tanya Deny kalau gak percaya." Deny adalah teman sebangku Satria. "HEI! Kalian!!" amuk Bu Ambar, berdiri dari duduknya untuk menghampiri Satria dan Hans. Richo menarik lengan Hans. "Hans ...." Lily berbisik di telingah Hans, "Pukul aja. Dia itu pelakunya tapi gak mau ngaku. Mereka berdua bohong. Ayo pukul." Seperti dihipnotis, Hans menyentak tangan Richo lalu melayangkan pukulan pada Satria, pun Satria tidak tinggal diam, ia yang merasa tertuduh membalas setiap pukulan Hans. Si anak laki-laki membisiki Richo dan Julian untuk membantu melerai, tapi karena Hans dan Satria sudah dipuncak emosi, keduanya pun tak segan-segan memukul Richo dan Julian yang berniat memisahkan. Alhasil, pagi itu kelas mereka dipenuhi kericuhan. Lily tertawa senang, ia bertos ria dengan anak kecil yang sudah membantunya. "Makasih udah bantuin aku." "Sama-sama, Kak. Main yuk ...." "Boleh, tapi lain kali ya." "Kakak mau ke mana?" "Ke temen kakak." "Ikut." "Boleh sih, yang gak boleh ikut pulang ke rumah. Dia galak soalnya." Anak laki-laki itu mengangguk, senyum tipis terbit di bibir pucatnya. Keduanya meninggalkan kelas Richo bersama. "Nama kamu siapa?" "Rehan. "Aku Lily." *** Zayan yang kelelahan, memilih duduk di depan toilet sebelum masuk kelas. Ia mengibas-ngibaskan bajunya yang basah karena keringat. Tiba-tiba sebotol minuman dingin disodorkan di depannya. Mendongak, ada Claudya dan dua temannya. Sontak saja Zayan berdiri. "Buat kamu," kata Claudya. Zayan menatap tidak percaya gadis itu, matanya mengerjap. Ia lalu mengambil minuman tersebut. "Buat aku?" Claudya mengangguk, "Maaf ya tadi aku gak bantuin kamu yang lagi diganggu sama Richo. Aku gak berani hentiin dia." Memang tadi saat Richo merobek-robek semua bukunya, Zayan melihat gadis itu melewatinya, mereka sempat bertatap muka sebentar. "I-iya gak apa-apa, aku ngerti kok," jawab Zayan gugup. "Anggap aja itu sebagai permintaan maaf dari aku." "Wah, gak perlu. Santai aja." Zayan menggaruk tengkuknya. Telinganya merah. "Yaudah, kalau gitu aku duluan ya." Claudya dengan diikuti dua temannya masuk ke dalam toilet perempuan. Bicara dengan Claudya? Zayan menampar pipiya sendiri saking tidak percayanya. Cowok itu berteriak kegirangan sambil joget-joget, sampai tidak sadar aksinya ditonton oleh Lily dan juga Rehan. "AAh!!" teriak Zayan kaget. "Kebiasaan banget kalau dateng gak ngucap salam!" "Kakak ngapain joget-joget?" tanya Lily datar, sebenarnya ia sudah tahu alasannya. Cuma ingin meminta kejelasan dari Zayan. Zayan memamerkan minuman pemberian Claudya pada Lily. "Liat nih, dari Claudya ...." Cowok itu memeluk minuman tersebut seolah itu adalah benda kesayangannya. "Allah baik banget ya. Setiap musibah pasti ada aja sisi manisnya." Lily memutar bola matanya. "Kakak tau gak sih! Richo, Satria, Julian sama Hans dibawa ke ruang BK." "Kenapa?" "Berantem." "Oh." "Oh aja?" "Lah? Mereka kan memang suka buat ulah. Ya sudah tidak heran lagi saya." Zayan berjalan mendahului Lily dan Rehan. "Kak, yang buat mereka berantem itu Lily sama Rehan." Rehan mengangguk, membenarkan ucapan Lily. Zayan menoleh pada keduanya tanpa berhenti. Kemudian suara dari arah gedung sebelah menarik atensinya. Di sana ada empat sekawan yang keluar dari kantor bersama orang tua masing-masing. Mereka diamuk, dimarahi, sampai ada yang dipukuli. Tanpa sadar Zayan menarik sudut bibirnya melihat Richo dan ketiga temannya mendapat karma.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 22 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (224)
sky_star
bagus bgt ceritanya
bisa bikin ketawa ngakak dan terharu
ditunggu lanjutannya
5d
0
Syahfira Indah Ramadani Lubis
bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe
15/05
0
PutriAkira Himuro
Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?
bagus bgt ceritanya bisa bikin ketawa ngakak dan terharu ditunggu lanjutannya
5d
0bagus banget alur cerita suka!! ditunggu sambungan ceritanya kak hhe
15/05
0Cerita pertama yang saya baca diaplikasi ini tapi lupa mungkin sekitar tahun 2022,2023,2024 kali,ya?
05/04
0Ver Todos