Kencana Emas sedikit tertegun melihat Permata Siluman yang baru saja ditemukan dari potongan tubuh Siluman yang sudah tidak berbentuk didepannya. Terlihat Permata Siluman itu sedikit berbeda dari biasa, warna merah menyala menunjukkan jika itu merupakan Permata Siluman yang sangat langka tidak seperti Permata yang biasa dia jumpai. Pandangan Kencana luas menelisik keberadaan Lembah Siluman, kini dirinya sedikit merasa yakin jika tempat ini merupakan tempat yang ingin dijumpainya. Mimpi Kencana Emas seolah menjadi kenyataan ketika berhasil menginjak tanah Lembah Siluman. Hampir 1 tidak, mungkin 2 menit Kencana terdiam sambil memegangi Permata Siluman. Dirinya seakan lupa tentang keberadaan Lengkukup seolah ingin membiarkannya mati begitu saja dan melanjutkan perjalanan seorang diri. “Apa kalian pikir Lengkukup akan mati begitu saja? Tentu saja tidak.” Kencana beberapa kali berfikir sambil menggelengkan kepala pelan seolah ada orang yang sedang berbisik, Kencana segera berlari dengan cepat dan dalam hitungan detik sudah berada dihadapan Lengkukup. Kencana lalu meletakkan permata siluman ditelapak tangan Lengkukup dan beberapa kali menarik nafas dalam dalam, dirinya sedang bersiap membantu Lengkukup menyerap permata siluman menggunakan sisa tenaga dalam yang dimiliki. Hampir 10 menit berlalu tubuh Lengkukup perlahan membaik, wajah yang tadinya seperti orang mati kini sudah sedikit menampakkan cahaya kehidupan, bahkan luka yang tadinya masih menganga perlahan menyatu dengan sendiri tetapi tidak dengan Kencana. Dirinya seolah mempertaruhkan nyawa, seluruh kekuatan bahkan tenaga dalamnya terkuras habis, perlahan tubuh Kencana terasa dingin, pandangan Kencana mulai memudar diiringi tubuhnya yang perlahan jatuh menyentuh tanah. Kencana tidak sedikitpun merasa jika itu akan merugikan dia, justru hal itu membuat Kencana merasa bahagia, mempertaruhkan nyawa demi seorang anak yang masa depannya masih panjang merupakan suatu pencapaian yang sangat tinggi bukan?. Tentu hal itu tidak bisa dilakukan oleh banyak orang Kencana sedikit berharap kepada Lengkukup, jika dirinya tidak bisa melanjutkan pencarian Kitab Surgawi maka Lengkukuplah orang satu satunya yang berhak. Kencana merasa dirinya akan segera menemui ajal karena hampir seluruh tubuh tidak bisa digerakkan kecuali mata, dirinya perlahan menutup mata ketika nafas mulai berat karena sejak pertama kali Kencana menginjak Lembah Siluman Kencana sudah merasakan jika tekanan udara disana sangat berbeda bahkan udaranya terasa sangat hangat dan pengap. “Ayah, ibu… guru, aku akan menyusul kalian, biarkan anak ini yang meneruskan ambisiku untuk menjadi pendekar no 1 didunia persilatan.” Batin Kencana kembali berbisik, Kencana merasa dirinya akan memasuki alam baka. Disisi lain tampak sosok Siluman Rubah Api sedang memperhatikan Lengkukup dan Kencana Emas sedang terbaring, dirinya juga sudah melihat dengan jelas Kencana Emas berhasil membunuh siluman itu dengan sangat mudah. Dia menduga jika mereka bukanlah orang sembarangan. “Siapa mereka?” Gumam Siluman rubah api yang terlihat dapat berbicara. Didalam dunia siluman terbagi menjadi 2 golongan, mereka mempunyai tugasnya masing masing. Dua Golongan ini memiliki watak dan paras yang berbeda, golongan pertama memiliki tubuh seperti manusia dan dapat berbicara serta mampu menyerupai siluman lain mereka hidup berkelompok serta memiliki kerajaannya masing-masing. Golongan yang kedua terdiri dari 2 jenis diantaranya setengah manusia yang dapat berbicara sedangkan yang terakhir seperti hewan mitologi golongan ini tidak dapat berbicara dan hidup menyendiri. Beberapa waktu berlalu ketika matahari semakin terik menampakkan kobaran yang siap membakar kulit setiap manusia yang menantangnya. Rubah api itu memperhatikan dengan seksama keadaan Kencana Emas dan Lengkukup sambil beberapakali memutar kepalanya, dia merupakan kelompok golongan pertama tetapi sedang menyerupai siluman rubah yang memiliki api disekeliling tubuhnya. Melihat keadaan mereka berdua sangat memprihatinkan meski salah satu dari mereka telah membunuh satu diantara golongannya. Rubah api itu tetap merasa iba kepada Kencana dan Lengkukup yang terlihat sedang membutuhkan pertolongan. Rubah api itu membawa Kencana serta Lengkukup menuju kearah sebuah gua yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang. Akan tetapi Rubah api itu tidak sampai membawa Kencana dan Lengkukup masuk kedalam melainkan halnya disamping bibir gua. Dia ingin membantu lebih banyak tetapi bingung harus berbuat apa, dirinya hanya bisa menduga jika Kencana dan Lengkukup hanya kelelahan saja. Tanpa pikir panjang Rubah api itu menyalurkan sedikit Ki kedalam tubuh Lengkukup dan Kencana Emas yang membuat reaksi pada tubuh Kencana. Didunia persilatan Ki merupakan sumber tenaga dalam, tetapi berbeda dengan tenaga dalam yang biasa digunakan. Ki adalah aliran energi yang masih murni dan tidak bercampur dengan lingkaran tenaga dalam yang dimiliki setiap orang. Ki yang dialirkan oleh siluman rubah api itu perlahan menyerap kedalam tubuh Kencana, dirinya perlahan membuka mata tetapi masih sangat berat. Kencana beberapa kali memejamkan mata seraya berkata,” Apakah aku sudah dialam baka?” ucap Kencana sambil memperhatikan sekelilingnya. Kencana terkejut ketika mendapati Lengkukup yang masih terbaring, “Apakah anak ini juga ikut mati bersamaku? Bahkan ada siluman rubah disini…” Gumam Kencana ketika dirinya melihat siluman rubah berada didekatnya. “Kau belum mati…” “Siapa yang berbicara?” “Aku…” Kencana sedikit membuka matanya lebar sebelum bereaksi,” Bagaimana bisa siluman dapat berbicara bahasa manusia?” Kencana bertanya tetapi tidak dijawab, Kencana tentu tidak tinggal diam dia mencabut kembali pedang Pusaka yang masih digengamnya seraya menghunuskan pedang itu kepada Siluman Rubah. “Siapa kau sebenarnya?” “Maaf aku tidak berniat mengganggu, tetapi sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum siluman yang lain berdatangan untuk membunuh kalian…” “Aku tidak mengerti, Kau…. Hei kembali…!!” Kencana berseru lantang ketika melihat siluman rubah api telah meniggalkan mereka sangat jauh, Kencana menduga bahkan kecepatannya jauh melebihi ilmu meringankan tubuh miliknya, Kencana ingin mengejar bermaksut untuk mencari informasi, tentu kesempatan yang sangat jarang terjadi ketika mendapati ada siluman yang mampu berbicara seperti itu. Kencana merasa sangat senang mendapati dirinya belum mati tetapi pandangannya tertuju kepada tubuh Lengkukup yang masih terbaring ditanah membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Kencana mendekati Lengkukup perlahan, dirinya memeriksa nadi Lengkukup berharapLengkukup baik-baik saja. Akan tetapi kali ini justru membuat Kencana hampir mati dibuatnya, tidak hanya Lengkukup yang semakin membaik keadaannya namun didalam genggaman tangan Lengkukup terdapat 5 Permata Siluman bermerah kehitaman yang ukurannya cukup besar. Kencana tentu tidak menyianyiakan kesempatan didepan mata, dirinya mengambil satu permata siluman dan segera menyerapnya menggunakan tenaga dalam. Kencana tidak percaya jika tenaga dalamnya bisa kembali sangat cepat, Kencana hanya menduga jika itu merupakan keberuntungan yang masih berpihak kepadanya. Tidak perlu waktu lama permata siluman berhasil diserapnya dengan sempurna, kondisi tubuhnya jauh lebih baik bahkan tenaga dalam yang dia miliki sudah kembali seutuhnya. Kencana memiliki 50 lingkaran tenaga dalam, jumlah yang cukup banyak untuk seorang pendekar aliran putih. Setiap lingkaran biasanya membutuhkan waktu 1 tahun untuk mendapatkannya tetapi Kencana hanya butuh waktu 20 tahun saja dirinya berhasil mencapai 50 lingkaran itu merupakan pencapaian yang sangat tinggi.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita nya bagus sy suka
22/12
0bagus
03/10/2024
1bagus
16/02/2023
0Ver Todos