Ara masih tersenyum canggung, ia merasa gugup karena pandangan siswa dan siswi di kelas itu sungguh membuatnya tidak percaya diri. Kepala sekolah sedang berbicara pada guru yang mengajar di kelas tersebut. “Ya sudah Ara bapak tinggal ya, semoga kamu betah sekolah di sini,” ucap kepsek sebelum ia pergi meninggalkan kelas tersebut. Ara menganggukan kepala. “Terima kasih Pak.” Seorang guru wanita yang berada di ruangan itu berdiri mensejajarkan dengan Ara, meminta perhatian siswa dan siswi di kelas itu. “Anak-anak hari ini kita ke datangan siswa baru, dan mulai hari ini ia akan berada di kelas ini untuk bersama kita.” Guru wanita itu menoleh ke arah Ara. “Siapa namamu? Ibu dan yang lain ingin mengetahui siapa namamu.” “Iya Bu.” “Hai semuanya perkenalan nama aku Ara Qubilah Iskander, panggil saja Ara.” “Hai Ara!” kata mereka serempak. Ara melihat siswa dan siswi di sana terlihat ramah padanya, dan itu awal yang bagus untuk ia bisa betah bersekolah di sini. “Salam kenal semuanya,” ucap Ara. “Ada yang mau bertanya sesuatu dengan Ara?” Bu guru menawarkan para anak didiknya untuk bertanya dengan Ara. “Ara kamu asli orang mana?” tanya salah satu siswi. “Saya asli orang Turki, lebih tepatnya di kota Istanbul,” jawab Ara. “Ara sudah punya pacar belum?” tanya salah satu siswa yang ingin menggoda Ara. Dan sontak membuat semua bersorak dan suasana menjadi gaduh. Ara tersenyum tipis. “Sudah-sudah cukup bertanya nya, kalian pasti akan bertanya ke mana-mana,” ucap bu guru yang segera mengalihkan pembicaraan. “Ya sudah Ara, silakan duduk di meja kosong di sebelah sana.” Ara mengangguk, dan ia berjalan menuju meja di baris ke tiga sesuai yang ditunjuk oleh bu guru. Ara tersenyum ramah pada salah satu gadis yang duduk di depannya, gadis itu ikut tersenyum tak kalah ramahnya. ‘Sudah aku duga, orang Indonesia memang ramah, tapi tidak semua, ada satu penduduk Indonesia yang berwajah bagaikan memakai masker, ketat terus bawaannya,’ batin Ara yang teringat pada Chandra. Proses belajar kembali dimulai, Ara terlihat serius memperhatikan guru yang memberikan materi, meski ia harus banyak menyesuaikan diri dengan pelajaran, suasana dan orang-orang baru, namun tidak membuat Ara malu, melainkan ia semakin semangat untuk belajar dalam banyak hal. Dan tidak terasa waktu istirahat pun tiba, siswa dan sisswi satu persatu segera keluar dari kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan, sedangkan Ara memilih duduk di mejanya tanpa ingin berniat pergi ke manapun. Ada seseorang yang langsung duduk di depan Ara. “Boleh aku duduk di sini,” katanya berbasa-basi. “Kan sudah duduk,” sahut Ara tanpa melihat lawan bicaranya. “Ohh iya ya. Tapi kalau kenalan boleh dong, perkenalkan nama aku Jo.” Mengulurkan sebelah tangan pada Ara. “Jangan dengarkan perkataannya,” kata seseorang yang ikut angkat bicara. Keduanya menoleh ke sumber suara, seorang gadis cantik dengan penuh karisma berjalan menghampiri Ara dan Jo. “Apaan si lo ganggu saja, nggak bisa liat gua lagi usaha apa ya,” gerutu pria remaja itu. “Banyak gaya lo Jono.” “Apaan si lo Kucrut jangan panggil nama lengkap gua di depan ini cewek, hilangkan karisma gua.” “Nama Jono itu nama yang udah diberikan sama orang tua lo dari orok, seharusnya lo bangga.” “Jo nama gua juga kan,” sangkalnya. “Jono, nama lo J-O-N-O,” kata gadis itu mengeja nama pria remaja itu. Jono mendelik ke arahnya, gadis itu ikut mendelik menantang. Jono meraup wajah sahabatnya itu dengan tangannya. “Peeh! Peeh! Tangan lo bau Jono!” pekiknya. Jono mencium kedua telapak tangannya. “Hehe lupa tadi abis cebok.” “Iihh Jono jorok banget si lo!” Jono sudah mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari sahabatnya itu. Sedangkan Ara ia sudah tertawa melihat tingkah keduanya. Ara senang sepertinya kedua orang yang masih bertengkar itu akan menjadi teman yang mengasyikan. Terlihat satu orang gadis menghampiri kedua manusia yang masih asyik bertengkar, gadis itu terlihat pendiam dan malu-malu, ia tersenyum tipis ke arah Ara, dan Ara ikut membalas senyuman gadis itu. Gadis yang baru datang itu segera menghampiri kedua temannya. “Sehari tidak bertengkar memang tidak bisa ya,” ucapnya dengan suara lembut dan lambat. Keduanya menoleh. “Bella ke mana saja si lo, gue cari lo,” cerocos Fay. “Aku habis dari toilet,” sahutnya dengan logat suara lembut dan lambat. “Haduh Bel lo yang ngomong kok gua yang engap ya, lo ngomong nggak bisa cepatan dikit apa,” kata Jono. “Habis memang aku gini, nggak bisa cepat-cepat Jono.” “Jo, nama gua Jo, jangan ikut-ikutan kaya si Fay ini panggil gua Jono-Jono,” protes Jono. “Memang nama lo Jono,” celetuk Fay. Ara masih memperhatikan ketiganya, layaknya sedang menonton drama, Ara hanya memperhatikan tanpa membuka suara sedikitpun. “Apa kalian masih ingin berdebat? kita ini dari tadi terus diperhatikan tahu,” ucap Bella dengan ciri khas bicaranya yang lembut dan lambat itu seraya ternyum ke arah Ara. Fay dan Jono menoleh bersamaan. “Eeh iya kenapa kita sampai melupakan kehadirannya,” ucap Jono. “Ini kan gara-gara lo Jono.” Jono tidak menghiraukan perkataan Fay, ia kembali duduk di depan Ara. “Jangan dengarkan dua mahluk Astral yang berada di sana, mari kita mulai dari awal lagi.” Mengulurkan tangannya pada Ara. Fay menyerobot uluran tangan Jono. “Kenalin nama gue Fay, F-A-Y.” Ara tersenyum. “Salam kenal Fay, namaku Ara.” Jono menyenggol Fay dan melepaskan jabatan tangan antara Fay dan Ara. Ia menjabat tangan Ara. ”Aku Jo, cowok tertampan di sekolah ini.” Ara terkekeh. “Ara.” Kali ini Bella ikut berkenalan dengan Ara. “Pekenalkan namaku AraBella, panggil saja ...” “Annabelle,” celetuk Jono yang sudah menyela perkataan Bella. “Jono,” protes Bella namun dengan suara lembut. Fay meraup wajah Jono. “Sembarang aja lo Chucky.” Ara tertawa, melihat ketiga sahabat itu, terlihat sering berdebat namun terlihat mereka saling melengkapi. “Mereka memang seperti itu,” kata Bella. “Tidak apa-apa, aku senang bisa berkenalan dengan kalian. Salam kenal semua.” Jono dan Fay menghentikan berdebatan mereka. “Salam kenal juga Ara, kami juga senang berkenalan denganmu,” sahut Fay. Jono kembali mencari posisi duduk ternyaman agar lebih dekat dengan Ara. “Apa mulai saat ini kita berteman? Atau mau lebih? Boleh banget dong Ara, jarang-jarang mendapatkan penawaran dari pria populer sekolah ini.” Jono membusungkan dadanya. Fay mentoyor kepala Jono. “Jangan mimpi lo! Bangun udah siang!” Ara tertawa melihat pertikaian antara Jono dan Fay yang tidak ada habisnya. “Ra dari pada kita di sini, yuk kita ke kantin, sebelum kita terkontaminasi dengan pria aneh ini,” ajak Fay. “Enak saja lo Fay.” Fay tidak memperdulikan Jono yang sedang menatap tidak suka, ia menarik tangan Ara untuk keluar kelas. “Ayo Jo bergabung bersama kami,” ajak Ara. Jono tersenyum lebar. “Tuh denger Fay, jadi cewek kaya Ara, manis. Nggak kaya lo, preman pasar.” Fay mendelik tanpa berkata, ia menarik tangan Bella dan tangan Ara. Selama berjalan menuju kantin, banyak pasang mata yang memperhatikan Ara, dan itu membuat Ara menjadi tidak nyaman. “Tegakan kepalamu Ra, jangan terlihat lemah di depan orang lain, aku beri tahu padamu di sekolah ini masih berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang berkuasa, dan yang lemah akan semakin terinjak,” tutur Fay yang mendapatkan anggukan dari Bella. “Benarkah? ini sekolah atau ajang mencari kekuasaan?” “Keduanya,” sahut Fay dan Bella. Sedikit ngeri mendengarnya, lalu ia menganggukan kepala sebagai jawaban untuk keduanya. Mereka kembali berjalan menuju kantin. Bersambung ....
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 28 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (42)
Aryandri
bagus dan seru ceritanya, lanjut donk KK,.
pengen tau smpe ending ny gmn..😊😊
bagus dan seru ceritanya, lanjut donk KK,. pengen tau smpe ending ny gmn..😊😊
03/05/2022
0lumayan
27/08
0sangat menarik kisahnya
07/07/2025
0Ver Todos