logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 2 Ganteng Sih, tapi Serem

Ini bagaikan mimpi buruk bagi Keina. Gadis itu masih saja mematung. Wajahnya menggambarkan sebuah rasa takut. Dari lubuk hati yang paling dalam, dia ingin memutar kembali waktu pagi ini. Keina benar-benar menyesal tidak mengecek ulang perlengkapan yang harus dibawa.
Jika saja semalam dia tidak begadang, pasti tidak akan jadi seperti ini. Sekarang penyesalan pun tidak berarti. Dalam hati Keina berjanji, dia tidak akan mengulanginya lagi. Lalu kini bagaimana? Jantungnya sudah menggila. Dia benar-benar bingung dan malu. Oh, sungguh gadis yang malang. Bisakah ini disebut sebagai hari pertama yang buruk? Disambut dengan sebuah kejutan besar.
Andai saja hujan turun tiba-tiba. Petir menyambar dari arah Timur, sehingga kegiatan ini segera berakhir. Oh, tidak. Ini sangat menyebalkan. Sepertinya Keina akan memiliki kenangan buruk yang tidak akan pernah terlupakan. Keina akan mengingat bagaimana sang ketua OSIS mempermalukannya di depan umum. Lihat saja!
Keina menatap penuh harap ke arah Alga dan Talitha. Namun, tidak ada yang bisa mereka perbuat. Jangankan menolong Keina, menyelamatkan diri mereka sendiri saja sulit jika urusannya dengan ketua OSIS. Oh, saat ini Keina benar-benar dibuat pasrah oleh keadaan. Salah satu cara untuk melewatinya adalah dengan menghadapi segala yang ada. Semua akan berakhir. Dan semoga berakhir dengan indah.
"Saya tidak menerima alasan apa pun! Sekarang juga kamu harus melakukan sesuatu!” tegas Dev yang kini sudah berdiri di samping Keina.
Deg
Apa ini? Keina harus melakukan apa? Tidak mungkin dia akan mengadakan konser dadakan. Saat ini juga, nama Devanial telah tertulis di ingatan Keina sebagai manusia tanpa hati. Iya, hanya orang-orang yang tidak memiliki hati saja yang dapat melakukan ini. Manusia di depannya itu benar-benar monster yang mengerikan.
"Melakukan apa, Kak?" tanya Keina ragu.
Tatapan seorang Dev terlalu tajam, seakan mampu membuat mata yang menatap merasa sakit walaupun tidak tersentuh. Sepertinya lelaki ini benar-benar marah. Lihat saja, urat-urat di lehernya begitu menegang. Apakah sebotol air mineral sebegitu berharga hingga harus mempermalukan gadis polos itu?
"Terserah mau ngapain asalkan keteledoran kamu ini bisa buat pelajaran temen-temen kamu yang lain!" tegas Dev sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan senyum liciknya.
Ganteng, sih. Tapi serem.
“Makanya sebelum berangkat, barang bawaan dicek ulang. Jangan jadi orang yang ceroboh. Karena selain merugikan diri kamu sendiri, itu juga bisa merugikan orang lain. Paham?!” bentak Dev.
“Pa-paham, Kak.” Keina mendongak, lalu kembali menunduk.
Tangan Keina mulai berkeringat, dia benar-benar panik. Ditambah dengan banyak sorot mata yang menatapnya. Kedua bola mata terus bergerak ke kanan dan kiri. Mencari sebuah ide yang diharapkan bisa menyelamatkan Keina dari tatapan elang seorang Dev.
Kepala Keina seperti akan pecah. Otaknya terus dipaksa agar berpikir, tetapi hasilnya nihil. Atau dia harus berpura-pura pingsan agar hukuman ini berakhir? Oh, tidak mungkin. Justru itu akan membuatnya terlihat sangat lemah.
"Buruan!" bentak Dev.
Dasar tolol! Lo nggak tau seberapa penting air mineral yang lo tinggalin di rumah, batin Dev sambil terus menatap Keina.
"I-iya, Kak." Tidak, Keina tidak boleh menangis. Dia adalah gadis yang kuat, dia bukan gadis cengeng apalagi manja.
Ayok, Na. Mikir.
Mengapa semesta kali ini seakan membiarkan Keina dipermalukan di depan umum? Bahkan mentari bersinar begitu terang sehingga wajah putihnya tampak begitu jelas. Bisakah ada seseorang yang dapat membantunya?
Suara ejekan dari anak-anak baru pun mulai terdengar. Mereka berbicara seakan mereka paling benar. Seakan tidak pernah berbuat kesalahan. Itu memang biasa terjadi, mereka akan terus memojokkan seseorang yang tengah dalam sebuah permasalahan. Tidak pernah berpikir, jika mereka yang berada dalam posisi tersebut.
"Bentar lagi juga pasti mewek."
"Liat, tuh. Nangis pasti."
"Aduh, gue nggak kebayang kalo gue yang ada di sana."
"Yaelah lama banget, nggak tau ini panas kali ya?"
"Tinggal ngomong doang apa susahnya?"
"Joged ondel-ondel kek."
Semua suara itu membuat Keina semakin frustrasi. Tidak bisakah mereka diam? Sungguh, ucapan mereka seakan membuat pertahanan Keina hampir runtuh. Ini tidak adil bagi Keina. Ingin rasanya protes kepada manusia dingin di sebelahnya. Mengapa mereka diberi kebebasan untuk mengejek? Mengapa mereka tidak ditegur karena membuat keributan? Atau memang semua orang ingin melihat Keina tumbang?
"Kamu mau tetep diem kaya patung di situ? Saya itu nyuruh kamu ke sini buat mempertanggung jawabkan kesalahanmu. Bukan cuma buat jadi tontonan masa."
Gimana aku mau mikir, kalo dia ngomong terus. Yang ada otakku makin buntu.
"Ngomong, jangan cuma ngeliatin saya!"
Dev membuat Keina begitu tertekan. Dipaksa berpikir itu bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam situasi seperti ini.
Dari barisan lapangan, Alga benar-benar khawatir. Dia sangat menyesal, harusnya dia berikan saja air mineralnya kepada Keina. Jika hal itu dia lakukan, pasti yang saat ini berada di depan manusia dingin itu dirinya. Namun, terlambat. Mungkin sudah takdir Keina, harus memiliki kenangan buruk di hari pertama masuk sekolah menengah. Sebuah masa yang orang-orang bilang adalah masa terindah. Bagi mereka.
Setelah beberapa saat beradu dengan pikirannya, Keina menemukan sebuah ide. Meski tidak yakin, tetapi tidak ada pilihan lain.
"Baik kak, saya akan membacakan sebuah puisi karya saya sendiri." Akhirnya Keina membuka mulutnya setelah beberapa menit suasana hening seketika.
Dev hanya menaikkan kedua alisnya dan menyerahkan sebuah mikrofon kepada Keina. Senyuman meremehkan itu terukir di wajah dingin Dev.
Keina menarik napas panjang, memejamkan mata, dan menenangkan pikirannya. Perlahan membuka mata, menatap lurus ke depan, dan mulai membacakan puisi.
CUKUP TAHU
Aku cukup tahu
Tentang rasa yang kau timbun dalam benakmu
Tentang rindu yang semakin tak beraturan hingga menusuk kalbu
Namun, mengapa kau tetap membisu?
Keheningan seketika tercipta. Penghayatan Keina mampu menghipnotis semua orang di lapangan tersebut, termasuk senior galak itu.
Aku pun cukup tahu
Ada angan yang kau genggam dengan erat
Tersimpan rapat hingga mulai mengarat
Hanya karena ego kau menyayat hati
Kau berdusta hingga di ujung kulminasi
Katakanlah! Walau satu detik lamanya
Cukup mengucap sebuah kata,
Cinta
Puisi itu diakhiri dengan tatapan tenang Keina yang ditujukan kepada sang ketua OSIS, Dev. Membuatnya canggung dan tampak bodoh karena salah tingkah. Tatapan itu, tatapan yang mampu mengubah segala alur dari cerita ini. Memberi berbagai kejutan di setiap adegan yang tersaji. Baik penulis maupun tokoh, tidak mengizinkan pembaca untuk memberi tebakan dengan benar, cukup semua menjadi pertanyaan yang penuh akan teka-teki.

Comentário do Livro (41)

  • avatar
    panydiana

    seru dan 💗menarik

    03/07

      0
  • avatar
    Nissa Ayu

    Bagus banget

    03/06/2025

      0
  • avatar
    Anggun Mellanie

    baguss

    30/05/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes