8 menit sebelumnya Saat ini Aletta sedang menonton film bersama Aldev di rumahnya. Entah kenapa Aletta merasa hatinya tidak tenang. “Kenapa perasaan gue nggak enak banget ya? Oh iya hp gue kemana?” batin Aletta sambil mengingat-ingat di mana ia meletakan ponselnya. Ia baru teringat ternyata ponselnya tertinggal di meja makan. Ia memutuskan untuk mengambil ponselnya. Namun ketika ia beranjak dari tempat duduknya, Aldev justru menahan lengannya. “Mau kemana?” tanya Aldev. “Sebentar aku ambil hp dulu.” Aldev hanya menganggukan kepalan dan kembali fokus dengan film yang ia tonton. Saat Aletta membuka ponselnya ternyata Sebastian sudah meneleponnya berulang kali. Ia juga menemukan pesan yang dikirim oleh Sebastian. Aletta memutuskan untuk membaca pesan tersebut sambil menyenderkan tubuhnya ke meja dengan tumpuan satu tangannya. Sebastian : Aletta apa kamu sudah membaca artikel dari Jovian Media? Sebastian : Jawab Aletta. Apa kamu masih tidur? Di jam segini? Sebastian : Aletta Sebastian : Apa kamu sedang bersama Aldev? Saat membaca pesan tersebut, mendadak tangan yang menjadi tumpuan Aletta melemas seketika. Ia bahkan hampir terjatuh. “Gimana bisa Kak Tian tahu gue lagi sama Kak Aldev?” Sebastian : Awas saja kalau benar. Sebastian : Aletta. Jawab dong!! Sebastian : Jangan memancing amarah saya Sebastian : Aletta kamu bisa nggak sehari saja tidak menyusahkan saya Sebastian : Saya menuju ke rumah kamu sekarang Aletta semakin kebingungan setelah membaca pesan terakhir yang dikirim Sebastian. “Kak Tian mau ke sini? Ha? Gimana dong. Pesannya dikirim satu jam yang lalu. Gawat udah mau sampai dong.” Aletta segera menelepon Refan. Ia yakin bahwa saat ini Refan pasti sedang bersama Sebastian. “Halo.” Sapa Refan saat mengangkat telepon dari Aletta. “Refan saya minta tolong sama kamu, mulai sekarang jawab pertanyaan saya hanya dengan iya atau tidak. Oke?” Refan yang mendengar perkataan Aletta hanya membalasnya dengan anggukan. “Refan kamu ngangguk doang ya? Nggak kelihatan dong kan kita teleponan.” “Oh iya.” “Oke, saya mulai ya. Kamu sekarang lagi sama Kak Sebastian?” “Iya.” Tiba-tiba saja Sebastian melirik kearah Refan. Mendapat lirikan tajam dari Sebastian, Refan mencoba untuk terlihat tenang. Padahal jantungnya saat ini sedang berdetak kencang. Kepalanya juga mendadak migrain. “Ekspresi Kak Tian gimana? Marah?” “Iya.” Aletta menghembuskan napas kasar. Ia bingung sekaligus gugup sebenarnya artikel apa yang membuat Sebastian kalang kabut seperti ini. “Kalian sedang menuju ke rumah saya?” “Iya.” “Udah dekat?” “Banget.” Aletta segera mematikan sambungan teleponnya dengan Refan dan bergegas menuju Aldev. “Kak gawat nih.” “Gawat kenapa?” “Kak Sebastian sama Refan mau ke sini?” “Haah? Bukannya mereka libur.” “Harusnya gitu.” “Terus gimana dong?” “Ya Kakak ngumpet.” “Ngumpet dimana? Kolong meja? Ketahuan dong.” Tiba-tiba saja bel rumah Aletta berbunyi berulang kali. Aletta dan Aldev sangat bingung. Entah apa yang terjadi kepada mereka. Yang pasti saat ini Aletta sedang membukakan pintu untuk Sebastian dan Refan. Saat Sebastian memasuki rumahnya, Refan justru terpaku melihat sepatu laki-laki yang ada di rumah Aletta. Aleta mengikuti arah pandang Refan. Ia sangat terkejut melihat sepatu Aldev masih berada di sana. Untung saja Sebastian tidak melihatnya. Aletta segera menendang sepatu Aldev hingga berada di kolong lemari. Refan kemudian mengikuti Sebastian dan duduk di ruang tamu Aletta. “Sini kamu. Duduk!” Kata Sebastian sambil meminta Aletta untuk duduk di depannya. “Lagi sama siapa di rumah?” “Sendiri Kak.” “Dengan banyaknya buah-buahan ini? Kamu bilang sendiri?” “Serius Kak, aku sendiri kok.” “Dengan dua kaleng soda ini. Masih nggak ngaku juga? Sejak kapan kamu minum soda?” “Lagi nyoba aja Kak. Eh ternyata enak. Habis dua kaleng deh.” “Jangan banyak-banyak. Kamu kan lagi diet.” Aletta hanya menggangguk saja. “Aletta apa kamu dekat sama Aldev Alderon?” “Nggak. Sebatas rekan kerja aja.” “Kamu udah baca artikel tentang kamu hari ini?” “Belum Kak.” “Aletta Keena tertangkap basah sedang kencan dengan lawan mainnya Aldev Alderon.” Aletta membulatkan mata. Ia tidak menyangka akan ada berita seperti tu. Ia bahkan tidak pernah hang out bersama Aldev. “Seorang Aletta Keena yang mempunyai image positif bahkan disebut sebagai seorang dewi karena kedermawanannya justru menjalin hubungan dengan playboy. Aletta selama kamu terjun ke dunia entertainment baru sekarang ada berita negatif tentang kamu.” “Kan baru sekali Kak.” “Letta image kamu di masyarakat itu image yang sangat sempurna. Image yang diinginkan banyak selebriti. Dan sekarang image itu melemah hanya karena berita sampah kayak gini. Kamu tahu bahkan direktur kita marah besar hari ini. Saya dicaci maki habis-habisan karena tidak becus mengurus kamu. Bahkan Refan juga kena imbasnya. Hari ini seharusnya Refan menghabiskan waktu liburnya bersama teman-temannya. Tapi dia malah kena omelan saya.” Aletta merasa bersalah kepada Sebastian dan Refan. Walaupun hal tersebut bukan murni kesalahanya namun Aletta merasa ia berkewajiban untuk meminta maaf. “Aku minta maaf Kak, ke Refan juga. Aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang.” “Aletta saya nggak mau ikut campur dalam hubungan percintaan kamu. Tapi saya mohon jangan berhubungan dengan Aldev Alderon.” Aletta hanya bisa mengangguk pasrah. “Besok jam sepuluh pagi kita akan mengadakan konferensi pers untuk meluruskan masalah ini. Kamu harus bilang kalau hubungan kamu dengan Aldev hanya sebatas rekan kerja saja. Dan foto yang tersebar diambil ketika kalian sedang syuting adegan drama yang memang belum tayang.” Aletta tahu apa yang dikatakan Sebastian barusan memang fakta. Foto tersebut memang diambil ditengah-tengah syuting. Aletta hanya membenci fakta bahwa semenjak namanya dikenal banyak orang, ia mulai kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri. Setelah itu Sebastian mengajak Refan untuk pulang. Saat Refan melewati Aletta, Aletta dengan sengaja menahan Refan. Ia menaring lengan baju Refan. “Maaf ya.” Kata Aletta. “Saya nggak apa-apa kok Kak. Semangat ya.” Aletta merasa hatinya sedikit menghangat ketika mendengar Refan menyemangatinya. Namun ia juga masih merasa bersalah kepada Refan dan Sebastian. Disaat Aletta mulai terhayut dalam pikirannya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk jendela di balkon rumahnya. Ia baru teringat bahwa Aldev bersembunyi di sana. Aletta segera berlari menghampiri Aldev. setelah membuka jendela balkon rumahnya, ia mendapati Aldev sedang menggigil kedinginan. Aletta segera menuntun Aldev menuju ruang makan. “Aku langsung pulang aja ya.” Kata Aldev. “Ini tehnya diminum dulu, biar nggak masuk angin.” Aletta melihat Aldev meminum teh hangat buatannya. Aneh sekali, Aletta bahkan tidak melakukan kesalahan apapun. Namun ia merasa bersalah kepada tiga laki-laki yang ada di sekitarnya. Aldev Alderon, Refan Alexander dan Sebastian Kevlar. “Maaf ya Kak.” “Nggak apa-apa santai aja. Aku pulang sekarang ya. Kayaknya Sebastian udah jauh dari sini.”
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat indah
04/09
0bagussss bangettt
19/05/2025
0Bagus bangetttt🥹🥹🥹
16/05/2025
0Ver Todos