logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 6

Keesokan harinya dengan di dampingi Mama, aku ke rumah Runi untuk mengajaknya kembali. Aku utarakan bukan maksud hati hendak menceraikan, aku hanya tidak sadar pada perkataanku.
Runi mengiyakan ajakan kami, aku tahu masih ada cinta di antara kami. Rumah tanggaku kembali damai.
Aku berterima kasih kepada Karin atas sarannya. Kalau bukan dia menyadarkanku akan pentingnya keutuhan rumah tangga, entah apa jadinya diriku. Namun saat kudatangi kostnya ,dia sudah tidak lagi tinggal di sana. Ada sepucuk surat untukku yang ia titipkan pada tetangganya. Kubuka surat tersebut lalu aku membacanya.
Dear, Kak
Jika Kakak membaca surat ini, berarti aku sudah jauh. Tolong tak usah mencariku.
Aku tidak ingin menjadi perusak rumah tangga Kakak, meskipun rasaku pada Kakak tulus. Aku tidak ingin melukai wanita lain.
Suatu hari nanti akan tiba saatnya membalas hutang budiku padamu.
Kak, maafkan aku jika pergi tanpa pamit. Akulah penyebab rumah tangga Kakak tidak lagi seindah dulu.
Hapuslah rasa di dalam hatimu terhadapku, aku tidak layak dicintai olehmu, karena bagiku, kau dewaku bukan kekasihku.
Kau matahari dalam hidupku, sinarmu bukan untuk kupandangi karena dirimu terlalu menyilaukan. Namun untuk mengisi sisi bagian dalam tubuhku agar aku kuat melangkah.
Akan kubawa rasa ini pergi bersamaku.
Ttd
Karina
Aku terduduk lemas di teras kostnya. Seperti ada lubang menganga di dalam sini, kosong dan terasa sehampa udara siang ini. Begitu cepat Karin memutuskan untuk pergi dariku.
Hari-hariku tak lagi sama , sering aku melamun. Kadang istriku bertanya, namun selalu kujawab, "tidak ada apa-apa."
Suatu pagi, aku terbangun oleh isak tangis di dekat ranjangku. Tentu saja aku heran dan segera duduk, lalu turun dan mendekati istriku yang duduk di lantai bersandar dipan ranjangku. Kedua tangannya memeluk kedua lutut dan membenamkan wajah ke dalamnya.
"Ada apa?" tanyaku lembut. Mataku menelisik tubuhnya dan berhenti pada dua telapak tangan kanannya yang menggenggam secarik kertas.
Aku tarik perlahan kertas tersebut, lalu kubeberkan dan membacanya di dalam hati. Aku terpaku, tidak bisa berkata-kata. Tenggorokanku terasa tercekat, batinku terus merutuki kebodohan dan kelalaianku. Itu surat terakhir dari Karin yang tempo hari kuterima dari tetangganya, ternyata masih ada di saku celana.
"Sejak kapan, Kak? " tanyanya diselingi isak tangis.
Aku menelan saliva. Sebaiknya aku jujur, toh aku tidak pernah melakukan hubungan terlarang. Hanya sebatas saling suka.
"Sejak empat bulan yang lalu, Dik! Kakak minta maaf, sungguh minta maaf." Aku memohon padanya.
"Sejauh apa hubungan kalian?" tanyanya menginterogasiku, jarinya menyeka buliran bening yang tersisa di matanya.
Aku terdiam, lalu menjawab, "tidak sampai melanggar norma-norma agama, hanya rasa dan berbincang bincang, kalau kau tidak percaya tanyalah pada Santoso, dia tahu segalanya."
"Kami juga sudah mengakhiri. Dia wanita yang tahu diri, tidak usah cemburu padanya, karena kau adalah cinta pertama dan terakhirku," rayuku.
Dia menatapku dingin, lalu berkata, "jadi wanita inilah dibalik perubahan emosi Kakak dulu, hingga Kakak menceraikanku?"
Aku balas dengan anggukkan pelan.
"Sungguh, aku menyesal, maafkanlah," ucapku penuh penyesalan.
"Apa Kakak tahu, betapa hancurnya aku, diusir oleh suami sendiri hanya karena masalah sepele?"
"Aku tahu, maaf." Hanya kata itu yang kuulang ulang, karena tiba-tiba perbendaharaan kosa kata yang kuingat lenyap ditelan suasana yang sulit kumengerti.
"Dan akhir-akhir ini Kakak melamun dan sering hilang fokus juga karena dia, 'kan?" cecarnya.
Aku menarik nafas berat. Kembali matanya berkaca-kaca, tangannya meremas dada. Aku bisa merasakan apa yang ia rasa. Sakit yang teramat dalam, lantaran terbakar api cemburu. Ingin kusentuh punggungnya, tapi tak berani. Ternyata begini rasanya bersalah, canggung terhadap istri sendiri.
Ingin kuberanjak dan keluar dari atmosfir yang menyesakkan ini, tapi aku tak berani. Tuhan! Keluarkan aku dari situasi ini, doaku dalam hati.
Suara nyaring ketukan pintu membuyarkan kabut aneh diantara kami. Runi segera beranjak dan menyeka sisa butiran di sela matanya dengan ujung jari.
Oh Tuhan terima kasih, kau kabulkan do'aku.
"Ibu, Bapak, ayolah kita keluar, nenek mengajak kita pergi." Si sulung berteriak dari balik pintu.
Runi segera membuka pintu kamar. Akupun bangkit mengambil handuk untuk mandi pagi.
Ini hari minggu, Mama mengajak kami ke Water Boom. Sudah lama kami tidak keluar bersama. Meskipun Aku masih memiliki papa, tapi beliau sering menghabiskan waktu di kamar pribadinya, bekerja di depan laptop. Aku juga punya seorang adik pengangguran, tapi sudah satu minggu dia tidak pulang. Kata Mama dia ke Riau mengunjungi temannya.
Jadi, Aku, istriku, ketiga anakku dan mama yang keluar rumah.
Jalanan begitu padat, kami tiba pukul 10.00 pagi. Anak anak tampak riang gembira
Arman dan Aron yang usianya terpaut satu tahun selalu saja bertikai untuk masalah remeh-temeh, kadang saling mengejek. Ribut sekali mereka berdua, sering kali aku harus turun tangan menghentikan pertikaian mereka. Beda dengan Arsan yang selalu diam, dan tenang.
Aku tidak terjun ke dalam air. Di samping ribet saat mau mandi begitu selesai dari kolam renang, Aku tak suka antrian yang terlalu panjang di kamar mandi. Jadi aku hanya duduk sambil makan mie seduh instan yang biasa dijual di tempat wisata seperti ini.
Istriku sibuk mengawasi Arsan.
"Bapak! " teriak Arman.
Aku menoleh melihat Arman melambai saat dia terjun meliuk mengikuti liku papan luncur, kubalas dengan lambaian dan senyuman.
"Bapak, sewakan ban air kayak teman-teman ya, " rengek Aron, yang entah kapan sudah didekatku menggamit tangan kiriku.
"Sebentar," ucapku sambil merogoh saku mencari uang pecahan. Kemudian aku bangkit dari duduk, berjalan ke arah lokasi penyewaan ban pelampung.
"Berapa Mang, sewa ban pelampung? " tanyaku pada petugas yang menjaga persewaan.
"Sepuluh ribu, Pak!" jawabnya. Segera kuserahkan selembar uang padanya dan berlalu. Namun tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang ku kenal. Sepertinya Karin.
Kupercepat langkahku, dan segera memberikan ban tersebut pada Aron. Lalu kembali ke arah terakhir mataku mengikutinya. Tadi dia berpakaian hijau berjalan ke arah selatan sebelah kiri penjual baju renang.
Aku terus mengedarkan pandangan.
"Ah, itu dia!" gumamku. Aku percepat takut kehilangan, sedang dia sedang membeli air mineral. Kutepuk pundaknya.
"Ada apa ya?" jawabnya menoleh keheranan, dahinya mengernyit.
"Oh, maaf. Saya salah orang. Saya mengira Tante, istri saya." kataku merendah sambil menangkupkan kedua telapak tangan.
Aduh malunya. Wajahku pasti seperti kepiting rebus, memerah dan panas. Segera aku membalikkan tubuh, tapi lagi-lagi aku tertangkap basah oleh mata istriku yang tengah memperhatikanku dari jauh. Semoga ia tak tahu aku masih mencari Karin. Tanpa kusadari aku masih mengharapkan kehadirannya. Tuhan, tolong bantu aku melupakannya.

Comentário do Livro (216)

  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , kesabaran Runi ada batasnya dari suami yang mau menang sendiri dan salah asuhan ortu...

    08/04

      0
  • avatar
    GustianiSheila

    hasil kakak ini slalu bagus lho 😍

    05/03/2025

      0
  • avatar
    TlkIdes

    Terima kasih telah mengikuti kak

    16/04/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes