logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

BAB 7. PEDANG TERKUTUK

Anastasya menggerutu kesal dirinya harus memberikan laporan pada kekaisaran tentang apa saja yang terjadi di sini dan keadaannya bagaimana. Sekarang Anastasya sedang berjalan menuju tenda Louis.
“Permisi, yang mulia” tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Anastasya melihat keadaan sekitar hanya ada beberapa prajurit berlalu lalang. Mungkin tidak apa-apa jika hanya untuk menyimpan laporan di atas meja lalu kembali ke tenda.
“Permisi,” Anastasya masuk ke dalam tenda, benar-benar kosong.
Kemana lelaki itu pergi pagi-pagi membiarkan tendanya kosong tanpa di jaga oleh pengawal.
Sudahlah aku hanya perlu menyimpan laporan lalu kembali.
Anastasya menyimpan laporan di atas meja, melihat tumpukan-tumpukan kertas sepertinya lelaki itu juga disuruh untuk membuat laporan pada kekaisaran.
Karena urusannya sudah selesai Anastasya memilih sesegera mungkin untuk keluar dari tenda. Tapi tubuhnya malah membeku.
Wushhhhh
Angin dingin entah dari mana asalnya menerpa tubuh Anastasya.
Perasaan macam apa ini, tiba-tiba aura di sekitar berubah mencekam.
Dengan memberanikan diri Anastasya menengok ke belakang sebuah pedang dibungkus rapi oleh kain memancarkan aura hitam dan merah tidak mengenakkan bagi diri Anastasya. Seakan pedang itu memanggil dirinya untuk mendekat.
“Apa yang kau lakukan disini!” suara Louis yang tiba-tiba datang mengagetkan diri Anastasya.
“Siapa yang mengizinkan untuk memegang pedang itu”
Tatapan Louis benar-benar menakutkan. Dingin dan tajam seperti pemburu yang siap menyergap mangsa. Apalagi wajah lelaki itu sudah berubah menjadi datar.
Anastasya baru sadar bahwa ia telah berani memegang barang orang lain tanpa seizin pemilik. Tapi sejak kapan ia memegang pedang ini.
Louis menghela nafas kasar ia tidak tega melihat Anastasya yang bergetar ketakutan seperti ingin menangis. Louis berjalan mendekati perempuan itu.
“Kemarikan”
Anastasya memberikan pedang itu ke tangan Louis, “Saya meminta maaf yang mulia sudah tanpa seizin memegang pedang anda dan masuk ke tenda anda, saya hanya ingin menyerahkan laporan untuk kekaisaran. Tapi entah kenapa tiba-tiba saya sudah memegang pedang tersebut.” Jelas Anastasya panjang lebar.
“Kau baik-baik saja?”
Anastasya langsung mengangkat kepala ia melihat Louis dengan ekspresi tidak mengerti.
“Bagi orang biasa yang tanpa sengaja memegang pedang ini akan langsung mati” lanjut Louis membuat Anastasya tercengang.
“Pedang ini terbuat dari taring raja naga yang ditaklukan oleh Duke Aethelred terdahulu. Dengan seiring berjalannya waktu pedang ini sudah diwariskan turun temurun kepada orang yang terpilih sebagai Duke Aethelred selanjutnya. Karena sering dibawa ke medan perang pedang ini dikutuk karena sudah merebut nyawa ribuan orang yang tidak bersalah, itu sebabnya ia akan memancarkan aura hitam sebagai kutukan dan aura merah sebagai hasrat membunuh bukan itu saja ia akan menghipnotis orang-orang di sekitarnya untuk mendekat lalu menyerap jiwa orang tersebut sampai kering.”
Anastasya meneguk ludahnya terasa kelu mendengar cerita itu.
“Itu sebabnya aku sering membungkusnya dengan kain dan tidak selalu membawanya kecuali ke garis depan, agar tidak ada prajurit atau ksatria yang tanpa sengaja bersentuhan dengan pedang ini dan mati di tempat.”
Louis kembali membungkus pedang itu dengan kain dan mengikatnya dengan kencang.
“Tapi yang mulia kenapa saya baik-baik saja setelah memegang pedang itu?” tanya Anastasya penasaran jika manusia biasa saja tanpa sengaja menyentuhnya bisa langsung mati tapi kenapa ia tidak merasakan tanda-tanda itu.
“Mungkin karena tuan putri memiliki sihir hitam sehingga memiliki kecocokan dengan pedang ini.”
Anastasya menganggukan kepala, “Hoo begitu, tapi maaf yang mulia saya ingin bertanya apakah disini ada tempat yang bagus? Rasanya sangat sayang jika tidak berkeliling tanpa melihat-lihat tempat-tempat cantik terlebih dahulu.”
“Saya tahu jika kita sedang berperang tapi untuk merilekskan otak sejenak apa salahnya kan?”
Louis berpikir apa yang dikatakan oleh Anastasya tidak ada salahnya mungkin mencari udara segar di luar membuat otak penatnya menjadi rileks.
“Baiklah ayo kita berkeliling”
Anastasya mendengar itu berjingkrak senang, akhirnya ia bisa melihat alam indah diluar sana.
“Kita akan menaiki kuda bersama? Bukankah lebih baik jika saya memakai kuda lain saja.”
Anastasya berjerit tertahan ketika kakinya tidak menapak di tanah. Tubuhnya diangkat oleh Louis dan didudukkan di atas kuda.
“Semua kuda sedang beristirahat kau tidak boleh mengganggunya.” ucap Louis, dengan mudah laki-laki itu naik ke atas kuda.
Posisi macam apa ini Anastasya yang duduk posisi menyamping dengan kungkungan dari kedua tangan Louis membuatnya salah tingkah.
“Aku mendudukkan mu di depan agar bisa melihat pemandangan saat di perjalanan” Louis langsung meluruskan agar Anastasya tidak salah paham dengan maksudnya.
Anastasya langsung terdiam. “Ok”
…..
Louis memacu kuda dengan kecepatan sedang banyak hal dilihat oleh Anastasya. Kuda hitam itu berhenti di bawah pohon besar dengan daun yang rindang.
Louis turun dari kuda dan membantu Anastasya untuk turun.
“Huaaa! ini benar-benar indah yang mulia” teriak Anastasya riang, perempuan itu berlari menuju sungai tidak jauh disana mencelupkan kedua kaki rasa dingin menghinggapinya. Tidak peduli dengan celana yang sudah basah Anastasya dengan riang main air.
Anastasya merasa beban di pundak dan kejadian-kejadian kemarin terangkat.
“Yang mulia anda tidak masuk? Kemarilah ini menyenangkan” ajak Anastasya pada Louis.
“Ck, aku bukan anak kecil yang suka bermain air.”
Louis memutuskan untuk menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar di belakangnya. Lelaki itu memejamkan mata mungkin tidur di siang hari tidaklah buruk. Sudah dua hari ia tidak bisa tidur karena harus mengurus laporan yang menumpuk di meja.
Sekitar satu jam Louis tertidur ia terbangun karena seseorang menghalangi cahaya matahari. Saat terbangun ia disambut oleh senyuman manis membentang dari bibir Anastasya.
“Yang mulia, terimakasih telah mengajak saya ke tempat ini” ucap Anastasya.
Melihat senyuman dan ucapan terimakasih itu entah kenapa semburat tipis berwarna merah hinggap di pipi Louis. Lelaki itu membuang muka di garuknya pipi tidak gatal itu.
“Tidak masalah.”
Sesuatu berwarna hijau disodorkan Anastasya. “Nah yang mulia ini buah mangga untuk anda.”
Louis menerima buah tersebut dengan alis mengernyit dilihatnya lamat-lamat buah itu, “Darimana kau mendapatkannya?”
“Saya memetiknya dari pohon. Saya tidak tahu jika dihutan juga ada pohon mangga, ah yang mulia kita harus cepat kembali. ”
Louis tersenyum tipis masih memandang buah itu. Lalu berdiri menepuk-nepuk baju membersihkan diri dari rumput atau tanah yang menempel.
Louis membantu Anastasya menaiki kuda, angin lembut mengayunkan rambut pirang milik Anastasya membuat Louis terpana akan kecantikan rambut itu.
Diambilnya sehelai rambut panjang Anastasya lalu dicium lembut oleh Louis. Hal itu membuat Anastasya terpaku.
“Suatu hari aku akan membawamu ke tempat jauh lebih indah dibanding ini” entah sebuah janji diucapkan oleh Louis itu hanya bualan belaka tapi ucapan lelaki itu berhasil membuat jantung Anastasya berdebar.

Comentário do Livro (712)

  • avatar
    nananana

    WOWWW PERFECT SUKAA BANGETT SAMAAA CERITANYA SEMANGAT TERUSS BUAT PENULISNYA BIAR LEBIH BANYAK LAGI CERITA YG KYK GINI😍😍😍😍😍😍

    15d

      0
  • avatar
    Di Muara Kali Kabur

    saya hidup tidak terlalu baik saya hidup sederhana makan pun Susa kadang dari pagi sampai malam baru kita makan

    03/05

      0
  • avatar
    Jejen Sudrajat

    bgus mnarik

    19/04

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes