Beberapa waktu yang lalu Kencana melesat kedalam hutan, rupanya berusaha menyelinap kembali ke dalam desa untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal, terlebih dirinya meninggalkan Pusaka Langit dibawah tempat tidurnya. Tidak butuh waktu lama Kencana sudah berada tepat di depan pintu, akan tetapi belum sempat Kencana menggerakkan kaki sebelah kanan, tiba-tiba sepuh desa memanggil dirinya. Sontak hal itu membuat Kencana menjadi waspada serta bertanya-tanya, ada perlu apa sepuh tua itu datang menemui dirinya, padahal sudah larut malam. Namun Kencana menebak jika sepuh tua itu ada sesuatu yang akan disampaikan, terlebih untuk meminjam uang karena sudah terbiasa sepuh itu meminjam uang tanpa mengembalikannya. Namun dugaan Kencana ternyata salah, rupanya kedatangan sepuh itu ingin mengatakan jika keluarga Gianjoyo dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan secepat mungkin. Dirinya mengatakan jika, para penduduk tidak ada yang berani menolong karena musuh yang akan di hadapi sangat kuat. “Berbaik hatilah…” ucapnya lirih. Mendengar hal itu Kencana sedikit menaikkan alis, seolah mencari jawaban atas perkataan dari sepuh itu, Kencana menduga jika dalang di antara itu semua tidak lain ialah Gamya dan muridnya. Kencana berusaha mencerna keadaan, sambil memikirkan langkah yang tepat untuk menanggapi perkataan dari sepuh itu. Sesaat Kencana sempat ingin membuka mulut, akan tetapi kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan, dan melanjutkan langkah tanpa menoleh ke belakang.
Suara pintu tertutup dengan keras, sedikit membuat sepuh merasa kecewa melihat sikap yang diberikan Kencana kepadanya, karena tidak memiliki kesempatan sepuh itu hanya bisa pasrah dan menggelengkan kepalanya pelan lalu meninggalkan rumah Kencana. “Sungguh malang, aku akan memberikan pemakaman yang layak buat kalian…” gumamnya seraya menoleh kearah langit. Namun baru beberapa langkah sepuh itu hendak pergi, tiba-tiba Kencana keluar dengan sedikit tergesa-gesa. Langkah kaki Kencana sempat terhenti ketika melewati sepuh itu yang masih berada tidak jauh dari tempat tinggalnya, pandangan mereka bertemu sesaat sebelum kembali melanjutkan langkah. Kencana menganggap, jika itu merupakan tanda perpisahan mereka, tidak jauh berbeda dengan sepuh itu, dirinya tersenyum penuh arti meski memiliki hutang namun dirinya berjanji akan membayarnya di kehidupan berikutnya. Karena merasa tidak memiliki urusan lagi, Kencana melesat menggunakan jurus meringankan tubuh, meski tidak begitu tinggi namun itu lebih dari cukup. Kencana bahkan hanya membutuhkan beberapa tarikan nafas untuk tiba di kediaman Gianjoyo, “Sepertinya aku terlambat…” batin Kencana lirih, ketika melihat pemandangan yang tidak sedap untuk dilihat mata. Bau amis menyebar di udara, terlihat Gianjoyo dan Kirana sudah tidak bernyawa, akan tetapi tidak ada orang lain disana termasuk Lengkukup anak Gianjoyo yang tidak terlihat dilokasi. Hal itu sedikit membuat Kencana merasa cemas tentang keberadaan Lengkukup, dirinya berusaha mencari di sekitar rumahnya namun tidak menemukan jejak apapun. Beberapa menit berlalu Kencana mencari ke segala arah namun belum sempat dirinya berfikir terlalu jauh, tiba-tiba datang seorang pria berlari kearah dirinya sambil meminta pertolongan. “Tuan Kencana, tolong Lengkukup anaknya Gianjoyo dia sedang dalam masalah” ucapnya. Pria itu merasa ingin memuntahkan isi dari perutnya, ketika melihat Gianjoyo sudah terbunuh terlebih Kirana yang kepala dan tubuhnya terpisah membuat pemandangan menjadi sangat mengerikan. Melihat reaksi dari pria itu, Kencana tidak begitu menanggapi melainkan meminta sedikit arah kemana dia harus pergi. Namun pria itu tidak menjawab perkataan dari Kencana karena mulutnya sedang menahan isi perut yang ingin keluar. Dengan jarinya dia menunjuk kearah selatan yang membuat Kencana langsung menuju arah yang dimaksud. Tidak sampai satu menit, Kencana berhasil tiba dilokasi yang menjadi tempat keributan sedang berlangsung. Terlihat Gamya juga sudah berada dilokasi yang sama, dirinya tertawa dengan lantang melihat Kencana menyusul nya. “Seorang pendekar aliran putih memang tidak bisa melihat rekannya dalam bahaya…” ucap Gamya menyeringai. Kencana berusaha tenang, dirinya memang sudah terlambat akan tetapi itu semua bukanlah akhir, kini Kencana berharap bisa menyelamatkan Lengkukup dengan pertaruhan hidup dan mati. Kencana mengetahui pasti, untuk mengalahkan Gamya tidak semudah membalikkan telapak tangan, jurus ilusi yang dimilikinya menjadi andalan Gamya dalam sebuah pertarungan. Kencana menebak jika Lengkukup sudah terkena jurus ilusi milik Gamya, hal itu terlihat dari gerakan Lengkukup yang berjalan kearah musuh. Xue sebenarnya dapat dengan mudah membunuh Lengkukup namun karena gurunya, Xue tidak ingin mendapat masalah jika dirinya bertindak gegabah. Di satu sisi Gamya menebak jika Kencana tidak akan kabur setelah mendapatkan sandera. Gamya merasa dirinya menang dan berharap mendapatkan Pusaka Langit dari tangan Kencana tanpa bersusah payah karena telah memiliki sandera. Kehadiran Kencana sedikit memberi harapan kepada Lengkukup, meski dirinya tidak dapat menggerakkan tubuh, akan tetapi pikirannya masih dapat berjalan dengan lancar. Kini jarak antara diriny dan Xue hanya tinggal beberapa langkah lagi, Xue sebenarnya dapat dengan mudah menangkap Lengkukup namun ketika melihat Kencana, dirinya sedikit teralihkan dengan memandang Kencana dengan sangat tajam, karena memiliki dendam terhadap Kencana.
“Satu… aku tidak memiliki pilihan.” “Dua…mungkin aku akan segera mati.” “Tiga…Tidak, mungkin keberuntungan akan datang.” “Tebasan 7 bintang…” Kencana sempat menghitung seraya mencabut pedang nya dari warangka sehingga terdengar suara yang sangat menyilukan di telinga. Pedang itu bercahaya kebiruan memancarkan pamornya yang secepat kilat melesat di udara, 7 pedang angin tercipta dari jurus yang dilancarkan Kencana. Gamya yang melihat serangan yang Kencana berikan hampir tersedak nafasnya sendiri, karena tidak menduga jika Kencana akan bertindak gegabah, tanpa memikirkan sandera yang dia miliki. Namun Gamya masih sedikit merasa tenang, karena meras Xue tidak akan mudah untuk di kalahkan meski Kencana memberikan sebuah serangan. Kecepatan yang luar biasa, hampir 2 detik. Tidak, mungkin 1 detik lebih cepat serangan itu mengarah kepada Xue yang hampir tidak sempat melihat serangan yang Kencana berikan. Xue hanya menebak dan menangkis serangan Kencana secara acak dengan golok miliknya tanpa memperdulikan sekitar. Beruntung Xue dapat menghindari serangan Kencana tepat waktu, jika tidak nyawa Xue mungkin sudah melayang. Namun karena Xue menghindari serangan Kencana, kini jarak dirinya dan Lengkukup malah menjauh, hal itu membuat Xue menyadari jika dirinya telah melakukan kesalahan dan sedikit terlambat untuk mendekat kembali. Kencana bahkan jauh lebih dulu menyambar tubuh Lengkukup ketika melihat sebuah celah tercipta, tentu Kencana tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Di sisi lain Gamya sempat mengumpat dengan tindakan Kencana namun seorang Gamya tent tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah, apalagi membiarkan Kencana kabur begitu saja. “Jangan harap kalian bisa meninggalkan tempat ini…” Gamya berucap. Gamya kemudian mengeluarkan jurus ilusinya kembali untuk mempengaruhi Kencana namun kali ini serangannya tampak tidak menimbulkan efek apapun, rupanya Kencana sedikit mengetahui jika dan berpendapat jika serangan ilusi itu hanya berpengaruh jika orang itu mendengarnya, tidak hanya berpengaruh oleh jarak. Untuk mengatasi hal itu, Kencana menutup kedua telinganya dengan sebuah kayu yang telah dibuatnya dan terbukti serangan ilusi Gamya tidak berdampak apa-apa. Melihat hal itu, Xue tentu tidak tinggal diam ketika Kencana akan kabur bersama Lengkukup dan semakin menjauh, Xue lantas melempar golok miliknya dengan dialiri tenaga dalam yang tinggi, serangan Xue bahkan dikombinasikan dengan jurus ilusi milik Gamya. Tidak pernah di duga sebuah golok api tercipta dari serangan kombinasi itu yang mengarah kepada Kencana. Golok itu bahkan tidak terlihat seperti ilusi, bahkan Lengkukup dapat melihatnya dengan jelas, mendapati hal itu Kencana tidak perduli dan terus berlari kearah selatan sambil menggendong Lengkukup. Sesaat serangan Xue akan mengenai tubuhnya, Kencana berkelak namun sayangnya akibat gerakan tersebut, Lengkukup menjadi sasaran. “Celaka…” ucap Kencana.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita nya bagus sy suka
22/12
0bagus
03/10/2024
1bagus
16/02/2023
0Ver Todos