Hari yang begitu indah. Saat ini aku berada di bawah sebuah pohon yang rindang melihat indahnya pemandangan didekat danau. Suasana yang terasa damai membuat hatiku ikut damai. Kali ini, aku yakin dengan beberapa hal yang sebelumnya dikatakan oleh bibi Susan. Aku hanya bisa mendengarkan semua cerita itu tanpa pernah bertanya langsung kepada bibi. Kurasa itulah yang sampai saat ini selalu saja tidak pernah bisa lepas dariku. Matahari mulai meninggi, aku langsung bergegas pergi. Ketika aku berjalan dengan cepat, saat itu juga aku merasa ada yang salah dengan diriku ini. Kenapa rasanya mendebarkan seolah aku seperti punya penyakit jantung bawaan. Sampai di depan kediaman nenek, aku memasuki rumah ini dan saat itu juga bibi Susan melihatku. Pandangan yang kulihat masih sama ramahnya seperti biasanya, saat itu juga aku sampai merasa lega kalau memang aku sudah kembali dengan selamat. Sejak saat itu, aku hanya hidup di rumah ini tanpa pergi jauh. Rasanya memang membosankan. Aku merasa ada dinding pembatas yang memang menghalangiku dan aku ingin sekali meruntuhkan itu. Sampai suatu hari yang memang hanya untuk diriku sendiri dan aku ingin menikmati semua itu. Tapi, semua itu hanya menjadi khayalan belaka dan tidak pernah terjadi. Kali ini aku memasuki kamarku dan seperti biasanya aku membaca beberapa buku yang menurutku cukup menarik. Dari semua hal yang selama ini kulakukan, aku tidak pernah melakukan beberapa hal yang mengagumkan seperti layaknya orang lain. Terkadang aku juga sangat frustrasi akan hal itu dan malah semakin membuatku yakin kalau pada akhirnya aku memang tidak bisa melarikan diri dari sini. Beberapa menit setelahnya, aku baru ingat kalau ada beberapa hal yang harus kubicarakan bersama dengan temanku. Aku langsung bergegas dan kali ini aku sudah memutuskan untuk bertemu dengan orang itu di café yang tidak jauh dari sini. Sambil berjalan menuju kesana, aku semakin merasa penasaran akan sesuatu yang selama ini nyaris membuatku gila. “Kau sudah lama menunggu?” “Ah, aku juga baru saja sampai. Duduklah Anne,” ucap Yolanda. Seorang gadis yang tidak lain adalah teman Sekolahku. “Aku sudah bilang sebelumnya kalau ada beberapa yang ingin kubicarakan denganmu.” “Aku tahu. Tapi ini tidak seperti biasanya. Aku merasa kau sedang dalam masalah. Apa perkiaanku ini benar?” “Tidak. Tidak masalah apa pun. Aku hanya merasa penasaran saja dengan beberapa informasi yang beredar belakangan ini.” “Kau penasaran dengan informasi itu? kurasa itu bukanlah hal yang serius.” “Apa kau bilang?” “Dengar, beberapa orang memang sedang membicarakan rumor itu dan ketika aku mendengarnya dari mereka, rasanya aku mual dan sepertinya itu hanya informasi yang sengaja dibuat-buat.” “Kau yakin dengan itu?” “Aku yakin sekali. Tapi, terkadang aku juga merasa penasaran sama sepertimu. Hanya saja, aku kembali ke opini awal. Kurasa itu hanya konspirasi yang memang sengaja dibuat untuk menggemparkan semua orang. Kau tahu sendiri bukan kalau kebanyakan mereka selalu saja seperti itu tidak ada habisnya. Jadi aku berpikir begitu.” “Begitu ya? sepertinya aku juga tidak jauh berbeda dengan mereka yang langsung terpancing hanya karena ucapan yang menggemparkan itu.” “Oh iya, bagaimana dengan tugasmu?” “Oh, aku sudah hampir menyelesaikannya. Aku merasa kalau terus ditunda rasanya menjadi beban pikiran.” Meski aku merasa ada yang aneh dengan opini yang lain, aku merasa kalau rasa penasaranku kali ini mungkin saja akan membunuhku. Aku menjadi heran dengan beberapa hal itu dan malah ada yang harusnya tidak seperti itu. Beberapa menit setelahnya aku merasa ada yang salah. Seolah dunia ini memang sudah terkontaminasi. Pikiranku kembali mengarah kedalam hal yang rumit dan kali ini aku merasa sakit kepala. Sudah lama sekali aku terus seperti ini dan kali ini sungguh sangat berbeda dibandingkan dengan biasanya. Kurasa ada sesuatu yang sudah lama sekali menekan diriku ini. Aku hampir menjadi tidak terkendali begitu aku sendirian berada di kamarku. Pikiran yang kacau dan sakit kepala yang datang bertubi-tubi ini malah menjadikan kepalaku terasa berat. Aku terus berusaha untuk terlihat biasa saja dihadapan Yolanda karena tidak perlu membuat orang itu mencemaskan diriku ini. Saat ini kami terus berbincang ringan dan sesekali membicarakan beberapa cerita yang belum lama ini dibaca. Aku hanya mendengarkan ucapan Yolanda. Semangatnya ketika menceritakan novel yang sudah dibaca oleh Yolanda itu membuatku merasa kalau kami memang memiliki kesamaan. Sudah banyak juga novel yang kubaca dan rasanya semua itu tidak ada yang istimewa. Rata-rata berakhir dengan tragis dan itu malah membuatku merasa aneh kenapa harus seperti itu. “Jadi, sebenarnya kau sudah membaca semua itu dan kemudian membaca lagi dari awal?” tanyaku kepada Yolanda. “Ya. karena aku menyukai beberapa agedan didalam cerita itu, aku kembali membaca novel itu sampai merasa bosan. Seperti halnya mendengarkan musik baru dan kau pasti akan terus mendengarkannya sampai bosan dan kemudian mengganti lagu itu dengan yang lain. kurang lebih aku juga seperti itu.” “Ngomong-ngomong, apa tidak ada orang yang mengatakan sesuatu yang lainnya?” “Hah? Apa maksudmu?” “Misalnya ada yang membicarakan seseorang atau semacamnya.” “Kau penasaran dengan rumor yang dibicarakan oleh anak-anak di kelas?” “Benar.” “Astaga. Kupikir karena apa. ternyata kau ingin tahu omong kosong mereka.” “Omong kosong?” “Ya. mereka terus menyebarkan hal yang tidak berguna hanya untuk menarik teman. Aku sudah lama mengawasi beberapa dari mereka dan kebanyakan membicarakan orang yang membuat mereka iri. Aku juga sampai tidak habis pikir dengan tingkah mereka yang sungguh menjijikan itu. menurutmu, kau masih merasa penasaran dengan ucapan orang-orang itu?” “Entahlah. Kali ini sepertinya aku sudah berubah pikiran.” “Baguslah. Setidaknya kau masih berpikir dengan jernih tidak seperti yang lain yang sudah masuk kedalam jebakan mereka.” “Tapi, sejujurnya aku sama sekali tidak tahu tentang orang-orang yang ada didalam kelas. rasanya aku tidak pernah mengenal semua orang dengan benar.” Meski aku mengatakan beberapa kejujuranku dihadapan Yolanda, aku juga merasa bersalah atas diriku yang sungguh menyebalkan ini. Aku sampai tidak tahu lagi harus bagaimana setelah itu dan rasanya seakan berada dijalan buntu. Aku kembali kedalam kesendirian meski sebenarnya ramai sekali orang-orang disekitarku. Hanya saja, aku tidak bisa melihat mereka dengan nuraniku. Aku terus membayangkan banyaknya hal yang mengerikan sampai aku tidak bisa mengendalikan diriku dan kemudian mengisolasi diri. Yolanda mungkin tidak perna tahu tentang hal itu karena aku tidak pernah memberitahu semua kepada Yolanda. Sekarang pun sama saja. Aku merasa duniaku sungguh aneh dan tidak bisa kutinggalkan. Seperti terus menempel padaku. “Oh iya, kalau kau punya novel baru, aku ingin pinjam. Apa boleh?” tanya Yolanda. “Tentu saja. Kau boleh meminjamnya.” “Terimakasih. Kau memang yang terbaik.” “Aku juga tidak bisa datang ke acara itu. kurasa aku hanya akan datang kalau memang itu penting.” “Eh? Bukankah kau sudah setuju? Terus kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran begitu?” “Tadinya aku memang ingin ikut tapi setelah kupikirkan lagi, ada beberapa hal yang harus kulakukan di rumah. Aku bisa kena marah kalau terus pergi dan itu bukan alasan.” “Ah, ternyata keluargamu memang keras ya. aku mengerti kalau itu memang alasanmu tidak jadi ikut pergi. Sayang sekali kau tidak jadi datang.” “Ya, aku juga sangat menyesalinya.” “Kau tidak perlu menyesal. Mungkin memang benar kalau acara itu tidak terlalu penting dan ketua kelas orang yang cukup berlebihan. Tidak seharusnya begitu.” “Kau merasa itu berlebihan?” “Ya. apanya yang bagus dengan itu?” “Kupikir kau tidak akan pernah mengatakan seperti itu.” “Apa? kau pikir aku ini orang yang idealis dan berprinsip tinggi? Tentu saja aku hanya orang yang rasional saja.” “Ternyata kau mengakui dirimu semudah itu.” “Harus. Kalau tidak kau hanya akan menjadi bahan tertawaan orang lain. kau harus percaya diri walau sebenarnya kau sangat insecure.” “Benar juga. Aku setuju dengan pendapatmu itu.” Waktu terus berjalan. Kali ini aku sudah pulang ke rumah dan di saat ini aku juga melihat nenek dan bibi Susan yang dari tadi terus memandangiku. Mereka kemudian menyuruhku untuk duduk dan saat itulah pembicaraan seperti biasa dimulai. Aku sampai tidak mengerti dengan ucapan keduanya. Sampai sekarang aku juga tidak mengerti kenapa mereka mengatakan hal semacam itu terus menerus bahkan tidak ada habisnya. Setelahnya, aku kembali ke kamarku dan melihat suasana di dalam kamarku ini yang ternyata jauh lebih baik dibandingkan dengan diluar sana. Aku sampai tidak habis pikir kenapa aku sebegininya dengan hiduku. Aku merasakan sesuatu yang sungguh berbeda. “Perasaan macam apa ini?” gumamku dalam hati. Keesokan harinya. Kali ini aku bersama dengan yang lainnya mengerjakan tugas kelompok yang memang cukup merepotkan. Aku sampai tidak bisa berpikir dengan jernih karena ini membuatku pusing. Tidak lama kemudian, tidak terasa sudah hampir selesai dan aku nyaris merasa lega. Di saat yang sama juga aku terus melihat ke arah orang-orang yang berada di kelompok lain karena sepertinya terlihat mencurigakan. Tidak terasa sudah selesai dan sekarang aku kembali ke tempat dudukku dan mulai menenangkan diri. Hari ini cukup menguras pikiranku. Saat itu aku melihat seseorang yang seakan seperti melihatku namun dengan pandangan yang berbeda.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
penuh persoalan
05/02
0baguss
09/07/2025
0wahh kerenn
29/05/2025
0Ver Todos