logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Terlahir Kembali Sebagai Tokoh Antagonis

Terlahir Kembali Sebagai Tokoh Antagonis

Alvayla


Bab 1. Terlahir kembali

Seorang perempuan dengan jaket Bomber hijau Army tengah berjalan diatas trotoar.
Jari jempol tangan kanan dan kiri milik Kanara bergerak dengan lincah diatas keyboard handphone. Membalas satu persatu pesan dari teman-temannya.
Langkah kaki Kanara terhenti saat melihat orang-orang berkumpul di depan gedung terbengkalai. Karena penasaran Kanara pun menghampiri orang-orang tersebut.
Di atas atap gedung seorang pemuda seumuran dengan Kanara tengah berdiri. Entah apa yang sedang lelaki itu lakukan sehingga menarik perhatian orang-orang.
‘Eh, laki-laki itu ....’
Laki-laki di atas sana itu bukankah junior di kampusnya? beberapa kali Kanara sering berpapasan dengannya.
Lalu, sedang apa ia di atas atap gedung seorang diri dan berdiri seperti orang yang bersiap untuk bunuh diri.
Bunuh diri?
Jangan-jangan ....., Laki-laki itu berniat untuk meloncat dari atas sana!
Entah kenapa instingku berkata bahwa aku harus menolongnya , kedua kaki Ku tiba-tiba bergerak sendiri untuk berlari menuju atap gedung.
Dengan nafas tersengal-sengal aku sampai di atas atap gedung. “Tunggu!”
Secara perlahan-lahan aku mendekati juniorku itu.
“Apa yang sedang kamu lakukan! berdiri disana itu sangat berbahaya! Jika kamu memiliki masalah yang sulit untuk dihadapi kamu bisa meminta bantuan pada orang terdekatmu, ok.”
Itu lah ucap mulut Bullshit ku ini. Lagi pula zaman sekarang mana ada orang terdekat yang mau membantu ketika kita dalam kesulitan. Aku sudah mengalaminya beberapa kali.
“Tapi aku tidak memiliki teman” Balasnya. Mata lelaki itu menatap Kanara dengan tatapan kosong, seperti tidak ada semangat untuk hidup.
“Aku, Aku mau menjadi temanmu, Nah bagaimana jika kamu turun dari sana. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah.” Bujuk Ku dengan penuh kehati-hatian. Jantungku berdegup kencang sedari tadi otakKu terus bekerja memilah kata yang tepat agar tidak menyinggung perasaannya dan berakibat fatal.
Lelaki itu mengulurkan tangannya, Kanara menghela nafas dengan lega ia berjalan ke arah lelaki itu dan menggapai tangan sedingin es tersebut.
Tunggu, apa-apaan ini! Ia ditarik. keseimbangannya menjadi oleng, pada akhirnya Kanara dan lelaki itu terjatuh dari ketinggian 120 meter.
Kepala Kanara menabrak aspal beton dengan keras.
Apa ini?
.... aku melihat darah keluar dari kepala ku? Mata Ku mulai berkunang-kunang keadaan sekitar mulai tidak jelas, orang- orang langsung heboh dan menelpon ambulance.
Lelaki bajingan yang satu itu! Seharusnya Aku tidak perlu menolongnya! Jika ia ingin bunuh diri dan tidak ingin mendengar kata-kata motivasi dariku, seharusnya ia meloncat seorang diri tidak perlu mengajak diriku ini.
Aku tidak tahu lagi kepalaKu sudah pusing, Aku ingin tidur dulu. Seseorang bangunkan aku jika aku sudah selesai di obati.
#####
Mata ku berkerut ketika sinar matahari menyusup dari celah-celah gorden kamar. Suara ribut yang ditimbulkan oleh burung-burung membuatKu terbangun.
Aku menggeliat meregangkan otot-otot kaku. Tangan ku meraba-raba samping kasur mencari-cari benda persegi panjang bernama handphone.
“Dimana handphoneKu?” Racau ku tidak jelas dengan keadaan setengah sadar. Mataku masih terpejam, malas sekali untuk membuka mata lagipula Aku berniat untuk melanjutkan tidur ku kembali, aku hanya ingin mengecek jam berapa sekarang.
Karena tidak ketemu dengan terpaksa aku harus membuka mata. Aku ternganga melihat pemandangan di depan. Sebuah ruangan yang tiga kali lebih besar dari kamarKu dengan isi kamar komplit sofa elegan untuk bersantai, meja kecil, meja rias, rak baju, rak sepatu, sebuah meja untuk menulis, jendela yang langsung mengarah ke taman tersaji di depan mata Ku.
Dan kasur yang Ku tempati terasa lembut dan empuk. Membuat Ku betah berlama-lama di dalam kamar.
“Permisi, anda sudah bangun nona”
Seorang perempuan berumur 17 tahun dengan seragam pelayan membungkuk hormat di hadapannya.
“Anda harus segera turun kebawah untuk sarapan, tuan dan nyonya sudah menunggu anda.”
Aku hanya bengong mendengar itu terheran-heran dengan situasi sekarang yang masih sulit untuk dicerna oleh otak nya.
“Air hangat dicampur dengan aroma bunga lily kesukaan nona sudah siap.”
###
Di dalam bathtub Aku hanya diam masih memikirkan situasi seperti apa yang sedang aku hadapi ini.
“Nona apa terjadi sesuatu? Sedari tadi anda hanya diam.” Tanya pelayan yang sedang mencuci rambutku dengan nada kekhawatiran.
Tersadar jika sedari tadi aku hanya bengong dengan cepat aku menjawab pertanyaan sang pelayan.
“Ah, tidak aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong siapa namamu?”
Tiba-tiba pijatan di kepalaku berhenti. Merasa aneh aku pun menengok ke belakang dan langsung disajikan dengan mata berkaca-kaca milik pelayan muda itu.
Aku pun kelabakan melihat itu, “Ada apa? Kau baik-baik saja?”
“Hiks …. Hiks …. nona,” Airmata lolos keluar di iringi isakan kecil dari mulut pelayan itu. “Sebaiknya anda tidak perlu turun ke bawah jika anda masih tidak sehat. Biar saya yang beritahu pada nyonya dan tuan.”
“Eh…. Itu…” Aku tidak tahu harus menjawab apa, ngomong-ngomong pelayan tadi bilang kalau dirinya bisa istirahat jika masih tidak sehat. Itu artinya tubuh ini sedang sakit.
“Aku sudah baik-baik saja tapi ingatanku sedikit buram. Apa kamu bisa memperkenalkan nama mu lagi?”
Pelayan itu berhenti menangis ketika melihat senyuman manis dari nona nya ini.
“Nama saya Emy saya pelayan anda nona.”
Aku mengangguk-anggukan kepala kembali fokus memainkan busa-busa yang memenuhi bathtub.
“Baiklah Emy apa yang terjadi dengan ku, Kau bilang kalau aku sedang tidak sehat?”
Emy terdiam sejenak lalu bicara dengan ragu-ragu. “Beberapa hari yang lalu diadakan pemilihan istri putra mahkota, tapi sayang anda tidak terpilih.”
Aku mengernyitkan dahi merasa heran, “Lalu? Itu bukan lah masalah besar hanya gara-gara tidak terpilih menjadi calon istri putra mahkota aku langsung sakit.”
Benar-benar konyol.
“Anda mengancam yang mulia kaisar bahwa jika anda tidak terpilih menjadi istri putra mahkota anda akan membelot ke pihak musuh tapi yang mulia kaisar menghiraukan ucapan anda nona. Dan pada akhirnya nona meloncat dari tebing. Syukur nona masih hidup walaupun harus tidak sadarkan diri selama satu minggu.”
Emy mengusap ujung matanya merasa terharu setelah menceritakan hal itu semua.
Sedangkan Aku tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Hanya ada satu kata yang mewakili tubuh ini.
‘Gila!’
###
Setelah selesai mandi aku di pilihkan beberapa gaun cantik oleh Emy. Terlihat dari gaun nya saja sepertinya aku berada di zaman kerajaan eropa.
Ada apa sebenarnya ini, kenapa aku harus terjebak didunia ini.
“Nona kemarilah biar saya keringkan rambut anda”
Dengan perlahan aku duduk di kursi rias. Aku terpaku ketika melihat wajah seputih susu terpampang di bayangan cermin.
“Emy! Apa itu wajah ku?”
Ucap ku heboh, Emy yang sedang menggosok rambut nona nya ini berhenti sejenak.
“Tentu! Apa ada yang salah nona?”
“Nona?”
Panggil Emy merasa heran ketika melihat nona nya yang tiba-tiba menangis.
“Gila, ini gila. Apa aku secantik itu! Ini harus di abadikan! Mana kamera! Mana kamera! Galeri ku akan dipenuhi dengan wajah ini!!” Ujar ku heboh.
Emy terdiam cengo melihat tingkah aneh majikannya ini, “Itu… nona anda harus bersiap turun kebawah.”
‘Aku yakin nona harus di periksa lagi’
###
Aku duduk di samping wanita paruh baya sekitar umur 40 an itu. Dan di ujung kursi khusus untuk kepala keluarga di isi oleh lelaki paruh baya. Di depan ku ada anak laki-laki dan anak perempuan sepertinya mereka berdua kembar.
“Baiklah kita bisa memulai sarapan pagi ini.”
Selama lima menit yang terdengar hanyalah dentingan alat makan, sama sekali tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Daging yang dikunyah seharusnya terasa lembut mudah di makan dan enak tiba-tiba berubah menjadi alot dan hambar. Aku benci dengan keadaan ini.
Aku mengambil gelas disamping berisi air putih dan meneguknya hingga habis, “Hah…” Desah Ku dengan penuh kelegaan. Semua orang berada di ruang makan itu melirik Ku.
“Anastasya, tatakrama mu itu sepertinya masih kurang ya?” tegur lelaki paruh baya tersebut, membuat Ku membenarkan posisi duduk Ku ini. Arah mata ku menatap kedepan sebuah keringat sebesar biji jagung muncul di pelipis Ku ini.
“Sudahlah dia masih tahap pemulihan. Asya kembali ke kamarmu dan istirahat lah.”
Aku bernafas lega mendengar pembelaan dari perempuan paruh baya di samping nya ini. Segera aku berdiri bergegas untuk kembali ke tempat yang paling nyaman yaitu kamar ku.
Aku tidak ingin kembali kesana. Lain kali aku akan menyuruh Emy untuk membawakan sarapan ke kamar.
.....

Comentário do Livro (712)

  • avatar
    nananana

    WOWWW PERFECT SUKAA BANGETT SAMAAA CERITANYA SEMANGAT TERUSS BUAT PENULISNYA BIAR LEBIH BANYAK LAGI CERITA YG KYK GINI😍😍😍😍😍😍

    31/05

      0
  • avatar
    Di Muara Kali Kabur

    saya hidup tidak terlalu baik saya hidup sederhana makan pun Susa kadang dari pagi sampai malam baru kita makan

    03/05

      0
  • avatar
    Jejen Sudrajat

    bgus mnarik

    19/04

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes