logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Bab 4

Perkataan Irina itu sungguh membuatku merasa kalau mungkin saja ada yang lebih dariku. Hanya saja, aku merasa kalau itu sebatas menghiburku saja. Setelah kami berbincang satu sama lain, saat itu juga aku tahu kalau sebenarnya ada yang salah dengan hari ini. Ketika beberapa orang lainnya memutuskan untuk mencari keberadaan ketua club menari, hanya aku saja yang merasa kalau itu hanya sia-sia saja karena memang orang itu mungkin tidak ada di sekolah ini. Sejak saat itu juga, aku sudah merasakan ada yang tidak beres dengan semua ini. Situasi yang terasa seperti berada di tengah ancaman seseorang dan ini malah semakin terasa jelas. Dibalik semua itu, aku merasakan kalau ada orang yang sekarang ini sedang menguping permbicaraan kami. Saat itu juga aku berusaha untuk membuktikan firasatku itu, dan ternyata itu benar. Aku melihat seorang murid perempuan sedang memperhatikan kami berdua dan ketika aku melihat ke arah orang itu, rupanya orang itu langsung sadar dan pergi begitu saja. Aku sudah menyangka kalau ini pasti akan terjadi dan ternyata benar adanya. Disaat yang sama juga, aku sudah mulai merasa muak kalau ada orang yang selalu seperti itu. Tidak lama kemudian, aku kembali mendengarkan apa yang dikatakan oleh Irina yang membahas karya seniku ini. Banyak murid juga yang ternyata menanyakan hal yang tidak jauh berbeda sebelumnya tentang lukisan yang kubuat itu. Mereka seperti beranggapan kalau lukisanku memiliki dua arti. Sebenarnya itu bisa diartikan sesuai dengan apa yang ada didalam pikiran orang yang melihatnya atau justru artinya dari pemikiranku saja. Mereka semakin merasa penasaran dengan semua karyaku dan terus bertanya kenapa tidak memamerkan semuanya. Aku mulai beranggapan kalau seandainya aku mengikuti beberapa lomba melukis dan memamerkan karyaku, aku sedikit merasa tidak percaya diri kalau aku bisa. Semua itu terus menghantuiku dan bahkan sampai sekarang. Sudah lama sekali aku tidak pernah membuat karya yang lain dan hanya ini saja yang terakhir kali kubuat.
“Ah, sebenarnya aku sedikit merasa kepikiran dengan itu. mungkin suatu saat aku bisa melakukannya,” ucapku kepada salah satu murid yang terus bertanya.
“Begitukah? Baiklah aku akan menunggu.”
“Apa?”
“Sudahlah. Sepertinya itulah saatnya bagimu untuk menunjukan semuanya dan bersinar terang,” ucap Irina. Murid itu langsung pergi.
“Kurasa aku masih belum bisa.”
“Kenapa?”
“Aku merasa masih belum saja.”
“Jadi kami harus menunggu sampai kau siap? Kurasa itu hanya akan memakan banyak waktu. Sebaiknya kau siapkan diri dan lupakan apa yang buruk dalam pikiranmu itu. kau tidak akan pernah bisa kalau terus saja seperti itu Anne.”
“Kurasa ucapanmu itu ada benarnya.”
“Tentu saja. Setelah lulus dari sekolah ini, kau bisa menjadi seniman. Aku percaya itu.”
“Benarkah?”
“Kau masih meragukan dirimu sendiri ya. astaga kau ini memang keras kepala sekali.”
“Oh ya, satu hal penting lainnya kau harus terus berkarya.”
“Akan kulakukan.”
“Bagus. Bakatmu luar biasa. Kau harus memanfaatkannya jangan sampai kehilangan semua itu. meskipun ada beberapa orang yang kemungkinan besarnya tidak menyukaimu, sebaiknya kau jangan mempedulikan mereka. Kau hanya harus fokus dengan dirimu sendiri. Bukan orang lain.”
“Terimakasih sarannya aku merasa jauh lebih baik sekarang.”
“Ya. Tentu. Ngomong-ngomong, kenapa mereka yang ada di luar berisik sekali?”
“Mereka sedang mencari ketua club menari.”
Irina yang mendengar ucapanku, Irina langsung terdiam. Setelah itu aku melihat ekspresi wajah Irina yang memperlihatkan kalau sepertinya orang ini juga merasa terkejut dengan berita yang sudah tersebar itu. Aku merasa kalau ini seperti permainan petak umpet. Seseorang menghilang dan yang lainnya harus mencarinya. Mereka mungkin sudah merasa lelah karena terus mencari keberadaan orang itu. Hanya saja aku merasa kalau semua ini tidak ada gunanya dan hanya memakan banyak waktu saja. Waktu berbuang begitu saja dan orang yang dicari tidak kujung ditemukan. Rasanya sangat menyakitkan melihat kenyataan yang memang seperti itu. Aku berniat kembali ke ruang kelas. Setelah berpamitan dengan Irina, aku langsung pergi ke ruang kelas. Disaat aku berjalan menuju ke lantai dua, tidak lama setelah itu aku berpapasan dengan dua orang murid perempuan yang terlihat sedang membicarakan sesuatu. Aku mendengarnya tidak terlalu jelas dan setelahnya aku kembali merasa penasaran. Situasi ini sudah tidak aman lagi. Aku melihat yang lain terus merasakan ketakutan seolah mereka beranggapan kalau ini adalah terror. Sesampaiya di ruang kelas, aku melihat ada beberapa orang yang sedang asik sendiri dan mereka seperti tidak peduli dengan situasi ini. Aku juga langsung duduk di tempatku dan kemudian memainkan ponsel sama seperti yang mereka lakukan.
“Anne!” ucap seseorang.
“Apa?”
“Ah, sial. Kau ini disini rupanya. Padahal aku mencarimu.”
“Kenapa kau mencariku? Apa yang kau inginkan?”
“Hah? Tidak ada yang kuinginkan. Aku hanya perlu berbicara sebentar saja denganmu.”
“Bicaralah. Akan kudengarkan sampai akhir.”
“Ini soal lukisan yang kau buat.”
“Kenapa memangnya dengan lukisanku?”
“Sejujurnya ada seseorang yang ingin membeli karyamu itu. Tapi kau bersedia atau tidak untuk menjualnya?”
“Apa kau bilang?” ucapku sambil berdiri saking merasa terkejutnya.
“Ah, maksudku aku tidak akan memaksamu. Sungguh.”
“Siapa orang yang ingin membeli karyaku itu?”
“Eh?”
“Kau bilang ada orang yang ingin membelinya. Jadi katakana siapa?”
“Orang itu tidak sekolah di sekolah ini.”
“Apa? lalu bagaimana bisa tahu soal lukisanku?”
“Karena aku mempostingnya. Karyamu sungguh indah jadi aku membagikan itu di status sosial mediaku.”
“Begitu rupanya. Jadi orang itu melihat statusmu dan kemudian ingin membelinya?”
“Benar. lihatlah. Orang ini terus menerus menghubungiku,” ucap Gracia sambil memperlihatkan pesan yang masuk ke ponselnya itu.
“Astaga. Aku masih tidak percaya. Bagaimana bisa ada orang yang ingin membeli itu.”
“Hah? Kau ini bicara apa sih? Sudah jelas kalau karyamu itu bagus sekali. Karena itulah ada orang yang merasa tertarik untuk memberlinya.”
“Akan kupikirkan lagi.”
“Hey, kau tidak bisa seperti itu. Orang itu sungguh menginginkan karyamu. Kenapa kau malah menyuruh orang untuk terus menuggu?”
“Kau benar. baiklah kalau begitu. Sialahkan saja.”
“Oke. Aku akan memberitahu orang itu.”
Saat ini juga aku masih merasa tidak percaya dengan itu. Meski aku sedikit merasa bingung, aku sudah seharusnya melihat semua faktanya dan menerimanya. Banyak orang yang ternyata cukup tertarik dan itu malah membuat diriku semakin merasakan beban yang luar biasa. Aku seperti seorang manusia yang baru saja tertimpa batu. Rasanya tidak bisa dikatakan lagi kalau itu sudah jelas sekali sangat berat. Aku tidak punya pilihan lain lagi selain mengatakan boleh dan hanya itu yang bisa menolongku. Setelah aku berbincara dengan Gracia, aku sudah tidak bisa tenang lagi dan mungkin orang yang menghubungi Gracia bisa saja menjadi pelangganku. Pikiranku kini sudah mulai terombang-ambing dan ternyata itu berlangsung cukup lama. Aku kembali ke ruangan pameran dan ketika sudah selesai waktu festivalnya, saat itu juga aku memperhatikan karyaku lebih lama lagi dan ketika kulihat lagi ternyata memang cukup mengesankan. Ini pertama kalinya aku mengagumi karyaku seumur hidupku. Setelah itu, aku melepaskan lukisanku dan kemudian membawa benda itu ke ruangan kelas sebelum pulang. Saat itu juga aku melihat pemandangan kelas yang ternyata sudah ramai dan mereka sepertinya sudah bersiap untuk pulang.
“Ah, sudah waktunya pulang rupanya,” gumam diriku.
Tidak lama setelah itu kami pun pulang ke rumah masing-masing. Aku yang sudah berada didepan pintu rumah, begitu membukakan pintu rasanya aku seperti kembali kedalam kedamaian yang biasanya menjadi santapan sehari-hariku. Saat ini juga aku melihat nenek yang ternyata masih bersantai sambil membaca majalah. Pemandangan yang cukup tidak terlalu kusukai. Aku sering kali tidak mengobrol dengan nenek karena memang tidak ada yang harus kubicarakan. Begitu melihatku sekarang, pandangan nenek seolah memperlihatkan kepadaku kalau aku harus berbicara sebentar. Meski sudah lelah aku masih harus berusaha agar tidak menjadi masalah besar. Nenek kemudian meletakan majalah itu dan langsung mengatakan sesuatu.
“Apa itu?”
“Ah, ini lukisanku. Aku membawanya dari sekolah karena ada orang yang ingin membeli ini. karena itulah kubawa.”
“Kau tidak langsung memberikan pada orang yang ingin membeli karyamu itu?”
“Ya. Karena orang itu sedang tidak ada di rumah jadi orang itu memintaku untuk datang di hari minggu dan mengatar ini.”
“Begitu rupanya. Kau sekarang sudah semakin berkembang ternyata.”
“Eh?”
“Lanjutkan.”
“Apa?”
“Bakatmu itu bisa berguna. Kau hanya perlu menggunakannya dengan baik dan itu bisa menolongmu dimasa depan. Kau mengerti apa yang kukatakan?”
“Tentu saja aku mengerti. Terimakasih nenek.”
“Tidak perlu berterimakasih. Itu sudah menjadi bakatmu sejak awal.”
Sejujurnya aku merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh nenek. Aku merasa kalau pada akhirnya nenek bisa mengakuiku. Sebelumnya, aku sama sekali tidak pernah mendapatkan pujian seperti ini dan yang kuterima hanyalah pandangan yang sangat berbeda. Kali ini aku tidak akan lari lagi dan tidak akan pernah menyangkal lagi tentang bakatku. Aku sudah bertekad untuk melakukan yang terbaik dan aku harus membuktikannya. Pikiranku sudah kembali tenang dan saat itu juga aku langsung kembali ke kamarku. Sementara itu, di tempat yang berbeda terlihat seorang gadis sedang membaca salah satu pesan Grace dan tidak lama kemudian gadis itu tersenyum seakan merasa sangat senang.

Comentário do Livro (116)

  • avatar
    zatd

    penuh persoalan

    05/02

      0
  • avatar
    Satira putri

    baguss

    09/07/2025

      0
  • avatar
    prischilahutauruk

    wahh kerenn

    29/05/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes