logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 5 Komentar Negatif Netizen

Setelah melewati hari yang panjang, Aletta menghabiskan malamnya untuk rebahan. Ia sedang melamun memandangi langit-langit di kamarnya. Tiba-tiba saja ia tersenyum tipis lalu mulai tertawa kecil.
“Gue masih nggak habis pikir. Akhirnya tiba saatnya gue harus menertawakan kehidupan gue sendiri. Entah kesalahan apa yang gue perbuat di masa lalu. Hingga Tuhan merenggut kebahagiaan gue dengan sesaat.”
Aletta kembali menghembuskan napasnya. Gerald memang sudah berubah semenjak banyak artisnya yang terkena skandal. Semenjak itu Gerald menjadi lebih protektif kepada Aletta. Karena hanya Aletta yang memiliki image baik dan diterima oleh masyarakat diantara semua artisnya. Saat sedang asik-asiknya melamun, Aletta dikejutkan dengan dering ponselnya. Di layar ponselnya menunjukan nama Aldev Alderon.
“Kak Aldev.” Batin Aletta.
Untuk sesaat ia bingung. Apakah ia harus menerima atau menolaknya. Dan pada akhirnya gerak jarinya lebih cepat dari otaknya. Tanpa ia sadari ia sudah menerima panggilan telepon dari Aldev.
“Halo Aletta.”
“Hai Kak.”
“Gimana tadi konferensi persnya? Lancar?”
“Iya Kak. Lancar kok.”
Aldev merasa ada yang tidak biasa dengan sikap Aletta. Meskipun ia hanya mendengar suara Aletta saja. Namun karena kedekatan yang terjalin diantara mereka membuat Aldev mengenal Aletta dengan sangat baik. Dan ia bahkan tahu saat ini Aletta sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.
“Oh iya besok kita syuting outdoor loh. Kamu udah tahu?”
“Serius Kak?”
“Serius. Emang Sebastian atau Refan nggak kasih tahu kamu?”
“Mungkin lupa Kak. Kan seharian aku sama mereka sibuk.”
“Apa sekalian gue tanya ke Kak Aldev ya. Kenapa pihak agensi dari Kak Aldev nggak memberi klarifikasi terkait artikel kemarin? Eh tapi nanti Kak Aldev merasa tersinggung.” Batin Aletta.
“Aletta. Kamu masih di sana kan?”
“Ha? Oh iya Kak masih kok.”
“Kenapa ngantuk ya?”
“Iya. Capek banget soalnya.”
“Ya udah kalau gitu tidur aja.”
“Aku tutup teleponnya ya Kak.”
Kemudian Aletta mematikan sambungan telepon. Namun bukannya tidur, Aletta justru pergi ke dapur, mengambil sebuah apel dan mencucinya. Setelah itu kaki Aletta menuntunnya menuju ruang tengah. Kemudian ia duduk bersila sambil menyenderkan punggungnya di sofa. Tangannya mengambil remot TV yang berada tidak jauh darinya. Aletta memilih untuk menonton TV. Namun kemudian perhatiannya kembali teralihkan oleh ponsel di sampingnya yang terus saja menampilkan notifikasi. Karena rasa penasarannya yang akut akhirnya Aleta memilih untuk membuka notifikasi di ponselnya. Notifikasi tersebut mengarahkan Aletta pada postingan di instagramnya tadi pagi. Yaitu foto ketika ia menghadiri konferensi pers untuk klarifikasi tentang hubungannya dengan Aldev Alderon. Tanpa sengaja jarinya memencet bagian komentar. Mata Aletta seketika kehilangan fokus melihat komentar tidak terduga di postingan instagramnya
sist728 : wah lucu banget. Dia yang ngejar-ngejar eh dia yang klarifikasi
ksm092 : dari awal dia muncul gue udah nggak suka sama ini orang
jjkk763 : ini yang kalian sebut dewi kebaikan? Nemu dewi dimana? Di got wkwk
hsrn234 : berita sampah kayak gini masih diladenin aja
poe587 : ini yang digosipin sama @aldevalderon? Kok makin menurun sih seleranya?
Iht785 : wkwkwk cantikan juga mantan-mantannya @aldevalderon
Dan masih banyak lagi komentar buruk netizen tentang Aletta. Sedangkan Aletta yang membaca setiap komentar buruk mencoba untuk menenangkan dirinya. Ia meletakan ponsel di sampingnya dan mencoba untuk mengatur nafas. Namun bukannya semakin tenang napas Aletta justru semakin cepat hingga pada akhirnya air matanya turun.
“Kesalahan apa sih yang udah gue perbuat? Kenapa semua orang menghakimi kehidupan gue? Mereka siapa?” kata Aletta dengan lirih dan sesenggukan.
Perlahan ia mulai membenamkan wajahnya di lekukan dua lengannya yang ditekuk dan disangga oleh kedua kakinya. Bahkan suara TV yang nyaring tidak mempengaruhi Aletta. Maklum saja Aletta merasa terpukul. Semenjak debutnya sebagai aktris 5 tahun yang lalu ia tidak pernah mendapatkan komentar negatif sebanyak ini. Saat sedang menangis Aletta kembali dikejutkan dengan dering ponselnya. Ia segera menghapus air mata yang ada di pipinya dan melihat siapa yang meneleponnya. Nama Refan tertera di ponselnya. Tanpa berpikir panjang Aletta segera mengangkat telepon dari Refan.
“Halo Kak Aletta?” Sapa Refan di seberang telepon.
“Iya?”
“Kak Aletta di rumah nggak?”
“Iya. Kenapa Refan?”
“Handphone saya sepertinya tertinggal di rumah Kak Aletta.”
“Kamu masih ingat naruh HP kamu di mana?”
“Di sofa ruang tengah Kak.”
Aletta mengedarkan pandangannya dan menemukan ponsel Refan tergeletak di sofa tepat di samping tempat ia duduk. Aletta terseyum tipis karena menyadari kekonyolan yang diperbuat Refan.
“Orang seteliti kamu bisa ceroboh juga ya.”
“Iya Kak. Saya tadi sedang buru-buru. Oh iya, saya ambil HP nya sekarang boleh nggak?”
Aletta melihat jam dinding yang menunjukan pukul 20.00 WIB.
“Apa nggak terlalu malam?”
“Ada file penting di HP saya yang saya butuhkan sekarang Kak.”
“Ya udah kamu ke sini sekarang.”
Setelah mendapatkan izin dari Aletta, Refan segera bersiap untuk pergi ke rumah Aletta. Untung sajaRefan sampai di rumah Aletta pukul 20.30 WIB. Refan segera memencet bel rumah Aletta.
Di dalam rumah, lagi-lagi Aletta kembali termenung. Ia masih memikirkan komentar negatif netizen atas hal yang tidak ia perbuat. Namun ia justru dikejutkan dengan bel rumah yang berbunyi. Tanpa berpikir panjang, Aletta justru menelepon Refan.
“Refan, kamu yang pencet bel rumah saya ya?” Kata Aletta.
Refan hanya membalas Aletta dengan anggukan.
“Fan, saya tanya sama kamu. Jangan bilang kamu menjawab pertanyaan saya tadi dengan anggukan. Refan, saya bahkan nggak bisa melihat wajah kamu.”
“Maaf Kak, saya lupa kalau lagi telepon. Iya saya sudah di depan rumah.”
“Ya kamu kan tinggal masuk. Tahu password rumah saya kan?”
“Tapi bukannya tidak sopan kalau saya nyelonong masuk ke rumah Kak Aletta tanpa izin.”
“Sekarang kan sudah saya kasih izin.”
Tanpa banyak bertanya, Refan segera memencet password di smart lock pintu rumah Aletta. Setelah berhasil masuk ke rumah Aletta, Refan segera menuju ruang tengah.
“Kak Aletta ngapain?” tanya ARefan setelah melihat Aleta sedang membenamkan wajahnya.
“Nggak apa-apa.”
Aletta menghampiri Refan sambil membawa ponsel milik Refan.
“Nih.” Kata Aletta sambil memberikan ponsel kepada Refan.
“Kak Aletta habis nangis ya?”
“Nggak.” Jawab Aletta dengan gugup.
“Bohong ya. Itu matanya merah.”
“Mata saya habis kelilipan.”
“Sebesar apa sih debunya? Sampai bikin mata Kak Aletta merah.”
Aletta yang mendengar ucapan Refan kembal tersenyum tipis. Entah kenapa adanya seseorang disaat ia sedang bersedih sudah cukup untuk menenangkan hatinya. Refan melihat layar ponsel Aletta dari kejauhan yang beberapa kali menyala.
“Habis lihat komen di instagram ya Kak?” Kata Refan sambil berjalan dan duduk di sofa ruang tengah.
Aletta mengekori Refan dan duduk di samping Refan. Namun bukannya menjawab Refan, Aletta justru memandang kosong ke depan.
“Kak?” tanya Refan.
“Iya, saya melihat komentar di postingan terakhir saya.” Kata Aletta sambil tersenyum getir meratapi nasibnya kali ini.
“Refan apa karir saya akan berhenti sampai di sini?”
“Kenapa harus berhenti kalau masih banyak orang yang mendukung Kakak?”
“Banyak orang?”
“Iya. Ada saya, Bang Tian, rekan-rekan artis Kak Aletta dan penggemar Kak Aletta juga”
“Apa nantinya saya kuat menghadapi haters yang keterlaluan?”
“Kak Aletta harus kuat. Karena ada banyak orang yang akan mendukung Kakak. Kak, setiap orang pasti ada yang membenci. Dan kebetulan aja Kak Aletta adalah seorang publik figur yang sebagian dari kehidupan Kakak akan menjadi konsumsi publik. Saya tidak membenarkan hal tersebut, namun itulah konsekuansi yang harus Kakak tanggung.”
“Iya, kamu benar. Dan saya mulai menyadari mungkin keputusan saya untuk memasuki dunia akting adalah keputusan yang salah.”
“Kakak jangan memandang segala hal dari segi negatifnya dong. Bukannya dengan terjun ke dunia akting, kakak bisa bertemu orang-orang hebat, berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan dan saya rasa profesi Kakak sebagai aktris adalah pilihan yang tepat. Saya juga sangat bersyukur bisa mengenal orang-orang hebat seperti Kak Aletta dan Bang Sebastian. Kalian juga sudah membantu saya untuk menemukan mimpi saya.”
“Entah kenapa saya merasa semua ini sia-sia. Karir yang sudah saya bangun selama lima tahun hancur hanya dengan satu skandal saja.”
“Akan lebih aneh lagi ketika karir Kakak akan mulus begitu saja. Yang namanya hidup pasti ada naik turunnya Kak. Dan Kak Aletta jangan lemah gini dong. Kalau Kakak sudah menyerah seperti ini berarti Kakak kalah dan secara tidak sadar Kakak justru melakukan hal yang di inginkan mereka.”
“Saya harus bagaimana, Fan?”
“Tetap menjadi Kak Aletta seperti biasa. Kalau Kakak terpuruk artinya mereka menang. Kakak nggak mau kan kalah dari mereka?”
“Kamu benar juga. Saya nggak mau ada orang lain yang dengan seenaknya mencampuri urusan pribadi saya.”
“Nah gitu dong.”
“Refan kok kamu bisa mengerti banget posisi saya saat ini.”
“Karena saya juga pernah mengalami hal yang serupa.” Kata Refan sambil tersenyum kecut.
Aletta terkejut dengan perubahan sikap Refan. Ia juga baru menyadari bahwa di dunia ini bukan hanya ia yang menderita. Di luaran sana banyak orang yang menderita atas keputusan yang mereka ambil dan banyak juga orang yang menutupi kesedihannya dengan memasang topeng ceria termasuk Refan.
“Kamu juga pernah diserang netizen?” tanya Aletta.
“Lebih tepatnya saya pernah di bully ketika SD dan SMP.”
“Kok bisa? Karena apa?”
Refan kemudian memandang Aletta dengan lembut dan tersenyum tulus. Namun entah kenapa Aletta justru melihat sorot kepedihan di mata Refan.
“Akan saya ceritakan nanti kalau kita sudah dekat.”
“Memang kita sekarang kurang dekat? Kamu mau sedekat apa lagi?”
“Sedekat nadi?” Kata Refan sambil terkekeh.
“Saya pamit pulang ya Kak. Sudah malam, saya nggak mau tetangga salah paham.” Kata Refan sambil berjalan menuju pintu rumah Aletta.
Sedangkan Aletta yang dipamiti oleh Refan hanya bisa terdiam membeku.
“Sedekat nadi?” batin Aletta.
Tiba-tiba saja jantungnya berdegup cepat setelah mengulangi kata yang dikatakan Refan. Perasaan apa ini?
Di sisi lain Refan yang sudah kelar dari rumah Aletta, sedang berjalan menuju halte bus terdekat.
“Wah gila, goblok banget sih lu Refan. Kenapa bisa ngomong gitu ke Kak Aletta?”
Setelah menyesali apa yang sudah ia perbuat, Refan menoleh ke belakang. Ia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Namun saat menoleh kebelakang ia tidak menemukan apa-apa. Ia hanya melihat seekor kucing sedang memakan tulan ayam. Refan kembali melanjutkan jalannya dan pulang ke rumah.

Comentário do Livro (38)

  • avatar
    Botol Yakult

    sangat indah

    04/09

      0
  • avatar
    AnjaniAnjani

    bagussss bangettt

    19/05/2025

      0
  • avatar
    Putri Billa

    Bagus bangetttt🥹🥹🥹

    16/05/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes