Kali ini aku merasa heran kenapa orang itu mau memberli karya miliku dan lagi seperti ingin sekali memilikinya. Aku terus merasa kepikiran akan hal itu sehingga nyaris saja membuatku merasa ragu untuk menjualnya. Namun, perkataan nenek sebelumnya yang mengatakan untuk memanfaatkan kemampuanku itu, rasanya aku merasa kuat. Setelah beberapa kali aku kembali memikirkan hal itu dan sekarang aku sudah yakin dan memang tidak ada salahnya untuk menjual karya seniku ini. Meski rasanya aku tidak percaya semua ini, tapi aku berharap kalau memang orang itu hanya kolektor semata dan tidak berniat untuk apa pun padaku. Aku langsung merapikannya dan sekarang aku mulai merasa tenang untuk sesaat. Di hari dimana aku semakin merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri dan memang tidak ada beberapa hal yang sudah seharusnya terpenuhi. Aku merasa kalau semua itu sungguh menyebalkan dan sering kali bertengkar dengan isi kepalaku. Disaat hal itu terjadi, aku merasakan getaran emosi yang terus datang dan tidak bisa dihindarkan. Saat itu juga aku sampai tidak tahu lagi harus bagaimana. Setelahnya, aku merasa ada yang salah dengan diriku dan cukup saja sampai sakit kepala. Berbeda dengan waktu itu, kini aku merasa jauh lebih tenang dan setiap saat aku juga sempat mengatakan sesuatu kepada diriku sendiri yang ternyata itu malah menimbulkan hal yang lain. Aku kembali menatap karya seniku dan setelah dipikir kembali aku sampai tidak bisa mempercayai semua ini. Aku merasa sedikit tertekan dan terus bertanya-tanya. Begitu mendengar semua orang mengatakan hal yang baik tentang karya ini, aku menjadi cukup percaya diri. Sampai aku tidak bisa tidur dan terus memikirkan apakah orang itu nanti akan sangat kagum atau malah memperlihatkan wajah kecewanya itu. Pikiran itu terus datang dan sekarang aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Aku malah tidak jadi tidur dan ketika melihat jam yang ternyata sudah malam, aku merasa ini seperti biasanya terjadi kepadaku. “Sial. Aku tidak bisa tidur,” gumam diriku. Sementara itu, saat ini tepat di tempat gadis itu berada. Suasana yang terlihat tenang dengan diiringi lantunan musik klasik. Seorang gadis yang tampak menawan dengan warna mata rubi yang memberikan kesan manis terlihat duduk sambil membaca buku. Tidak lama setelah itu, salah satu pelayan wanita menghampirinya dan kemudian menanyakan sesuatu. Orang itu kemudian menjawabnya dengan tenang seakan mereka berdua sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Pelayan itu langsung memberikan sebuah gambar yang cukup indah dan ternyata gadis itu sama sekali tidak menginginkan gambar tersebut. Gadis itu terus menolak dengan tegas dan kemudian tersenyum. “Sebenarnya ada seseorang yang memiliki karya yang bagus dan aku menginginkannya,” ucap gadis itu sambil tersenyum ceria. “Benarkah? Siapa namanya?” “Entahlah. Orang itu tidak memberitahuku nama pelukisnya. Hari minggu orang itu akan datang sendiri kemari dan aku bisa tahu nanti. Seperti apa orang itu dan kenapa bisa membuat karya seni yang sungguh mengagumkan. Aku penasaran sekali.” “Kalau begitu saya senang mendengarnya. Lalu, apa yang akan anda lakukan dengan semua karya ini?” “Lakukan saja apa yang kau inginkan. Aku tidak peduli.” “Eh?” “Kau bisa membakarnya atau membuangnya itu bukan masalah. Tentukan saja sendiri mau bagaimana pun.” “Ah, baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu.” “Ya.” Pelayan wanita itu kemudian pergi dan sekarang gadis itu kembali melanjutkan kegiatan membaca buku yang tadi. Sementara itu, sekarang ini aku merasa sangat frustrasi yang mana tidak bisa memejamkan mata. Beberapa hal seakan menghalangiku dan kali ini aku cukup merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Aku terus berharapa kalau semua ini tidak ada dan kurasa hanya ada kenyamanan saja. Disaat itu juga diriku sampai tidak bisa lagi melakukan apa pun dan yang ada hanyalah rasa kesal semata. Sekarang aku semakin kesal saja dan tidak tahu kenapa rasanya sungguh memuakan. Tidak lama setelah itu, aku menghubungi temanku dan ternyata orang itu dengan cepat mengangkat panggilan dariku. “Halo?” “Hey, kau masih belum tidur? Apa yang sedang kau lakukan?” “Ya. aku belum tidur. Sebenarnya aku sedang memeriksa beberapa halaman buku yang kusobek beberapa hari yang lalu.” “Apa? kenapa?” “Aku baru saja sadar kalau ternyata bagian materi yang pentingnya terhapus dan sekarang aku harus menulis dari awal. Sial sekali memang.” “Kau ini ceroboh sekali. Kau merobeknya dengan sengaja?” “Tidak. Itu karena kebetulan yang mengerikan seseorang menarik buku ini dan akhirnya sobek.” “Kau selalu bertengkar dengan yang lainnya rupanya. Apa itu karena beberapa waktu yang lalu kau mengatakan kalau orang itu tidak kompeten?” “Ya. Itu benar. karena aku kesal.” “Kau tidak seharusnya mengatakan itu pada orang lain. apa yang sebenarnya kau rencanakan?” “Sejujurnya tidak ada yang kurencanakan. Aku hanya dengan otomatis mengatakannya dan itu mungkin karena aku tidak bisa mengendalikan diriku. Ngomong-ngomong, kudengar lukisanmu ada yang membeli. Siapa itu?” “Kau mendengarnya dari Grace?” “Ya. Aku mendengar percakapan orang itu dengan beberapa orang dan sepertinya mereka akan menjadi pelangganmu berikutnya. Kau harus membuat karya yang luar biasa lagi.” “Tapi itu belum kukirimkan pada orang yang membelinya.” “Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” “Tidak juga. Orang itu bisa bertemu denganku nanti di hari minggu.” “Ah, begitu rupanya. Kupikir karena ada hal lain.” Meskipun aku terus berbincang dengan orang ini, aku masih tidak bisa tidur. Kupikir dengan berbicara terlalu banyak akan menguras tenaga dan membuat diriku lelah ternyata malah salah. Kali ini aku kembali meratapi nasibku yang tidak bisa tidur dari tadi. Meski ada beberapa hal lainnya yang memang sangat mengganggu, aku cukup sadar juga kalau ternyata selama ini orang-orang di sekolah tidak ada yang menghina karyaku dan mereka malah mendukungku itu sungguh ajaib. Tidak lama setelah itu, aku mulai merasa ngantuk dan akhirnya bisa terlelap. Keesokan paginya. Kali ini alarm yang biasanya membangunkanku ternyata tidak berdering. Ketika kuperiksa, baterainya habis. Dengan cepat aku langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Pagi yang cukup cerah dan aku merasa bersemangat sekali hari ini. Setelah selesai bersiap, aku langsung berangkat. Perjalananku hari ini terbilang lebih cepat dibandingkan dengan yang biasanya. Aku merasakan sensasi yang menyenangkan dan itu membuat diriku merasa berbeda. Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan teman-teman yang lainnya dan mereka juga terlihat bersemangat. Begitu memasuki kelas, saat itu juga aku melihat seseorang sedang memarahi seorang murid perempuan berambut pendek yang memakai kacamata. Orang yang memarahinya itu ternyata adalah ketua club menyanyi. Orang itu terlihat babak belur dan aku merasa kalau ini bukanlah kedisiplinan. “Kenapa kalian diam saja?” tanyaku kepada salah satu murid yang lain. “Percuma saja. Kalau membela si kacamata itu, aku juga bisa terkena dampaknya. Karena itulah kami hanya bisa berdiam diri saja dan menyaksikan penindasan ini. kau juga baru datang, jadi sebaiknya abaikan saja dan jangan ikut campur.” “Apa? kenapa kalian ini? apa kalian takut?” “Bukan begitu. Hanya saja kau pasti akan kena masalah.” “Dasar konyol. Apa-apaan ini?” “Hey, maaf menarik tanganmu. Kurasa aku tidak punya pilihan lain untuk menghentikanmu. Kubilang jangan. Sebaiknya kau juga mengerti.” “Sial.” “Aku juga tidak suka melihat itu. tapi, tidak ada pilihan lain.” Orang itu memarahinya sambil menedang kakinya dan membuat perempuan berkacamata itu jatuh. Setelah itu ada beberapa kekerasan fisik yang lain. teman-teman yang lainnya juga rupanya hanya bisa berdiam diri saja dan tidak melakukan apa pun. Sejujurnya ketika aku menyaksikan semua ini aku sungguh tidak tega. Namun, begitu mendengar dari orang itu aku langsung mengerti karena sebelumnya aku merasa ada yang salah dengan ini. Disaat itu juga tidak lama kemudian bel berbunyi dan kemudian terlihat guru mulai berjalan memasuki kelas. Perempuan berkacamata itu langsung pergi ke ruang kesehatan dan meminta izin untuk tidak mengikuti kelas dengan beberapa alasan yang baru saja dibuat. ‘Astaga, waktunya tepat,’ gumam diriku dalam hati. Rupanya hari yang menyebalkan ini sudah dimulai lagi. Aku merasakan beberapa energy jahat yang berkeliaran di ruangan ini. Pikiranku kembali teralihkan dan aku juga sampai merasa tidak semangat lagi. Pagi hari yang sebelumnya penuh dengan semangat kini sudah memudar karena menyaksikan hal yang mengerikan di kelas ini. Sekali melihat saja sudah semakin muak dengan dunia ini yang kebanyakan adalah kejahatan dan tidak ada yang bisa menghentikan itu. Padahal seharusnya tidak perlu sampai sejauh itu dan yang perlu dilakukan adalah menciptakan kedamaian. Waktu tidak terasa sudah istirahat saja. Dan aku mulai berjalan menuju ke kantin untuk makan siang. “Anne. Bagaimana lukisanmu itu? kau sungguh sudah menjualnya?” tanya Irina. “Ya. Aku sudah menjualnya. Tapi belum kukirimkan pada orang yang membeli itu.” “Begitu rupanya. Memang seharusnya kau memanfaatkan kelebihanmu itu. meski sekarang kau mulai menggunakannya, itu juga belum terlambat. Kau masih bisa terus berkembang untuk menjadi semakin luar biasa lagi.” “Wah, kau tidak perlu menyanjungku sampai seperti itu. aku masih harus banyak belajar.” “Tapi kau sungguh luar biasa. Kurasa tidak ada orang yang bisa menyaingimu. Kau itu hanya satu dan semua orang juga mengakuinya.” “Benarkah?” “Tentu saja benar. Aku tidak pernah mengatakan omong kosong padamu.”
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
penuh persoalan
05/02
0baguss
09/07/2025
0wahh kerenn
29/05/2025
0Ver Todos