Tok... tok... tok... Pagi-pagi buta sekitar pukul 05.00 WIB ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Gavin. Namun Gavin masih terlelap dalam tidurnya. Seseorang tersebut terus saja mengetuk pintu rumah Gavin. Dan akhirnya Gavin tersadar. Ia terduduk di atas kasur sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. “Siapa sih pagi-pagi ke rumah gue.” Dengan berat hati Gavin beranjak dari kasurnya dan membuka pintu rumah. Baru saja Gavin membuka pintu rumahnya, seseorang tersebut menerobos ke dalam rumah Gavin dan meninju wajah Gavin. “Brengsek lu. Kayak gini lu bilang teman?” Teriak Bryan. Ternyata orang tersebut adalah Bryan. Bryan datang karena kesal dan marah pada Gavin. Bagaimana bisa Gavin melihatnya dikeroyok semalam dan tidak menolongnya. Gavin hanya bisa terdiam membatu. Ia bahkan tidak marah sedikit pun. Karena Gavin merasa ia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Gavin memandang Bryan dengan rasa bersalah. Bryan terlihat sangat menyedihkan. Wajahnya babak belur dan kakinya diperban karena keretakan pada tulangnya. “Sorry gue nggak senekat dulu. Gue sekarang cuma seorang pengecut yang bahkan nggak bisa membela diri gue sendiri. Gimana bisa gue melindungi lu.” Bryan terduduk lemas setelah puas memukuli Gavin hingga babak belur. “Stok keberanian lu kemana? Udah habis?” “Bryan, keberanian itu tentang bertahan dan mengatasi rasa takut. Gue bahkan udah lelah bertahan. Rasa takut? Dia selalu mengikuti kemana pun gue pergi.” “Lu takut apa sih?” “Gue takut nggak bisa menghadapi masa depan.” “Lucu banget ya. Kehidupan kita bisa berubah dalam sekejap. Kehidupan gue dulu mungkin nggak sebaik kehidupan lu. Tapi cukup untuk membuat gue bahagia.” “Sekarang rasanya gue udah kalah dengan segala hal di dunia ini.” Kata Gavin sambil tersenyum miris. Mereka kemudian hanya terdiam meratapi kehidupan mereka yang sangat berat. *** Pagi hari ini tepat pukul 09.55 WIB banyak wartawan yang menunggu kehadiran Aletta Keena. Mereka ingin mendengar penjelasan langsung terkait hubungan Aletta dan Aldev. Lima menit kemudian, Aletta tiba didampingi dengan Sebastian Kevlar dan Refan. “Selamat pagi rekan media sekalian, saya Sebastian Kevlar sebagai manager dari Aletta Keena akan membuka sesi konferensi pers kali ini. Kalian bisa mengajukan pertanyaan dengan mengangkat tangan. Nanti setelah saya pilih kalian baru bisa bertanya. Saya mohon tidak ada pertanyaan yang keluar dari konteks yang akan dibahas.” “Selamat pagi semuanya, saya Aletta Keena dengan tulus meminta maaf atas berita yang sempat trending kemarin. Saya ingin meluruskan bahwa berita tersebut tidak benar. Hubungan saya dengan Kak Aldev Alderon murni hanya sebatas rekan kerja.” Setelah menyelesaikan pernyataannya, ada salah satu wartawan yang ingin bertanya kepada Aletta Keena. “Bagaimana dengan foto yang dilampirkan dalam artikel tersebut Aletta?” “Foto tersebut diambil saat saya dan Kak Aldev sedang syuting adegan yang memang belum tayang.” Konferensi pers tersebut berlangsung selama 30 menit. Setelah selesai konferensi pers bukannya pulang ke rumah, Sebastian justru memarkirkan mobilnya di depan gedung agensi HS Entertainment. Sedangkan Aletta masih tertidur pulas di bangku belakang. “Kak Aletta bangun dong!” Kata Refan. Namun Aletta tidak menggubris perkataan Refan. Ia bahkan membalikan badannya membelakangi Refan. “Kak Aletta kita udah sampai di HS.” Mendengar kata HS Aletta segera menegakan badannya dengan mata yang masih terpejam. Perlahan ia membuka matanya. Ia melihat sekeliling dengan seksama. Dan memang benar saat ini ia sedang berada di parkiran gedung HS Entertainment. Aletta memandang Sebastian dengan mata yang memicing dan penuh kecurigaan. “Bukan saatnya kamu mencurigai saya. Sekarang rapikan rambut dan make up kamu. Karena kita akan menemui Pak Gerald.” Kata Sebastian. Gerald Viraga, nama lengkapnya. Ia merupakan Artis senior yang kini lebih fokus menjalankan bisnisnya. Ia merupakan direktur utama dari HS Entertainment. Dan ia juga yang secara langsung merekrut Aletta Keena menjadi salah satu artis kebanggaannya. “Kenapa nggak bilang sama aku dulu sih Kak?” Tanya Aletta. “Udah deh jangan banyak protes.” Kata Sebastian sambil menutup pintu mobil. Aletta masih di dalam mobil. Ia membenarkan rambutnya dan menambah make up tipis di wajahnya. Kemudian ia keluar dan menuju kantor Gerald Viraga. Saat di depan ruangan direktur utama, Sebastian memberitahu sekretaris direktur utama bahwa mereka sudah membuat janji dengan sang direktur. Sekretaris tersebut mempersilahkan Aletta, Refan dan Sebastian untuk masuk ke ruangan direktur. “Silahkan masuk. Bapak Gerald sudah menunggu kalian.” Sesaat setelah Aletta memasuki ruangan Aletta disambut dengan ramah oleh Gerald. “Selamat datang Aletta.” Kata Gerald sambil memeluk Aletta. Sedangkan Aletta yang diperlakukan tidak seperti biasanya hanya membeku dalam pelukan Gerald. “Selamat juga karena kamu sudah menjadi trending topic di twitter hanya karena sebuah artikel.” Lanjut Gerald sambil melepaskan Aletta dan bertepuk tangan. Kemudian Gerald mempersilahkan Aletta, Sebastian dan Refan duduk. Gerald bahkan memberi mereka segelas orange juice. “Jadi, sebenarnya apa hubungan kamu dengan Aldev Alderon? Apa benar kalian sedang menjalin hubungan lebih dari sekedar rekan kerja?” Tanya Aldev sambil menyesap kopi di cangkirnya. Aletta, Sebastian dan Refan yang sedang meminum orange juice mendadak tersedak bersamaan setelah mendengar perkataan Gerald. “Wow apa pertanyaan saya terlalu mengejutkan?” “Tentu saja tidak Pak. Hubungan saya dengan Kak Aldev tidak lebih dari sekedar rekan kerja. Kami memang diharuskan untuk dekat, tapi itu hanya untuk membangun kemistri.” “Sebenarnya saya kecewa sama kamu Aletta. Karena kamu tahu sendiri kan, keadaan perusahaan sedang memburuk. Entah apa yang terjadi semua artis saya terkena skandal yang cukup serius. Dan kamu satu-satunya artis yang bisa saya andalkan justru terkena skandal juga. Ya walaupun tidak seserius yang lain, tapi cukup untuk mencoreng nama baik yang sudah saya bangun.” “Sekali lagi saya minta maaf Pak. Untuk kedepannya akan saya pastikan tidak akan ada berita seperti ini membawa-bawa nama saya.” “Ingat Aletta kalau sampai hal seperti ini terulang lagi, bukan hanya kamu yang akan kena imbasnya. Tapi Sebastian dan Refan juga.” Setelah menceramahi Aletta, akhirnya Gerald mengizinkan mereka untuk pulang. Di dalam mobil, Sebastian bertugas untuk menyetir dan Refan menemani Aletta di bangku belakang. “Kak Aletta.” Panggil Refan “Iya?” “Omongannya Pak Gerald tadi jangan terlalu dipikirin ya. Sekarang Kak Aletta fokus aja sama pekerjaan dan orang-orang yang mendukung Kakak termasuk Aleenia.” “Aleenia siapa?” Tanya Sebastian. “Fansnya Kak Aletta Bang. Masak lupa sih.” “Sorry nama fandomnya udah kayak nama orang aja. Bikin saya suka salah paham.” Mendengar percakapan antara Sebastian dan Refan cukup membuat Aletta terhibur. Aletta bersyukur walapun ia sedang mendapatkan masalah namun sekarang ada seseorang yang ada bersamanya. Namun diwaktu yang bersamaan Aletta juga takut akan mengecewakan Sebastian dan Refan. *** Aauu... Suara rintihan terdengar dari kamar Gavin. Ternyata rintihan tersebut berasal dari Gavin yang sedang menahan rasa sakit di wajahnya. Saat ini Bryan sedang mengompres wajah Gavin yang babak belur karena ulahnya. “Endingnya juga lu ngerepotin gue kan? Tadi siapa yang sok-sokan mau ngerawat gue?” “Ya kalau lu nggak mukulin gue, mungkin sekarang gue lagi masak bubur buat lu.” “Yah setidaknya selama gue sakit, lu bisa jadi tangan dan kaki gue.” Kata Bryan sambil tersenyum penuh arti. “Selagi lu nggak ganggu kerjaan gue.” “Vin, selama gue sakit gue mau nginep di rumah lu.” “Lah kok gitu?” “Kan lu mau ngerawat gue. Dari pada lu bolak balik ke rumah gue. Mending gue nginep di sini dong? Biar lu juga hemat waktu.” “Oke. Cuma sampai lu sembuh aja.” Gavin beranjak dari tempat duduknya. Ia menuju dapur dan membuka kulkas kecilnya. Ia memeriksa bahan makanan apa saja yang masih tersedia di kulkasnya. Gavin menemukan ada jagung manis. Ia memutuskan untuk membuat bubur jagung. “Mau ngapain lu?” Tanya Bryan. “Masak.” Bryan tak menggubrs jawaban Gavin. Ia justru membaringkan tubuhnya di atas kasur milik Gavin. Saat Gavin sedang fokus-fokusnya memasak, ia justru dikejutkan dengan teriakan Bryan. “Gila.” Teriak Bryan. “Kenapa lu?” “Gila, masak Aletta Keena sama Aldev Alderon dating?” “Ha?” Gavin segera mematikan kompornya dan berjalan cepat menuju Bryan. Setelah duduk di samping Bryan, ia merebut ponsel Bryan. “Santai bos.” “Aletta dating? Nggak mungkin.” “Kenapa nggak? Aletta cantik, Aldev ganteng dan mereka sama-sama aktor dan aktris berbakat. Dan lu nggak lupa fakta kalau mereka memerankan suami istri dalam drama kan?” Tanpa sadar, Gavin meremas ponsel Bryan. Bryan yang menyadari perubahan sikap Gavin, segera merebut ponselnya dari tangan Gavin. “Gila lu. Hp gue belum lunas.” Kata Bryan. “Tapi Vin, lu kenapa suka banget sih sama Aletta Keena? Pas kuliah lu bahkan pengen banget jadi pacar dia.” “Karena dia cantik.” “Gue sebagai teman lu cuma bisa ingatin. Dunia lu sama dia itu beda.” “Dan gue bisa membuat gue dan Aletta setara.” Batin Gavin. Gavin kembali ke dapurnya dan menyajikan bubur jagung untuk Bryan. “Serius nih cuma jagung doang? Gue butuh protein Vin.” “Bawel banget sih tinggal makan doang. Atau lu mau mati kelaparan?” “Enteng banget lu ngomong mati.” “Untuk kita yang tiap hari mencoba untuk bertahan hidup. Mati bukan kata yang harus ditakuti.” “Tersera lu deh.”
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat indah
04/09
0bagussss bangettt
19/05/2025
0Bagus bangetttt🥹🥹🥹
16/05/2025
0Ver Todos