Ketika aku kembali melihat ke arah orang itu, ternyata aku tidak melihat siapa pun. Saat itu juga aku berpikir kalau mungkin saja apa yang tadi kulihat itu hanya ilusi saja. Aku kembali melihat ke arah teman-teman dan kembali mengerjakan tugas kelompok ini. Mereka terus berpendapat da nada satu orang lainnya yang juga punya pendapat yang kuat. Aku merasa ini hanya akan menimbulkan perang saja dan ketika diperhatikan lagi ternyata dugaanku ini tidak salah. Di saat itu juga aku semakin yakin kalau semua ini hanya akan berakhir dengan pertengkaran yang tidak ada hentinya. Aku sampai tidak habis pikir dengan mereka. Aku juga tidak begitu mengerti kenapa orang-orang ini selalu saja merepotkan. Setelah kami berhasil menemukan ide dan saat itulah kami kembali tenang mengerjakan. Aku sudah tidak tahan lagi dan tidak lama setelah itu aku sungguh merasa pusing. Saat aku kembali, ternyata mereka sudah mulai bubar dan hanya ada satu orang saja yang menungguku. Aku sudah bisa menduga kalau pada akhirnya mereka memang selalu seperti ini. Saat itu juga aku mendekati orang ini dan kemudian melihat apa yang sedang dikerjakan oleh orang ini. Ternyata aku hanya bisa terdiam. Pandangan yang cukup serius ketika mengerjakan tulisannya itu dan aku sempat memperhatikan untuk beberapa lama. Orang ini sungguh berbeda dibandingkan dengan yang lain. Aku juga sampai merasa heran kenapa tidak terganggu dengan kebisingan yang diakibatkan yang lain ketika sedang berkumpul bersama. Tatapan mata yang menunjukan kalau semua itu bukan apa-apa, aku juga sempat merasa terkejut untuk yang kesekian kalinya dan aku juga terkadang merasa penasaran ketika orang ini membuka mulut. Anehnya, orang ini tidak pernah bersuara dan aku juga sempat mengkhawatirkan kondisinya yang mungkin saja sedang tidak baik-baik saja. Aku duduk tepat di depan orang ini dan tidak lama kemudian aku mulai mengajaknya berbincang meski ada rasa canggung diantara kami. Aku hanya bisa membuka percakapan saja. “Wow kau mengerjakan tugas kelompok sambil mengerjakan tugas yang lain?” tanyaku. “Iya.” “Hebat. Padahal itu sangat sulit. Bagaimana kau bisa melakukannya?” “Aku hanya mengerjakan saja seperti biasanya. Kenapa?” “Bukan apa-apa. aku merasa kau sudah bekerja keras. Apa kau tidak mau pulang? Yang lain sudah pulang.” “Masih belum selesai. Kalau kau mau pulang juga tidak apa-apa aku bisa sendiri.” “Tidak. Aku akan tetap disini sampai kau selesai dengan tugasmu itu.” “Kau tidak harus seperti itu.” “Tidak apa-apa. aku juga sedang tidak mau pulang. Rasanya bosan sekali di rumah. Jadi aku ingin lebih terlambat.” “Begitu rupanya.” “Ya. begitulah.” “Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu?” “Apa?” “Ah, ternyata tidak ya.” Seketika ucapan itu terdengar tidak enak ditelingaku. Aku langsung terkejut begitu mendengarnya dan kemudian terdiam. Kurasa ada beberapa hal yang memang hari ini membuatku sangat penasaran akan sesuatu. Aku merasa tidak nyaman dalam sekejap seperti baru saja tertusuk pedang dan sangat menyakitkan. Jatungku masih berdetak dan nafasku terasa berat. Aku mulai berusaha untuk menenangkan diri dan setelahnya memeriksa ponselku. Ternyata perasaan ini sungguh menyiksa sekali. Aku melihat beberapa postingan di sosial media dan ternyata hanya berisi foto narsis orang-orang di kelas. Tidak lama setelah itu aku kembali memasukan ponselku ke dalam tas. ‘Menyebalkan sekali,’ gumam diriku. Aku sudah lama sekali merasa kesal kepada mereka. Terkadang perasaa itu muncul dengan sangat cepat dan kemudian melalap kesadaranku. Kali ini aku berusaha sendiri untuk tidak terpengaruh dan ternyata itu sangat sulit. Disaat yang sama, aku juga berulang kali merasakan hal ini sekaligus ada beberapa hal yang mengganjal dalam pikiranku. Rasanya aku seperti mempermainkan diriku sendiri dan tidak ada akhirnya. Aku juga sampai terkejut dan ternyata semua itu memang kulakukan sampai aku merasakan adanya sensasi yang mengerikan. Aku juga kembali memegangi kepalaku dan rasanya cukup pusing sekali. Tidak lama setelah itu, aku juga melihat ada catatan di meja belajarku. Sambil berjalan untuk mengambilnya, saat ini aku merasa penasaran dengan beberapa hal. Apa yang dikatakan bibi dan ada juga hal lain yang memang sungguh membuatku merasakan sensasi yang aneh. Aku seperti harus mecurigai seseorang dan lagi. Kali ini aku berusaha untuk mengendalikan diriku dan pada akhirnya semuanya hanya sia-sia saja. Aku juga sampai tidak habis pikir dengan itu dan rasanya tidak menyenangkan. Catatan ini berisi tulisan yang tidak kumengerti. Aku kesulitan membacanya karena tulisannya yang terbilang membingungkan. Pada akhirnya aku meletakannya kembali ke atas meja dan kemudian memainkan ponselku. Aku menemukan postingan orang-orang berisik itu dan yang kulihat hanya foto diri mereka sendiri. Meski aku sempat merasakan kekesalah karena ulah mereka, aku juga kembali berpikir kalau rasanya ketika aku pulang dari sekolah seperti ada seseorang yang terus mengawasiku. Rasa penasaran akan hal itu kembali muncul dan kali ini malah membawaku kedalam beberapa teka-teki yang merepotkan. Aku terus berpikir kalau mungkin saja ada yang mengikutiku atau mungkin saja itu hanya perasaanku saja. Kalau dipikir kembali itu mustahil hanya perasaanku saja. Kemungkinan besar itu adalah fakta. Tapi aku juga tidak melihat orang lain mengikutiku. Aku semakin dibuat bingung oleh hal ini dan sampai detik ini aku tidak menemukan apa-apa. “Ah, sialan sekali,” gumam diriku sambil mengehela nafas. Hari itu, ketika seseorang pernah menyaksikan beberapa kejadian yang cukup tidak masuk akal. Aku yang masih kecil merasakan hal yang sama dan saat itu juga hanya bisa terdiam. Seseorang menggandeng tanganku dan kemudian membawaku bersama dengannya. Aku hanya bisa melihat fakta itu dari kejauhan dan tidak ada yang memberitahuku semuanya. Waktu terus berjalan bahkan lebih cepat dibadingkan seharusnya. Perasaan itu selalu muncul didalam hatiku. Pertanyaan memenuhi kepalaku dan aku lagi-lagi tidak bisa melakukan apa-apa bahkan aku juga tidak bisa bertanya kepada siapa pun saat itu. Rasanya serba salah dan itulah yang kurasakan. Meski kejadian yang membuat semua orang merasa takut itu muncul di depan semuanya, aku sama sekali tidak mengerti dengan itu. Diriku yang masih berada di masa lalu sungguh tidak berdaya. Setelah aku menghela nafas lagi dan kemudian melihat ke arah sekitar, rasanya baru saja aku mulai kembali dengan keinginan terdalam untuk mengetahui beberapa hal yang selama ini tidak pernah kutahu. Aku terus merasakan rasa penasaran itu bahkan nyaris membunuh diriku sendiri. Ketika aku menahan semua itu, aku benar-benar tersiksa dan ambisi ini memenuhi pikiranku kali ini bersamaan dengan beberapa hal lainnya. Sudah lama sekali aku tidak sampai begini. “Aku harus bagaimana lagi?” gumam diriku. Beberapa kali aku kerap merasakan hal ini dan terus saja seperti ini. Sebenarnya sudah lelah dengan semua ini dan aku hanya bisa terus bernafas saja. Disaat yang sama juga aku merasa kalau ini pasti terus saja berulang-ulang seperti siklus rantai makanan. Disaat itu juga aku tidak mengerti dengan semua ini. Aku merasa kalau pada akhirnya aku akan kalah oleh rasa penasaran ini. Tidak terasa sekarang sudah mulai malam. Aku hanya berbaring saja seharian setelah pulang dari sekolah. Saat itu juga terdengar suara bibi yang sepertinya sedang berbincang dengan seseorang di ruang tamu. Aku tidak mau melihatnya. Aku berpikir kalau bergabung dengan mereka, sepertinya hanya aku sendiri saja yang tidak akan mengerti dengan pembahasan obrolan mereka. Aku memutuskan untuk berada di ruangan kamarku saja karena ini terasa damai. Berbeda dengan sebelumnya. Aku juga sempat melihat sekilas orang yang bersama dengan bibi dan orang itu seperti dokter pribadi. Tidak mau berasumsi aneh, aku mengubur pemikiranku itu dan kembali ke kamarku dengan santai seperti biasanya. Aku juga tidak mengataka apa-apa ketika makan malam bersama. Mendengar nenek yang terus berbicara nyaris membuarku tidak ingin berkata-kata dan ternyata itu sampai berlangsung lama. Aku sudah menyerah dengan ucapan yang keluar dari mulut nenek karena terus saja seperti itu. Ketika aku kembali ke kamarku, aku mendengar bunyi ponselku dan ketika dilihat ternyata ada panggilan masuk. “Halo?” “Hey, kau kemana saja?” “Apa?” “Akhir-akhir ini kau tidak pernah datang lagi ke perpustakaan. Apa kau sudah tidak suka lagi membaca?” “Ah, sebenarnya aku hanya sedang sibuk dengan tugas sekolah saja. Mungkin lain kali aku akan datang kesana lagi. Ngomong-ngomong nona Jasmine, kurasa ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu.” “Apa itu? katakan saja. Kau bisa bertanya kapan pun kau mau.” “Aku merasa penasaran dengan sesuatu yang mustahil.” “Hah? Kau ini sedang bicara apa?” “Begitulah. Kurasa sebaiknya kita bertemu saja.” Memang benar, kalau beberapa hal tidak bisa dimengerti orang lain. Aku sudah menduga kalau ternyata semua ini memang rumit dan tidak ada gumanya pergi mencari tahu sampai sedalam itu. Tapi, aku masih ingin tahu lebih banyak lagi. Perasaan bimbang lagi-lagi muncul. Aku sudah menduga kalau sebenarnya aku memang tidak bisa melangkah lebih jauh untuk mendapatkan apa yang membuatku merasa penasaran itu. Kali ini rasa kecewanya tidak bisa dihindarkan. Aku sudah sampai seperti ini. Saat itu, aku juga merasakan kalau ada orang yang memang mengawasiku tapi siapa orang itu dan dimana orang itu sampai detik ini tidak ada jawaban.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
penuh persoalan
05/02
0baguss
09/07/2025
0wahh kerenn
29/05/2025
0Ver Todos