Capítulo 6 KEPERGIAN AL DAN KEGILAAN HASRAT ERLANG
Ucapan Dokter itu spontan membuat Ratu lemas, tubuhnya melangkah mundur satu langkah karena merasa lemah, beruntung Ayah cepat menangkap tubuh lemah itu. "Maksud Dokter apa!" Sela Mamah mertua Ratu. "Seperti ini Bu …," ujar Dokter lalu menjelaskan apa yang sudah terjadi pada baby Al, semua mendengarkan dengan seksama, hanya Ratu yang tidak bisa mendengar jelas apa yang diucapkan Dokter itu, sebab setelah ucapan pertama sang dokter tubuhnya terasa lemas, setelah berada di pelukan Ayah dan samar mendengar penjelasan dokter, lambat laun kepala Ratu pusing, pendengaran serta penglihatannya kabur, tak lama setelah itu Ratu tidak sadarkan diri. Semua dibuat cemas karena keadaan Ratu, tubuh lemahnya langsung dibawa ke ruang rawat oleh satu suster, kedua Mamanya menemani juga dengan Riska dan Ica, mereka menemani Ratu yang terlihat tidak bisa menerima cobaan ini. Sementara para wanita menemani Ratu, dua pria yaitu Ayah Ratu dan Erlang mengurus administrasi baby Al, serta semua yang diperlukan di rumah sakit sampai baby Al kembali ke rumah. Ayah Ratu berdiskusi dengan Papa Erlang, mereka membicarakan perihal persiapan baby Al di rumah. "Ke tempat saya saja, kalau di sana sudah ada yang siap mengurus dari awal sampai akhir, semua diurus oleh warga yang memang masuk paguyuban," ungkap Ayah Ratu, "Tapi semua dilihat kembali bagaimana baiknya saja," timpalnya. Papah menyetujui apa yang disarankan oleh besannya itu, Papah Erlang juga masih tampak kesal dengan anaknya yang sampai saat ini masih tidak bisa dihubungi. Ayah kembali berpendapat, sebaiknya cepat di urus jangan menunggu Erlang, karena kasihan kalau lama dengan Al. "Kita lihat nanti kalau soal itu, saya yakin kalau Erlang pasti ingin melihat wajah anaknya untuk yang terakhir kali," ujar Papah. "Baiklah, yang penting sekarang kita urus dulu Al," jawab Ayah. Kedua Kakek yang sangat menyayangi cucunya itu mengesampingkan rasa sedih mereka, mereka bergegas mengurus semuanya agar cepat selesai. Saat kedua pria paruh baya itu melihat kaku tubuh bayi yang mereka cintai, tetesan air mata tidak dapat mereka bendung. Emosi mereka keluar saat melihat tubuh kecil itu terbujur kaku, dengan wajah pucat serta tubuh dinginnya. Kesedihan yang dalam terlihat jelas dari wajah mereka, rasa tidak terima dengan apa yang mereka lihat dan rasakan saat itu. Kedua pria yang sangat mencintai baby Al mencoba menguatkan diri, mereka berdua berusaha tegar untuk cucu serta anak mereka. Apalagi saat ini Ratu sangat butuh support dari semua, karena disaat Seperti ini Erlang sebagai suami tidak ada untuk menemaninya. Suami Ratu sedang bersenang-senang dengan temannya, mereka sedang bermain untuk melampiaskan hasrat mereka. Malam itu Erlang sangat bergairah seperti biasanya,, itu yang disukai Serli darinya penuh gairah serta hasrat yang membuat wanita itu semakin tidak ingin melepaskan Erlang dari dekapannya. Hentakan-hentakan Erlang membuat Serli terus mengeluarkan desahnya, teriakan wanita itu membuat Erlang semakin bergerak cepat, nafas mereka memburu karena gerakan yang cepat itu, darah mereka semakin bergejolak, peluh sudah membasahi seluruh tubuh mereka. Dua insan yang menjalin hubungan terlarang itu tidak merasa risih sama sekali, melakukan penyatuan tubuh di tempat itu. Mereka tidak menyadari kalau perbuatan mereka akan ada yang mengetahuinya, karena Riska sudah menyisipkan kamera kecil di ruangan itu, dimana bisa terlihat seluruh sudut ruangan dengan sangat jelas. Teriakan panjang Serli terdengar kembali, kala Erlang menambah kecepatan serta ritme permainannya, pegangan tangan kedua manusia itu semakin erat, Erlang mengeluarkan desah serta sedikit teriakannya, saat perlahan klimaks itu akan dikeluarkan. Erlang duduk lemas di kursinya, dia berupaya mengatur nafasnya agar kembali normal, sementara itu Serli mengambil pakaiannya yang berserakan untuk kemudian dipakai kembali, setelah dia merapikan diri, wanita itu melangkah mendekati Erlang dengan penuh goda. Serli berjalan ke arah belakang Erlang, lalu melingkari tangannya di leher pria yang masih bertelanjang dada itu. Kecupan singkat diberikan Serli di wajah pria yang baru saja memberikannya kepuasan. "Kamu selalu membuat aku lemas, kamu sungguh gagah sayang," bisiknya penuh goda. "Kamu juga sama sayang, kamu selalu membuat aku tidak bisa menahan hasratku, kamu penuh gairah sayang," puji Erlang, lalu memberikan kecupannya di wajah Serli yang berada di samping wajahnya. "Pulang kemana malam ini Er, apa kamu mau bermalam denganku?" Goda Serli dengan jari-jari lentik yang sengaja dimainkan di dada bidang Erlang. "Kenapa! Apa kamu masih ingin kembali merasakan hujaman ku sayang?" Pancing pria itu. Serli tidak langsung menjawab, dia melepaskan lingkaran tangannya dan bergerak kedepan Erlang, kemudian dia duduk diatas pangkuan nya. "Aku ingin menghabiskan malam ini bersama kamu kalau kamu berkenan, aku tidak mau jauh dari mu sayang, mau yah malam ini menemani aku tidur, aku janji akan memberikan servis memuaskan nanti disana," Kata-kata terakhir itu terngiang di telinga Erlang, kata yang membuatnya tidak bisa menolak ajakan wanita penuh gairah itu, pesonanya sudah membuat Erlang terbuai, dengan tubuh indahnya yang terus memberikan Erlang rasa. Merasa sudah waktunya gedung tinggi itu akan di tutup, Erlang dan Serli bergegas merapikan diri, Erlang masih belum melihat layar ponselnya, malah dia tidak menyadari kalau benda pipih itu sudah habis daya, sehingga semua pesan masuk yang mengabari kepergian anaknya tidak bisa tersampaikan. Erlang pergi bersama Serli, dia kerumah wanita itu untuk menghabiskan malam bersamanya. Selama perjalanan pulang Erlang dan Serli terus bermesraan, seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain. Sementara itu Ratu baru tersadar dari pingsannya saat baby Al sudah dibawa pulang, dan tinggal Mamah yang menemaninya bersama Riska. Ica pamit karena dia harus pulang sebab anak dan suaminya sudah menunggu, mertuanya pulang untuk membantu mengurus Al yang akan dibawa ke rumah orang tua Ratu. Mata Ratu perlahan terbuka, sinar lampu yang cukup teras membuat dia menutup kembali matanya, setelah beberapa saat barulah dia membuka nya kembali. Hal pertama yang dilihat adalah Mamah yang sedang tergeletak di sisinya, sedangkan Riska sedang sibuk memainkan ponselnya. "Ris, Riska," panggil Ratu dengan suara parau. Riska spontan menoleh saat mendengar ada suara memanggilnya, saat tau itu Ratu, dia bergegas menghampirinya seraya berkata, "Lo udah merasa baikan Ra?"
Ratu menjawab dengan anggukan, kemudian dia minta tolong pada Riska agar mengambilkannya minum. Mereka berusaha untuk menekan suara mereka, agar Mamah tidak terbangun dari tidurnya, namun sayang harapan mereka pupus, karena ternyata Mamah terbangun. Setelah saling menanyakan kabar, Ratu memegang tangan Mamah. Saat mendengar dokter bicara tadi kesadarannya sudah perlahan menghilang, jadi dia kembali menanyakan kabar anaknya. "Bagaimana kabarnya Al Mah, tadi aku tidak mendengar apa yang diucapkan oleh dokter!"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat bagus
02/03
0bagus dan keren
09/01
0ceritanya bagussss🤩
24/12
0Ver Todos