Namun Xue seolah tidak mendengar perkataan Gianjoyo, dirinya menyadari tindakan yang Gianjoyo lakukan hanya untuk pengalihan semata, sehingga Xue meneruskan langkahnya menuju kamar tempat Kirana bersembunyi tanpa perduli Gianjoyo berusaha menahannya. Merasa tidak memiliki pilihan, Gianjoyo berniat bertarung hidup atau mati, dirinya lantas mengambil pedang yang tergantung di salah satu dinding dan langsung menghunuskan pedang itu tepat kearah Xue berada, akan tetapi serangan yang Gianjoyo berikan tidak berdampak apapun ketika Xue dapat dengan mudah menghindarinya, seraya memberikan sebuah tusukan yang mematikan tepat di arah jantung Gianjoyo. Pada akhirnya Gianjoyo harus mati dengan penuh penyesalan karena tidak bisa melindungi keluarganya, bahkan yang lebih menyakitkan Gianjoyo tidak dapat memberikan perlawanan yang cukup berarti terhadap Xue. Rasa penyesalan itu terlihat dari air mata Gianjoyo yang keluar tanpa bisa dikendalikan, pemandangan terakhir Gianjoyo ialah Kirana yang ditarik rambutnya oleh Xue. “Selanjutnya giliranmu…” ucap Xue seraya menjambak rambut Kirana. Melihat Gianjoyo sudah tidak bernyawa Kirana ingin menangis, akan tetapi dirinya tidak bisa mengeluarkan air mata, karena rasa sedih yang teramat sangat. Impian mereka sangat sederhana yaitu hidup dengan damai bersama putra semata wayang mereka, Kirana bahkan sempat mengingat ketika dirinya dan Gianjoyo menemukan Lengkukup yang masih bayi di salah satu tempat pembuangan sampah. Pada saat itu, Kirana sangat ingin memiliki seorang anak, karena hampir 10 tahun mereka berkeluarga, mereka belum juga memiliki keturunan. Gianjoyo bahkan sempat menolak, karena tidak mengetahui asal usul Lengkukup lebih pasti, dirinya beranggapan jika Lengkukup saat itu mengidap suatu penyakit yang memaksa orang tuanya membuang Lengkukup. Namun Kirana tidak peduli dengan tuduhan yang di berikan Gianjoyo dan tetap mengambilnya dengan resiko apapun. Kehadiran Lengkukup di keluarga Gianjoyo sedikit memberi warna baru, terlebih ketika dirinya beranjak dewasa, bakat yang dia miliki semakin terlihat. Namun semua itu hanya terjadi sementara, Lengkukup bahkan tidak pernah di hargai oleh orang-orang di sekitarnya, karena di anggap aneh. Kirana tidak bisa menahan air mata yang sejak tadi terbendung di kelopak matanya. butiran air mata kini membasahi wajah Kirana mengharap belas kasih Xue yang saat ini menjilati bibirnya. “Ampuni kami tuan! setidaknya biarkan anakku pergi dari sini” ucap Kirana memohon. Tiba-tiba genggaman rambut Kirana dilepaskan seolah harapannya menjadi kenyataan, Kirana lantas ingin berlari menuju Gianjoyo, akan tetapi belum sempat Kirana mencapai Gianjoyo kakinya ditangkap oleh Xue dan mengangkat tubuhnya keatas. Tubuh Kirana terombang ambing saat diangkat oleh Xue yang menyingkapkan sebagian pakaiannya, sehingga membuat nafsu Xue menjadi memuncak. Saat ini Xue seolah menjadi dewa kematian, tubuh Kirana kemudian di hempaskan begitu saja, yang hampir membuat Kirana kehilangan kesadaran. Namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, melainkan hanya suara nafas yang sesak diiringi darah segar mengalir keluar dari tepi bibirnya. Wajah cantik Kirana seolah tidak hilang meski sudah berlumuran darah, dirinya menutup mata karena sesaat setelah itu, baju yang dikenakannya di robek paksa oleh Xue, yang membuat tubuhnya terlihat jelas. Kirana ingin menolak nafsu bejat Xue namun jangankan untuk meronta, dirinya bahkan tidak bisa untuk menggerakkan jari sedikitpun. Sekujur tubuh Kirana hampir tidak bisa digerakkan, dirinya menduga ada 10 tidak, mungkin 15 atau lebih tulang yang patah. Beberapa menit berlalu Xue baru saja menikmati tubuhnya, Kirana hanya bisa pasrah dengan nasibnya saat ini, sementara Lengkukup hanya bisa mematung ketika ayahnya terbunuh di depan mata. Sedangkan untuk menolong ibunya, Lengkukup sedikitpun tidak siap, terlebih Xue sudah menunjukkan kemampuannya yang begitu mengerikan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Kirana berusaha untuk bicara, “Lari,, lah nak…” belum sempat Kirana menyelesaikan kalimatnya. Sebuah golok menebas leher Kirana, yang membuat pandangan Kirana menjadi gelap seketika. Melihat ibunya terbunuh dengan cara yang mengenaskan Lengkukup hampir tidak bisa menyeimbangkan tubuh, dirinya sedikit terhuyung lalu berusaha untuk kabur lewat pintu yang sudah terbuka lebar. Namun Xue menyadari anak Gianjoyo yang berusaha kabur itu, tidak langsung menangkapnya, melainkan membiarkan Lengkukup mencoba keberuntungan yang dia miliki. Dengan kaki yang sedikit gemetar Lengkukup mencoba untuk berlari tetapi tidak untuk kabur, Lengkukup berniat mati bersama kedua orang tuanya. Lengkukup menuju ayahnya yang masih memegang pedang lalu mencoba untuk meraih nya. Di sisi lain Gamya tidak tinggal diam ketika mengetahui Kencana melarikan diri, akan tetapi Gamya seolah kehilangan jejak, karena Kencana sangat pandai bersembunyi. Merasa telah salah arah, dirinya berniat menyusul keberadaan Xue. Gamya dengan mudah menemukan jejak muridnya, karena Xue meninggalkan tanda merah di setiap jalan yang dia lewati, tentu hanya kelompok aliran hitam yang mengerti tanda itu. “Ku akui kau memang haus darah, tetapi aku hanya menyuruhmu menangkapnya bukan membunuh seperti ini…” ucap Gamya ketika memasuki rumah Gianjoyo. “Maaf guru, dia berusaha melawan saat aku ingin menangkapnya” jawab Xue berusaha menepis kenyataan. Di satu sisi Lengkukup yang sudah mendapatkan pedang ayahnya berniat menyerang Xue yang terlihat lengah, akan tetapi Xue bahkan tidak berusaha menghindari serangan yang akan Lengkukup berikan, karena merasa serangan itu tidak akan berarti apa-apa. Namun tampaknya Xue sudah salah menduga, Lengkukup bahkan tidak menyerang secara langsung melainkan melemparkan pedang itu tepat menuju kearah dada Xue. Pada saat pedang itu akan menyentuh tubuhnya, tiba-tiba Gamya menangkap pedang itu hanya menggunakan satu tangannya. Lengkukup bahkan sempat menelan ludah, dirinya kini terlihat tidak memiliki kesempatan untuk melawan, terlebih ada dua orang yang akan dia hadapi. Lengkukup sangat murka dan mengutuk kedua orang yang berada di hadapannya, terlebih Xue sebagai pelaku utama pembunuhan yang terjadi. “Aku masih memiliki kesempatan, tetapi bagaimana caranya…” batin Lengkukup. Melihat Lengkukup saat ini, Xue ingin sekali merobek Lengkukup menjadi 2 bagian, karena merasa dirinya telah salah mengambil tindakan, sedikit saja Gamya terlambat, mungkin Xue sudah mati dan menghapus sejarahnya dari kelompok aliran hitam. Seolah tidak ingin berakhir dengan kekalahan, Lengkukup mencoba peruntungan dengan melempar benda-benda yang ada di sekitarnya, meski tidak begitu berarti namun serangan yang Lengkukup berikan sempat membuat Xue dan Gamya menghindar hampir bersamaan. Melihat kesempatan itu, Lengkukup berlari sekuat tenaga untuk menemui Kencana. Namun sangat disayangkan Lengkukup tidak menemukan Kencana di gubuk tempat tinggalnya, dirinya berusaha mencari pertolongan lain dengan meminta tolong kepada penduduk desa, beberapa yang mendengar langsung memberikan pertolongan kepada Lengkukup dengan cara menghadang Xue di belakang. Namun semua tindakan itu menjadi sia-sia ketika Xue dapat dengan mudah mengalahkan mereka hanya dengan satu tebasan golok miliknya. Tiba saat Lengkukup terpojok, tepat diantara rumah penduduk, mereka yang melihat tidak ada yang berani memberikan pertolongan kepada Lengkukup sama sekali. Karena melihat kemampuan Xue yang begitu mengerikan. Namun seseorang terlihat ingin sekali menolong Lengkukup, akan tetapi Xue tidak begitu menghiraukan dan tetap tertuju kepada Lengkukup. “Menyerah lah maka aku akan memberikan kematian yang cepat…” ucapnya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita nya bagus sy suka
22/12
0bagus
03/10/2024
1bagus
16/02/2023
0Ver Todos