Dua belas tahun yang lalu. Ingatanku tentang Karin sedikit memudar. Rutinitas harianku sebagai sales dan menemani hari-hari bersama anak-anak serta istriku, mampu mengembalikan jati diriku yang sempat hilang. Hari ini seperti biasa aku dan Santoso melewati jalanan yang pernah kami lewati ketika pertama kali bertemu Karin. Seperti dejavu saja, rumah-rumah yang tidak banyak berubah, jalanan juga masih lengang seperti dulu. Bangunan dua lantai itu juga masih berdiri kokoh, bayangan kertas S.O.S menari nari dalam ingatanku. Ah Karin, dirimu hadir lagi walau hanya bayangan Suara ponselku membuyarkan lamunanku. "Ya Dek, ada apa? " tanyaku setelah mengetahui bahwa istriku menelpon. "Kak, Aku lupa ..." ucap istriku tak melanjutkan kalimatnya. "Lupa apa?" tanyaku penasaran. "Bentar, perutku gak e ... huek ... huek! " Lagi lagi dia tak menyelesaikan ucapannya. Kulirik Santoso yang tidak sengaja mendengar percakapan kami. Dia tersenyum penuh arti, jangan jangan dia pikir .... "Kak, hallo!" Kembali Runi bersuara. "Ya, hallo Dek, Kamu sakit ya?" tebakku. "Iya Kak, makanya aku mau telpon, karena gak enak badan. Aku mau bilang bahwa aku terlambat .... " Belum selesai dia berbicara, Santoso langsung memotong dengan suara keras. "Wah, selamat buat kalian berdua atas hadirnya calon anak yang keempat ya!" ucap Santoso dengan wajah masih tersenyum. Aku mendelik menatap temanku ini, belum tentukan prediksi dia benar. "Adek telat bulan ini? sudah periksa ke bidankah? " tanyaku. "Kakak, Adek memang telat tapi bukan telat bulan. Adek telat bayar air bulan ini Kak, ini sudah tanggal 21, karena adek lagi masuk angin, jadi tolong mampir sekalian ke kantor PDAM untuk bayar. Kalau lupa takutnya malah kena denda," jelasnya panjang lebar. Air PDAM wilayah kami memang tidak bisa dibayar di counter kalau lewat tanggal 20. Dan jika lewat bulan bisa kena denda. Sepontan aku dan Santoso tertawa terbahak-bahak. Bisa-bisanya dia menebak istriku hamil. "Makanya, jangan suka ngelantur kalau mikir," ucapku masih menertawakan temanku satu ini. "Ya, bagaimana tak curiga, ada kata telat dan ada tanda mual. Apalagi suaminya tak pernah keluar rumah kalau keluar malam," ledek Santoso. Kembali kami tertawa. "Eh, San, Apa kau sama sekali tidak tahu kabar tentang Karin, " tanyaku pada temanku yang paling mengerti diriku. "Mengapa masih mencarinya? Apa kau tergila-gila padanya." Santoso menjawab dengan cuek. Ah dia memang selalu begitu tiap kali kutanya soal Karin. "Tidak juga, hanya penasaran kemana gadis itu pergi, bukankah dia tidak mungkin kembali ke rumah ayah tirinya?" kataku menutupi apa yang pernah kurasakan pada gadis itu. "Berhentilah memikirkan gadis itu, ada istri dan anakmu yang harus kau jaga perasaan mereka." Santoso mencoba menasehatiku. Aku pikir benar yang ia ucapkan, tapi aku ingin tahu saja kabarnya. Apa coba salahku sekedar bertanya kabar. Kami sampai di perusahaan sore hari. Aku langsung pulang karena terpikir olehku Runi sedang sakit. Kuketuk pintu sambil mengucapkan salam. Lalu membukanya, pintu kami tak pernah terkunci sampai menjelang Isyak, kecuali kalau kami semua bepergian. Runi tidak terlihat menyambutku, ke mana dia? Aku menuju kamar kami. Kubuka kamarku, seketika aroma minyak kayu putih menyeruak indra pembauku. Aku melihat istriku meringkuk di atas ranjang dengan selimut tebal. "Sudah pergi ke dokter, Dek?" tanyaku sambil meletakkan tas di atas meja. "Sudah, Kak," jawabnya singkat. "Terus sakit apa kata dokter?" tanyaku lagi, lalu duduk di tepi ranjang kami. "Kata dokter maghku kambuh," jawabnya lesu. "Sering telat makan sih, makanya kambuh," ucapku sedikit menuduh. "Ya Kak, karena pekerjaan rumah tak ada habisnya, sampai lupa waktunya makan, maklum Kak, aku di sini cuma numpang," katanya lemah. Aku menghela nafas berat. Bukan aku tidak tahu, Mama melimpahkan pekerjaan rumah tangga semua pada istriku. Akan tetapi mau bagaimana lagi, dia hanya menumpang. Sudah resiko. Lagi pula Mama yang menanggung biaya makan kami, tagihan listrik juga pembayaran PDAM uangnya dari pemberian Mama meski tugas kami membayarkannya. Uang gajiku kuserahkan dua pertiga untuk Runi, lalu ia gunakana untuk kebutuhan sabun cuci, sabun mandi, dan kebutuhan sekolah anak-anakku. Sepertiganya aku pegang sendiri untuk rokok dan bensin serta kalau ada sesuatu yang mendadak sepeti ban bocor, atau yang lainnya. Aku pikir sakit magh bakal segera sembuh. Nyatanya selama 3 hari kondisi Runi semakin memburuk. Berkali kali dia muntah, wajahnya pucat pasi. "Ayolah Run, kuantar ke puskesmas mumpung hari ini Kakak cuti." Aku mengajaknya pagi itu di hari Sabtu. Runi bangkit bersiap kuantar. "Ma, titip anak-anak sebentar ya" pintaku pada Mama yang sedang ada di dapur. "Ajak saja kenapa Rul, atau titipkan ke Mangorejo. Mama sedang masak ini gak bisa ditinggal nanti malah gosong," tolak mama halus. Mamaku memang tidak suka mengasuh anak kecil. Mau bagaimana lagi, akan kuantar dulu anak-anakku ke Mangorejo rumah mertuaku. Sekembali dari sana baru kuantar istriku. Motorku melaju membelah udara pagi, anak-anak gembira ke rumah mertuaku. Di sana banyak sepupu yang sebaya dengan mereka karena rumah saudara-saudara istriku berada dekat rumah mertuaku. Setelah 10 menit aku sampai tujuan. Kuucapkan salam sedang anak-anak langsung membuka pintu rumah nenek mereka. "Wa'alaikum salam, Arman, Aron dan Arsan, Ayo masuk! " jawab Sarah begitu mendengar salam dan pintu dibuka. "Kakak titip anak-anak ya, mau anter Kak Runi ke Puskesmas," kataku pada Sarah. "Sakit apa Kak, Ayuk Runi?" tanya Sarah. "Biasa, sakit perut," ucapku. Sambil melambaikan tanganku segera kulajukan pulang dan mengantar Runi ke Puskesmas. Kami mendapat antrian nomer 9, kusuruh dia menunggu sementara aku keluar gedung untuk merokok, mulutku terasa asam jika tidak menghisapnya dalam jangka waktu lama. Tak lama ponselku berbunyi, sepertinya sudah selesai. Segera kuangkat untuk menjawab bahwa aku segera ke sana. Sesampainya di depan Runi, aku bertanya, "Sakit apa kata dokter?" "Aku sedang mengandung, makanya obat asam lambung tidak bisa mengurangi gejala," jelasnya. "Kok bisa? padahal 'kan rajin suntik KB tiap bulan?" tanyaku terheran heran, ini kasus langka dan istriku tengah mengalaminya. "Entahlah Kak, kata dokter memang suntik KB tidak 100% berhasil. Allah menghendaki lain dari yang kita inginkan mau bagaimana lagi," kata istriku pasrah. Kami memang bermaksud tak ingin lagi punya anak, karena aku sadar diri dengan gajiku yang tidak seberapa. Apa lagi biaya sekolah yang tiap tahun semakin tinggi membuatku khawatir tidak mampu memberi yang terbaik buat anak-anakku. Sejujurnya aku sedikit kecewa dengan kehamilan ini, tapi aku bisa apa. Tidak mungkin bukan menggugurkannya. Bulan Desember tahun ini aku kecewa dengan kehamilan istriku yang seharusnya aku terima dengan kabar gembira.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 22 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (216)
Gondo KusumaYuliawati
bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...
bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...
08/04
0hasil kakak ini slalu bagus lho 😍
05/03/2025
0Terima kasih telah mengikuti kak
16/04/2024
0Ver Todos